
SATU tahun sudah berlalu. Hari
ini Galang menyerahkan hasil pekerjaannya selama di kontrak kepada pak
Suherman. Sejumlah foto yang masih didalam bungkusan karton masih di atas meja.
Sebelum membuka dan melihatnya, ayah Indra ini rupanya ingin berbagi
kebahagiaan dulu dengan orang yang sudah membantu menjalankan misinya itu
sambil menebar senyum kebahagiaannya
“Galang ? Selama ini sering
bulak-balik dari Jakarta ke kampung halaman saya, pasti capek?”
“Capek banget pak. Tapi semua itu
terobati oleh bayaran dari bapak yang jumlahnya fantastis. Sehingga saya juga
jadi bisa membayar uang semester tidak minta ke orangtua. Kebutuhan sehari-hari
dan lain-lain tercukupi. Dan satu lagi yang saya baru merasakan selama hidup.
Yaitu saya jadi bisa menikmati mobil rentalan sesuka hati. Dan semua itu
dibayarnya oleh uang dari bapak”
“Syukur kalau kamu senang. Asal
kamu tahu. Misi ini sebenarnya bertentangan dengan hati kecil saya sendiri. Tapi
karena selama ini anak saya dekat dengan anak musuh bebuyutan saya, maka
timbulah niat untuk memisahkannya. Dan akhirnya kamu juga jadi bagian dalam
perencanaan itu. Tentang masa lalu pahit yang dulu saya alami, bahkan selama
ini sudah saya lupakan.Tapi begitu mendengar anak musuh bebuyutan itu sekarang
dekat dengan anak saya, rasa sakit saya dulu tiba-tiba muncul lagi. Pokoknya
sampai kapanpun saya tidak akan pernah setuju kalau keturunannya jadi bagian
keluarga kita”
“Memangnya sakit hati bapak dulu seperti
apa sehingga sekarang ingin orang itu merasakannya?” Setelah mendengar sekilas
masa lalu pak Suherman, Galang jadi mau tahu lebih banyak.
“Begini ceritanya Lang. Dulu
waktu di desa saya itu punya teman, namanya Panji. Panji itu anaknya dari orang
nomor satu di desa kami. Setiap hari minggu saya dan dia suka berburu ke
bukit-bukit. Senapannya tentu saya punya dia yang banyak duit
Satu ketika kita berburu itu di
sawah. Karena kalau padi sudah hampir menguning, pipit biasanya suka banyak
disana. Tapi disawah yang kita tuju itu kali ini sepi. Ternyata di sawah itu
ada penunggunya. Kita lalu menghapiri ke dangaunya. Pas kita datang seorang
gadis cantik tersenyum. Kita yang tengah puber akhirnya ikut numpang tinggal di
dangaunya sambil menggoda dia. Gadis itu ternyata bernama Sumiati asal dari
kampung sebrang.
Kita yang makin akrab dengannya, ketika
itu membuat permainan. Gadis itu kita beri benda. Kalau dia suka sama saya,
antarkan ini ke alamat rumah saya. Dan kalau dia suka Panji, antarkan pula
benda itu ke alamatnya. Dan ternyata benda itu ia antarkan ke alamat rumah
saya. Sejak saat itu kita lalu menjalin kasih. Sampai suatu ketika…
“Her ! Mulai hari ini kamu jangan
lagi pernah mengajak Sumiati pergi!”
“Memangnya kenapa Ji?”
“Semalam sumiati sudah kulamar!
__ADS_1
Jadi sekarang kamu jangan suka ngajak dia pergi lagi !”
“Sum? Apa itu benar ? Bahwa kamu
semalam sudah dilamar oleh dia…?” Ketika
itu pak Suherman yang tidak tahu apa-apa bertanaya kepada kekasih tercintanya
“Itu benar Her.Tapi aku tidak
cinta sama dia…Dan aku menikahnya hanya ingin dengan kamu” Yang ditanya menangis. Bukan hanya itu, ia
juga langsung merangkul kepada pak Suherman
“Sudah Sum, sekarang jangan
nangis…Kalau kamu hanya cinta sama aku, akupun pasti akan selalu berjuang untuk
cinta kita” Ketika itu pak Suherman memeluk gadis itu. Tapi tidak menyangkan
sahabatnya dari kecil langsung nyerang waktu itu
“Her ! Lepaskan calon istriku !
Lagian kamu itu harus tahu diri ! Kamu pasti tidak akan bisa membahagiakan
Sumiati!”
“Panji ! Kamu itu sahabat aku
dari kecil ! Kenapa sekarang jadi berubah seratus delapan puluh derajat, berani
merampas kebahagiaan orang!”
“Kamu saja yang tidak tahu
Herman, bahwa selama ini aku menyukai Sumiati lebih dari kamu! Jadi daripada
terus makan hati melihat kebahagiaan kalian, akhirnya aku berterus terang
kepada orangtua! Dan ternyata ayahku langsung turun tangan !. Jadi mulai hari
ini kamu harus meninggalkan dia karena kita akan segera menikah !”
“Tapi tadi kamu sudah dengar
sendiri kan bahwa dia cintanya hanya sama aku “
“Baiklah, kali
nanti ! Dan kalau ayahnya sampai menyusul kemari, bisa-bisa kamu tambah konyol
dimaki-maki dia!”
“Ketika itu ternyata ayah Sumiati
itu datang Lang…Benar seperti kata Panji, ayahnya Sumiati memaki-maki
saya…Sakit hati saya itu sampai sekarang masih membekas…Tidak lama setelah
peristiwa itu, akhirnya mereka menikah…Awal-awal mungkin Sumiati juga tetap
pada pendiriannya. Tapi saya tidak mau tahu lagi urusan mereka. Beberapa bulan
kemudian saya pun akhirnya mencoba merantau ke kota untuk merubah nasib. Tapi
mencari pekerjaan di kota ternyata tidak mudah. Apalagi dengan hanya
bermodalkan ijazah SMA. Tapi dewi fortuna akhirnya berpihak kepada saya yang tetap
sabar meskipun sudah terdholimi. Satu ketika akhirnya ada perusahaan yang
menerima saya bekerja. Di perusahaan itu kedudukan saya terus naik cepat sampai
ke level yang tinggi. Hingga suatu hari saya di panggi oleh pimpinan. Ternyata
saya mau di jodohkan dengan putrinya. Dari pernikahan itu kita punya dua anak. Dan
alhamdulillah hidup kita bahagia sampai sampai sekarang. Begitulah cerita
singkatnya Lang”
“Ternyata boss ini punya masa
lalu pahit yang tidak aku kira? Semoga pak Suherman diberi hidayah? Aku kasihan
kepada Mia kalau harus kena dampak atas kesalahan orangtua dimasa lalunya? Selain
cantik, gadis itu sangat baik. Aku bahkan sangat berat ketika harus berpisah
dengannya…?” gumam dalam hati Galang
__ADS_1
setelah mendengar penuturan pak Suherman. Disaat pemuda ini sedang merasa sedih,
tiba-tiba ada satpam mau lapor.
“Permisi pak. Di depan ada orang
yang mau bertemu bapak”
“Berapa orang Rif?”
“Dua orang pak. Yang satu
laki-laki. Yang satunya perempuan. Dua-duanya masih muda. Sekarang mereka sedang
menunggu di lobi”
Mendengar penjelasan satpam
kantornya, pak Suherman langsung mengalihkan perhatiannya lagi kepada Galang.
“Lang ? Serertinya obrolan kita
tidak bisa lanjut…” sebelum menanggapi lanjut
laporan satpam, pak Suherman terlebih dulu berbicara kepada Galang. “Nggak
apa-apa ya Lang ?”
“Nggak apa-apa pak. Kebetulan
saya juga mau langsung ke kampus”
“Oya ? Ini juga belum bisa saya lihat
isinya Lang ? Sekarang mau saya simpan dulu ke dalam laci meja. Tapi nanti
setelah saya lihat ternyata ada yang kurang, kamu akan saya hubungi lagi ya?”
“Iya pak. Kalau masih ada yang
kurang, tinggal hubungi saya saja. Untuk kekurangannya, pasti nanti saya
kerjakan lagi. Kebetulan saya sudah janji, bahwa kalau gadis itu mau wisuda,
saya akan datang”
“Oya ? Memang dia kuliah dimana?
Jurusan apa?”
“Di STIkes yang ada di kotanya pak.
Sekolah Keperawatan”
“Jadi dia seorang perawat? Anak
panji yang dekat dengan anakku, calon nakes”
“Begitulah pak. Kakaknya juga
kuliah di kedokteran”
“Emm…Yaya “ pak Suherman kali ini sejenak
manggut-manggut. Di dalam hati Galang langsung berbicara. “Setelah tahu siapa
kekasih anaknya, mudah-mudahan pak Suherman berubah pikiran. Karena tidak
tertutup kemungkinan juga, rencana busuk bapaknya itu bisa jadi boomerang bagi
anaknya” Pikir Galang sambil mengambil ranselnya. Setelah ranselnya itu ada
dalam gendongan, pemuda ini langsung pamit. “Sekarang saya pulang dulu pak”
“Yaya Lang. Kalau ada yang
kurang, saya akan menghubungi ya?”
“Iya pak. Assalamualaikum…”
“Wa’alaikumussalam…
“Rif, suruh langsung masuk ke
ruangan saya orang itu” Setelah Galang
tidak ada, pak Suherman beralih ke satpan yang masih menunggu jawaban. Setelah
majikannya memberi perintah, satpam juga akhirnya balik. Sebelum orang itu
datang, pak Suherman memastikan dulu amplop dari Galang tadi aman dalam laci
__ADS_1
mejanya. Setelah itu ayah dari Indra dan Santi ini duduk di kursi direktur
dengan gagah dan penuh kewibawaan.