Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

SATU tahun sudah berlalu. Hari


ini Galang menyerahkan hasil pekerjaannya selama di kontrak kepada pak


Suherman. Sejumlah foto yang masih didalam bungkusan karton masih di atas meja.


Sebelum membuka dan melihatnya, ayah Indra ini rupanya ingin berbagi


kebahagiaan dulu dengan orang yang sudah membantu menjalankan misinya itu


sambil menebar senyum kebahagiaannya


“Galang ? Selama ini sering


bulak-balik dari Jakarta ke kampung halaman saya, pasti capek?”


“Capek banget pak. Tapi semua itu


terobati oleh bayaran dari bapak yang jumlahnya fantastis. Sehingga saya juga


jadi bisa membayar uang semester tidak minta ke orangtua. Kebutuhan sehari-hari


dan lain-lain tercukupi. Dan satu lagi yang saya baru merasakan selama hidup.


Yaitu saya jadi bisa menikmati mobil rentalan sesuka hati. Dan semua itu


dibayarnya oleh uang dari bapak”


“Syukur kalau kamu senang. Asal


kamu tahu. Misi ini sebenarnya bertentangan dengan hati kecil saya sendiri. Tapi


karena selama ini anak saya dekat dengan anak musuh bebuyutan saya, maka


timbulah niat untuk memisahkannya. Dan akhirnya kamu juga jadi bagian dalam


perencanaan itu. Tentang masa lalu pahit yang dulu saya alami, bahkan selama


ini sudah saya lupakan.Tapi begitu mendengar anak musuh bebuyutan itu sekarang


dekat dengan anak saya, rasa sakit saya dulu tiba-tiba muncul lagi. Pokoknya


sampai kapanpun saya tidak akan pernah setuju kalau keturunannya jadi bagian


keluarga kita”


“Memangnya sakit hati bapak dulu seperti


apa sehingga sekarang ingin orang itu merasakannya?” Setelah mendengar sekilas


masa lalu pak Suherman, Galang jadi mau tahu lebih banyak.


“Begini ceritanya Lang. Dulu


waktu di desa saya itu punya teman, namanya Panji. Panji itu anaknya dari orang


nomor satu di desa kami. Setiap hari minggu saya dan dia suka berburu ke


bukit-bukit. Senapannya tentu saya punya dia yang banyak duit


Satu ketika kita berburu itu di


sawah. Karena kalau padi sudah hampir menguning, pipit biasanya suka banyak


disana. Tapi disawah yang kita tuju itu kali ini sepi. Ternyata di sawah itu


ada penunggunya. Kita lalu menghapiri ke dangaunya. Pas kita datang seorang


gadis cantik tersenyum. Kita yang tengah puber akhirnya ikut numpang tinggal di


dangaunya sambil menggoda dia. Gadis itu ternyata bernama Sumiati asal dari


kampung sebrang.


Kita yang makin akrab dengannya, ketika


itu membuat permainan. Gadis itu kita beri benda. Kalau dia suka sama saya,


antarkan ini ke alamat rumah saya. Dan kalau dia suka Panji, antarkan pula


benda itu ke alamatnya. Dan ternyata benda itu ia antarkan ke alamat rumah


saya. Sejak saat itu kita lalu menjalin kasih. Sampai suatu ketika…


“Her ! Mulai hari ini kamu jangan


lagi pernah mengajak Sumiati pergi!”


“Memangnya kenapa Ji?”


“Semalam sumiati sudah kulamar!

__ADS_1


Jadi sekarang kamu jangan suka ngajak dia pergi lagi !”


“Sum? Apa itu benar ? Bahwa kamu


semalam sudah dilamar oleh dia…?”  Ketika


itu pak Suherman yang tidak tahu apa-apa bertanaya kepada kekasih tercintanya


“Itu benar Her.Tapi aku tidak


cinta sama dia…Dan aku menikahnya hanya ingin dengan kamu”  Yang ditanya menangis. Bukan hanya itu, ia


juga langsung merangkul kepada pak Suherman


“Sudah Sum, sekarang jangan


nangis…Kalau kamu hanya cinta sama aku, akupun pasti akan selalu berjuang untuk


cinta kita” Ketika itu pak Suherman memeluk gadis itu. Tapi tidak menyangkan


sahabatnya dari kecil langsung nyerang waktu itu


“Her ! Lepaskan calon istriku !


Lagian kamu itu harus tahu diri ! Kamu pasti tidak akan bisa membahagiakan


Sumiati!”


“Panji ! Kamu itu sahabat aku


dari kecil ! Kenapa sekarang jadi berubah seratus delapan puluh derajat, berani


merampas kebahagiaan orang!”


“Kamu saja yang tidak tahu


Herman, bahwa selama ini aku menyukai Sumiati lebih dari kamu! Jadi daripada


terus makan hati melihat kebahagiaan kalian, akhirnya aku berterus terang


kepada orangtua! Dan ternyata ayahku langsung turun tangan !. Jadi mulai hari


ini kamu harus meninggalkan dia karena kita akan segera menikah !”


“Tapi tadi kamu sudah dengar


sendiri kan bahwa dia cintanya hanya sama aku “


“Baiklah, kali


nanti ! Dan kalau ayahnya sampai menyusul kemari, bisa-bisa kamu tambah konyol


dimaki-maki dia!”


“Ketika itu ternyata ayah Sumiati


itu datang Lang…Benar seperti kata Panji, ayahnya Sumiati memaki-maki


saya…Sakit hati saya itu sampai sekarang masih membekas…Tidak lama setelah


peristiwa itu, akhirnya mereka menikah…Awal-awal mungkin Sumiati juga tetap


pada pendiriannya. Tapi saya tidak mau tahu lagi urusan mereka. Beberapa bulan


kemudian saya pun akhirnya mencoba merantau ke kota untuk merubah nasib. Tapi


mencari pekerjaan di kota ternyata tidak mudah. Apalagi dengan hanya


bermodalkan ijazah SMA. Tapi dewi fortuna akhirnya berpihak kepada saya yang tetap


sabar meskipun sudah terdholimi. Satu ketika akhirnya ada perusahaan yang


menerima saya bekerja. Di perusahaan itu kedudukan saya terus naik cepat sampai


ke level yang tinggi. Hingga suatu hari saya di panggi oleh pimpinan. Ternyata


saya mau di jodohkan dengan putrinya. Dari pernikahan itu kita punya dua anak. Dan


alhamdulillah hidup kita bahagia sampai sampai sekarang. Begitulah cerita


singkatnya Lang”


“Ternyata boss ini punya masa


lalu pahit yang tidak aku kira? Semoga pak Suherman diberi hidayah? Aku kasihan


kepada Mia kalau harus kena dampak atas kesalahan orangtua dimasa lalunya? Selain


cantik, gadis itu sangat baik. Aku bahkan sangat berat ketika harus berpisah


dengannya…?”  gumam dalam hati Galang

__ADS_1


setelah mendengar penuturan pak Suherman. Disaat pemuda ini sedang merasa sedih,


tiba-tiba ada satpam mau lapor.


“Permisi pak. Di depan ada orang


yang mau bertemu bapak”


“Berapa orang Rif?”


“Dua orang pak. Yang satu


laki-laki. Yang satunya perempuan. Dua-duanya masih muda. Sekarang mereka sedang


menunggu di lobi”


Mendengar penjelasan satpam


kantornya, pak Suherman langsung mengalihkan perhatiannya lagi kepada Galang.


“Lang ? Serertinya obrolan kita


tidak bisa lanjut…”   sebelum menanggapi lanjut


laporan satpam, pak Suherman terlebih dulu berbicara kepada Galang. “Nggak


apa-apa ya Lang ?”


“Nggak apa-apa pak. Kebetulan


saya juga mau langsung ke kampus”


“Oya ? Ini juga belum bisa saya lihat


isinya Lang ? Sekarang mau saya simpan dulu ke dalam laci meja. Tapi nanti


setelah saya lihat ternyata ada yang kurang, kamu akan saya hubungi lagi ya?”


“Iya pak. Kalau masih ada yang


kurang, tinggal hubungi saya saja. Untuk kekurangannya, pasti nanti saya


kerjakan lagi. Kebetulan saya sudah janji, bahwa kalau gadis itu mau wisuda,


saya akan datang”


“Oya ? Memang dia kuliah dimana?


Jurusan apa?”


“Di STIkes yang ada di kotanya pak.


Sekolah Keperawatan”


“Jadi dia seorang perawat? Anak


panji yang dekat dengan anakku, calon nakes”


“Begitulah pak. Kakaknya juga


kuliah di kedokteran”


“Emm…Yaya “  pak Suherman kali ini sejenak


manggut-manggut. Di dalam hati Galang langsung berbicara. “Setelah tahu siapa


kekasih anaknya, mudah-mudahan pak Suherman berubah pikiran. Karena tidak


tertutup kemungkinan juga, rencana busuk bapaknya itu bisa jadi boomerang bagi


anaknya” Pikir Galang sambil mengambil ranselnya. Setelah ranselnya itu ada


dalam gendongan, pemuda ini langsung pamit. “Sekarang saya pulang dulu pak”


“Yaya Lang. Kalau ada yang


kurang, saya akan menghubungi ya?”


“Iya pak. Assalamualaikum…”


“Wa’alaikumussalam…


“Rif, suruh langsung masuk ke


ruangan saya orang itu”   Setelah Galang


tidak ada, pak Suherman beralih ke satpan yang masih menunggu jawaban. Setelah


majikannya memberi perintah, satpam juga akhirnya balik. Sebelum orang itu


datang, pak Suherman memastikan dulu amplop dari Galang tadi aman dalam laci

__ADS_1


mejanya. Setelah itu ayah dari Indra dan Santi ini duduk di kursi direktur


dengan gagah dan penuh kewibawaan.


__ADS_2