
INDRA yang terinspirasi oleh pengalaman ayahnya bahwa kalau latihan menembak amatir lebih baik langsung praktek dilapangan dari pada yang lain, kini sudah memutuskan liburan ke desa untuk salah satu hobi barunya itu. Ia dan seorang bocah anak tetangga neneknya, kini sedang diatas sengkedan pematang mengincar pipit yang sedang menyerbu padi di sawah. Benar pula kata ayahnya bahwa segerombolan pipit paling suka dengan padi yang hampir menguning masih ke hijau-hijauan. Kali ini segerombol pipit itu sedang di incar Indra. Senapannya terus di arah-arah supaya sasarannya tepat ke hewan yang diburu.
“Ter…!” Dari atas sengkedan pematang itu, Indra meluncurkan satu tembakan. Burr ! Pipit-pipit pada berterbangan. Tapi ada satu yang menggelepar, dan pipitnya tidak bisa terbang lagi.
“Kang aden dapat…Barusan Mamat lihat burungnya masuk ke dalam rumpun padi”
“Iya Mat. Barusan kang aden juga lihat. Sekarang kita sama-sama pastiin yuk?”
Indra dan bocah itu akhirnya turun dari atas sengkedang pematang. Karena kakinya ada bekas cedera, berjalannya Indra penuh ke hati-hatian.
Setelah sampai di bawah, bocah yang bernama Mamat itu membelesan duluan ketempat burung tadi terkena tembakan. “ Kang aden benar dapat ! Nih burungnya !” Mamat memperlihatkan pipit yang sudah di ambilnya. Setelah itu ia balik lagi menghampiri Indra
“Tapi kasihan juga ternyata ya Mat ? Yang kena tembak, ternyata tepat sayapnya” Indra celoteh
“Tapi kanga den, kan ini mah hukum alam. Setiap yang bernyawa pasti akan mati. Nah, kalau burung ini matinya harus karena tembakan kang aden”
“Kamu pintar juga ternyata Mat…” Indra ahhirnya membenarkan pendapat bocah itu. “Tapi kenapa kamu tidak sekolah?” Tanya Indra sambil mengusap kepala Mamat
__ADS_1
“Tidak punya biayaya kang Aden. Kan ayah Mamat hanya buruh tani. Sedangkan adik Mamat banyak”
Mengenai buruh tani, Indra tidak tahu berapa itu perharinya. Pada saat yang bersamaan, Kamalpun kali sedang menemui para buruh tani yang sedang bekerja di sawahnya. Dalam semangatnya mencari nafkah untuk keluarga, kali ini lalaki satu itu melebarkan sayapnya lagi di bidang pertanian
“Ngaropi dulu udah jam sebelas “ kata Kamal kepegawainya. Dimana Kamal ada, mang Kardi selalu ada. Kali ini suami bi Ijah itu membawa termos dan kantong makanan lalu disimpannya di dangau
“Besok Jum’at kan libur. Jadi hari ini babak-bapak gajian..” Kata Kamal setelah semua pekerja melingkung di dangau sambil minum kopi. Setelah itu Kamal mengeluarkan uang dari dompetnya. Meskipun waktu pulang masih satu jam lagi, tapi upah mereka diberikan
“Karena sekarang saya ada keperluan lagi. Jadi ini uang gajinya saya berikan sekarang…” 50 ribu / hari x lima orang x enam hari kerja. Kamal mengeluarkan uang sebanyak ini. Setelah itu ia pamit. Kali ini perginya itu tidak bersama mang Kardi
“Puguh akang juga berpikiran seperti itu…” Sambung yang lainnya. Akhirnya mereka seru ngobrol seputar Kamal. Sedangkan mang Kardi nyeloteh untuk dirinya sendiri. “ Mereka tidak tahu, bahwa den Kamal sebenarnya punya masalah dalam rumah tangnganya. Memang tidak terlalu serius. Tapi itu tetap saja sebagai orang dekatnya aku ikut memikirkan”
Maksud mang Kardi mungkin karena selama ini belum diberi keturunan. Dan ia memang sering mendengar Kamal dan Instrinya cekcok
Pada saat yang bersamaan, Indra mungkin mau mencoba tantangan yang lebih dari sekedar berburu pipit
“Mat ? Sekarang berburunya burung yang lain yuk?”
__ADS_1
“Kalau mau burung lain, berburunya harus ke hutan kang Aden”
“Kakau di bukit itu tuh.., atau yang itu. Bakal ada nggak tupai atau binatang lain?” Inra menunjuk ke bukit-bukit yang mengelilingi pesawahan dimana sekarang ia dan Mamat berada
“Kalau tupai banyak disana. Burung kutilang dan tekukur juga biasanya ada. Jadi sekarang kita ke bukit kang aden?”
“Iya Mat “ Indra mengangguk sambil tersenyum. Tapi setelah naik bukit, rupanya Indra kelelahan. Akhirnya ngajak Mamat istirahat di bawah pohon yang rindang
“Mat, kalau gadis disini yang paling cantik menurut Mamat siapa?” Sambil istirahat, Indra iseng-iseng nanaya. Ternyata sebelum menjawab anak itu menelan dulu roti yang dimakannya
“Kalau menurut mamat mah yang paling cantik di sini, teh neng Mia “
“Mamat kenal dengan teh neng Mia itu?”
“Tahu. Kan dulu tunangannya dekat rumah Mamat. Dulu teh neng Mia suka main ke rumahnya kang den Ali. Tapi sekarang kang den Ali nya sudah menikah. Sedangkan teh neng Mia sekarang jadi dekat sama kang den Fajar”
Aku jadi penasaran. Gumam Indra setelah Mamat banyak bertutur. Dan setelah itu ternyata pemuda ini langsung mengajak bocah itu pulang. Karena dari kejauhan sudah terdengar ada yang mengumandangkan azan dzuhur.
__ADS_1