
MIA yang kemarin janji datang, ternyata hari ini sudah
datang pagi-pagi disaat Kamal masih berada di rumah. Mula-mula antara pribumi
dan tamu saling tanyakan kabar dan tampak gembira. Tapi setelah masuk obrolan
dan tamu menyampaikan maksud dan tujuannya, baik pribumi maupun tamu wajahnya
jadi berubah sedih. Malah untuk wanita-wanita, di kelopak matanya masing-masing
ada genangan bening. Dan ketika tersinari cahaya lampu, genangan itu malah jadi
seperti mutiara yang berkelip. Begitu indah dan bergayut di kelopak
wanita-wanita cantik yang pernah masuk dihati orang yang kini sedang mereka
bicarakan. Yaitu Indra.
“Jadi sekarang saya kesini itu, karena dulu pernah dengar
bahwa Oomnya mbak itu salah satu karyawannya Oom Suherman. Maksus saya? Mungkin
sekarang oomnya mbak itu tahu juga alamat majikannya yang baru”
“Kalau begitu sekarang mbak akan coba hubungi tante ya?.
Sebentar.., HP nya di kamar. Sekarang mau diambil dulu”
Ketika Wiwin pergi mau mangambil HP, Kamal menyusul. “ Bun ?
Kalau soal Mia, kepada tante jangan banyak bilang ini-itu mengenai masalahnya”
“Aku juga ngerti yah…Yuk sekarang mendingan kita sama-sama
balik lagi. Kita nelpon tantenya dihadapan Mia langsung, supaya enak”
“Iya-iya bun…”
Setelah kekhawatirannya ternyata dipahami oleh istrinya,
Kamal dan Wiwin akhirnya sama-sama balik lagi keruang tamu.
“Dik Mia? Sekarang tantenya akan coba mbak hubungi ya?’
“Iya mbak. Terimakasih sudah mau membantu”
“Assalamualaikum tan…?”
“Wa’alaikumussalam Win? Ada apa ? Tumben pagi-pagi sudah nelpon
tante?”
“Aduh..,maaf sekali ya tan? Habis dinini ada teman yang mau
__ADS_1
dibantu?”
“Maksud kamu mau dibantu apa? Dan oleh siapa mau
dibantunya?”
“Makanya saya udah nelpon tante, ya oleh tante mau
dibantunya”
“Memang masalahnya apa ? Ayo sekarang ceritakan?”
“Begini tan…Disini itu ada teman saya yang mau mencari
saudaranya disana. Sebelum saudaranya itu ketemu, boleh nggak kalau dia tinggal
dulu di rumah tante?”
“Boleh-boleh saja Win. Tapi masalahnya apa temanmu itu orang
jujur dan baik?”
“Sekarang orangnya ada disini tan…” Wiwin yang agak malu oleh pertanyaan tantenya
manggut kepada Mia.
“Nggak apa-apa mbak…” ternyata Mia mengerti. Wiwinpun lega dan akhirnya fokus lagi ke obrolan
“Orangnya insya Alloh baik dan jujur tan... Dia seorang
perawat malah”
“Apa? Seorang perawat ? Kebetulan disini ada kenalan tante
yang belum lama buka praktek. Kenalan tante itu butuh asisten / perawat. Tapi kerjanya
masih sebatas ekperimen mungkin Win?”
“Dik Mia? Kalau mau? Ternyata disana ada pekerjaan juga
untuk dik Mia?”
“Iya mbak, barusan saya dengar “
“Win ? Jadi kapan teman kamu itu mau terbangnya?”
“Kapan dik Mia…?” Wiwin
meneruskan lagi pertanyaan tantenya.
“Paling tiga atau empat hari lagi mbak”
“Tan? Katanya tiga atau empat hari lagi” kata Wiwin kepada
__ADS_1
tantenya.
“Yah, kalau begitu tante tunggu. Alamatnya kasih sama kamu
yang lengkap ya? Terus nomor tante juga berikan kepada temanmu. Supaya kalau
nanti perjalanannya sudah sampai, bisa menghubungi tante dulu sebelumnya”
“Terimakasih tan…Karena tujuannya sudah mendapan jawaban,
sekarang HP nya mau saya tutup dulu ya? Semoga tante dan OOm disana sehat
selalu”
“Amiin…Sama-sama Win. Semoga keluarga kamu disana, pada
sehat juga. Assalamualaikum…”
“Wa’alaikumussalam…” Trek! Kali ini Wiwin benar-benar mematikan HP nya.
“Dik Mia? Sekarang suatu kesimpulan dari sana sudah
didapatkan…Berarti tinggan dik Mia disini segera urus segala sesuatunya. Dan
sebaiknya jangan di telangke-telangke”
“Iya mbak. Sekarang saya juga mau pamit dulu. Karena setelah
dari sini saya mau langsung mengantarkan surat pengunduran diri ke rumah sakit”
“Sebenarnya sangat disayangkan kalau dik Mia sampai harus
meninggalkan pekerjan…Tapi sudahlah…Sekarang sudah dil. Semoa segala urusan dik
Mia dilancarkan”
“Amiiin…Sekali lagi terimakasih atas bantuannya mbak…Dan juga
kang Kamal yang mau berangkat kerja jadi terganggu”
“Nggak apa-apa Mi…Yang penting segala urusan kita sama-sama
dilancarkan dan tercapai tercapai seperti yang di harapkan”
“Amiiin…” Kali ini
yang mengamini bukan hanya Mia, tapi wiwin ikut mengangkat kedua tangannya.
Setelah itu Mia yang mau pulang di antar pribumi sampai ke teras. Ketika pasangan
ini kembali masuk ke dalam, ternyata jam yang ada di rumah jarumnya sudah
menunjukan pukul setengah Sembilan.
__ADS_1