
KETIKA cucunya mau di sunat mang Kardi tidak minta cuti dari
awal seperti istrinya. Tapi hari HA nya, lelaki ini minta izin kepada majikan
untuk hari ini saja. Dan Kamal sudah mengizinkan meskipun itu membuat
pekerjaannya hari ini menjadi pontang panting karena doble dengan yang biasa dikerjakan
oleh suami bi Ijah itu, sehingga kondisinya kini menjadi buruk.
“Ayah? Ayah kenapa ?” Dani menghampiri ayahnya yang pulang bekerja langsung bersandar di kursi
dengan wajah pucat.
“Hari ini ayah kecapean Dan. Sekarang tolong ambilkan air
minum yang dingin ya?”
“Aku ngak bisa ayah. Mau suruh bunda aja ya ?”
“Bunda…? Bunda…?” Dani yang khawatir dengan kondisi ayahnya, memanggil-manggil bundanya.
Yang di panggilnya menghampiri. “Ada apa Dan ?” anaknya ditanya. Tapi yang menjawab Kamal.
“Bun. Tolong ambilkan air minum dingin. Aku sudah nggak
kuat”
Yang di suruh tidak menjawab, tapi langsung pergi ketempat
menyimpan galon. Selama menunggu air yang di minta, Kamal melambung.
Kesibukannya hari ini yang berlipat dari biasanya, dikilas balik. Tadi Kamal pergi
ke pabrik pukul delapan. Tapi setelah di pabrik ia malah banyak melamun dan
memikirkan permasalahan dalam rumah tangganya belum ada tanda-tanda untuk
berbaikan. Tapi pukul setengah sepuluh lalu Kamal membeli makanan karena di
sawah yang sedang metak untuk tanaman timun. Setelah mengantar makanan, setengah
sebelas Kamal lalu ngontrol kerumah orangtuanya yang tidak berpenghuni. Setelah
memeriksa kesekelilingnya dan disana aman, terakhir Kamal mengontrol kepernakan
ayam. Ketika kini tubuhnya merasa lelah dan letih, les! Kamal yang dehidrasi akhirnya
terkulai dan tidak sadarkan diri.
“Tidak…!” Wiwin yang sudah kembali langsung dibuat panik.
Gelas air yang dibawanya langsung disimpan diatas meja. Setelah itu Wiwin
buru-buru lari keluar.
“Tolong…! Tolong…” Setelah di luar, Wiwin langsung
berteriak-teriak. Tidak lama kemudian tetangganya yang mendengar, langsung
berdatangan.
“Ada apa neng?”
“Suami saya didalam pingsan pak. Tolong bantu untuk
membawanya kerumah sakit”
Setelah diberitahu apa yang terjadi, tetangga Wiwin
buru-buru masuk. Sesampainya didalam, ternyata Kamal sudah kembali sadar.
“Bun ? Kenapa banyak orang kemari?”
“Kata neng Wiwin barusan aden pingsan” Salah seorang warga menjelaskan.
“Iya den. Karena hari ini tidak ada mang Kardi, rupaya pekerjaan
aden jadi berlipat ganda. Karena lupa makan dan minum, akhirnya aden dehidrasi.
Untuk pemulihan, sebaiknya sekarang aden dirawat di rumah sakit”
__ADS_1
Yang menjawab pertanyaan Kamal beragam. Kalau sesepuh masjid
setempat, memberi pandangan lebih ke ranahnya sebagai ustadz.
“Neng ? Kejadian ini sebaiknya jangan diberitahukan dulu ke
mertua. Soalnya disana sekarang sedang puncak haji. Takutnya kalau mendapat
kabar buruk, ibadah mertuamu jadi terganggu “
“Ya sudah. Supaya den Kamal segera mendapat perawatan, sekarang
buru-buru bawa kerumah sakit” Ketua RW menyarankan. Kamal yang kondisinya buruk
oleh pengurus setempat akhirnya dibawa ke rumah sakit. Pukul lima sore mang
Kardi dan bi Ijah datang.
“Den ? Maaf mamang baru datang sekarang”
“Iya den, bibi juga minta maaf. Begitu mendapat kabar aden
di rawat di rumah sakit, tadi bibi langsung membujuk cucu bibi yang di sunat supaya
jangan nangis kalau ditinggal”
“Terimakasih mang…? Bi…? Tapi saya jadi tidak enak oleh keluarga
mamang dan bibi ” Kamal yang kondisinya lemah, meminta maaf kepada pembantunya
yang sudah menomor satukan dirinya dibanding keluarganya sendiri.
“Sudahlah den? Sekarang jangan banyak pikiran. Problem aden
saat ini bukan hanya satu…Sekarang fokus saja untuk kesembuhannya dulu…”
Mendengar kata-kata bi Ijah, air mata Kamal merembes.
Mungkin ingat serapahnya. Dimana suatu ketika Kamal pernah berucap “Haruskah
maafmu kutebus dengan nyawa?“ Dan ketika kini dirinya tumbang kerena dalam
kerja kerasnya tidak ada penyemangat, ternyata yang di inginkan diperolehnya.
Kamal kali ini memanggil Wiwin. Setelah yang di panggilnya menghampiri, lalu
tangannya diambil.
“Sekarang bunda pulang aja ya? Karena disini sudah ada mang
Kardi “
“Tapi aku tidak enak kalau meninggalkan kamu dalam keadaan
kayak gini ?”
“Tapi aku lebih tidak enak lagi kalau anak kita hanya di
titipkan ke tetangga, meskipun itu ceu Mimin orang yang selama ini baik sama
kita”
Mungkin iya? Pikir Wiwin. Kini air matanya juga merembes
keluar dari kedua matanya.
“Sudah jangan nangis “ Kamal mencoba menghapus air mata sang
istri yang mengalir.
“Maafkan aku ya…?”
“Minta maaf untuk apa ?”
“Aku tahu, pekerjaan ayah selama ini sangat berat…Tapi kalau
ada support dari aku, pasti ayah tidak akan merasa bahwa itu suatu beban berat…Dan
banyak lagi kesalahan aku sama kamu”
“Ya sudah…Sekarang aku sudah merasakannya. Maafmu sudah
__ADS_1
kutebus dengan nyawa. Kurasa kejadian yang sekarang bisa dijadikan pelajaran
untuk kita berdua”
Atas perkataan suaminya kini Wiwin hanya mengangguk sambil
menepis air matanya yang masih tersisa.
Pada saat kedua tangannya masih di pegang suaminya,
tiba-tiba HP nya berbunyi.
“Assalamualaikum bu ?” Wiwin menjawab yang nelpon.
“Wa’alaikumussalam…Win ? Barusan ibu itu nelpon ke HP nya
Kamal, tapi tidak di angkat-angkat? Makanya ibu langsung nelpon ke HP punya
kamu?”
“Kang Kamalnya sedang dirawat bu “
“Apa? Kamal dirawat Win…?”
“Apa ? Kamal dirawat ?” Pak Kosim yang mendengar percakapan istrinya dan Wiwin, langsung bangkit.
“Sini pinjam HPnya bu. Bapak mau bicara kepada Wiwin”
Bu Arum memberikan NP nya.
“Win ? Kamal sampai harus dirawat memangnya kenapa?”
“Mau kamu yang jawab ?” Wiwin menyodorkan HP nya kepada Kamal. Ternyata Kamal mengambil HP nya.
“Saya hanya kecapean ayah” Kamal menjawab pertanyaan ayahnya.
“Terus bagaimana kondisimu sekarang ?”
“Setelah masuk beberapa botol cairan infus, sekarang sudah
agak baikan”
“Alhamdulillah…Semoga kamu cepat pulih nak, karena ayah dan
ibu juga tidak lama lagi akan pulang ke tanah air”
“Alhamdulillah…Semoga kita semua bisa berkumpul lagi”
“Iya Mal… Hari ini kita sudah selesai melaksanakan semua
rukun dan wajib haji. Alhamdulillah semuanya bisa kita melaksanaka tanpa
membadal. Jadi tadinya ibu itu mau ngasih kabar, bahwa ibu dan ayah akan segera
pulang. Tapi ternyata kamunya malah sakit. Tapi ngak apa-apa. Mudah-mudahan pas
kita pulang kamu sudah sembuh. Jadi kalau tasyakuran bisa sekalian”
“Iya Mal? Dan kalau sudah tahu begini, nanti kita pulang
juga mau langsung ke rumah kalian saja. Untuk lain-lainnya nanti kita kabari
lagi. Sekarang telponnya mau kita tutup dulu ya ? Dari KBIH sudah ngajak
seluruh rombongan balik ke hotel tuh. Semoga kamu cepat sembuh ya?”
“Amiiin…” Yang ada di
ruangan tempat Kamal dirawat, mengucap bersama. Setelah ibunya menutup telpon,
Kamal kembali ke percakapan semula.
“Sekarang cepat pulang dengan bi Ijah ya ? Sudah pukul
setengah enam tuh. Setelah sampai rumah jangan lupa buru-buru jemput anak kita
dari rumah ceu Mimin”
“Iya…” Jawaban Wiwin singkat. “Cup…!” Sebelum pergi menyarangkan dulu kecupan di
pipi sang suami yang sedang berbaring. Saking bahagia Kamal langsung terpejam. “Ternyata
__ADS_1
benar maafnya harus kutebus dengan nyawa “ pikirnya. Air matanya kembali
merembes dan tetap dibiarkan sampai yang pergi tidak ada.