Karunia (Gadis Dalam Ikatan)

Karunia (Gadis Dalam Ikatan)
“Haruskah Maafmu Kutebus Dengan Nyawa”


__ADS_3

KETIKA cucunya mau di sunat mang Kardi tidak minta cuti dari


awal seperti istrinya. Tapi hari HA nya, lelaki ini minta izin kepada majikan


untuk hari ini saja. Dan Kamal sudah mengizinkan meskipun itu membuat


pekerjaannya hari ini menjadi pontang panting karena doble dengan yang biasa dikerjakan


oleh suami bi Ijah itu, sehingga kondisinya kini menjadi buruk.


“Ayah? Ayah kenapa ?”  Dani menghampiri ayahnya yang pulang bekerja langsung bersandar di kursi


dengan wajah pucat.


“Hari ini ayah kecapean Dan. Sekarang tolong ambilkan air


minum yang dingin ya?”


“Aku ngak bisa ayah. Mau suruh bunda aja ya ?”


“Bunda…? Bunda…?”  Dani yang khawatir dengan kondisi ayahnya, memanggil-manggil bundanya.


Yang di panggilnya menghampiri. “Ada apa Dan ?”  anaknya ditanya. Tapi yang menjawab Kamal.


“Bun. Tolong ambilkan air minum dingin. Aku sudah nggak


kuat”


Yang di suruh tidak menjawab, tapi langsung pergi ketempat


menyimpan galon. Selama menunggu air yang di minta, Kamal melambung.


Kesibukannya hari ini yang berlipat dari biasanya, dikilas balik. Tadi Kamal pergi


ke pabrik pukul delapan. Tapi setelah di pabrik ia malah banyak melamun dan


memikirkan permasalahan dalam rumah tangganya belum ada tanda-tanda untuk


berbaikan. Tapi pukul setengah sepuluh lalu Kamal membeli makanan karena di


sawah yang sedang metak untuk tanaman timun. Setelah mengantar makanan, setengah


sebelas Kamal lalu ngontrol kerumah orangtuanya yang tidak berpenghuni. Setelah


memeriksa kesekelilingnya dan disana aman, terakhir Kamal mengontrol kepernakan


ayam. Ketika kini tubuhnya merasa lelah dan letih, les! Kamal yang dehidrasi akhirnya


terkulai dan tidak sadarkan diri.


“Tidak…!” Wiwin yang sudah kembali langsung dibuat panik.


Gelas air yang dibawanya langsung disimpan diatas meja. Setelah itu Wiwin


buru-buru lari keluar.


“Tolong…! Tolong…”   Setelah di luar, Wiwin langsung


berteriak-teriak. Tidak lama kemudian tetangganya yang mendengar, langsung


berdatangan.


“Ada apa neng?”


“Suami saya didalam pingsan pak. Tolong bantu untuk


membawanya kerumah sakit”


Setelah diberitahu apa yang terjadi, tetangga Wiwin


buru-buru masuk. Sesampainya didalam, ternyata Kamal sudah kembali sadar.


“Bun ? Kenapa banyak orang kemari?”


“Kata neng Wiwin barusan aden pingsan”  Salah seorang warga menjelaskan.


“Iya den. Karena hari ini tidak ada mang Kardi, rupaya pekerjaan


aden jadi berlipat ganda. Karena lupa makan dan minum, akhirnya aden dehidrasi.


Untuk pemulihan, sebaiknya sekarang aden dirawat di rumah sakit”

__ADS_1


Yang menjawab pertanyaan Kamal beragam. Kalau sesepuh masjid


setempat, memberi pandangan lebih ke ranahnya sebagai ustadz.


“Neng ? Kejadian ini sebaiknya jangan diberitahukan dulu ke


mertua. Soalnya disana sekarang sedang puncak haji. Takutnya kalau mendapat


kabar buruk, ibadah mertuamu jadi terganggu “


“Ya sudah. Supaya den Kamal segera mendapat perawatan, sekarang


buru-buru bawa kerumah sakit” Ketua RW menyarankan. Kamal yang kondisinya buruk


oleh pengurus setempat akhirnya dibawa ke rumah sakit. Pukul lima sore mang


Kardi dan bi Ijah datang.


“Den ? Maaf mamang baru datang sekarang”


“Iya den, bibi juga minta maaf. Begitu mendapat kabar aden


di rawat di rumah sakit, tadi bibi langsung membujuk cucu bibi yang di sunat supaya


jangan nangis kalau ditinggal”


“Terimakasih mang…? Bi…? Tapi saya jadi tidak enak oleh keluarga


mamang dan bibi ” Kamal yang kondisinya lemah, meminta maaf kepada pembantunya


yang sudah menomor satukan dirinya dibanding keluarganya sendiri.


“Sudahlah den? Sekarang jangan banyak pikiran. Problem aden


saat ini bukan hanya satu…Sekarang fokus saja untuk kesembuhannya dulu…”


Mendengar kata-kata bi Ijah, air mata Kamal merembes.


Mungkin ingat serapahnya. Dimana suatu ketika Kamal pernah berucap “Haruskah


maafmu kutebus dengan nyawa?“ Dan ketika kini dirinya tumbang kerena dalam


kerja kerasnya tidak ada penyemangat, ternyata yang di inginkan diperolehnya.


Kamal kali ini memanggil Wiwin. Setelah yang di panggilnya menghampiri, lalu


tangannya diambil.


“Sekarang bunda pulang aja ya? Karena disini sudah ada mang


Kardi “


“Tapi aku tidak enak kalau meninggalkan kamu dalam keadaan


kayak gini ?”


“Tapi aku lebih tidak enak lagi kalau anak kita hanya di


titipkan ke tetangga, meskipun itu ceu Mimin orang yang selama ini baik sama


kita”


Mungkin iya? Pikir Wiwin. Kini air matanya juga merembes


keluar dari kedua matanya.


“Sudah jangan nangis “ Kamal mencoba menghapus air mata sang


istri yang mengalir.


“Maafkan aku ya…?”


“Minta maaf untuk apa ?”


“Aku tahu, pekerjaan ayah selama ini sangat berat…Tapi kalau


ada support dari aku, pasti ayah tidak akan merasa bahwa itu suatu beban berat…Dan


banyak lagi kesalahan aku sama kamu”


“Ya sudah…Sekarang aku sudah merasakannya. Maafmu sudah

__ADS_1


kutebus dengan nyawa. Kurasa kejadian yang sekarang bisa dijadikan pelajaran


untuk kita berdua”


Atas perkataan suaminya kini Wiwin hanya mengangguk sambil


menepis air matanya yang masih tersisa.


Pada saat kedua tangannya masih di pegang suaminya,


tiba-tiba HP nya berbunyi.


“Assalamualaikum bu ?” Wiwin menjawab yang nelpon.


“Wa’alaikumussalam…Win ? Barusan ibu itu nelpon ke HP nya


Kamal, tapi tidak di angkat-angkat? Makanya ibu langsung nelpon ke HP punya


kamu?”


“Kang Kamalnya sedang dirawat bu “


“Apa? Kamal dirawat Win…?”


“Apa ? Kamal dirawat ?”  Pak Kosim yang mendengar percakapan istrinya dan Wiwin, langsung bangkit.


“Sini pinjam HPnya bu. Bapak mau bicara kepada Wiwin”


Bu Arum memberikan NP nya.


“Win ? Kamal sampai harus dirawat memangnya kenapa?”


“Mau kamu yang jawab ?”   Wiwin menyodorkan HP nya kepada Kamal. Ternyata Kamal mengambil HP nya.


“Saya hanya kecapean ayah”   Kamal menjawab pertanyaan ayahnya.


“Terus bagaimana kondisimu sekarang ?”


“Setelah masuk beberapa botol cairan infus, sekarang sudah


agak baikan”


“Alhamdulillah…Semoga kamu cepat pulih nak, karena ayah dan


ibu juga tidak lama lagi akan pulang ke tanah air”


“Alhamdulillah…Semoga kita semua bisa berkumpul lagi”


“Iya Mal… Hari ini kita sudah selesai melaksanakan semua


rukun dan wajib haji. Alhamdulillah semuanya bisa kita melaksanaka tanpa


membadal. Jadi tadinya ibu itu mau ngasih kabar, bahwa ibu dan ayah akan segera


pulang. Tapi ternyata kamunya malah sakit. Tapi ngak apa-apa. Mudah-mudahan pas


kita pulang kamu sudah sembuh. Jadi kalau tasyakuran bisa sekalian”


“Iya Mal? Dan kalau sudah tahu begini, nanti kita pulang


juga mau langsung ke rumah kalian saja. Untuk lain-lainnya nanti kita kabari


lagi. Sekarang telponnya mau kita tutup dulu ya ? Dari KBIH sudah ngajak


seluruh rombongan balik ke hotel tuh. Semoga kamu cepat sembuh ya?”


“Amiiin…”  Yang ada di


ruangan tempat Kamal dirawat, mengucap bersama. Setelah ibunya menutup telpon,


Kamal kembali ke percakapan semula.


“Sekarang cepat pulang dengan bi Ijah ya ? Sudah pukul


setengah enam tuh. Setelah sampai rumah jangan lupa buru-buru jemput anak kita


dari rumah ceu Mimin”


“Iya…” Jawaban Wiwin singkat. “Cup…!”  Sebelum pergi menyarangkan dulu kecupan di


pipi sang suami yang sedang berbaring. Saking bahagia Kamal langsung terpejam. “Ternyata

__ADS_1


benar maafnya harus kutebus dengan nyawa “ pikirnya. Air matanya kembali


merembes dan tetap dibiarkan sampai yang pergi tidak ada.


__ADS_2