KELIRU

KELIRU
SOMETHING SPECIAL


__ADS_3

Langit sore di kota Jakarta tampak sangat cerah. Elegi jingga yang melebur disela awan yang beradu dengan matahari yang mulai pamit dari singgasananya.


Angin yang berhembus di udara membawa semilir kesunyian yang telah lama bertahta di dalam hati. Kekosongan dalam jiwa, seolah meretas angan yang penuh dengan harapan.


Alam ... seolah berbisik pada semesta. Merangkai gulungan asa yang sempat rumit. Menuainya perlahan hingga sampai dikeabadian.


*****


Mega masih bersantai di halaman belakang rumahnya. Mencari udara segar disana. Sepi ... memang iya, tapi harus terus ia nikmati.


Hatinya terasa gundah saat sejak beberapa waktu yang lalu sang ayah maupun ibunya tidak menghubunginya sama sekali. Pesan yang ia kirimpun tidak dibalas oleh mereka.


Mega bertanya-tanya dan menerka-nerka, ada apa sebenarnya? kemudian, ia ingat akan sesuatu yang harus ia beli. Beberapa buku tulis baru dan juga peralatan lainnya.


Ia menghampiri Surti yang tengah sibuk di dapur.


"Bi, aku mau ke mall. Apa Bibi mau nitip sesuatu?"


"Tidak Non. Bibi kemarin sudah belanja bahan makanan untuk stok di kulkas."


"Oh, ya sudah kalau begitu. Aku berangkat ya, Bi."


"Iya Non, hati-hati dijalan ya."


"Iya, Bi."


Mega segera menuju ke kamarnya untuk mengambil dompet dan juga ponsel yang ia masukkan ke dalam tas. Setelah itu, dia pun pergi ke teras rumah untuk mencari keberadaan Madih.


"Mang Ubed, lihat pak Madih tidak?"


"Pak Madih ada di garasi, Non."


"Oh, ya sudah terima kasih Mang."


"Sama-sama Non."


Mega pergi ke garasi yang berada di samping bangunan rumah utamanya itu. Dari kejauhan tampak Madih baru saja menutup pintu mobil tersebut.


"Pak, antarkan aku ke mall ya."


"Sekarang, Non?"


Mega mengangguk. Tanpa berpikir lama, Madih langsung masuk ke dalam dan menyalakan mesin mobilnya. Mega pun demikian.


******


Dua puluh menit berlalu, mobil yang ditumpangi Mega telah sampai disalah satu mall terbesar di Jakarta.


"Non, sendiri atau mau ditemani?"


"Sendiri saja Pak ... " Mega kemudian turun dari mobilnya. "Pak Madih tunggu diluar atau cari tempat saja ya. Nanti kalau sudah selesai akan aku telepon." Mega menutup pintunya kembali.


"Iya, Non siap!"


Mega pun masuk ke dalam mall itu. Walau seperti 'anak hilang' yang pergi ke mall sendiri, tapi Mega tetap enjoy. Sebab, ia bisa sesuka hatinya pergi ke toko manapun yang ia mau.


Pilihan utamanya tertuju pada sebuah butik yang menarik perhatiannya sejak awal ia melihat butik tersebut. Namanya Almira Butique.


Mega masuk ke dalamnya. Ia tercekat kagum saat melihat design interior di dalam butik tersebut.


Para pegawai butik itu seketika terdiam saat melihat Mega masuk.


Kenapa wajahnya mirip sekali dengan ibu Hermelinda? apa jangan-jangan ... dia anaknya ?


"Selamat sore, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Sore ... saya mau melihat-lihat terlebih dahulu, boleh?"


"Tentu boleh, silahkan."


Mega tersenyum. Pegawai butik itu kemudian meninggalkan Mega. Kemudian ... langkahnya terhenti pada sebuah gaun yang sangat familiar baginya.


Sepertinya ... aku pernah melihat gaun ini, tapi dimana ya?


Mega mencoba mengingat-ingat. Beberapa saat kemudian, iapun mengingatnya.


Ini bukankah gaun yang pernah ibu desain? kenapa bisa berada di butik ini?


Mega kemudian menghampiri pegawai butik yang tadi bersamanya.


"Permisi, bisakah saya bertemu dengan pemilik butik ini?"


Pegawai butik itu mengernyit. "Untuk apa ya?"


"Saya ... ingin bertemu saja dengannya."


Pegawai itu terlihat meragukan Mega.


"Maaf ... tapi pemilik butik ini sedang tidak ada di tempat."


"Dimana ya kalau boleh tahu?"


"Di Belanda," jawab seseorang yang berasal dari balik pegawai yang bersama Mega tadi. "Kenalkan, saya Anne. Pemegang butik ini."


"Oh, saya Mega."

__ADS_1


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Anne dengan rona kesombongan yang terpancar pada auranya. Mega hanya tersenyum remeh menatap Anne.


Baru jadi pemegang butik saja sombongnya sudah seperti ini. Apalagi jadi pemiliknya. Heran!


Selama ini Hermelinda memang tidak pernah memberitahukan tentang anak semata wayangnya ini kepada semua rekan bisnisnya. Ia sangat menutup rapat perihal kehidupan pribadinya. Kebanyakan yang mereka tahu kalau suami Hermelinda yang tak lain adalah Adrian juga pembisnis besar di negara ini.


"Saya, boleh mengambil gaun yang sebelah sana?" tanya Mega sambil menunjuk gaun yang tadi sempat ia pegang.


Dua pegawai itu mengikuti arah pandang Mega.


"Tentu, tapi harganya sangat mahal sekali. Sebab, itu limited edition. Pemilik butik inilah yang merancangnya sendiri."


Pemilik butik ini? itu artinya butik ini milik ibu yang baru saja berganti nama menjadi milikku. Baiklah aku harus bersikap biasa saja, supaya aku bisa tahu pegawai-pegawai yang baik atau tidak.


Begitupun dengan Mega. Hermelinda dilarang keras oleh Nina untuk mempublikasikan tentang Mega sebelum usianya genap tujuh belas tahun dan beralih ke tangan Mega.


Pemegang butik itu menatap Mega dengan sorot sinisnya. Ia bahkan tidak percaya dengan Mega yang hanya memakai dress sederhana dengan slingbag sedang yang ia kaitkan di pundaknya lalu sepatu sneakers.


Sumpah! sekaya apasih dia! sampai mampu membeli rancangan ibu Hermelinda sendiri. Padahal harganya hampir satu milyar.


Gerutu pemegang butik itu. Sedangkan Mega hanya bersikap setenang mungkin.


"Terima kasih," ucap Mega dengan keramahannya.


"Sama-sama, selamat datang kembali."


Mega kemudian keluar dari butik itu. Saat ia sedang asik melihat-lihat tak sengaja ia berpapasan dengan seseorang. Keduanya menghentikan langkahnya.


"Kamu .... " ucap laki-laki itu.


"Iya ?"


"Kamu yang ada di kantor pengacara itu, bukan?"


Mega terdiam sejenak. "Ah, iya kamu benar."


"Maaf ya soal waktu itu, aku tidak sengaja menabrakmu."


"Tidak masalah."


"Omong-omong, kamu mau kemana?"


"Hm ... hanya berjalan-jalan saja."


"Oh ya?"


Mega mengangguk. "Kalau kamu?" tanyanya.


"Aku juga sama ... kamu sendiri?"


"Iya ."


Meg tampak menimbang-nimbang. "Baiklah, ayok!" keduanya mulai melangkah beriringan.


"Bagaimana kita makan dulu? di sini, aku dengar ada restoran Eropa yang enak loh. Apa kamu menyukai masakan Eropa?"


"Oh, seperti itu. Hm ... tidak terlalu sih. Aku lebih suka masakan Indonesia. Lagipula aku belum pernah ke negara-negara di sana."


Memang sejak kecil hingga saat ini, Mega tidak pernah sekalipun diajak ke Belanda. Ia lebih lama di Solo kemudian Jakarta.


"Kali ini, kau harus mencobanya."


"Kenalin, Aku Damar," ucap Damar sambil mengulurkan tangannya.


"Aku Mega," sahut Mega sambil meraih uluran tangan Damar.


"Tuh restorannya, kita hampir sampai," seru Damar sambil menunjuk restoran yang ia maksud.


Mega menangkap arah pandang Damar. Tak lama keduanya pun sampai. Mereka masuk ke dalam, lalu duduk saling berhadapan.


Nama restorannya Spectrum. Memang restoran ini merupakan cabang dari restoran pusatnya yang ada di Belanda. Bahkan kokinya pun asli orang Belanda.


Damar pun memanggilkan pelayan restoran itu. Tak lama pelayan itupun menghampiri mereka.


Laki-laki ini membuatku jatuh cinta pada pandangan pertama. Haduuh ... apaan sih Mega! ingat jangan mudah jatuh cinta! Apalagi sekarang kamu sudah tidak perawan lagi.


Mega bermonolog dalam hatinya, tanpa sadar ia sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hallo, Mega? Mega?" ucap Damar sambil melambaikan tangannya didepan wajah Mega.


Mega pun tersadar dari lamunannya.


"Oh iya Damar ... maaf, kenapa?" kata Mega kemudian bertanya pada Damar.


Tampak seorang pelayan restoran yang akan mencatat pesanan mereka seperti menahan tawanya.


"Kamu mau pesan apa Mega?" tanya Damar dengan nada lembut sambil memberikan daftar menu kepada Mega.


Mega pun melihat dan memilih hidangan yang ada di restoran tersebut.


"Aku pesan jus alpukat dan beefsteak saja, tingkat kematangannya welldone ya," ucap Mega dan pelayan itu langsung mencatat pesanan Mega.


"Kalau kamu apa, Dam?" tanya Mega pada Damar yang masih memilih makanan dan minuman.


"Aku pesan jus mangga dan cinnamon roll ya."

__ADS_1


"Baik kalau begitu pesanan Tuan dan Nona, jus alpukat satu, jus mangga satu, beefsteak dengan tingkat kematangan well done satu sama cinnamon roll satu, ada lagi?" tutur pelayan restoran tersebut saat mengulang pesanan Damar dan Mega.


"Tidak Kak, terima kasih," ucap Mega dan Damar hanya menganggukkan kepalanya. Pelayan itu kemudian pergi dari hadapan mereka.


"Oh iya, Mega ... kamu tinggal dimana?" tanya Damar.


"Aku tinggal di Raflesia Exclusive Cluster, kamu?"


"Wow! lantas kemarin kamu di kantor pengacara ada perlu apa?" tanya Damar yang merasa penasaran.


"Oh, itu ... hanya mengantarkan berkas orangtuaku saja."


"Oh, sekarang kamu sekolah kelas berapa?"


"Kelas dua, tapi sebentar lagi naik ke kelas tiga. Kan baru selesai ujian semester kenaikan ... kalau kamu kerja?"


"Iya, aku kerja di anak perusahaan keluargaku, hanya karyawan biasa, gajinya pun tak seberapa dibanding dengan para CEO," jawab Damar santai.


"Jangan merendah seperti itu, berapapun gaji yang kamu dapatkan itu adalah hasil kerja kerasmu, Dam," ucap Mega dan Damar pun tersenyum.


Wanita ini cukup dewasa dalam pemikirannya. Aku semakin tertarik mengenal dia lebih banyak lagi.


"Oh iya Mega, apa kamu percaya apa itu cinta pada pandangan pertama?" tanya Damar dan Mega langsung mengerutkan kedua alisnya.


Bicara soal cinta.. sepertinya itu hanya bulshit bagiku.


"Jujur, aku sih percaya cinta pada pandangan pertama tapi yang tidak aku percaya cinta setelah pernyataan itu sendiri," jawab Mega.


"Maksudnya?" tanya Damar merasa tidak paham.


"Iya semua orang pasti pernah mengalami yang namanya cinta pada pandangan pertama termasuk aku, tapi rasa cinta itu entah kenapa bisa berubah ketika pernyataan itu telah disampaikan pada orang yang merasa dicintainya. Entah bertambah cinta atau hanya obsesi semata," jelas Mega panjang lebar sambil mengangkat kedua bahunya lalu menyandarkan punggungnya di kursi.


"Apa kamu pernah dikhianati oleh cinta?" tanya Damar dengan hati-hati. Namun, belum sempat Mega menjawab, obrolan mereka terhenti sejenak karena pesanan mereka datang.


"Permisi, pesanannya Tuan dan Nona satu jus alpukat, satu jus mangga, satu beefsteak dengan tingkat kematangan well done, dan cinnamon roll, ada lagi yang ingin ditambahkan?" ucap pelayan restoran sambil menaruh pesanan Mega dan Damar ke atas meja.


"Tidak, terima kasih," ucap Damar dan Mega hanya tersenyum.


"Baik kalau begitu, selamat menikmati," ucap pelayan restora, kemudian pergi.


"Ga?" panggil Damar.


"Iya, ada apa?" jawab Mega setelah ia meminum jus miliknya.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku, apa kamu pernah dikhianati oleh cinta?" jawab Damar kemudian bertanya kembali pada Mega.


"Cinta tidak pernah berkhianat tapi hawa nafsu manusianya lah yang berkhianat dengan cinta," jawab Mega.


"Jadi?" tanya Damar.


"Jadi apa, Dam?" Mega bertanya kembali pada Damar sambil memotong beefsteak-nya lalu memakannya.


Damar menghela napas panjang dan dalam. "Jadi mau kan kamu jadi pacarku?" tanya Damar sambil menatap Mega dengan lekat.


Uhuk.. Uhuk.. (Mega tersendak)


"Maaf, maaf makannya pelan-pelan, Mega," ucap Damar langsung memberikan minum pada Mega.


"Terima kasih," ucap Mega setelah meminum dan merasa lebih baik.


"Jadi? maukah kamu jadi pacar aku Mega?" tanya Damar sekali lagi.


"Dam, kita baru kenal. Apa harus cepat ini berpacaran?" tanya Mega.


"Mega, bagi aku berpacaran itu adalah tahap perkenalan, dengan pacaran kita bisa saling kenal satu sama lain. Aku tidak bisa janji untuk selalu mencintaimu, tapi aku akan berusaha untuk selalu membuatmu bahagia," jawab Damar membuat mata Mega berkaca-kaca.


"Tapi aku gak sebaik yang kamu kira Dam," ucap Mega yang mulai teringat kembali akan dirinya saat ini.


"Setiap orang baik itu tidak harus ia menyatakan kalau dia itu baik kepada semua orang. Tapi buktikan kepada semua orang kalau kita lebih baik dari mereka," ucap Damar yang berusaha meyakinkan hati Mega.


"Apa kamu yakin kalau aku ini wanita baik-baik?" tanya Mega sambil memicingkan matanya. Damar mengangguk seraya tersenyum.


Mega, aku mulai menyukaimu sejak kita bertemu pertama kali beberapa waktu yang lalu. Semakin lama aku semakin memikirkanmu. Pada akhirnya sekarang aku jatuh cinta kepadamu.


Mega tertawa kecil. "Apa yang kamu ketahui dengan cinta, Dam?" tanya Mega sambil mengaduk-aduk jus alpukatnya.


"Aku ini pria dewasa yang pernah mencintai wanita silih berganti, tapi saat aku bertemu kamu rasanya berbeda, Ga," jawab Damar dan lagi-lagi Mega hanya tertawa kecil.


"Berbeda?" tanya Mega memastikan dan Damar bergumam pelan.


"Memangnya usiamu saat ini berapa? sampai bilang pria dewasa, sudah berapa banyak wanita yang kamu pacari?" tanya Mega sambil terkekeh.


"Sekarang usiaku dua puluh tahun dan mantan-mantanku sudah sepuluh wanita," jawab Damar santai.


"What! sepuluh orang?" Mega memekik lalu tertawa dan Damar pun mengangguk cepat.


"Baiklah ... aku akan menerima kamu jadi pacarku tapi ada syarat yang tidak boleh kita lakukan!" tegas Mega dengan raut wajah serius.


"Apa itu?" tanya Damar penasaran.


"No ***!"


Damar pun mengulum bibirnya kemudian tertawa cukup keras.


"Mega, aku bukan pria seperti itu. Untuk berpagutan saja aku masih ragu. Baiklah untuk yang satu itu memang harus dilarang keras sebelum kita menikah," ucap Damar yang masih terus terkekeh dan Mega merasa sedikit lega.

__ADS_1


Syukurlah kalau begitu, aku jadi tidak terlalu khawatir kedepannya.


Dan mereka pun bercengkrama saling mengenal satu sama lain. Tidak ada salahnya memang untuk belajar mencintai lagi. Mungkin dia yang bersama Mega sekarang lebih baik dibanding seseorang yang pernah Mega cintai.


__ADS_2