KELIRU

KELIRU
TENTANG AYAH & IBU


__ADS_3

Disalah satu rumah sakit terbesar di Belanda. Kini, Adrian dan Hermelinda masih terbaring lemah di dalam satu kamar rawat yang sama. Sudah dua hari ini keduanya tidak bertukar kabar dengan anak semata wayangnya yang berada di Indonesia.


Nina, seorang ibu dari Adrian yang senantiasa merawat anak dan menantunya itu. Sejak Adrian dan Hermelinda menikah, Nina lah yang menjadi orang paling bahagia. Karena Nina sangat menginginkan Hermelinda untuk menjadi menantunya.


Bagi Nina, Hermelinda adalah sosok wanita yang bekerja keras serta berhati lembut. Namun, karena penyakit yang ia derita bersama Adrian membuat ia belajar untuk berhati keras terhadap anak semata wayangnya itu.


Jadi begini awal mulanya ....


Pertemuan pertama Adrian dan Hermelinda terjadi saat keduanya masuk ke dalam satu universitas ternama di Belanda. Adrian sudah lama menetap di Belanja sejak ayahnya meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Karena sebelumnya Adrian bersama kedua orangtuanya tinggal di kota Solo, Indonesia.


Saat Adrian tengah duduk di kursi yang berada di pinggir danau kampus tersebut, tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.


"Hallo, bolehkah aku duduk disini?" suara wanita itu membuat Adrian menoleh.


"Tentu, silahkan," jawab Adrian sambil mengurai senyumannya.


"Nama kamu siapa? aku Hermelinda Sutyoso," tanya Hermelinda sambil mengulurkan tangannya.


Adrian membalas uluran tangan Hermelinda. "Aku Adrian Lesmana, senang bisa berkenalan denganmu," jawabnya sambil tersenyum.


"Aku juga ... " Hermelinda ikut tersenyum. "Maaf ya Adrian, kursi di taman ini sudah penuh dan yang aku lihat hanya kursi disebelahmu yang masih kosong," sambung Hermelinda.


"Tidak masalah, aku senang berbagi kursi denganmu," timpal Adrian.


"Terima kasih," ucap Hermelinda.


"Sama-sama. Oh iya, kamu berasal darimana? sepertinya, jika terdengar dari namamu, kamu berasal dari Indonesia," tutur Ardian.


"Tepat ... tebakanmu benar! aku memang dari Indonesia, lebih tepatnya dari Jakarta. Kamu sendiri?" jawab Hermelinda kemudian bertanya pada Adrian.

__ADS_1


"Oh, Jakarta. Kalau aku dari Solo. Namun, sejak ayahku meninggal beberapa bulan yang lalu sekarang aku menetap disini bersama ibuku," jawab Adrian sambil mengalihkan pandangannya dari Hermelinda.


"Maaf, aku tidak tahu. Aku turut berduka cita ya atas meninggalnya ayahmu," ucap Hermelinda yang merasa tidak enak hati.


"Iya tak apa, kamu sendiri di Jakarta bersama orang tua?" tanya Adrian kembali sambil menoleh kearahnya.


"Iya ... tapi kedua orang tuaku sudah berpisah dan sudah hidup masing-masing dengan pasangan mereka, dan aku punya tempat tinggal sendiri pemberian dari nenek," jelas Hermelinda dan Adrian pun mengangguk paham.


"Oh, lalu kenapa kamu bisa kuliah disini?"


"Aku ikut beasiswa dari pemerintah Indonesia. Inilah negara yang aku impikan sejak lama. Walaupun di Indonesia adalah surga yang tak terkalahkan. Namun, entah kenapa ... disini aku menemukan feel tersendiri," tutur Hermelinda seketika merasa bahagia dan bangga saat ia bisa melanjutkan pendidikannya di Belanda.


Wanita yang cerdas, cantik dan juga dewasa. Kalau aku bisa mengajaknya untuk bertemu ibu, pasti ibu sangat senang.


"Oh ya? sama dong kita kalau begitu. Tapi, aku tidak ikut jalur beasiswa," ucap Adrian terkekeh. "Kamu jurusan apa Hermelinda?" sambungnya.


"Aku mengambil jurusan designer disini, karena sejak kecil aku ingin sekali bisa merancang gaun pengantinku sendiri suatu hari nanti. Kalau kamu?"


Dua tahun setelah keduanya lulus kuliah, Adrian melamar Hermelinda. Keluarga Hermelinda pun menyambut baik kedatangan keluarga Adrian dan mereka menerima lamaran Adrian.


Sebulan kemudian, Hermelinda dan Adrian menikah. Pernikahan mereka sangat meriah di tempat tinggal Hermelinda di Jakarta.


Sebulan mereka menikah, Nina memilih untuk kembali ke Solo, kota kenangannya bersama ayahnya Adrian. Tiga tahun Adrian dan Hermelinda menikah, keduanya pun akhirnya dikaruniakan seorang anak perempuan. Namun sayang, setelah kelahiran putrinya, penyakit Hermelinda diketahui setelah ia melakukan pemeriksaan dari hasil laboratorium. Tak disangka, ia mengidap penyakit kanker otak stadium satu.


Adrian pun merasa tidak tega, sebab ia sangat mencintai Hermelinda. Akhirnya Mega di rawat oleh Nina sejak Hermelinda selesai masa nifas.


Kemudian, Adrian dan Hermelinda memilih tinggal di Jakarta dan bekerja keras supaya suatu saat nanti Mega tidak akan kekurangan harta untuk bertahan hidup. Beberapa bulan setelahnya, Adrian ditemukan pingsan di ruangan kerjanya. Ia pun dibawa ke rumah sakit.


Hermelinda begitu cemas, ia juga tidak lupa untuk menghubungi Nina, mertuanya. Setelah mendapat kabar dari Hermelinda, Nina pun mengajak Mega pergi ke Jakarta karena Adrian harus dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


Setelah Nina sampai, dokter pun masuk ke dalam ruangan dengan membawa hasil tes laboratorium milik Adrian. Hal yang ditakuti oleh Nina pun terjadi, Adrian di vonis mengidap penyakit kanker otak stadium dua. Sebab, mendiang suaminya meninggal karena sakit yang sama dengan yang kini Adrian derita.


Nina begitu lemas seketika, sambil menggendong Mega yang masih bayi. Setelah beberapa hari dirawat, Adrian pun diperbolehkan untuk pulang dan check up sebulan sekali, begitupun dengan Hermelinda.


Tujuh belas tahun berlalu, Nina memutuskan untuk kembali ke Belanda dan menyuruh Mega untuk tinggal bersama Adrian dan Hermelinda. Namun, karena kesibukan Adrian maupun Hermelinda, membuat Mega menjadi kesepian.


Keduanya sengaja untuk tidak terlalu dekat dengan Mega. Padahal sewaktu Mega kecil, Adrian dan Hermelinda selalu menyempatkan waktu untuk pulang ke Solo demi bisa bermain bersama Mega.


Kini semuanya telah berubah, keduanya memilih menjaga jarak dengan harta mereka yang paling berharga. Kemudian tiba saatnya ketika Mega berusia tujuh belas tahun, Adrian maupun Hermelinda menyerahkan semua harta yang mereka miliki kepada Mega.


Setelah Adrian kembali lagi ke Belanda, beberapa bulan kemudian tubuhnya melemah begitupun dengan Hermelinda. Kanker yang mereka idap sudah sama-sama mencapai stadium empat.


****


Adrian, Hermelinda apakah ini yang dinamakan jodoh? kalian menikah dalam keadaan sehat bersama, dan kalian akan pergi dalam keadaan sakit bersama. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk kalian dan juga Mega, cucuku.


Hati Nina begitu bergetar, kedua anaknya terbaring lemah tak berdaya. Tiba-tiba seseorang menghampiri Nina. Dengan segera ia menyeka air mata yang sudah luruh sejak tadi.


"Permisi Nyonya ... saya Fabio, sekretaris tuan Adrian. Ini ada beberapa berkas yang harus Nyonya tanda tangani," ucap Fabio sambil menyerahkan berkas itu kepada Nina.


Nina pun mengambil berkas tersebut sambil memeriksanya dan barulah ia menanda tanganinya.


"Nyonya, apakah nona Mega perlu diberitahukan tentang kondisi tuan Adrian dan nyonya Hermelinda sekarang?" tanya Fabio sambil mengambil kembali berkas yang diserahkan oleh Nina.


"Jangan sekarang! belum waktunya. Lebih baik, suruh orang suruhanmu memberi pelajaran terhadap siapapun yang berani membuat cucuku menderita, mengerti?" tegas Nina dan Fabio pun mengangguk patuh.


"Baik Nyonya, kalau begitu saya permisi," pamit Fabio kemudian pergi meninggalkan Nina yang telah berdiri didepan ruang ICU rumah sakit.


Semoga kalian lekas sadar, anak kalian sudah beranjak dewasa. Dan dia butuh kalian untuk terus disampingnya. Aku belum bisa membawa Mega kesini, karena sekolahnya tersisa satu tahun lagi. Ku harap Mega tidak benar-benar membenci kalian. Aku yakin Mega anak yang baik. Aku sangat merindukan Mega, cucuku. Harta memang butuh untuk hidup, tapi kasih sayang dan perhatian orangtua lebih dibutuhkan oleh seorang anak.

__ADS_1


Nina menatap sendu Adrian dan juga Hermelinda. Dengan hati yang berkecamuk serta bergemuruh ketika mengingat tentang Mega.


Rindu yang sangat menyeruak saat jiwa tak dapat meluapkan. Resah dan juga ... gelisah saat dia yang biasa ada selalu menemani, pergi dari pandangan mata yang hanya menjadi sebuah bayangan.


__ADS_2