
"Kak A-Arif?" ucap Pinkan dengan lirih.
"Kamu? Pinkan? benarkah?" tanya Arif sembari menunjuk ke arah Pinkan dengan seulas senyum dibibirnya.
Senyumanmu masih sama Pinkan seperti 6 tahun yang lalu. Andai saat itu aku berani untuk mendekatimu dan tidak mengalah dengan Zidan pasti aku akan menjadi laki-laki yang paling bahagia telah memilikimu.
"Kalian saling mengenal?" tanya Nina kepada Pinkan dan Arif, keduanya pun mengangguk bersamaan.
"Teman lama atau?" Nina menggantungkan pertanyaannya dan langsung di potong oleh Pinkan.
"Teman lama nek," ucap Pinkan sembari tersenyum.
"Iya itu benar nyonya. Kami teman lama," sahut Arif sambil melirik Pinkan lalu mengalihkan pandangannya lagi.
"kalau begitu mari saya antar. Karena saya ditugaskan pak Alka untuk mengantar nona Mega dan non Nindya kembali ke rumah," ucap Arif sambil mempersilahkan mereka semua untuk keluar ruangan terlebih dahulu.
Pinkan berjalan dibelakang Nina , Mega dan juga Nindya. Sebelum mereka menuju ke mobil, Nindya meminta untuk bertemu dengan Albi terlebih dahulu.
"Mommy, aku ingin bertemu daddy," ucap Nindya dan Mega pun mengangguk.
"Iya sayang, tapi Nindya hanya bisa melihat dari luar aja ya melalui jendela karena Nindya masih cukup umur untuk bisa masuk ke dalam," kata Mega memberi pengertian kepada Nindya sambil mensejajarkan tubuhnya supaya sama dengan Nindya.
"Tapi aku ingin peluk daddy, mommy," ucap Nindya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Iya sayang kalau daddy sudah bangun dari tidurnya. Nindya bisa peluk daddy sepuasnya kok. Sekarang Nindya peluk mommy dulu ya," tutur Mega lalu memeluk Nindya. Awalnya Nindya tidak membalas pelukan Mega, akhirnya ia pun membalasnya. Terasa ada buliran air mata yang membasahi bahu Mega. Nindya menangis dalam diam.
Tak lam pintu lift pun terbuka, Mega langsung menggendong Nindya keluar dari lift tersebut. Entah kenapa pelukan Nindya semakin erat, Mega mengelus lembut punggung Nindya.
__ADS_1
Ya Tuhan semoga Nindya bisa mengerti kalau daddynya saat ini masih berjuang untuk hidup.
Mega berdoa dalam hatinya. Sesampai di depan ruang ICU, tampak Adidaryo yang menutup pintu karena baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Adidaryo, bagaimana keadaan Albi saat ini?" tanya Nina dengan raut wajah yang begitu penasaran.
Adidaryo hanya menghela nafasnya, "kata dokter setelah pemeriksaan beberapa hari yang lalu, hidup Albi saat ini tergantung alat yang menempel pada tubuhnya. Mungkin jika dilepas, Albi memang benar-benar pergi untuk selama-lamanya," ucap Adidaryo lalu memijat kedua alis matanya yang kemudian menangis, tubuhnnya ikut bergetar. Seolah kesedihan mendalam yang ia alami. Nina mencoba menenangkan Adidaryo dengan mengelus lembut punggungnya.
"Kita masih punya Tuhan, teruslah berdoa. Aku percaya semakin kita terus meminta, maka kita akan semakin dekat dengan harapan kita, doa kita. Layaknya seperti sepeda, semakin dikayuh maka akan semakin dekat dengan tujuan kita," ucap Nina. Hati Mega seolah teriris mendengar jawaban Adidaryo.
Tuhan, beri kesempatan kepada kak Albi untuk hirup. Karena hanya dia yang bisa menerimaku dengan segenap cinta yang ia punya dan setulus hatinya atas masa laluku. Jangan biarkan kak Albi pergi saat ini, Tuhan. Aku tau, Engkau yang lebih kuasa atas kak Albi. Tapi aku mohon, berilah ia kesempatan walau hanya sehidup nafas pun asalkan aku dengannya.
Air mata Mega menetes begitu saja, tak ia sadari Nindya memperhatikan Mega yang tengah menangis. Tarikan Nindya lewat baju Mega menyadarkan Mega pada lamunannya. Mega menghapus air matanya dan mencoba tetap tersenyum pada Nindya. Ia pun mensejajarkan kembali tubuhnya supaya sama dengan Nindya.
"Ada apa sayang hem?" tanya Mega yang masih tersenyum.
"Mommy kelilipan sayang, tuh jadinya menangis deh karena begitu terasa gatal," Mega mengucek-ngucek matanya, namun Nindya memperhatikan Mega dengan seksama, seolah ia belum puas dengan jawaban yang telah Mega berikan.
"Lalu daddy?" tanya Nindya kembali mengulang pertanyaannya karea tadi Mega tidak menjawabnya.
"Daddy baik-baik aja sayang, sini mommy gendong supaya Nindya bisa melihat daddy," jawab Mega lalu menggendong Nindya dan membawanya ke depan kaca besar yang berada di samping.
"Hallo daddy, daddy kok masih tidur sih. Nindya kangen main sama daddy. Daddy kapa bangunnya? kita kan mau makan ice cream lagi. Daddy cepat bangun yah, kenapa sekarang daddy jadi suka tidur? padahal kalau Nindya tidur, daddy terus terjaga untuk Nindya. I love you more daddy," ucap Nindya membuat hati Mega bergetar bukan main. Air mata yang sejak tadi tertahan, kini tumpah begitu saja. Mega memeluk Nindya dengan sangat erat.
"Nindya sayang banget yah sama daddy?" tanya Mega dengan isak tangisnya dan suaranya yang mulai berubah menjadi sengau.
"Iya mommy, kenapa mommy menangis lagi? apakah karena daddy terlalu lama tertidur?" jawab Nindya sambil mengangguk lalu mengusap air mata Mega dan Mega memeluk Nindya kembali.
__ADS_1
Tuhan, kenapa rasanya aku tak sanggup jika harus kehilangan laki-laki yang telah membuatku jatuh cinta kembali. Apa perasaanku yang keliru terhadap setiap takdir yang telah Kau berikan padaku? Rasanya sakit sekali Tuhan. Masih melihatnya terbaring lemah aja dadaku terasa sesak. Apalagi jika aku tidak melihatnya untuk selama-lamanya.
Mega tak mampu menjawab pertanyaan Nindya, ia terus memeluk Nindya. Beruntung Nindya adalah anak yang mudah mengerti dengan keadaan. Nindya pun terus memeluk Mega.
Cukup lama mereka berpelukan, Mega melepaskan pelukannya.
"Sekarang kita berdoa yuk untuk daddy. Supaya daddy cepat sembuh dan bisa bangun lagi dari tidurnya," ajak Mega lalu keduanya pun berdoa bersama.
Setelah selesai, Mega mengajak Nindya ke depan kembali. Ia melihat Ninda dan Adidaryo tak ada disana melainkan hanya Pinkan dan Arif yang sedang duduk menunggu Mega dan juga Nindya.
"Pinkan, nenek kemana ya?" tanya Mega yang masih menggendong Nindya.
"Mommy aku ingin jalan aja," ucap Nindya, lalu Mega menurunkan Nindya dari gendongannya.
"Nenek dan kakeknya kak Albi barusan aja pergi. Merek bilang ada urusan yang harus mereka urus," jawab Pinkan dan Mega pun ber oh ria.
"Ya sudah, yuk kita pulang," ajak Mega lalu Pinkan dan Arif pun mengangguk bersamaan.
"Mommy besok kita ke sini lagi kan bertemu dengan daddy?" tanya Nindya sambil menunjukkan puppy eyes nya yang begitu menggemaskan.
"Iya sayang, untuk sekarang kita pulang dulu ya ke rumah mommy. Kan Nindya dan Mommy baru aja sembuh dari sakit jadi masih harus banyak istirahat," jawab Mega dan Nindya pun mengangguk paham.
Mereka pun melangkahkan kakinya pergi dari ruang ICU tersebut.
"Mommy nanti aku mau tidur dipeluk mommy ya," ucap Nindya sembari tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang putih dan rapih.
"Iya dong sayang, kita akan tidur di kamar mommy," kata Mega dan tak terasa mereka pun sampai di mobil. Mereka masuk ke dalam mobil, kemudian Arif pun melajukan mobilnya menuju kediaman Nina.
__ADS_1