KELIRU

KELIRU
DOSA ITU BURUK


__ADS_3

"Mega, kamu kenapa?" tanya Pinkan saat melihat Mega terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ada apa Meles?" tanya Dona.


Mega masih mengatur nafasnya.


Kenapa mimpi itu begitu sangat nyata? aku harus mencari tau kebenarannya. Astaga!


Mega memegangi kepalanya dan merapihkan rambutnya kembali.


"Damar gaes," ucap Mega membuat Pinkan dan Dona saling bertukar pandang.


"Damar kenapa?" tanya Pinkan dan Dona bersamaan.


"Damar ngucapin kata-kata perpisahan sama aku, dan itu terasa sangat nyata sekali," jawab Mega sambil memandang Pinkan dan Dona bergantian.


Pinkan dan Dona pun langsung memeluk Mega.


"Everything wanna be ok, Mega. Damar baik-baik aja kok disana. Jangan berprasangka buruk seperti itu, sama aja itu dosa dan dosa itu buruk," ucap Pinkan dan Dona pun mengangguk.


"Tapi aku merasa telah terjadi sesuatu dengan Damar, apa kita ke Indonesia aja ya buat mastiin yang sebenarnya?" tanya Mega.


"Apa kamu yakin Mega?" tanya Dona, dan Mega pun mengangguk.


"Lebih baik meminta izin dulu pada nenek ya," usul Pinkan.


"Baiklah aku akan ke kamar nenek sekarang, kalian mandi duluan aja ya. Inget gantian loh jangan perebutan lagi," kata Mega sambil memberi ancaman pada Dona dan Pinkan, sementara keduanya pun hanya tersenyum sambil memperlihatkan barisan gigi mereka.


Mega turun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamar menuju kamar Nina yang berada di lantai dasar. Setelah sampai di depan pintu kamar Nina, Mega pun mengetuk pintunya.


TOKTOKTOK (suara ketukan pintu)


"Nek, ini Mega. Apakah aku boleh masuk ?" tanya Mega dari depan pintu.


Tak lama pintu kamar Nina pun terbuka. Mega pun tersenyum.


"Ada apa sayang masih pagi sudah mengetuk pintu kamar nenek?" tanya Nina.


"Ada yang ingin aku bicarakan dengan nenek. Tapi bolehkah kita membicarakannya didalam aja nek?" jawab Mega lalu bertanya kembali pada Nina.


"Tentu, ayok masuk," jawab Nina dan Mega pun masuk ke dalam kamar Nina.


"Baru kali ini aku masuk ke dalam kamar nenek yang berada disini, ternyata konsepnya tidak berbeda jauh dengan yang di Solo ya," ucap Mega sambil melihat disekeliling kamar Nina.


"Iya, karena ini konsep nenek dan mendiang kakekmu," kata Nina sambil terkekeh.


"Jadi ada apa?" tanya Nina saat keduanya duduk di sofa.


Mega pun menceritakan mimpinya yang baru saja ia alami. Lalu Mega meminta izin kepada Nina untuk pergi ke Indonesia hari ini juga.


"Nek, boleh ya? please," ucap Mega sambil merengek kepada Nina.


Nina pun tampak berpikir sejenak.


Berarti apa yang barusan diberitahu Madih benar itu Damar yang kecelakaan.

__ADS_1


"Baiklah nenek izinkan, tapi hanya satu hari aja, setelah kamu sudah mengetahui kebenarannya. Kamu bisa kembali ke sini," jawab Nina membuat hati Mega sedikit lebih lega.


"Terima kasih nek," ucap Mega sambil mengecup kedua pipi neneknya.


"Iya sama-sama, apa Pinkan dan Dona juga ikut?" tanya Nina.


"Sepertinya iya nek," jawab Mega.


"Baiklah kalian hati-hati dijalan ya, biar nenek akan menghubungi pihak bandara supaya menyiapkan pesawat pribadi untuk kalian," ucap Nina dan Mega langsung memeluk Nina.


"Ya sudah lebih baik sekarang kamu siap-siap, 15 menit lagi kalian berangkat ya," sambung Nina dan Mega pun mengangguk.


Mega keluar dari kamar Nina tak lupa ia menutup pintunya kembali. Sementara Nina langsung mengambil ponselnya dan menghubungi pihak bandara.


🌾


Indonesia


Pukul 11 siang waktu Indonesia Bagian Barat (WIB), setelah 2 jam pengurusan jenazah Damar. Ayah dan ibu Damar langsung membawa jenazah Damar ke rumah duka.


Ibu Damar sampai beberapa kali pingsan karena masih tidak bisa menerima kenyataan bahwa Damar meninggal dunia. Sesampai dirumah duka, para pelayat pun sudah mulai berdatangan.


Tepat pukul 1 siang, jenazah Damar pun dikebumikan. Suasana haru penuh dengan isak tangis mengantarkan Damar ke peristirahatan terakhirnya.


Taburan bunga mawar memenuhi seluruh gundukan tanah yang masih basah. Doa-doa yang tulus pun dipanjatkan oleh orang-orang yang datang melayat terutama ayah dan ibunya.


Kemudian satu persatu para pelayat pergi meninggalkan tempat peristirahatan terakhir Damar. Terkecuali ayah dan ibunya.


Nak, kenapa kamu pergi secepat ini? ibu sangat menyayangimu nak. Tapi Tuhan lebih sayang denganmu.


Dam, maafin ayah yang belum sempat jujur semuanya terhadap kamu. Sejujurnya kakekmu sangat menyayangi kamu dan ingin bertemu denganmu sejak kamu kecil. Namun Tuhan berkehendak lain, semoga kamu bisa tenang disana nak.


🌾


Belanda


4 jam yang lalu, Mega dan kedua sahabatnya telah take off dari Belanda menggunakan pesawat pribadi miliknya. Perasaan Mega semakin tak karuan, bahkan ia tidak bisa memejamkan kedua matanya.


Bayang-bayang Damar mengucapkan kata-kata perpisahan terus berputar dialam bawah sadarnya. Pinkan dan Dona pun ikut merasa cemas dengan Mega. Mereka berharap semoga tidak terjadi sesuatu dengan Damar.


13 jam perjalanan Belanda-Jakarta, seakan terasa begitu sangat lama bagi Mega. Dan akhirnya pukul 23.00 waktu Indonesia, pesawat yang mereka tumpangi pun mendarat dengan aman di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.


Mega bergegas turun dari perawat begitupun dengan Pinkan dan Dona. Di bandara, mereka sudah di jemput oleh pak Madih. Nina sengaja langsung menyuruh semua orang-orang suruhannya yang berada di Indonesia untuk mengawal Mega bertemu dengan Damar.


Mega dan kedua sahabatnya pulang ke rumah Mega yang berada di Jakarta. Sesampai dirumah, mereka disambut oleh Ubed, bi Surti dan juga Asep. Ketiganya langsung masuk ke dalam kamar Mega dan beristirahat setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh.


🌾


Keesokan harinya, Mega terbangun lebih dulu. Tubuhnya sudah lebih baik setelah ia tidur semalaman. Ia pun membangunkan Pinkan dan juga Dona.


"Pinkan, Dona bangun ayok katanya mau nemenin aku bertemu dengan Damar," ucap Mega sambil menggoyang-goyangkan bahu Pinkan dan juga Dona.


"Masih pagi Meles, sebentar lagi ya," timpal Dona yang memeluk gulingnya kembali.


"Ih kalian ini, ya sudah aku mau mandi dan berangkat sendiri aja," ucap Mega merajuk dan langsung masuk ke kamar mandi.

__ADS_1


Pinkan dan Dona pun masih tetap berada dialam mimpinya. Beberapa menit kemudian, Mega pun selesai mandi. Ia bergegas memakai pakaiannya dan meninggalkan Pinkan serta Dona.


Mega keluar dari kamar dan menuju ruang makan.


"Pagi bi," sapa Mega pada bi Surti.


"Pagi non, bibi kangen banget sama non Mega," ucap bi Surti sambil memeluk Mega.


"Aku juga kangen sama bibi," kata Mega sambil membalas pelukan bi Surti.


"Ayok non sarapan dulu, teman-teman non belum pada bangun?" bi Surti melepaskan pelukannya dan mengajak Mega untuk sarapan lalu bertanya pada Mega.


"Belum bi. Oh iya, pagi ini aku ada urusan nanti diantar dengan pak Madih. Kalau teman-temanku udah bangun bilang aja aku keluar ya bi," jawab Mega.


"Loh memangnya non mau kemana?" tanya bi Surti.


"Aku mau bertemu dengan teman lamaku bi," jawab Mega sambil menyantap sarapannya dan bi Surti hanya ber oh ria.


Tak lama Mega pun menyelesaikan sarapannya lalu menyambar slingbag miliknya kemudian pamit kepada bi Surti. Pak Madih sudah standby di halaman rumah Mega.


"Mau berangkat sekarang non?" tanya pak Madih saat ia melihat Mega keluar dari rumah.


"Iya pak ayok," jawab Mega.


"Teman-teman non gak pada ikut?" tanya pak Madih.


"Tidak pak, sepertinya mereka kelelahan. Biarkan aja mereka istirahat," jawab Mega sambil masuk ke dalam mobil.


"Pak minta tolong antarkan ke alamat ini ya," sambung Mega sambil memperlihatkan alamat yang pernah dikirimkan Damar melalui pesan singkatnya beberapa tahun lalu. Pak Madih pun mengangguk, kemudian ia pun melajukan mobilnya.


Tak sampai 30 menit perjalanan, mobil yang Mega tumpangi pun sampai didepan rumah Damar.


Kok ada bendera kuning? siapa yang meninggal? tapi memang ini alamat yang pernah Damar kasih padaku.


"Pak berhenti disini ya, pak Madih jangan kemana-mana tunggu aku disini," ucap Mega dan pak Madih pun mengangguk paham.


Mega pun turun dari mobil, ia berjalan sambil sesekali menoleh kekanan dan kekiri.


Rumahnya sepi sekali, tapi kenapa aku gak melihat keberadaan Damar disini.


Mega pun mengetuk pintu rumah Damar. Berhubung perumahan tempat tinggal Damar tidak ada yang memakai gerbang namun hanya bergariskan tanaman saja, jadi Mega langsung masuk ke teras rumah Damar.


Pintu rumah pun terbuka, tampak seorang wanita paruh baya tersenyum melihat Mega dan Mega pun membalas senyuman wanita itu.


"Selamat pagi bu," sapa Mega.


"Pagi, kamu cari siapa ya?" tanya wanita itu yang tak lain adalah ibu Damar.


"Saya mau mencari Damar bu, sejak kemarin Damar tidak bisa dihubungi. Saya Mega, temannya Damar," jawab Mega sambil mengulurkan tangannya.


Mata ibu Damar langsung berkaca-kaca. Bukannya membalas uluran tangan Mega namun ia langsung memeluk Mega dengan sangat erat. Mega pun terlihat kebingungan.


"Ya Tuhan jadi kamu yang namanya Mega? maafin Damar ya Mega, maafin Damar," ucap ibu Damar dengan isak tangisnya.


"Memangnya apa yang telah terjadi pada Damar bu?" tanya Mega.

__ADS_1


"Damar..."


__ADS_2