KELIRU

KELIRU
DADDY, I NEED YOU!


__ADS_3

Universiteit van Amsterdam


"Alka!" teriak seorang wanita kepada laki-laki yang ada di depannya. Karena merasa namanya di panggil, laki-laki itupun menoleh.


"Kiran?" ucap Albi dengan mengerutkan kedua alisnya.


Kiran pun tersenyum lalu berjalan menghampiri Alka.


"Hai, bisa minta waktunya sebentar gak? aku ingin bicara denganmu," tanya Kiran dengan santainya. Alka hanya mengangguk lalu mempersilahkan Kiran. Mereka duduk di sebuah kursi yang berada di taman kampus tersebut.


"Ada apa ?" tanya Alka dingin tanpa menoleh kepada Kiran.


"Alka.. aku gak bisa lupain kamu, walau kamu bukan milikku lagi. Tapi aku gak bisa hidup tanpamu," jawab Kiran mengeluh sambil melihat Alka yang duduk disebelahnya. Alka hanya menghela nafasnya dan masih tak bergeming mendengarkan apa yang akan Kiran katakan selanjutnya.


"Apa sudah tidak ada lagi kesempatan kedua untukku Alka? kenapa kamu dengan mudahnya melupakan semua kenangan bahagia yang pernah kita lalui? aku masih mencintaimu Alka," sambung Kiran dengan mata yang sudah berkaca-kaca dan Alka masih terdiam tanpa menoleh kepada Kiran.


"Kamu udah sia-siakan aku saat aku masih mencintai kamu. Kamu yang telah menjatuhkan hati ini tapi kamu juga gak pernah menganggapku ada disini. Dulu aku tak menyerah tapi sekarang aku pasrah," Alka menghela nafanya sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Kiran mengerutkan kedua alisnya, kini ia merasa harapannya telah pupus untuk bersama kembali dengan Alka. Lalu Alka bangkit dari duduknya.


"Sudah aku putuskan untuk pergi dari hidupmu. Kamu yang sudah mengacuhkan aku hingga aku lelah. Dan kamu hanya bagian dari masa laluku, Kiran," sambung Alka lalu pergi meninggalkan Kiran yang masih terpaku.


Aku tahu aku telah meghancurkan hatimu dan membuatmu tak bisa utuh lagi. Tapi apakah sudah benar-benar tidak ada kesempatan kedua untukku, Alka?


Kiran menatap nanar kepergian Alka dari hadapannya hingga Alka hilang dari pandangan Kiran. Mega yang sejak tadi telah sampai di kampusnya, ia menghentikan langkahnya saat melihat Alka dan Kiran dan ia pun berdiri tak jauh dari tempat Kiran tak sengaja Mega mendengar semua yang dibicarakan oleh mereka.


Jadi itu yang namanya Kiran, cantik dan penampilannya pun sangat modis. Ah ya sudahlah toh bukan urusanku.


Mega berjalan kembali menuju ke kelasnya. Sementara Kiran langsung menghubungi Samudera, ayah kandungnya.


"Hallo sayang," ucap Samudera dari seberang telepon.


"Daddy, i need you!" Kiran merengek kepada Samudera.


"Apa yang bisa daddy bantu sayang?" tanya Samudera yang sedang bersantai menikmati pagi hari di balkon kamarnya.


"Alka menolakku saat aku meminta kembali padanya. Aku masih mencintainya daddy," jawab Kiran sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya.


"Santai anak daddy yang cantik, sebentar lagi Alka akan kembali padamu," ucap Samudera dengan entengnya.

__ADS_1


"Apakah daddy yakin?" tanya Kiran yang merasa ragu, ia pun menggigit kuku jari telunjuknya.


"Kamu masih meragukan kemampuan daddy mu nak?" tanya Samudera dan Kiran hanya menghela nafasnya.


"Baiklah jangan membuatku kecewa dad," jawab Kiran dengan malas dan lesu. Samudera mematikan sambungan teleponnya. Lalu ia menghubungi seseorang untuk memerintahkan sebuah tugas.


Kiran pun pergi dari kampus tersebut. Sedangkan Mega baru saja memulai jam pelajaran di kelas pertamanya. Mata Mega membulat dengan sempurna saat ia melihat Alka yang masuk ke dalam kelasnya.


Kak Alka? kenapa dia mengajar di kelasku? bukankah aku berbeda jurusan dengan mata kuliah yang dia kuasai?


Mega memperhatikan Alka dengan seksama saat Alka mulai menerangkan materi. Tak disangka, Alka salah tingkah saat ia diperhatikan oleh Mega. Padahal sebenarnya semua mahasiswi dikelas tersebut memperhatikan Alka, namun karena Alka memiliki rasa pada Mega, membuatnya hampir kehilangan konsentrasi mengajar.


Dua jam berlalu, kelas pun selesai. Para mahasiswi pun keluar kelas. Tinggallah Mega dan Alka di dalam kelas tersebut. Setelah Mega telah selesai memasukkan bukunya ke dalam tas, Alka menghampiri Mega.


"Hai Ga," sapa Alka sambil menaruh kedua tangannya ke dalam saku celananya.


"Eh kak Alka, ada apa?" tanya Mega dengan senyumannya.


Sebenarnya aku ingin dekatimu, namun ku sadari aku tak bisa. Haruskah ku tanya pada bintang? kenapa bukan aku yang memilikimu? bukankah semesta yang telah mempertemukan kita? seharusnya aku tak boleh ada disini karena bahaya aku makin cinta.


Mega merasa heran melihat Alka tengah tertegun sambil melihatnya sangat lekat.


"Eh iya, setelah ini apakah kamu ada kelas lagi?" tanya Alka mengulas senyum tipis dikedua sudut bibirnya.


"Sepertinya satu jam lagi dan sekarang aku sangat lapar," jawab Mega sambil melihat arloji yang melingkar di tangan kanannya.


"Oh, ya sudah. Maaf ya Mega aku duluan," pamit Alka tersenyum tipis lalu meninggalkan wanita yang dihadapannya. Mega memiringkan sedikit kepalanya dengan mengerutkan kedua alisnya.


Ada apa ya dengan kak Alka? kenapa sekarang ia jadi terkesan menghindariku?


Mega pun menghempaskan nafasnya pelan lalu memilih pergi ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah lapar.


Adidaryo Grup


Albi tengah mengecek kembali persiapan grand launchingnya yang akan disenggarakan esok malam. Para pegawai pun tengah sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Terutama pada bagian sistem sofware yang sangat berperan penting dalam program baru yang akan mereka luncurkan.


"Bagaimana apakah sudah oke semua?" tanya Albi tiba-tiba masuk ke ruangan sofware. Semuanya tengah sibuk dan berkonsentrasi, karena tidak boleh ada satu virus pun yang masuk kedalamnya.

__ADS_1


"Pak Albi, bahaya!" seru salah satu pegawai diruangan tersebut.


"Ada apa?" tanya Albi sambil menghampiri pegawai yang memberinya peringatan itu.


Albi melihat ke layar komputer yanga da didepannya.


"Lihat pak, telah terdeteksi virus yang tidak dikenal darimana datangnya. Dan virus ini sangat berbahaya, bahkan bisa membuat laptop yang aka memakai program kita bisa ikut mengalami kerusakan," jawab pegawai tersebut sambil menunjukkannya kepada Albi. Dan Albi pun langsung tercengang.


Bagaimana bisa? sejak tadi aku cek tidak ada virus yang masuk. Tunggu, sepertinya aku kenal darimana virus ini berasal.


Dengan kecerdasannya ia pun mengambil alih komputer tersebut dan melakukan misi rahasia saat program yang terdeterksi virus ada yang berusaha menghancurkan program mereka. Dan misi itu hanya Adidaryo, Alka dan Albi yang mengetahuinya.


Sial! virus ini sama seperti virus yang pernah perusahaan Samudera kirimkan beberapa tahun yang lalu. Rupanya ia ingin bermain-main denganku. Lihat aja, setelah ini perusahaanmulah yang akan hancur!


Albi mendengus kesal setelah ia mengetahui pelakunya. Ia pun menghentikan para pegawai yang berada di ruang software tersebut.


"Perhatian semuanya! kita berkumpul dulu sejenak. Ada yang ingin saya sampaikan kepada kalian," tegas Albi lalu para pegawai itu pun langsung berkumpul.


"Kita hampir saja kehilangan program baru yang akan kita luncurkan besok. Beruntung saya cepat mengetahuinya. Lain kali jika ada data yang masuk dan itu tidak kalian kenal bahkan sangat asing. Segera lapor kepada saya, Alka ataupun tuan Adidaryo. Karena jika tidak segera kita hapus virus tersebut maka buka hanya satu program yang akan kena dampaknya. Bahkan bisa jadi semua program. Mengerti?" jelas Albi panjang lebar membuat para pegawai itu terkecat kagum melihat ketegasan Albi.


Mereka pun langsung kembali kepekerjaan mereka masing-masing. Sedangkan Albi keluar dari ruangan tersebut dan pergi kembali ke ruangan kerjanya.


Albi langsung menghubungi Adidaryo yang berada dirumah. Ia menceritakan kejadian yang tengah perusahaan alami beberapa saat yang lalu. Adidaryo begitu geram, setelah mematikan sambungan telepon dari Albi.


Sudah mulai beraksi rupanya kamu Samudera! lihat saja setelah ini kamulah yang akan hancur.


Adidaryo langsung mengerahkan orang-orang suruhannya untuk segera memberi pelajaran kepada Samudera.


Universitet van Amsterdam


Beberapa jam berlalu, Mega pun telah selesai dengan kelas keduanya. Ia pun tengah bersiap untuk menemui Nina di salah satu butik milik mendiang Hermelinda. Tiba-tiba saat Mega berada di ambang pintu keluar, sebuah bucket bunga mawar menghadang jalannya. Mega terkejut dan sang pemilik bucket bunga itu keluar dari persembunyiannya. Mega pun mengulas senyumnya yanga sangat manis begitupun dengan laki-laki yang ada dihadapannya.


"Terima kasih kak," ucap Mega sambil menerima bucket bunga tersebut.


"Sama-sama, mau makan siang denganku?" ajak Albi yang baru saja tiba di kampus Mega dan langsung menuju kelas Mega untuk memberi kejutan. Jantung Mega pun berdetak cukup cepat ketika bersama dengan Albi.


"Boleh, yuk," jawab Mega dan Albi pun mengulurkan tangannya kemudian disambut oleh uluran tangan Mega.

__ADS_1


Mereka pun berjalan menuju tempat parkir sambil bergandengan tangan dan sesekali saling bertatapan dengan senyuman yang tidak pudar dari kedua sudut bibir keduanya.


__ADS_2