
"Tuan Albi mengalami cedera yang cukup parah dibagian dadanya. Bisa jadi masa penyembuhan membutuhkan waktu sedikit lebih lama, namun untuk itu kami akan mengusahakan memberikan perawatan yang terbaik untuk tuan Albi," tutur dokter tersebut membuat Adidaryo tercengang.
"Apakah cedera itu mengalami efek jangka panjang dok?" tanya Adidaryo yang masih belum tersadar sepenuhnya.
"Seharusnya tidak, hanya penyembuhannya yang harus tepat dan cukup lama," jawab dokter tersebut membuat Adidaryo mengangguk paham.
"Oh iya tuan Albi masih di dalam ruangan observasi dan belum sadarkan diri. Kemungkinan 2 jam lagi baru bisa di pindahkan kembali ke ruang ICU. Kalau begitu saya permisi tuan," sambung dokter tersebut pamit dari hadapan Adidaryo.
"Baik dok terima kasih banyak," ucap Adidaryo sambil menundukkan kepalanya begitupun dengan dokter yang baru saja selesai memberi tindakan untuk Albi.
Adidaryo Grup
Alka baru saja tiba di kantor. Beberapa menit yang lalu, acara grand launching program terbaru dari Adidaryo Grup pun telah usai.
"Arif, ada berkas lagi yang harus aku tanda tangani?" tanya Alka sambil berjala menuju ruangannya.
"Untuk saat ini belum pak, apakah pak Alka akan kembali ke rumah sakit?" tanya Arif yang menyamai langkah Alka.
"Iya," jawab Alka singkat yang kemudian masuk ke dalam lift.
"Bagaimana kondisi paka Albi saat ini pak kalau boleh tahu?" tanya Arif dan tak lama lift pun berhenti di lantai ruangan khusus pemilik perusahaan dan asisten pribadi.
"Albi masih kritis dan tadi saat aku tinggal ke tempat acara, dia sedang dioperasi," jawab Alka membuat Arif merasa iba.
"Bagaimana lebih baik kita ke rumah sakit bersama? mungkin aja Albi telah selesai melakukan operasi?" usul Alka dan Arif pun mengangguk cepat.
"Ide bagus pak," jawab Arif.
"Setelah ini sudah tidak ada jadwal lagi kan? tapi sebelum ke rumah sakit kita sepertinya harus makan siang dulu. Karena tadi jam makan siangku terpotong untuk acara. Kamu temani aku makan siang ya," ucap Alka dan Arif pun mengangguk patuh.
Keduanya pun masuk kembali ke dalam lift lalu turun ke lobby. Sesampai di lobby, Alka menghentikan langkahnya begitupun dengan Arif, tak disangka banyak wartawan yang sudah berkumpul disana.
"Arif kenapa bisa banyak wartawan seperti ini?" tanya Alka yang merasa kebingungan. Arif langsung melihat di media sosial tentang berita hari ini. Matanya langsung membulat dengan sempurna.
"Pak, ada yang menyebarkan berita kalau pak Alka adalah orang dibalik kebangkrutan tuan Samudera dan kematian nona Kiran," jawab Arif sambil menunjukkan layar tabletnya pada Alka.
__ADS_1
"Apa! coba aku lihat," ucap Alka lalu mengambil tablet yang ada ditangan Arif.
Sial! berani-beraninya ada yang menyebarkan berita seperti ini!
Alka mulai naik pitam, ia mengepalkan satu tangannya dengan cukup kencang sehingga urat-urat ditangan dan lehernya pun terlihat sangat jelas.
"Segera lacak pemilik situs ini lalu blokir akun mereka, dan juga cepat redam. Karena aku gak mau ini sampai terdengar oleh kakek," ucap Alka dan Arif pun menundukkan kepalanya.
"Baik pak, saya akan segera selesaikan tugas ini. Kalau begitu pak Alka bisa lewat lobby selatan untuk menghindari pertanyaan wartawan dan saya akan kembali ke ruangan," usul Arif sementara Alka hanya menghela nafasnya.
"Baiklah, lakukan tugasmu dengan baik dan aku tunggu segera laporannya," ucap Alka lalu pergi dari hadapan Arif.
Kediaman Samudera
Jenazah Kiran akhirnya dimakamkan. Isak tangis sang mommy menyeruak saat Kiran dikebumikan.
Kiran! kenapa kamu tega ninggalin mommy sendirian! mommy hanya punya kamu seorang. Kenapa sekarang kamu pergi!
Setelah acara pemakaman selesai, mommy Kiran pergi ke kantor polisi untuk menemui Samudera.
Mobil yang ditumpangi istri sah Samudera pun telah tiba di halaman kantor polisi. Ia turun dari mobilnya sambil mengenakan pakaian serba hitam dan juga kacamata berwarna hitam.
"Selamat siang nyonya, ada yang bisa kami bantu?" ucap polwan cantik yang bertugas di lobby kantor polisi tersebut.
"Saya ingin mengunjungi suami saya yang bernama Samudera Andeta Lubis," jawab istri sah Samudera. Lalu polwan itu melihat ke layar komputernya mencari keberadaaan Samudera saat ini.
"Mohon maaf nyonya. Tersangka yang bernama Samudera Andeta Lubis tidak berada di sel tahanan ini. Melainkan di sel tahanan khusus yang berada di tengah pulau terpencil yang bernama Alcatraz, mengingat tuan Samudera dan rekannya yang bernama Lusy terjaring kasus yang sangat berat," jelas polwan tersebut membuat istri sah Samudera mengangguk paham.
"Kalau begitu saya permisi," pamit istri sah Samudera kepada polwan tersebut lalu pergi dari hadapannya.
Istri sah Samudera memilih untuk kembali pulang ke kediamannya.
Sint Lucas Andreas Hospital
Alka akhirnya berhasil lolos dari kepungan para wartawan yang hampir saja mengejar dirinya. Dalam hatinya Alka terus menggerutu karena hal ini diluar dugaannya.
__ADS_1
Mobil yang Alka kendarai pun telah sampai di rumah sakit, dia memarkirkan mobilnya lalu kemudian turun dari mobil. Alka berjalan ke dalam rumah sakit tersebut.
Tujuan pertama Alka yaitu ke depan ruang operasi, namun setelah ia sampai di depan ruanh operasi ternyata Adidaryo sudah tidak ada disana. Kemudian ia pun mengambil ponselnya yang ada di saku celana untuk menghubungi Adidaryo.
"Hallo kek," ucap Alka saat Adidaryo menjawab sambungan telepon darinya.
"Iya ada apa?" tanya Adidaryo.
"Kakek ada dimana? aku didepan ruang operasi tapi kakek gak ada," ucap Alka sembari melihat ke sekeliling mencari keberadaan Adidaryo.
"Kakek sedang makan di kantin rumah sakit. Perut kakek terasa lapar sekali setelah tadi melewatkan makan siang. Kamu ke sini aja, atau mau ke ruang rawat inap Nindya dan Mega?" jawab Adidaryo yang terdengar sedang mengunyah makanannya karena terlalu lapar.
"Oh, lalu Albi bagaimana kek?" tanya Alka kembali.
"Albi masih di ruang observasi, 1 jam lagi dia baru dipindahkan ke ruang ICU kata dokter," jawab Adidaryo sambil melihat arloji yang melingkar ditangannya.
"Ya sudah aku ke tempat kakek aja ya, aku juga lapar," ucap Alka lalu mematikan sambungan teleponnya.
Alka pun pergi ke kantin untuk mengisi perutnya sembari menemani Adidaryo makan. Sesampai di kantin, Alka mencari keberadaan Adidaryo lalu tak lama ia pun menemukannya. Alka berjala menghampiri sang kakek.
"Kakek udah lama di kantin?" tanya Alka yang ikut duduk di kursi yang berada di depan Adidaryo.
"Belum, tadi sebelum ke kantin kakek ke toilet terlebih dahulu untuk buang air," jawab Adidaryo yang masih menikmati makanannya. Sedangkan Alka hanya ber oh ria.
"Ya sudah sana kamu pesan makanan dan minuman," titah Adidaryo dan Alka pun mengangguk.
Tak lama Alka kembali ke meja yang ditempati Adidaryo sembari membawa nampan yang berisi makanan dan juga minuman.
"Kek, kenapa kakek gak pernah bilang sih kalau nyonya Nina itu adalah neneknya Mega? kalau aja aku tau gak mungkin aku ke perusahannya yang berada di ujung negara ini," gerutu Alka lalu memasukan suapan pertama ke mulutnya.
"Memangnya kamu selama ini gak sadar atau gak curiga kepada Mega yang memiliki rumah yang sangat besar di sekitar kompleks yang ada didekat rumah Albi? bahkan daru mulai pintu masuk sampai mobil yang sering Mega pakai itu pasti ada huruf AMG," ucap Adidaryo yang sebelumnya meminum minumannya terlebih dahulu.
Alka hanya tertegun mencoba mengingat kembali yang pernah ia lihat saat bersama Mega.
Benar juga apa kata kakek, kenapa selama ini aku gak sadar ya?
__ADS_1
"Iya kek aku baru tahu," jawab Alka pasrah lalu keduanya pun melanjutkan makan siang mereka yang sempat tertunda.