KELIRU

KELIRU
PENGALIHAN HAK WARIS


__ADS_3

Kini, Mega sedang bergegas untuk pergi ke kantor Fadil sesuai perintah ayahnya.


"Ga, buru-buru banget sih!"


Langkah Mega terhenti ketika ada seseorang yang memanggilnya.


Sepertinya aku kenal dengan suara itu.


Mega pun menoleh ke belakang. Ternyata Bimo yang sedang bersandar didinding sambil memasukkan kedua tangan di saku celananya.


"Eh Bimo, iya nih aku lagi ada urusan, bye Bim," ucap Mega tersenyum kemudian beranjak pergi dari hadapan Bimo.


****


Setibanya di kantor Fadil, Mega melihat mobil ayahnya sudah terparkir di halaman kantor. Mega pun mengerutkan kedua alisnya.


Sejak kapan ayah pulang dari Belanda? kenapa bisa secepat ini sampai ke sini? kenapa ayah tidak bilang bersama ibu?


Mega masuk ke dalam, ternyata benar ayahnya sudah berada di sana. Namun, Mega melihat sang ayah tidak bersama ibunya.


"Ayah," sapa Mega, sedangkan ayahnya yang merasa dipanggil langsung menoleh.


"Sayang, kemarilah Nak," seru sang ayah sambil menepuk kursi kosong di sebelahnya. Mega mengangguk lalu menghampiri sang ayah.


"Ayah kapan sampai? lalu dimana ibu?" tanya Mega sambil menoleh kesana-kemari mencari keberadaan ibunya.


Seketika mata ayahnya berkaca-kaca. Mega tak menyadari hal itu. Mega memang tidak terlalu dekat dengan ayahnya. Kendati demikian, ia sayang sekali dengan kedua orangtuanya.


"Ibumu tidak ikut, Nak. Dia ... masih ingin di sana menjaga nenek," jawab ayah sembari tersenyum getir.


"Fadil ... langsung saja ya! soalnya saya harus kembali ke Belanda lagi sekarang," perintah Adrian seketika membuat Mega langsung menoleh kepadanya.

__ADS_1


"Ayah mau pergi lagi? Mega sendirian Yah di sini. Mega ikut Ayah saja ya ... " pinta Mega memberi sang ayah dengan tatapan sendunya.


Ayahnya merasa tidak tega. Kendati ia belum bisa menceritakan tentang kebenaran saat ini kepada Mega.


"Sayang, dengarkan Ayah! Ayah memang tidak pernah ada di samping kamu. Tapi Ayah selalu ada di hati kamu, begitupun dengan ibu. Kami ada di hati kamu, doakan kami selalu supaya kami bisa terus menemanimu dan dekat bersamamu," tutur sang ayah yang juga tak kuasa menahan tangisnya.


Mega pun memeluk ayahnya sangat lama.


"Ayah ... Ayah janji akan kembali ke sini lagi untuk menemaniku?" tanya Mega dalam pelukannya.


Ayah pun mengangguk. "Ayah janji, Nak."


Mega pun melepaskan pelukannya.


"Baik ... Pak Adrian Lesmana kita mulai saja ya. Dalam surat kuasa ini menyatakan bahwa Mega Lesmana, putri tunggal dari Adrian Lesmana dan Hermelinda Sutyoso telah menjadi pewaris tunggal seluruh atau seratus persen harta kekayaan yang dimiliki oleh Adrian Lesmana dan Hermelinda Sutyoso. Semua aset telah berubah nama menjadi Mega Lesmana. Mulai dari rumah, perusahaan, butik, resort, ritel, dan juga hotel. Jakarta, dua puluh satu Maret dua ribu empat. Yang bertanda tangan dibawah ini Adrian Lesmana dan Hermelinda Sutyoso sebagai pewaris. Ahli waris, Mega Lesmana," terang Fadil saat membacakan surat wasiat ayah dan ibunya Mega.


Mega begitu tercengang mendengar Fadil membacakan semua hak waris untuknya.


"Mega kamu tanda tangan disini ya," ucap Fadil membuat Mega terperangah lalu membaca ulang surat wasiat yang dibacakan oleh Fadil tadi.


"Kenapa disini sudah ada tanda tangan ibu, Yah?" tanya Mega pada ayahnya.


"Karena surat ini sebenarnya telah kami buat sebelum kami berangkat ke Belanda beberapa waktu lalu," jawab ayah dan Mega pun mengangguk paham.


Kemudian, Mega pun menandatangani surat tersebut di depan ayahnya.


Nak, jikalau kamu tau kalau sebenarnya ayah dan ibu sedang menjalani kemotrapi di Belanda. Mungkin kamu akan sedih dan kami tidak ingin hal itu terjadi. Selama kami di sana, nenekmu lah yang merawat kami. Ayah dan ibu berharap, kelak kamu bisa menjadi orang yang bisa diandalkan. Memang harta tidak sepenuhnya berharga di dunia ini. Maafin ayah dan ibu selama ini selalu meninggalkan kamu sendiri dan merasa kesepian. Selama ini kami bahkan sangat merindukan kamu, bermain bersamamu tapi kami tak ingin kamu terlalu dekat dengan kami. Kalau hingga akhirnya kamu akan mengalami luka yang begitu mendalam selepas kepergian kami nanti. Ayah dan ibu selalu menyayangimu.


Hati Adrian bergetar hebat, ia yang dulu sangat mendambakan seorang anak hingga akhirnya diberikan rezeki seorang bayi mungil yang kini beranjak dewasa. Namun ia dan Hermelinda justru perlahan harus merelakan Mega membenci mereka dengan perlahan dibanding mereka harus melihat Mega merasa terluka saat kepergiannya kelak.


"Sayang, tetap jaga dirimu baik-baik selama di sini. Ayah dan ibu selalu menyayangimu dan juga mendoakanmu," ucap sang ayah pada anak gadisnya itu.

__ADS_1


Mega tersenyum. "Iya Ayah ... Ayah juga baik-baik di sana. Sampaikan salamku pada ibu dan nenek di sana. Aku selalu merindukan kalian," kata Mega lalu memeluk Adrian, tangis keduanya pun pecah kembalu. Entah ini sebuah pelukan terakhir atau bukan, pikir Adrian.


Kemudian Adrian melepaskan pelukannya, menjauh dari Mega lalu melambaikan tangannya sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Bye Ayah," ucap Mega masih melambaikan tangannya hingga mobil Adria tidak terlihat lagi. Sesekali ia masih menyeka air matanya.


"Pak Madih, aku ke toilet dulu ya," pamit Mega dan Madih pun mengangguk.


Saat Mega berjalan ketoilet, ia tak sengaja menabrak seorang laki-laki dari arah yang berlawanan.


BRUAAK!


"Eh maaf, maaf aku tidak sengaja ... maaf ya," ucap Mega sambil menundukkan wajahnya.


"Iya tidak apa-apa, aku juga minta maaf ya," ucap laki-laki itu yang suara begitu asing di telinga Mega.


Mega yang telah merasa tidak tahan ingin buang air, iapun berlalu begitu saja tanpa menghiraukan laki-laki itu. Sementara itu, laki-laki yang tadi sempat bertabrakan dengan Mega menatapnya heran.


Kenapa anak SMA ada di sini? sepertinya dia anak orang kaya. Atau mungkin dia sedang magang disini?


Laki-laki itu langsung pergi dari sana dan masuk kembali ke dalam kantor Fadil itu.


*****


Setelah menyelesaikan urusannya di toilet, Mega pun langsung bergegas masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan Mega hanya terdiam sambil menatap keluar jendela mobil.


Ayah ... ibu ... kesibukanmu menyadarkanku bahwa aku harus bisa lebih mandiri dan berani menghadapi setiap resiko yang akan terjadi. Tapi satu yang selalu tak pernah bisa aku benci. Aku terlalu menyayangi kalian. Cintaku pada kalian tak akan pernah pudar dari dalam hatiku. Walaupun aku tau, aku telah merusak kepercayaan kalian. Suatu hari aku akan buktikan, kalau aku akan selalu menjadi kebanggan untuk kalian. I love you more, becouse you're my first love.


Seketika air mata Mega pun keluar dari kelopak matanya dan mengalir membasahi pipinya. Ia merasa sedih karena harus berjauhan kembali dengan kedua orangtuanya.


Seperti hembusan angin yang meniup alam. Matanya bahkan tak berkedip menatap langit. Rasanya terlalu luas bagai tak bertepi.

__ADS_1


Berwaktu-waktu Mega terus mengasuh rasa. Mendengarkan jiwanya yang terus berkata-kata. Apalagi tidak mungkin ia terus mengabaikan kata hati, hingga ia harus jujur pada hatinya sendiri.


__ADS_2