
Ada rasa yang berdesir mengalir melalui nadi. Ada rasa bahagia yang membuncah dalam hati. Bukankah itu yang dinamakan awal mula tumbuhnya benih cinta? seolah semesta memberi restu pada kedua insan yang sedang jatuh cinta itu.
Spectrum
Mega dan Albi akhirnya sampai di salah satu restoran terbaik di Amsterdam. Albi turun lebih dulu dari mobilnya lalu membukakan pintu untuk Mega.
"Silahkan tuan putri," ucap Albi sambil memberi hormat ala kerajaan. Mega mengulas senyuman di bibirnya.
"Kak Albi, terima kasih," kata Mega malu-malu meong sambil menunduk.
Setelah Mega turun dari mobil, Albi menutup pintunya kembali. Albi memberi kode kepada Mega supaya Mega mengalungkan tangannya di lengan Albi. Mega langsung tersipu malu lalu ia pun tanpa ragu mematuhi kode yang Albi berikan.
Keduanya pun masuk ke dalam restoran tersebut. Mereka di sambut oleh pelayan yang sudah berjaga di pintu masuk.
"Welkom, heeft u een reservering gemaakt?" tanya pelayan itu menyambut dengan ramah.
(Selamat datang, apakah tuan dan nyonya telah melakukan reservasi?)
"Al namens Albi Adidaryo," jawab Albi.
(Sudah, atas nama Albi Adidaryo)
Pelayan itu mengecek kembali di layar komputernya.
"Mr Albi Adidaryo aan tafel nummer 14, laat me u naar binnen brengen," ucap pelayan tersebut sambil mempersilahkan Albi dan juga Mega.
(Tuan Albi Adidaryo di meja nomor 14, mari saya antar ke dalam)
Mega begitu tercekat kagum dengan interior yang berada di dalam restoran ini. Suasana klasik nan elegan terpampang nyata di depan mata. Dengan alunan melody nan indah dan begitu terasa nyaman di telinga.
Albi dan Mega duduk di kursinya saling berhadapan. Pelayan itu pun memberikan dua buah buku menu. Mega membuka buku menu tersebut, sesekali ia melirik Albi yang ada didepannya.
Aku baru pertama kali masuk ke restoran seperti ini. Kak Albi bantu aku memilih menu yang cocok dilidah.
Mega gelisah, ia pun menendang kecil kaki Albi. Seketika Albi langsung melihat Mega dan Mega memberikan kode kepada Albi dengan sepasang matanya.
Albi tampak berpikir sejenak dan akhirnya ia pun mengerti.
"Aku ikut denganmu aja ya kak," ucap Mega sedikit berbisik. Albi mengerutkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Kamu serius ikut denganku? walau ke jurang sekalipun?" tanya Albi dengan nada menyeleneh. Ingin rasanya Mega memukul Albi saat itu juga, namun ia harus menahannya. Albi tertawa kecil sedangkan Mega hanya mendengus kesal.
"Baiklah, aku akan pesankan yang sama aja ya," sambung Albi dengan seulas senyum tipisnya. Mega mengangguk pelan.
Setelah memesan makanan, Albi dan Mega hanya terdiam dan saling menatap satu sama lain.
"Mega, bagaimana jawabanmu dari pertanyaanku tadi siang?" tanya Albi dengan raut wajah yang serius. Mega membulatkan matanya lalu tersenyum. Jantungnya langsung berdetak begitu cepat. Bibirnya kelu tak mampu mengucapkan kata-kata.
"Aku.. aku.."
Bagaimana ya ? kenapa aku merasa gugup sekali Tuhan?
"Kamu kenapa Mega?" tanya Albi memajukan tubuhnya mendekat ke meja. Mega langsung menunduk sambil memejamkan kedua matanya.
Tuhan bantu aku, yakinkan hatiku kalau kak Albi adalah pilihanku yang terakhir.
Mega membuka matanya kembali dan menatap Albi dalam-dalam. Ia menghela nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Kenapa rasanya seperti sedang menghadapi ujian nasional ? bahkan lebih gugup dari itu.
Albi masih menunggu Mega untuk berbicara untuk menjawab pertanyaannya. Namun pesanan mereka pun datang lebih dulu.
(Selamat menikmati hidangannya)
Albi dan Mega pun mengangguk bersamaan menandakan berterima kasih kepada pelayan itu. Kemudian pelayan itu pergi dari hadapan Albi dan juga Mega.
Mega mencoba mengontrol dirinya, berusaha untuk tetap tenang dan tidak terlihat salah tingkah. Siapa sangka, Albi menyadari tingkah Mega sejak ia melontarkan pertanyaan itu.
Sepertinya dia salah tingkah, aku yakin Mega juga memiliki perasaan yang sama padaku.
"Ehem," Albi berdehem berharap Mega melanjutkan perkataannya yang tadi sempat tertunda.
"Kak, aku.. aku mau menjadi ibu sambung untuk Nindya dan istri untuk kak Albi," Mega menjawab seraya tersipu malu dan menundukkan wajahnya tidak berani menatap mata Albi.
Albi berdiri dari duduknya lalu menghampiri Mega. Uluran tangan Albi tepat berada di depan wajah Mega.
"Berdansalah denganku, tatap mataku karena aku ingin melihat kesungguhanmu, bukan rasa kasihanmu," ucap Albi seketika membuat Mega langsung menatap wajah Albi. Mega pun menyambut uluran tangan Albi dan ikut berdiri.
Keduanya berdansa sambil menikmati alunan lagu yang mengayun dengan indah.
__ADS_1
"Mega."
"Hemm."
"Tatap mataku."
Mega menatap lekat mata Albi begitupun dengan Albi.
"Aku mencintaimu," Albi seraya mengulas senyuman yang begitu tulus.
"Sejak kapan?" tanya Mega yang masih berdansa dengan Albi mengikuti iringan musik.
"Sejak 3 tahun yang lalu," jawab Albi sambil menatap lekat kedua mata Mega.
"Kenapa waktu di bandara kakak tidak mengungkapkannya padaku?" tanya Mega dengan polosnya.
"Aku hanya tak ingin kamu terkejut dan menyesal sebelum kamu mengetahui segalanya dariku, makanya aku berani menyatakan perasaanku setelah aku menjelaskannya padamu," jelas Albi dan Mega mengulas senyum. Albi memajukan wajahnya dan hanya tersisa beberapa centi saja dari wajah Mega.
"Katakan padaku kalau kamu juga mencintaiku," ucap Albi dengan suara baritonnya.
Mega terpaku seolah terhipnotis dengan mata Albi. Seolah ada magnet diantara keduanya, Albi mengecup sekilas bibir Mega. Mega langsung mematung dan menghentikan gerakan dansanya. Albi pun berusaha menahan tawanya melihat ekspresi Mega dengan pipinya yang sudah merona.
"Hei, kenapa wajahmu seperti itu hem?" tanya Albi dengan nada lembut.
"Aku.. aku hanya terkejut saat kak Albi tiba-tiba mengecup bibirku. Apakah lipstikku sudah luntur?" jawab Mega lalu bertanya kembali kepada Albi sambil menunjukkan puppy eyes nya. Tawa Albi pun pecah seketika. Beruntung ia memesan ruangan VVIP yang khusus ia pesan untuknya berdua dengan Mega.
"Bisa jadi," jawab Albi singkat sambil merengkuh kembali pinggang Mega dan melanjutkan dansanya kembali.
Setelah cukup lama berdansa, keduanya memutuskan untuk menikmati hidangan yang sudah mereka pesan sebelumnya.
"Besok malam setelah pulang dari kantor aku akan menemui nenekmu bersama kakek, Nindya dan juga Alka. Aku akan melamarmu, karena kali ini aku tidak ingin kehilanganmu lagi Mega," ucap Albi saat dirinya telah menyelesaikan makan malamnya. Begitupun dengan Mega, lagi-lagi pipinya begitu merona saat Albi mengutarakan niatnya untuk melamar dirinya.
"Aku baru sadar, kenapa Nindya tidak kamu ajak?" tanya Mega sedikit memiringkan kepalanya.
"Aku hampir lupa, tadi setelah dari pemakaman Nindya ingin ke rumah kakek karena sudah lama sekali aku tidak mengajaknya bertemu kakek dan dia tidak ingin pulang karena kakek telah membelikannya mainan baru," jawab Albi dengan seulas senyuman tipisnya. Mega mengangguk paham.
"Sudah malam, lebih baik kita pulang kak. Karena besok pagi aku ada kelas pagi," ucap Mega sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Albi melihat arloji yang melingkar di tangannya. "Iya kamu benar, yuk," Albi mengulurkan tangannya dan Mega pun menyambutnya bersama dengan senyumannya yang begitu manis. Albi mengeratkan genggamannya pada tangan Mega.
__ADS_1
Rasanya begitu nyaman saat kak Albi menggenggam tanganku. Semoga perasaanku kali ini tidak keliru terhadap kak Albi.