KELIRU

KELIRU
KERACUNAN


__ADS_3

"Tujuannya, Nindya akan menjadi alat Lusy dan Samudera untuk mencapai keuntungan mereka. Jelas yang aku tahu saat ini, perusahaan Samudera sedang mengalami down yang cukup parah bahkan hampir di ambang kebangkrutan."


"Dan kamu tau? kemarin setelah dari pemakaman Vanesha, Lusy menemuiku di kantor. Bakan dia membuat keributan. Beruntung orang suruhan kakek telah menemukan bukti detail dan akurat tentang Nindya dan dirinya. Aku mulai sedikit lega. Aku sudah menyuruhnya untuk pergi dari kehidupanku. Dan sekarang aku mau lebih baik kita langsung menikah aja, aku gak kuat harus menahan rindu setiap hari," jelas Albi panjang lebar lalu merengek pada Mega.


Mega hanya membulatkan matanya dengan sempurna lalu terkekeh melihat tingkah Albi saat Albi merengek padanya.


"Kakak ini menikah itu butuh proses juga. Bukankah menikah di Belanda syaratnya cukup sulit ya? belum lagi status kewarganegaraan kita masih Indonesia karena belum sampai lima tahun menetap di sini," jelas Mega memberi pengertian kepada Albi dan berharap Albi mengerti.


Aku juga tak ingin jauh-jauh dari kakak, tapi aku harus bisa menahannya. Karena akhir-akhir ini aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku setelah mimisan tadi pagi.


"Baiklah bagaimana pernikahan kita nanti aja kak setelah Nindya sudah sembuh?" tanya Mega dengan penuh harap.


"Oke kalau begitu," jawab Albi yang tiba-tiba langsung memajukan wajahnya mendekat ke wajah Mega. Saat Albi berniat ingin mengecup bibir Mega, ponsel Mega yang berada di dalam slingbag nya pun berbunyi. Albi duduk kembali di posisi semula. Ada rasa canggung dari keduanya.


"Nenek kak," ucap Mega sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Albi.


"Angkat aja," kata Albi dan Mega pun mengangguk.


"Hallo nek," sapa Mega setelah menjawab panggilan telepon dari Nina.


"Bagaimana Nindya apakah demamnya sudah turun?" tanya Nina dari seberang telepon.


"Belum nek, tadi udah diberikan obat penurun demam dan sekarang sedang tidur," jawab Mega membuat Nina sedikit lebih lega.


"Semoga segera lekas pulih untuk Nindya, oh iya lebih baik lamaran kamu ditunda saja ya kasihan Nindya juga belum sembuh," ucap Nina.


"Iya nek, tadi aku juga udah membicarakannya dengan kak Albi dan kami sepakat untuk menikah setelah Njndya sembuh. Bagaimana menurut nenek?" timpal Mega lalu bertanya pada Nina membuat Nina berpikir sejenak.

__ADS_1


"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu nak?" tanya Nina memastikan.


"Yakin nek," jawab Mega yang dengan penuh keyakinan dalam hatinya.


"Apakah Albi mau menerima kekurangan kamu?" tanya Nina lagi karena ia tak ingin melihat Mega terpuruk lagi.


"Iya nek, kita udah saling menerima kekurangan ataupun kelebihan masing-masing," jawab Mega sambil melihat Albi dengan senyumannya.


"Syukurlah semoga Albi orang yang tepat untukmu sayang," ucap Nina dan di aamiin kan oleh Mega.


Tuhan, semoga ini adalah keputusanku yang terbaik. Jika memang suatu saat aku yang pergi lebih dulu, izinkan aku melukis cerita bahagia dengan pendamping hidupku.


"Hallo? Mega? apakah kamu masih disana?" sambung Nina, Mega pun tersentak kaget karena tersadar dari lamunannya.


"Eh iya nek aku masih disini," jawab Mega sambil cengengesan.


"Yasudah nenek mau pulang ke rumah bersama Dona, Pinkan dan Irfan, bye sayang," ucap Nina kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


"Nindya mau minum?" tanya Mega yang duduk di tepi tempat tidur sambil menunggu pengecekan selesai. Nindya pun mengangguk, Mega mengambilkan segelas air yang berada diatas nakas samping tempat tidur. Mega membantu Nindya untuk minum.


"Sudah mommy," ucap Nindya, Mega menaruh kembali gelas tersebut ke tempat semula. Nindya berbaring kembali. Alarm termometer pun terbunyi, Mega lekas mengambilnya dari ketiak Nindya.


Dilihatnya suhu Nindya masih terhenti di 38 derajat celsius.


"Kak sepertinya kita harus membawa Nindya ke rumah sakit deh, suhunya masih 38. Aku takut nanti malam saat aku pulang demamnya tambah tinggi," ucap Mega membuat Albi langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel ke wajah Mega.


"Baiklah, aku akan menyiapkan baju Nindya terlebih dahulu ya. Aku minta tolong gantikan pakaian Nindya ya," sahut Albi yang kemudian mengambil tas berukuran sedang dan mulai memasukkan pakaian Nindya ke dalamnya. Hatinya begitu cemas dengan keadaan anak gadisnya satu-satunya.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kemudian, Mega telah menggantikan pakaian Nindya dan Albi telah selesai masukkan pakaian Nindya ke dalam tas. Albi menggendong Nindya, sedangkan Mega membawa tas yang sudah di persiapkan oleh Albi.


Saat mereka turun dari lantai atas lewat sebuah lift yang ada di rumah tersebut, Adidaryo ikut cemas saat melihat Albi, Mega dan Nindya keluar dari lift dengan membawa tas milik Nindya.


"Nindya belum turun demamnya? apakah kalian mau membawanya ke rumah sakit?" tanya Adidaryo yang berjala tergopoh-gopoh menghampiri Albi dan Mega.


"Iya kek, aku takut terjadi apa-apa dengan Nindya," jawab Albi.


"Ya sudah kalian duluan ya, nanti kakek dan Alka akan menyusul kalian ke rumah sakit," ucap Adidaryo lalu Albi dan Mega pun mengangguk bersamaan. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil yang sudah bersiap di depan teras. Albi melajukan mobilnya ke rumah sakit.


Sint Lucas Andreas Hospital


Sesampai di rumah sakit, Albi langsung membawa Nindya ke ruang emergency. Albi langsung menyuruh para suster memanggilkan dokter untuk memeriksakan kondisi Nindya. Tak lama dokter pun masuk, Albi dan Mega disuruh untuk keluar terlebih dahulu. Dokter mulai memeriksakan kondisi Nindya.


Albi dan Mega menunggu di depan ruang emergency dengan perasaan yang tak menentu. Kini gantian, Mega yang berusaha menenangkan Albi sambil menggenggam tangannya.


Tak lama dokter pun keluar dari ruangan emergency tersebut. Albi langsung bangkit dari duduknya begitupun dengan Mega.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" tanya Albi yang dipenuhi rasa khawatir.


"Setelah kami melakukan pemeriksaan fisik dan lab, anak tuan mengalami keracunan makanan tapi tadi saya sudah memberikan obat dengan dosis khusus supaya racun yang berada di tubuh anak tuan cepat terbuang melalui fases yang ia keluarkan nanti. Dan kondisi anak tuan sudah mulai membaik, beruntung tuan dan dan nyonya segera membawanya ke rumah sakit," jelas dokter tersebut membuat mata Mega membulat dengan sempurna sedangkan Albi memijat keningnya.


Siapa yang melakukan semua ini!


Albi menghempaskan nafasnya kasar lalu mengusap wajahnya. Adidaryo dan Alka menghampiri Mega dan Albi yang sedang berbicara dengan dokter.


"Ada apa Alka, Mega, dok?" tanya Adidaryo dengan rasa penasaran.

__ADS_1


"Nindya mengalami keracunan makanan kek, apa kakek tahu tadi pagi Nindya dirumah ngapain aja?" tanya Albi sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Tadi pagi.."


__ADS_2