KELIRU

KELIRU
PERMINTAAN MAAF


__ADS_3

"Sahrul!" ucap mereka bersamaan.


"Kenapa kamu disini? kok bisa? bukankah kamu?" tanya Kelly dengan pertanyaan yang membuat Clarissa bertanya-tanya kembali. Sementara Stevan hanya terdiam sambil memberikan tatapan tajam pada Sahrul.


"Permisi," ucap Sahrul sambil tersenyum dengan luka yang masih membekas disekitar wajahnya seraya masuk kedalam menghampiri mereka bertiga.


Sahrul menghentikan langkahnya dengan jarak tak jauh dari posisi mereka bertiga. Ia pun mulai berbicara.


"Sebelumnya aku minta maaf karena selama ini aku selalu jahat pada Clarissa dan juga calon anak kami. Dari lubuk hati yang paling dalam, aku minta maaf dengan sebesar-besarnya atas kesalahanku kemarin-kemarin. Aku tidak akan berjanji untuk berubah, tapi aku akan berusaha menjadi lebih baik lagi untuk Cla dan juga putri kami," ucap Sahrul seketika membuat air mata Clarissa terjatuh tanpa permisi.


Kelly dan Stevan pun saling bertukar pandang, keduanya masih belum percaya dengan Sahrul. Terlebih Stevan yang sudah mengetahui keburukan Sahrul pada Clarissa membuat Stevan begitu membenci Sahrul.


"Bagaimana kamu bisa berada disini? bukankah kamu.." belum sempat Kelly melanjutkan kata-katanya Sahrul sudah memotong perkataan Kelly lebih dulu.


"Maaf kalau aku lancang mah, disini aku ingin menjelaskan yang sebenar-benarnya kepada kalian tentang apa yang telah terjadi padaku dan membuat hatiku mau merubah diriku sendiri menjadi lebih baik," ucap Sahrul.


Flashback on


Belanda


Sahrul pingsan setelah ia merasa sesak karena kepalanya ditutup oleh karung kecil berbahan kain oleh para orang suruhan Nina. Cukup lama ia pingsan, lalu ia pun tersadar telah berada di sebuah rumah.


Dimana aku berada? kenapa tempatnya begitu sangat asing bagiku?


Sahrul bertanya-tanya dalam hatinya. Hingga ia berniat untuk kabur dari rumah itu. Sebelum ia berhasil kabur, Sahrul ketahuan oleh para penjaga rumah tersebut. Beberapa laki-laki bertubuh besar menyeret paksa Sahrul dan memasukkan kembali ke dalam kamar.


"Lepaskan! kalian ini siapa sih! berani-beraninya kalian mengurungku disini!" teriak Sahrul sambil memberontak.


Namun para laki-laki itu tetap tak bergeming. Sahrul dilemparkan ke atas tempat tidur lalu dengan cepat Sharul bangun dan mencoba untuk kabur kembali.


Para laki-laki itu terpaksa memberinya pelajaran sehingga ia mengalami banyak luka disekujur tubuhnya.


"Kalau kamu menurut, kamu tidak akan sampai mengenaskan seperti ini!" bentak salah satu laki-laki bertubuh kekar itu sambil memberi tatapan tajam pada Sahrul.


Sedangkan Sahrul hanya memicingkan matanya memberi tatapan tidak suka pada kedua laki-laki itu.


Lihat aja, cepat ataupun lambat aku akan keluar dari sini.


Kedua laki-laki itu langsung keluar dari kamar yang ditempati Sahrul lalu mengunci pintunya. Setiap hari Sahrul selalu diberi makanan yang sehat dan juga minum yang cukup. Namun karena Sahrul begitu gengsi dan kesal dengan orang yang dibalik penculikannya itu. Sahrul enggan memakan dan minum yang telah disediakan.


Lambat laun, Sahrul merasakan perih di bagian asam lambungnya. Akhirnya dia tak sadarkan diri. Seorang pelayan yang selalu membawakan makanan dan juga minum untuk Sahrul menyadari ada yang aneh dengan Sahrul.


Biasanya setiap kali ia menaruh nampan yang berisi makanan dan minuman tersebut, Sahrul selalu duduk di tepi tempat tidur namun kali ini Sahrul meringkuk dengan keadaan tanpa selimut.


Awalnya pelayan itu tidak menaruh curiga namun tak sengaja ia melihat kantong plastik yang berada di bawah tempat tidur, ia pun memberanikan diri untuk melihatnya. Pelayan itu langsung terkejut, plastik tersebut ternyata sampah yang berisi makanan yang selama ini ia berikan namun tidak pernah dimakan oleh Sahrul. Pelayan itu pun panik dan memeriksa ke adaan Sahrul dengan keadaan darah mengering di sekujur tubuhnya.


Astaga! tubuhnya demam, sepertinya hampir 1 minggu ini ia tidak makan ataupun minum apapun. Aku harus segera menghubungi nyonya.


Pelayan itu langsung keluar kamar yang dijaga oleh kedua orang laki-laki bertubuh kekar yang berdiri didepan pintu.


"Ada apa?" tanya salah satu laki-laki itu.


"Tubuhnya demam dan sepertinya dia tidak pernah makan dan minum yang saya beri. Saya harus segera memberitahu nyonya," jawab pelayan itu dan kedua laki-laki itu pun mengangguk bersamaan.


Pelayan itu menghubungi Nina dan Nina pun terkejut dengan kabar yang ia terima. Nina yang saat itu sedang tertidur pulas harus terbangun kembali. Nina bergegas untuk pergi ke rumah tersebut. Sebelumnya Nina menengok ke kamar Mega, ternyata Mega sudah tertidur pulas.

__ADS_1


Nina pun langsung berjalan menuju mobil yang sudah terparkir didepan teras rumah. Tak lama setelah Nina naik ke dalam mobil, supir pun melajukan mobilnya. 4 jam perjalanan yang ia tempuh tidak terasa karena jalan sangat sepi dan sama sekali tidak ada mobil yang berlalu lalang karena memang sudah larut malam.


Sesampainya di rumah itu, Nina menyuruh kedua orang laki-laki itu untuk mengangkat Sahrul dan membawa Sahrul ke rumah sakit.


"Kenapa ini bisa terjadi? bukankah beberapa hari yang lalu sudah saya suruh kalian untuk membawanya ke rumah sakit?" tanya Nina kepada kedua orang laki-laki itu.


"Maaf nyonya, waktu itu dia memberontak kembali akan kabur dari sini. Jadi kami tidak jadi membawanya ke rumah sakit," jawab salah satu laki-laki itu sambil menundukkan kepalanya.


"Ya sudah, pak jalan. Kita ke rumah sakit terdekat dari sini," ucap Nina dan supir pun mengangguk.


🌾


Rumah Sakit


Mereka pun sampai, Sahrul langsung dibawa ke ruang IGD dan diperiksa oleh dokter, sementara Nina menunggu di luar ruang IGD beserta dengan kedua orang suruhannya. Tak lama dokter pun keluar dari ruang IGD.


"Malam nyonya, kondisi pasien perlu banyak cairan dan juga asupan. Saya sudah menyuntikkan vitamin ke dalam selang infusnya. Beruntung ia cepat di bawa ke rumah sakit, jika tidak nyawanya bisa tidak tertolong karena dehidrasi," ucap dokter tersebut.


"Terima kasih dok," kata Nina.


"Baik kalau begitu saya permisi," ucap dokter tersebut sambil menundukkan kepalanya lalu pergi dari hadapan Nina dan kerdua orang suruhannya.


"Kalian tunggu disini, kabari saya jika Sahrul sudah sadar. Saya pulang lebih dulu," kata Nina kepada kedua orang suruhannya.


"Baik nyonya," jawab mereka bersamaan.


Nina pun pergi dari hadapan mereka. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan pulang menuju rumahnya.


🌾


Di ruang makan, dilihatnya Mega sudah lebih dulu disana. Mereka pun sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, Mega memilih berangkat ke kampus lebih dulu.


Setelah kepergian Mega, ponsel Nina pun berdering. Ia melihat ternyata salah satu orang suruhannya yang menjaga Sahrul di rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Nina dingin.


"Maaf mengganggu waktu nyonya, saya ingin memberitahukan bahwa Sahrul sudah sadar sejak 1 jam lalu dan ia sudah dipindahkan ke ruang rawat inap nyonya," jawab laki-laki itu.


"Baiklah, saya akan segera ke rumah sakit sekarang," ucap Nina lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Nina dengan cepat menghabiskan sarapannya. Setelah selesai, ia langsung mengambil tasnya di kamar dan berangkat pergi ke rumah sakit.


Rumah Sakit


Setibanya di rumah sakit, Nina langsung menelepon para orang suruhannya untuk bertanya ruang rawat inap Sahrul. Setelah ia mendapat info mengenai ruang rawat inap Sahrul. Nina pun langsung pergi ke ruangan tersebut.


Tak lama Nina telah sampai di ruangan itu. Ia pun masuk ke dalam, sementara para orang suruhannya menunggu di luar. Sahrul terkejut dengan kedatangan seorang wanita paruh baya yang masih terlihat segar dan cantik.


"Siapa anda?" tanya Sahrul.


"Kau tak perlu tahu siapa saya dan saya akan membebaskanmu dari sini. Tapi dengan satu syarat," jawab Nina sambil melipat kedua tangannya di dadanya.


"Benarkah? apa syaratnya?" tanya Sahrul dengan rasa penasaran.


"Benar dan syaratnya sangat mudah. Berubahlah menjadi lebih baik dan jangan pernah kembali kepada dirimu yang dulu. Kembalilah pada keluargamu, sayangilah mereka. Dan jika kamu bertemu kembali dengan seseorang yang berada dimasalalumu. Cukup lihat dari jauh dan jangan pernah mendekatinya lagi. Jika kamu melanggar syarat dari saya, maka saya tidak segan membuangmu ke ujung dunia sekalipun bahkan kehilangan nyawamu, paham?" jelas Nina panjang lebar sambil memberi tatapan tajam kepada Sahrul lalu bertanya padanya.

__ADS_1


Sahrul berpikir sejenak, ia tampak menimbang-nimbang syarat yang diberikan oleh Nina.


Wanita ini sepertinya memiliki kekuasaan yang besar. Aku tidak bisa bermain-main lagi sekarang. Apalagi sekarang aku sudah tidak punya apa-apa. Baiklah aku terima syarat dari wanita ini. Aku baru ingat, sebentar lagi aku akan memiliki seorang anak. Aku jadi tidak sabar menjadi seorang ayah.


Pikiran Sahrul tiba-tiba terbayang dengan Clarissa dan juga calon anak mereka. Ia pun akhirnya angkat bicara.


"Baiklah, saya akan menerima syarat yang anda berikan. Jika saya melanggar, saya siap kehilangan nyawa saya sekalipun," ucap Sahrul mantap.


"Bagus, perkataanmu sudah saya rekam dan ini akan menjadi bukti jika kamu melanggar janji kamu," kata Nina.


Sahrul dengan susah payah menelan salivanya .


Kenapa rasanya begitu merinding? wanita ini jauh lebih menakutkan.


Nina pun keluar dari kamar Sahrul dan duduk diluar ruangan tempat Sahrul di rawat. Tiba-tiba dokter pun masuk kedalam untuk memeriksakan kondisi Sahrul.


Beberapa saat kemudian, dokter pun keluar dari ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Nina.


"Keadaannya sudah membaik nyonya dan sudah diperbolehkan untuk pulang," jawab dokter tersebut.


"Baik, terima kasih dok," ucap Nina sambil menundukkan kepalanya begitupun dengan dokter tersebut.


"Kalau begitu saya permisi nyonya," pamit dokter kemudian pergi meninggalkan Nina.


Nina langsung menghubungi pihak bandara untuk menyiapkan pesawat pribadinya. Setelah itu, Nina memerintah para orang suruhannya untuk membantu Sahrul pulang ke keluarganya yang berada di Indonesia.


Nina pun memutuskan untuk langsung ke perusahaan pusat Amarany Grup.


🌾


Indonesia


Sepanjang perjalanan Sahrul dijaga ketat oleh para orang suruhan Nina karena untuk memastikan bahwa Sahrul benar-benar kembali ke keluarganya. Tak terasa perjalanan panjang tersebut, akhirnya Sahrul tiba di Indonesia.


Sahrul langsung pergi ke rumahnya yang tadinya ditempati oleh dirinya dan juga Clarissa. Sesampai dirumah, Sahrul melihat pakaian Clarissa tidak ada di lemari. Ia pun merasa kesal dan frustasi. Lalu dengan cepat ia pergi ke rumah Kelly yang masih di jaga ketat olah para orang suruhan Nina.


Sesampai di rumah Kelly, Sahrul bertanya kepada satpam rumah tenyata Clarissa telah dibawa ke rumah sakit karena akan melahirkan. Perasaan Sahrul begitu tidak menentu. Tanpa pikir panjang ia pun langsung pergi ke rumah sakit.


Setelah sampai di rumah sakit, Sahrul bertanya kepada bagian administrasi.


"Sus, pasien bernama Clarissa Andarini berada di ruang rawat berapa ya?" tanya Sahrul.


"Mohon ditunggu ya pak," ucap petugas administrasi tersebut.


"Ibu Clarissa Andarini berada di lantai Persia ruangan nomor 4119," sambung petugas administrasi.


"Terima kasih," ucap Sahrul kemudian langsung berlari ke ruangan yang tadi telah diberitahukan oleh petugas administrasi.


Sesampai di lantai Persia, Sahrul mencari ruangan 4119, tak lama ia pun menemukannya. Hatinya begitu terkikis saat ini, seperti ada kebahagiaan yang selama ini ia rasa begitu sangat hampa. Sahrul pun masuk ke dalam, sementara para orang suruhan Nina menunggu di depan pintu.


Flashback off


Air mata Clarissa langsung terjatuh tanpa permisi membasahi pipinya. Ia pun turun dari tempat tidur dan menghampiri Sahrul lalu memeluknya sangat erat. Clarissa menangis dengan tersendu-sendu dan Sahrul pun membalas pelukan Clarissa.

__ADS_1


"Maafkan aku, Cla."


__ADS_2