KELIRU

KELIRU
BAK DITUSUK PEDANG


__ADS_3

Cafe Van Leeuwen


Mega dan Albi pun sampai di salah satu restoran terkenal di kota ini. Keduanya masuk kedalam restoran tersebut setelah sebelumnya Albi memarkirkan mobilnya dan mereka turun dari mobil.


Tangan Mega tak lepas dari genggaman tangan Albi. Keduanya pun duduk di salah satu kursi yang memiliki view kota Amsterdam yang indah. Pelayan kafe tersebut pun menghampiri Mega dan Albi.


"Selamat siang, silahkan tuan dan nyonya ini daftar menunya," ucap pelayan tersebut.


Albi dan Mega mengangguk sambil mengambil daftar menu yang diberikan pelayan kafe. Keduanya memilih makanan yang sekiranya cocok di lidah mereka.


Selama di Belanda, kini Mega mulai terbiasa memakan makanan kebiasaan khas orang-orang Belanda. Mulai dari sarapan roti, berbagai macam campuran salad buah dan sayur, hingga sup yang berbeda dari orang Indonesia pada umumnya.


Kebanyakan orang Eropa membuat sup dengan menghaluskan semua bahan sup menjadi satu, bahkan tak jarang mereka hanya memakai 2 sampai 3 bahan saja. Mungkin bagi yang baru mencoba pertama kali akan terasa aneh, namun jika memakannya dengan penuh menikmati cita rasa sup tersebut satu mangkok pun sudah bisa merasa kenyang.


Setelah memesan makanan, keduanya menunggu pesanan yang mereka pesan dengan berbincang santai.


"Kak, aku mau tanya sesuatu padamu," ucap Mega ragu-ragu. Albi mengangkat sebelah alis matanya.


"Apa itu sayang?" tanya Albi dengan tatapan penuh cinta. Mega pun seketika menjadi terpesona dengan ketampanan Albi dan membuat pipinya merah merona setelah Albi menyebutnya dengan sebutan 'sayang'.


"Hmm.. apa kak Albi tau orang yang bernama Damar Adidaryo?" tanya Mega hati-hati namun Albi hanya menunjukkan raut wajah santai.

__ADS_1


"Aku tau, dia itu saudaraku. Ya walaupun tidak sekandung, tapi sejak kecil kami bertiga selalu bermain bersama. Dan sayangnya sekarang dia telah tiada, Tuhan lebih sayang dengannya," jawab Albi yang kemudian menunjukkan raut wajah murung. Mega seperti kehabisan nafas, tenggorokannya begitu sulit untuk menghela nafas. Ada rasa sesak yang menjalar kedalam paru-paru Mega. Namun ia tetap berusaha bersikap biasa saja.


"Ada apa memangnya kamu bertanya tentang Damar?" tanya Albi dengan rasa penasaran dan sedikit ada rasa cemburu terhadap Mega. Mega langsung membulatkan matanya dan menatap lekat mata Albi.


"Hemm, dia adalah alasanku untuk tetap tinggal disini," jawab Mega yang kemudian menundukkan wajahnya. Albi menatap Mega penuh dengan tanda tanya.


"Alasanmu tinggal disini? apakah kalian saling mengenal?" tanya Albi yang semakin penasaran. Membuat Mega harus memutar memori otaknya saat ia masih bersama Damar dulu dan dicampakkan oleh Damar. Bayang-bayang hujatan Damar pun kembali terngiang ditelinganya. Padahal saat ini ia sudah melupakan masa lalunya yang begitu menguras emosi serta air mata.


"Iya, tentu. Aku mengenalnya, sangat mengenalnya," Mega menghela nafas dan berusaha untuk tetap tenang serta tidak terpancing untuk menangis dan marah.


Albi memajukan wajahnya kembali mendekat ke arah Mega.


"Sedekat apa kamu dengannya?" tanya Albi dengan tatapan menuntut sebuah penjelasan dari Mega.


"Tanpa pikir panjang aku langsung berangkat ke Belanda. Hatiku terasa sakit, waktu yang aku habiskan bersama kedua orangtuaku yang tidak banyak harus berhenti saat itu juga. Setelah pulang dari Belanda aku menemui Damar. Karena sebelumnya nenek memintaku untuk jujur tentang keadaanku terhadap Damar. Saat pertemuan itu aku jujur padanya, tapi reaksinya dia gak bisa menerima wanita yang sudah gak perawan. Lukaku belum sembuh dan semakin meluas," air mata Mega mulai mengalir begit saja membasahi pipinya. Albi langsung menggenggam tangan Mega memberinya sebuah kekuatan.


"Sore hari setelah aku bertemu Damar, tiba-tiba Damar bilang kalau dia akan dipindah tugaskan ke Solo. Dan kebetulan nenek juga pulang ke Solo. Siapa sangka, aku kira aku akan menikmati liburan yang menyenangkan. Tapi ternyata aku memergoki Damar tengah berduaan dengan seorang wanita, lagi-lagi bak ditusuk pedang yang sangat tajam menembus jantungku. Aku tak terima, aku ajak Damar bicara baik-baik tapi aku malah mendapat hujatan darinya." Mega tertawa kecil. Albi masih setia mendengarkan Mega dengan genggaman tangannya yang masih sangat erat.


"Damar memutuskanku karena Sahrul sudah memberikan video dan foto aku saat bersamanya di club dulu. Damar lebih memilih April, dia mengira April masih perawan. Padahal aku lihat sendiri saat di Solo, April tengah bercinta dengan Sahrul di dalam toilet wanita. Sungguh sangat menjijikan. Mau tak mau aku harus terima, ya begitulah ceritanya," Mega menghela nafasnya saat ia telah selesai menceritakan tentang dirinya dan Damar.


Albi pun merasa lega setelah mendapat penjelasan dari Mega tentang Damar. Ada tatapan iba yang tersirat dari mata Albi, namun rasa cintanya lebih besar dari pada rasa kasihannya.

__ADS_1


"Aku.. kamu.. bukanlah manusia yang sempurna. Masa laluku itu milikku, masa lalumu itu milikmu. Tapi berjuanglah bersamaku supaya kita bisa saling menguatkan di masa depan kita," ucap Albi yang bangkit dari duduknya dan berpindah duduk di samping kursi Mega yang masih kosong. Ia pun memeluk Mega dengan penuh perasaan. Mega menumpahkan isak tangisnya di pelukan Albi.


"Terima kasih kak, sudah mau mencintaiku dengan setulus hatimu dan aku yang sudah tak lagi utuh," Mega semakin mengeratkan pelukan Albi. Seulas senyum terukir dari kedua sudut bibir Albi.


Setelah cukup lama mereka berpelukan dan Mega sudah lebih tenang, Mega pun melepaskan pelukannya dan Albi mengusap air mata Mega yang telah membasahi jasnya.


"Sudah tak usah risau, ada aku disini. Yang mencintaimu tak perduli dengan masa lalumu. Dan aku sangat sangat mencintaimu," ucap Albi dengan senyumannya dan Mega pun ikut tersenyum.


Tiba-tiba...


"Happy birthday to you.. happy birthday to you.. happy birthday.. happy birthday.. happy birthday to you," ucap Nina, Pinkan, Dona dan Irfan yang ikut juga bersama mereka.


"Kalian? kok bisa?" tanya Mega tidak percaya lalu saling bertukar pandang kepada Albi. Sedangkan Albi hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Jadi, kalian sudah bersekongkol?" tanya Mega sambil menunjuk ke arah mereka secara bergantian. Semuanya pun mengangguk bersamaan.


"Nenek bilang sore ini kalian mau lamaran jadi aku, om Irfan dan Pinkan langsung disuruh nenek untuk kesini. Beruntung sekarang orangtuaku tidak sebawel dulu karena mereka memberi syarat om Irfan harus ikut," jawab Dona sambil terkekeh. Semuanya pun tersenyum.


"Terima kasih ya nek, Donut, Pinkan, om Irfan dan kak Albi, aku senang sekali kalian ada di sini. Bahkan aku sendiri lupa kalau hari ini aku ulang tahun," ucap Mega dan semuanya pun tertawa.


Mereka pun makan siang bersama dengan diselingi canda dan tawa.

__ADS_1


Semoga bahagiamu selalu terukir menghiasi hidupmu, Mega. Aku berharap, akulah salah satu alasan yang membuat kamu bahagia.


Albi tersenyum melihat Mega yang makan sambil bersenda gurau dengan Pinkan dan Dona.


__ADS_2