
Satu jam telah berlalu, Alka dan Adidaryo baru saja menyelesaikan makannya. Keduanya pun pergi ke depan ruang operasi. Ternyata dari kejauhan dua orang perawat tengah mendorong tempat tidur yang terdapat Albi yang masih terbaring lemah dengan banyak alat yang nempel pada bagian dadanya keluar dari ruang operasi. Alka dan Adidaryo mempercepat langkah mereka.
"Sus apakah Albi sudah tersadar?" tanya Alka saat dirinya telah berada di samping perawat itu.
"Tadi sudah tuan, hanya saja respon tubuhnya memburuk kembali. Jadi dokter meminta kami untuk segera membawa pasien ke ruang ICU," jawab salah satu perawat tersebut, sementara Alka pun mengangguk. Dibelakang Alka, tampak Adidaryo yang begitu mencemaskan kondisi Albi.
Ya Tuhan, mampukan cucuku, Albi untuk melewati masa kritisnya.
Adidaryo merumat-rumat jemari tangannya. Tak lama mereka pun sampai diruang ICU.
"Mohon maaf tuan, harap menunggu di luar terlebih dahulu karena dokter akan memeriksakan kondisi pasien," ucap salah satu perawat lalu menutup kembali pintu ruang ICU tersebut.
Alka memijat alis matanya, ia berharap ada keajaiban untuk Albi. Sedangkan Adidaryo sedang menghubungi seseorang lewat ponselnya.
"Saya ingin mereka di hukum mati dan saya tidak ingin mereka muncul dihadapan saya ataupun bebas dari hukumannya!" ucap Adidaryo lalu menutup panggilan teleponnya.
"Kek?" ucap Alka sembari menghampiri Adidaryo saat ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya. Adidaryo pun menoleh kearah Alka.
"Kakek habis menelepon siapa?" tanya Alka yang terlihat penasaran.
"Orang suruhan kakek," jawab Adidaryo singkat dan juga santai.
"Untuk?" tanya Alka kembali
"Kakek ingin Lusy dan Samudera dihukum mati karena telah membuat Albi dan juga Nindya seperti ini," jawab Adidaryo dan Alka pun mengangguk paham.
Tak lama dokter pun datang untuk memeriksakan kondisi Albi.
"Permisi tuan," sapa dokter tersebut, Alka dan Adidaryo pun menundukkan kepalanya bersamaan memberi hormat. Kemudian dokter itu masuk kedalam ruang ICU.
"Kek, aku tinggal sebentar ya. Aku ingin melihat kondisi Mega dan Nindya," ucap Alka dan Adidaryo pun mengangguk. Sementara Alka pergi, Adidaryo duduk di kursi tunggu yang berada di depan ruang ICU tersebut.
Sesampai di depan ruang rawat inap Mega dan juga Nindya, tiba-tiba ponsel Alka berbunyi. Ia melihat layar ponselnya ternyata Arif yang meneleponnya. Alka melangkahkan kakinya sedikit menjauh dari ruang rawat inap Mega dengan posisi memunggungi.
"Ya hallo Arif," ucap Alka saat menjawab panggilan telepon dari Arif.
__ADS_1
"Maaf pak, saya ingin memberitahukan bahwa berita yang beredar mengenai pak Alka sudah berhasil saya blokir dan juga saya hapus. Dan yang mengedar luaskan berita tersebut ternyata nona Kiran sendiri sebelum ia melakukan bunuh diri dengan meminum obat penenang dengan dosis yang berlebih," jelas Arif membuat Alka bisa bernafas lega.
"Ada lagi yang ingin disampaikan Arif?" tanya Alka.
"Satu lagi pak, para perusahaan elektronik bahkan sampai perusahaan otomotif banyak yang mengirim pemesanan untuk program terbaru kita yang baru saja launching. Mereka menganggap kalau program kita ini merupakan program yang memiliki banyak aspek yang menguntungkan dan juga meminimalisir waktu kerja yang terbuang," jelas Arif dengan penuh rasa bahagia begitupun dengan Alka.
"Syukurlah, aku menjadi sangat lega mendengarnya. Terima kasih banyak Arif atas kerja kerasmu," ucap Alka dengan rasa bangga memiliki asisten pribadi sekaligus sekretaris Adidaryo Grup. Tidak mudah untuk Arif karena hanya dia satu-satunya sekretaris yang kompeten karena diatasi oleh tiga orang langsung bukan hanya satu.
"Oh iya bagaimana keadaan pak Albi ?" tanya Arif.
"Setelah operasi, kondisi Albi drop kembali. Jadi sekarang masih dalam pemeriksaan dokter di ruang ICU. Mohon doanya ya," jawab Alka sambil menghela nafasnya.
"Iya pak, semoga pak Albi segera pulih dari sakitnya," ucap Arif.
"Baiklah, ada lagi yang ingin disampaikan? karena aku akan menjenguk keponakanku," tanya Alka kembali.
"Tidak ada pak, baiklah kalau begitu terima kasih atas waktunya. Nanti jika kerjaan saya sudah selesai, saya akan ke rumah sakit untuk melihat kondisi pak Albi," jawab Arif dan Alka pun mengangguk lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Alka menaruh ponselnya kembali di saku celana, saat ia membalikkan tubuhnya. Tepat saat itu ia berpapasan dengan Nina. Alka membungkukkan sedikit tubuhnya memberi tanda hormat.
"Sore, panggil aja nenek jika kita tidak berada dalam suatu pekerjaan kantor," ucap Nina dan Alka pun mengangguk.
"Baik nek," sahut Alka.
"Apakah nenek baru saja tiba?" tanya Alka sambil melangkahkan kakinya menghampiri Nina.
"Iya, tadi mendapat kabar dari Pinkan kalau Nindya sudah sadar," jawab Nina dengan senyum tipisnya.
"Benarkah nek?" tanya Alka tak percaya sekaligus bahagia dan Nina pun mengangguk.
"Kalau tidak percaya ayok kita masuk sama-sama," ajak Nina dan Alka pun mengangguk sembari mempersilahkan Nina untuk lebih dulu masuk dan Alka membukakan pintunya.
"Selamat sore," ucap Nina dan Alka bersamaan.
"Sore," ucap Pinkan, Mega dan Nindya bersamaan.
__ADS_1
"Nenek!" teriak Nindya dengan wajah yang sangat bahagia melebihi Mega yang cucu kandungnya sendiri.
"Nenek sama kak Alka kok bisa barengan?" tanya Mega yang sedang menikmati camilannya begitupun dengan Nindya yang sedang disuapi oleh Pinkan.
"Iya, tadi kami tak sengaja bertemu di depan ruangan jadi kami masuk bersama-sama," jelas Nina.
"Sayang kondisi kamu sekarang bagaimana?" tanya Nina pada Mega.
"Sudah lebih baik nek, ini berkat Nindya yang ada di ruangan ini," jawab Mega sambil tersenyum melihat Nindya.
"Syukurlah, kalau kamu gadis kecil. Apa sudah lebih baik?" ucap Nina lalu bertanya pada Nindya.
"Sudah nek, kan ada mommy dan juga aunty Pinkan yang baik sekali sama Nindya, ada suster juga terus dokternya juga baik nek," jawab Nindya membuat Nina terkekeh geli.
"Pinternya cicit nenek," ucap Nina membuat Alka dan Mega saling bertukar pandang lalu tertawa.
"Yaampun sayang, kamu memakan cake sampai terkena pakaianmu, jadi ada noda yang tertinggal kan. Apa perlu nenek suapin hem?" pekik Nina saat melihat Mega memakan cake yang berlumuran coklat.
"Aih nenek kan aku malu dengan Nindya," seru Mega lalu dengan sigap Alka mengambilkan tisu untuknya sambil tertawa. Mega pun membersihkan coklat yang ada di sekitar mulut dan pakaiannya.
Saat semuanya sedang bersenda gurau, ponsel Alka pun kembali berdering. Ia langsung melihat ke layar ponselnya ternyata Adidaryo yang meneleponnya.
"Maaf, aku sepertinya permisi sebentar. Kakek memanggilku," pamit Alka lalu pergi dari ruangan rawat inap Mega dan juga Nindya.
Di luar ruangan Alka langsung menjawab telepon dari Adidaryo.
"Alka kamu dimana?" tanya Adidaryo saat Alka menjawab telepon darinya.
"Masih di ruangannya Mega sama Nindya kek, ada apa?" jawab Alka dengan tenang.
"Cepat ke sini sebentar, ada satu hal yang ingin kakek tanyakan padamu," jawab Adidaryo dengan nada dingin lalu memutuskan sambungan teleponnya. Alka menjauhkan ponselnya dari telinganya, tanpa pikir panjang ia pun langsung pergi menghampiri Adidaryo yang berada di depan ruang ICU.
Kira-kira hal apa ya yang akan di tanyakan oleh kakek? aku jadi semakin penasaran.
Alka bergumam dalam hatinya mencoba menerka-nerka yang akan ditanyakan oleh Adidaryo. Ia berjalan dengan tergesa-gesa. Tak lama lift yang dinaikinya sampai di lantai tempat ruang ICU. Dari kejauhan Adidaryo tampak mondar-mandir dengan raut wajah yang sulit sekali diartikan.
__ADS_1