KELIRU

KELIRU
UNDANGAN


__ADS_3

Adidaryo Grup


Keduanya langsung masuk ke dalam ruangan Adidaryo. Mereka langsung mengeluarkan berkas-berkas yang akan mereka dibutuhkan untuk peluncuran program terbaru mereka.


Adidaryo Grup adalah perusahaan yang bergerak di bidang program. Dari mulai televisi, komputer, ponsel, laptop dan juga yang lainnya. Tak heran di dalam perusahaan ini begitu banyak layar dimana-mana, mulai dari yang ukuran kecil hingga ukuran yang sangat besar.


"Alka, untuk undangan bagaimana?" tanya Albi sambil mengecek beberapa berkas yang akan ia tanda tangani.


"Beres, tinggal disebar aja kok," jawab Alka.


"Mana? aku lihat dulu siapa-siapa aja yang akan kita undang," tanya Albi.


Alka pun memberikan setumpuk kartu undangan yang telah tertera nama penerimanya. Albi memeriksa satu persatu, lalu ia pun berhenti di salah satu undangan.


"Ka kita ngundang Amarany Grup?" tanya Albi dan Alka pun mengangguk.


"Memangnya pimpinannya mau datang? tahun lalu aja kita sampai membuat undangan yang bagus dan mahal pun ia tidak datang kok," timpal Albi saat memori otaknya mengingat kejadian tahun lalu ketika launching program untuk ponsel tercanggih pada masanya.


"Itu kakek yang menyuruhku, katanya sepulang dari kantor, aku sendiri yang mengantarkannya langsung kepada pimpinan Amarany Grup yaitu nyonya Nina Setyaningrum. Dan kamu tahu gak? dengar-dengar sih saat ini Amarany Grup sudah berganti pimpinan ke generasi ke lima nya," jelas Alka membuat Albi bertanya-tanya.


Generasi ke lima? apa tidak salah? bahkan selama ini aku tidak pernah melihat yang namanya nyonya Nina Setyaningrum, apalagi sekarang sudah berpindah ke generasi ke lima. Siapa ya kira-kira yang beruntung mendapatkan kursi kekuasaan terbesar itu?


Tanpa di sangka Alka sejak tadi memperhatikan Albi yang tengah tertegun dalam lamunannya.


"Heh! melamun aja sih!" seru Alka sambil menepuk bahu Albi.


Albi langsung terkesiap dan tersadar dari lamunannya.


"Alka! kamu mengagetkanku aja," sahut Albi sambil mencebikkan bibirnya.


"Makanya jangan melamun, ayok cepat selesaikan pekerjaan kita. Aku ada jadwal kelas di siang ini," ucap Alka dan Albi pun mengangguk.


🌾


Universiteit van Amsterdam


Mega baru saja selesai kelas pertamanya, tiba-tiba perutnya terasa lapar. Ia pun memutuskan untuk ke kantin yang berada di kampus ini. Di kampus ini Mega kembali menyendiri, karena memang Mega cukup sulit berteman dengan seseorang apalagi dengan orang baru.

__ADS_1


Beruntung di kampus ini tidak begitu sulit untuk menghafal jalan untuk menuju tempat fasilitas yang ada di kampus ini. Letaknya pun mudah diingat, walaupun secara keseluruhan kampus ini memang sangat luas sekali.


Tanpa sepengetahuan Nina, diam-diam Mega juga telah mengubah pengantar belajarnya dari bahasa Inggris menjadi bahasa Belanda. Alasannya karena Mega tak ingin bahasa Belanda yang selama ini ia pelajari tidak akan sia-sia karena sering dipakai.


Walaupun demikian, saat bersama Nina terkadang ia juga kelepasan berbicara bahasa Belanda. Nina sebenarnya sudah menyadari, namun ia tidak tahu sejak kapan Mega bisa berbahasa Belanda.


Sesampai di kantin, Mega langsung memesan makanan dan minuman yang menggugah seleranya. Pilihannya tertuju pada big burger cheese dan juga ice milk chocolate.


Setelah selesai menghabiskan makanan serta minumnya, Mega pun kembali ke kelasnya karena ada kelas terakhir yang harus ia ikuti. Sepanjang perjalanan ke kelas, Mega merasakan perasaan aneh yang baru ia sadari.


Kenapa sejak tadi pagi aku sama sekali gak melihat kak Albi ya disini? bukankah ia mengajar disini juga? ah ya sudahlah apaan sih aku kenapa juga mencari keberadaannya.


Mega menggeleng-gelengkan kepalanya. Sesampainya di kelas, tak lama pelajaran pun dimulai.


🌾


Adidaryo Grup


Siang pun tiba, Albi dan Alka makan siang bersama di kantor. Keduanya sangat menikmati makan siang yang telah di sediakan.


"Albi aku pergi duluan ya, nanti kamu pulangnya aku minta supir aja yang menjemputmu. Aku akan pulang terlambat karena ada jadwal menjadi penguji di ujian skripsi mahasiswa untuk semester terakhir tahun ini," ucap Alka dan Albi yang masih menyantap makanannya hanya mengangguk sambil mengangkat jempolnya.


"Hati-hati berkendaranya," kata Albi dan Alka pun mengangguk.


Kemudian Alka pergi meninggalkan Albi. Sesampai di tempat parkir Alka langsung masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya ke Amarany Grup.


Cukup lama perjalanan yang Alka tempuh, akhirnya ia pun sampai di perusahaan Amarany Grup. Alka menatap gedung yang tinggi menjulang serta design ekterior yang begitu menakjubkan dengan penuh kekaguman.


Pantas aja disebut penguasa bisnis di Asia dan Eropa. Bangunan perusahaannya pun di design tidak tanggung-tanggung. Aku jadi semakin penasaran siapa sebenarnya generasi ke limanya itu.


Alka masuk ke dalam lobby kantor dengan langkah mantap. Kedatangannya di sambut oleh kedua orang resepsionis.


"Selamat siang, ada yang bisa kami bantu?" sapa kedua resepsionis itu bersamaan.


"Siang, saya Alka Adidaryo dari perusahaan Adidaryo Grup. Ingin mengantarkan undangan kepada nyonya Nina Setyaningrum. Apakah saya bisa bertemu dengan beliau?" tanya Alka dengan raut wajah yang sangat ramah membuat kedua resepsionis itu menjadi salah tingkah.


"Mohon maaf pak Alka, pimpinan kami hari ini sedang tidak ke kantor. Tapi bapak bisa bertemu dengan sekretaris sekaligus asisten pribadinya yaitu pak Fabio," jawab salah satu resepsionis itu.

__ADS_1


"Baiklah, dimana saya bisa menemui pak Fabio?" tanya Alka.


"Mohon ditunggu sebentar ya pak," jawab salah satu resepsionis dan Alka pun mengangguk sambil melihat kesekeliling lobby, sementara yang satunya langsung menghubungi Fabio lewat sambungan telepon kantornya.


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Alka diantarkan ke salah satu ruangan khusus tamu pimpinan Amarany Grup. Tak lama Fabio pun masuk kedalam ruangan tersebut.


"Selamat siang pak Fabio," sapa Alka sambil berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Siang dengan pak Alka, benar?" ucap Fabio sambil membalas uluran tangan Alka.


"Benar pak," jawab Alka.


"Silahkan duduk pak Alka," ucap Fabio dan keduanya pun duduk disofa.


"Jadi ada apa pak Alka sampai repot-repot datang ke sini?" tanya Fabio.


"Saya hanya ingin memberikan undangan untuk grand launching program terbaru kami pak. Namun sesuai pesan kakek saya, beliau meminta untuk pimpinan Amarany Grup ini datang ke acara kami," jawab Alka to the point.


"Oh seperti itu, baik nanti saya akan sampaikan kepada nyonya Nina," ucap Fabio sambil tersenyum.


"Oh ya pak Fabio, ada hal yang ingin saya tanyakan," kata Alka dengan hati-hati.


"Apa itu pak? tanyakan saja," tanya Fabio.


"Apakah benar kalau pimpinan Amarany Grup ini telah berpindah ke generasi ke limanya?" tanya Alka ragu-ragu, Fabio pun mengangkat salah satu alisnya.


"Maaf pak Alka untuk hal itu, lebih baik pak Alka menanyakan langsung kepada nyonya Nina karena hal itu bukan hak saya untuk menjawabnya," jawab Fabio dan Alka pun memakluminya.


"Baiklah pak Fabio tidak apa-apa, kalau begitu saya pamit undur diri ya, karena ada urusan yang lain," ucap Alka tersenyum sambil berdiri dan keduanya pun berjabat tangan.


"Terima kasih undangannya, kami usahakan untuk datang ke acara perusahaan bapak. Hati-hati dalam berkendara pak Alka," kata Fabio sambil menundukkan kepalanya begitupun dengan Alka.


Alka keluar dari ruangan itu lalu pergi ke tempat parkir. Setelah sampai di tempat parkir, Alka langsung melajukan mobilnya menuju ke kampus.


Beberapa jam kemudian, Alka telah tiba di kampus. Namun sebelum ia turun dari mobil, Alka mengganti pakaiannya terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, ia pun turun dari mobil yang telah berganti pakaian yang biasa ia pakai saat sedang ke kampus.


Karena kebanyakan murid Alka dan para dosen hanya tahu kalau Alka seorang asisten dosen di kampus tersebut bukan seorang pengusaha. Walaupun terkadang Albi sering datang menemui Alka, tidak banyak yang menyadari kalau keduanya adalah saudara kembar karena memiliki wajah yang sangat mirip hampir 100%.

__ADS_1


__ADS_2