
Universiteit van Amsterdam
Alka yang sedang mengajar di salah satu kelas, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia melihat di layar ponselnya ternyata Arif sekretaris sekaligus asisten pribadi Adidaryo.
"Maaf," Alka menunjukkan ponselnya yang berdering didepan mahasiswa dan mahasiswinya. "Kalian kerjakan tugas yang sebelumnya telah saya berikan, saya ingin menjawab panggilan telepon lebih dulu, kerjakan dengan tenang ya," ucap Alka lalu keluar dari kelas.
"Ya, hallo Arif. Ada apa?" tanya Alka saat ia menerima telepon dari Arif.
"Selamat siang pak, saya ingin memberitahukan bahwa pak Alka ada undangan meeting sekaligus makan siang bersama dengan EO Paramhouse di Cafe Van Leeuwen," ucap Arif yang sedang berada di ruangannya.
"Siang, tapi bukankah itu EO yang akan mengurus acara kita besok? Albi kemana memangnya?" tanya Alka yang sedang berada di luar kelas.
"Iya pak, tadi pak Albi pamit untuk makan siang di luar," jawab Arif dan Alka memijat keningnya sambil berpikir sejenak.
Albi makan siang bersama siapa ya?
"Baiklah, aku akan penuhi undangan dari EO Paramhouse," ucap Alka lalu ia pun mematikan sambungan teleponnya.
Satu jam lagi, aku harus segera menyelesaikan kelasku.
Alka melihat arloji yang melingkar di tangan kirinya. Ia pun masuk kembali kedalam kelas. Satu jam berlalu, Alka langsung bergegas ke tempat parkir dan melajukan mobilnya ke sebuah kafe yang telah diberitahukan oleh Arif.
Cafe Van Leeuwen
Alka pun tiba di kafe. Kemudian ia masuk ke dalam, saat ia sedang mencari tim EO Paramhouse. Pandangan Alka berhenti pada seseorang yang ia kenal.
Bukankah itu Mega? dan laki-laki yang ada dihadapannya itu sepertinya Albi. Tapi tidak biasanya Mega dan Albi makan beramai-ramai.
Alka berjalan menghampiri Mega dan juga Albi. Saat ia sudah hampir dekat dengan tempat Albi dan Mega berada. Pinkan yang pertama kali melihat Alka langsung terpesona dibuatnya. Pinkan menyentuh lengan Dona yang duduk tepat disampingnya.
"Don, laki-laki yang didepan kita bukankah mirip dengan calon suami Mega?" bisik Pinkan pada Dona. Kemudian Dona pun melihat ke arah yang di maksud oleh Pinkan. Keduanya menatap Alka dan Albi bergantian.
__ADS_1
Bak pinang dibelah dua.
Ucap batin Dona dan Pinkan bersamaan. Terkecuali dengan Nina yang bersikap biasa saja, karena sewaktu di pemakaman kemarin, Nina sudah bertemu dengan Alka dan juga Albi.
Aku rasa Dona dan Pinkan merasa terpesona melihat ketampanan saudara kembar dari kak Albi.
Mega tertawa kecil saat ia melihat ekspresi wajah Dona dan Pinkan.
"Eh Ka, disini juga ? ngapain?" tanya Albi sambil menoleh saat punggungnya di tepuk oleh Alka dari belakang.
"Iya tadi dapet telepon dari kantor ada client kita yang ngajak meeting untuk acara besok," jawab Alka yang ikut duduk disebelah Albi.
"Ngomong-ngomong siapa yang ulang tahun? kok ada cake?" tanya Alka sambil melihat semua orang yang berada satu meja dengan Albi secara bergantian.
"Calon istriku Ka," jawab Albi dengan santainya membuat Alka mengerutkan kedua alis matanya.
"Bukankah nanti sore baru mau lamaran? udah calon istri aja," sahut Alka dengan sedikit rasa cemburu. Sementara Mega hanya tersenyum sambil melihat Alka.
Aku tahu pasti perasaan kak Alka saat ini. Merelakan orang yang kita cintai untuk orang lain terlebih itu saudara kandungnya sendiri memang tak mudah.
Alka hanya mengangkat kedua bahunya seolah acuh. Tanpa sengaja Alka pun melihat Kiran tengah bersama seorang laki-laki.
Kiran? siapa laki-laki yang bersamanya itu? tadi pagi dia memintaku kembali sekarang sudah bersama laki-laki lain. Memang seharusnya kita gak bersatu. Yang ada nantinya aku hanya berjuang sendiri. Dan merasa dibodohi oleh perasaanku sendiri.
Alka tertegun, Albi pun langsung menepuk punggung Alka.
"Ka! kok malah melamun sih? liat apaan sih?" tanya Albi sambil melihat ke sekeliling kafe tersebut tepat di meja ujung pandangannya pun langsung terhenti.
"Sudah biarkan aja, toh kamu sedang dalam proses perceraian," bisik Albi membuat Alka langsung mengalihkan pandangannya.
Nina hanya memperhatikan kedua laki-laki kembar itu. Tanpa Alka sadari, Pinkan sejak tadi diam-diam memperhatikannya.
__ADS_1
Tampan, bolehkah aku berharap padanya? ah tapi tidak mungkin. Aku punya apa? bisa-bisanya aku berharap memiliki suami yang tajir seperti Mega yang juga seorang sultini.
Pinkan hanya menghela nafasnya dan segera menghabiskan makan siangnya.
Ini mana lagi EO belum sampai juga, tidak tau apa kalau aku banyak kerjaan hari ini. Termasuk kerjaan menjaga hatiku supaya tidak tambah sakit melihat Mega sama Albi.
Alka menggerak-gerakkan kakinya. Ia begitu gelisah, Albi yang diam-dia sejak tadi memperhatikan tingkah Alka hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Coba aja telepon udah sampai dimana, mungkin macet dijalan," ucap Albi tiba-tiba membuat Alka tersentak kaget.
"Hah! kamu bisa membaca pikiraku?" tanya Albi tidak percaya.
"Ya enggaklah, dari sikap kamu aja sudah menunjukkan kalau kamu sedang dipenuhi rasa gundah gulana," ledek Albi sambil menahan tawanya.
"Rese kamu tuh! aku tuh udah laper ini nunggu tamu gak datang-datang. Kalau aku pesan sekarang, terus tiba-tiba tamunya datang kan jadi gak enak hati Albi," ucap Alka sambil mencebikkan bibirnya.
"Yasudah lebih baik sekarang kamu makan dulu, nanti kalau EO nya sudah ada biar aku yang lebih dulu menemuinya," usul Albi dan Alka pun mengangguk. Alka memanggil seorang pelayan lalu memesan makanan dan juga minuman.
Saat Alka sudah selesai melakukan pesanan, Nina pun bangkit dari duduknya.
"Semuanya, nenek duluan ya. Ada urusan yang harus nenek urus. Pinkan, Dona nanti kalian pulang bareng Mega ya," ucap Nina dan semuanya pun mengangguk.
"Baik nek," jawab Pinkan dan Dona bersamaan.
"Nenek hati-hati dijalan ya, bye nek," ucap Mega dan Nina pun melambaikan tangan.
Mereka semua membalas lambaian tangan Nina. Setelah keluar dari kafe, Nina langsung menuju ke tempat parkir lalu masuk ke dalam mobil. Nina membatalkan niatnya ke butik, ia memilih untuk langsung pulang ke rumah.
"Oh iya kak kenalin ini kedua sahabat aku, yang ini Pinkan, ini Dona dan yang ini tunangan Dona namanya om Irfan," ucap Mega kepada Alka dan Albi sambil memperkenalkan para sahabatnya dan juga Irfan.
Setelah cukup lama berbincang-bincang, beberapa orang dari EO pun datang.
__ADS_1
"Albi wakilkan dulu ya, aku mau makan lapar sekali," rengek Alka pada Albi sambil memegangi perutnya membuat Mega, Pinkan dan juga Dona tak kuasa untuk menahan tawanya.
Tiba-tiba..