
Rumah Nina
Mobil yang Mega tumpangi pun akhirnya telah sampai di halaman rumah. Nina yang sejak tadi sudah menunggu Mega di teras rumah, akhirnya ia pun mengembangkan senyumannya menyambut kedatangan Mega.
Mega turun dari mobil dan langsung berlari ke arah Nina lalu memeluk Nina dengan sangat erat.
"Nenek aku kangen," ucap Mega.
"Nenek juga kangen sayang, bagaimana? apakah kamu sudah mengetahui semua kebenarannya? lalu kenapa Pinkan dan Dona tidak ikut ke sini?" tanya Nina dengan seberondong pertanyaan.
"Nenek aku baru sampai, tidakkah aku diajak masuk lebih dulu?" jawab Mega sambil merajuk.
Nina pun tertawa kecil, "iya iya ayok masuk," ajak Nina lalu menggenggam tangan Mega.
Sesampai di sofa yang berada di ruang keluarga, keduanya pun duduk santai. Para pelayan langsung sibuk menyiapkan hidangan untuk nyonya dan juga nona mereka.
"Sekarang kamu jawab pertanyaan nenek tadi, ayok," ucap Nina dan Mega pun mengangguk cepat.
Mega menghela nafasnya berat, "jadi ternyata Damar kecelakaan nek, sebabnya karena tunangannya selingkuh dibelakangnya, hati Damar kacau dan ia melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas maksimum."
Ternyata benar yang dibilang Adidaryo kemarin padaku.
"Dan akhirnya Damar meninggal dunia sesaat dia tiba di rumah sakit. Aku juga sudah menemui ibunya tapi saat itu aku tidak bertemu dengan ayahnya. Aku diantar ibunya Damar mengunjungi peristirahatan terakhirnya. Pinkan dan Dona tidak ikut karena mereka sudah disuruh pulang oleh kedua orangtua mereka nek," sambung Mega lalu Nina pun mengangguk pelan sambil tersenyum.
Nina mengangkat dagu Mega yang sedikit menunduk, "sayang, tak perlu cemas. Mengikhlaskan lebih baik daripada terus terkurung dalam cinta yang tak pernah bisa kamu gapai. Nenek yakin, setelah ini akan ada laki-laki yang bisa menerima kamu apa adanya," ucap Nina dan Mega pun tersenyum lalu memeluk Nina.
"Siapapun laki-laki itu, semoga dia yang terbaik untukku," kata Mega lalu Nina pun mengangguk sambil mengelus lembut punggung Mega.
"Tunggu," ucap Nina sambil melepaskan pelukan Mega.
"Ada apa nek?" tanya Mega merasa heran.
"Kenapa kamu pulang lama sekali? harusnya kamu sudah sampai sejak setengah jam yang lalu?" tanya Nina sambil memiringkan sedikit kepalanya.
"I-itu nek tadi aku ketemu teman lamaku. Seseorang yang dulu pernah menolongku dari Sahrul dan mengantarkan ku ke rumah 3 tahun yang lalu," jawab Mega ragu-ragu.
__ADS_1
"Oh, siapa memang namanya?" tanya Nina.
"Albi Adidaryo nek dan namanya sama seperti nama belakang Damar," jawab Mega membuat Nina tercekat kaget.
Pasalnya selama ini Adidaryo selalu menyembunyikan identitas cucu-cucunya. Nina pun menarik kedua sudut bibirnya membuat sebuah senyuman namun hampir tak terlihat oleh Mega.
Jadi yang menolong cucuku adalah cucunya Adidaryo. Aku harus segera bertemu dengan Adidaryo. Bisa-bisanya dia selalu mengelak setiap aku tanya tentang keluarganya.
"Oh ya? biar nanti nenek yang mencari tahu ya. Lebih baik sekarang kamu istirahat ya ke kamar. Bukankah besok kamu harus masuk ke kampus?" ucap Nina lalau bertanya pada Mega.
"Iya nek, ya sudah aku ke kamar ya nek," jawab Mega dan ia pun bangun dari duduknya lalu pergi ke kamar.
Sementara Nina mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam kamar untuk menghubungi Adidaryo. Sesampai di kamar, Nina tak lupa menutup kembali pintunya rapat-rapat.
Sedangkan pelayan yang sejak tadi sibuk menyiapkan hidangan, sesampai di ruang keluarga ternyata Nina dan Mega sudah kembali ke kamar masing-masing.
"Nyonya dan nona pada kemana ya? apa aku terlalu lama menyiapkan ini? aih sayang sekali kalau sampai terbuang, lebih baik aku makan saja di dapur," ucap pelayan itu bermonolog lalu kembali membawa nampan yang berisi makanan dan minuman tersebut ke dapur.
Kamar Nina
Kemana ini Adidaryo? terhubung tapi kok tak kunjung ada jawaban.
Nina pun akhirnya menaruh kembali ponselnya di atas nakas lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur untuk beristirahat.
Kamar Mega
Mega baru saja selesai mandi dan berganti pakaian. Sesekali ia terus meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Akhirnya Mega memutuskan untuk ke tempat massage terdekat dari rumah Nina.
Sebelum berangkat, Mega pergi ke kamar Nina untuk berpamitan.
TOKTOKTOK (suara ketukan pintu)
Nina yang mendengar pintu kamarnya diketuk langsung bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah pintu. Nina pun membuka pintu kamarnya.
"Sayang ada apa ?" tanya Nina.
__ADS_1
"Nek, aku mau pergi ke tempat massage terdekat disekitar sini ya. Tubuhku terasa lelah sekali setelah perjalanan yang cukup jauh selama 3 hari ini," jawab Mega sambil memijat-mijat bahu dan lehernya.
"Iya, tapi kamu harus diantar dengan supir ya. Mengingat kamu kan belum tau seluk beluk tempat di sekitar sini," ucap Nina dan Mega pun mengangguk.
"Baik nek, aku pergi dulu ya, bye nenek selamat beristirahat," kata Mega sambil melambaikan tangannya dan Nina pun membalas lambaian tangan Mega sambil tersenyum.
Kemudian Nina menutup kembali pintu kamarnya setelah Mega telah menghilang dari pandangan Nina. Sedangkan di depan rumah, supir telah siap untuk menemani Mega pergi.
Mega melihat arloji yang melingkar dilengannya.
Masih pukul 4 sore, aku bisa lebih lama di tempat masage. Jadi gak sabar ingin dipermak ini badan.
Mega pun masuk kedalam mobil. Kemudian mobil pun melaju. Sepanjang jalan disini sangat sepi karena tempat tinggal Nina memang sedikit terpencil. Dan hanya ada beberapa rumah saja, itupun dengan jarak yang cukup jauh.
Semua rumah di Belanda sudah di design khusus oleh pemerintahnya sendiri. Sebagai bentuk program penataan kota dan rumah penduduk supaya lebih rapih dan bersih. Masing-masing rumah pun telah disediakan tiga tong sampah yang ukurannya cukup besar di samping halaman rumah, gunanya untuk mempermudah pegawai kebersihan mengambil sampah sesuai dengan golongannya masing-masing. Tak heran harga beli rumah di Belanda terbilang cukup memiliki nilai fantastic. Karena kebanyakan mereka lebih memilih tinggal di apartemen.
Syarat memiliki rumah pun tidak sembarangan, dan yang paling utama harus warna negara Belanda asli dan sudah tinggal di Belanda lebih dari 5 tahun serta memiliki kekayaan yang mampu memopang keluarganya serta tidak kekurangan.
Tak lama Mega pun sampai di sebuah salon kecantikan khusus wanita. Mega turun dari mobil lalu masuk ke dalam salon tersebut.
"Goedemiddag, hoe kunnen we u helpen?" ucap pelayan salon memberikan sambutan pada Mega.
(Selamat sore, ada yang bisa kami bantu?)
"Goedemiddag, ik wil een volledige lichaamsmassage doen," jawab Mega sambil tersenyum.
(Selamat sore, saya ingin melakukan pijat seluruh tubuh)
"Oké, kom met me mee," ajak pelayan tersebut.
(Oke, mari ikut dengan saya)
Mega pun mengikuti pelayan salon tersebut ke resepsionis. Mega mendaftarkan member terlebih dahulu lalu ia pun memilih perawatan sesuai yang dia butuhkan. Tanpa sepengetahuan Nina, diam-diam Mega sebenarnya sudah mempelajari bahasa Belanda sejak kepergian mendiang ayah dan ibunya ke Belanda. Bahkan dulu ia belajar dengan autodidak.
Dari mulai kata per kata hingga kalimat yang mudah ia pahami. Walaupun Mega kekurangan perhatian kedua orangtuanya, namun ia sendiri merasa tertantang dengan kemampuan yang ia miliki. Karena suatu hari ia pasti bisa membuat bangga kedua orangtua dan juga neneknya.
__ADS_1