
Belanda
Pukul 01.00 waktu Belanda, kini Lusy dan Samudera telah mendekam dibalik jeruji besi yang sangat dingin. Bahkan rencananya mereka akan di pindahkan ke dalam penjara paling kejam di Belanda karena kasus percobaan pembunuhan berencana.
Kediaman Samudera
Kiran merasa frustasi atas penangkapan Samudera. Itu artinya tak ada orang yang mampu membantunya untuk mendapatkan Alka kembali. Harapannya terasa pupus, Kiran pun mengambil jalan pintas karena terlalu depresi ia rasakan.
Alka kamu harus menjadi milikku kembali! aku gak mau kamu pergi dariku Alka! Daddy kamu jahat! kenapa kamu tega menduakan mommy hah! sekarang kamu malah masuk ke dalam penjara bersama selingkuhanmu! aku benci daddy!
Kiran teriak histeris di kamarnya. Beruntung kamar Kiran kedap suara, jadi tak ada yang mendengarnya jika dari luar kamar. Kemudian ia pun ingat sesuatu.
Oh iya aku punya obat penenang yang beberapa waktu lalu aku beli dari temanku.
Kemudian Kiran mencari obat tersebut di dalam nakas yang berada di samping tempat tidurnya. Senyumnya pun langsung mengembang kala ia menemukan obat itu. Kiran mengambilnya dengan penuh semangat. Dikeluarkan semua obat itu dari dalam botol kecil, lalu ia menelan semuanya sekaligus.
Hati kecilnya sangat bertolak belakang dengan otaknya. Kiran sudah dikuasai oleh emosi yang memuncak. Belum ada setengah jam Kiran meminum obat tersebut, ia pun tak sadarkan diri.
Sint Lucas Andreas Hospital
Mentari mulai menampakkan sinarnya yang menyusup lewat sela-sela gorden. Sayup-sayup suara kicauan burung pun terdengar. Mega membuka matanya dengan perlahan, ia merasa sekujur tubuhnya lemas dan sulit untuk digerakkan. Mega merasa sangat asing dengan tempat terbaring saat ini.
Ruangan yang dominan berwarna putih membuat dirinya terasa begitu hampa.
"Apa kamu membutuhkan sesuatu?" seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari toilet yang berada di ruangan tersebut. Mega menoleh ke sumber suara tersebut.
"Nenek," ucap Mega yang masih terbaring, rasanya begitu sulit ia menggerakkan tubuhnya. Nina menghampiri Mega kemudian membantu menyetting tempat tidur Mega supaya Mega bisa bersandar.
"Aku haus nek," ucap Mega dengan seulas senyum dibibirnya. Nina membantu Mega untuk minum. Kemudian ia menaruh kembali gelas tersebut diatas nakas di samping tempat tidur.
"Nek, bagaimana keadaan Nindya?" tanya Mega dengan wajahnya yang masih terlihat pucat. Nina tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Mega. Hatinya ragu jika harus ia ceritakan tentang tragedi yang menimpa Nindya juga Albi semalam. Lalu Nina pun tersenyum.
__ADS_1
"Nindya sekarang di ruang ICU sayang," jawab Nina dengan nafas yang sedikit tertahan di rongga dadanya. Dengan segenap kekuatan Mega mencoba mencerna jawaban dari Nina.
"Ruang ICU? bukankah kemarin keadaan Nindya sudah mulai membaik nek? oh iya aku sakit apa nek? kenapa aku tak sadarkan diri kemarin?" tanya Mega dengan seberondong pertanyaan yang membuat Nina begitu sulit menjelaskannya. Ia tak ingin Mega mengetahui tentang penyakitnya. Tapi hatinya pun tergerak, Nina menghela nafasnya.
"Sayang, semalam Nindya hilang. Lalu Adidaryo, Alka dan juga Albi mencarinya ke sekeliling rumah sakit ini," mata Mega membulat dengan sempurna seolah tak percaya.
"Lalu?"
"Albi menemukan Nindya di dalam tangga darurat yang berada di lantai 5 gedung rumah sakit ini. Nahas keadaan Nindya menurun dan saat ia dibawa ke ruang ICU ia tak sadarkan diri," lanjut Nina membuat Mega mengerutkan kedua alis matanya dan masih setia mendengarkan penjelasan Nina tanpa memotongnya kembali.
"Albi mengalami luka tembak di bagian punggungnya dan ia sekarang sedang berada di ruangan ICU bersama Nindya. Semalam saat ia dibawa ke dalam ruangan emergency, Albi sempat tak sadarkan diri dan akhirnya dia kritis. Namun disaat yang bersamaan, kondisi kamu mulai membaik dan akhirnya nenek meminta perawat untuk memindahkan kamu ke ruang rawat inap," jelas Nina membuat Mega tercengang. Ada rasa sesak yang menyeruak didalam dadanya. Air matanya pun menetes tanpa permisi.
"Siapa yang tega melakukan hal itu pada Nindya dan kak Albi nek?" tanya Mega dengan pandangannya yang kosong lalu menoleh kearah Nina yang berpindah duduk disamping Mega
"Lusy, ibu kandung Nindya dan juga Samudera yang merupakan ayah kandung Nindya. Rival dari Adidaryo, yang juga mantan mertua Alka," jawab Nina membuat Mega refleks menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Ya Tuhan beri kekuatan untuk kak Albi dan juga Nindya. Beri kami kesempatan untuk mengukir cerita bahagia kembali Tuhan.
Hueeek... Hueekk..
Mega merasa mual saat ia sudah menghabiskan semua sarapannya.
"Nek aku mau muntah, kepalaku sakit sekali," rintih Mega dengan wajahnya yang mulai memerah karena menaha rasa sakit.
"Ayok biar nenek bantu," ucap Nina yang kemudian memapah Mega turun dari tempat tidur dan pergi ke toilet. Mega menumpahkan semua makanan yang barusan saja ia makan. Setelah selesai, Mega kembali berbaring dengan sedikit bersandar di tempat tidur.
Ya Tuhan aku jadi ingat Adrian dulu, merasa tersiksa karena rasa mual efek dari terapi kanker yang ia jalani.
Dokter pun masuk ke ruangan Mega untuk memeriksakan kondisi Mega kembali.
"Selamat pagi nona dan juga nyonya," sapa dokter dan seorang perawat yang bersamanya.
__ADS_1
"Pagi," ucap Nina dan Mega bersamaan.
"Mari nona, biar saya periksakan kondisi nona. Apakah posisi tidur seperti ini membuat nona merasa nyaman?" ajak dokter lalu bertanya pada Mega. Mega pun mengangguk. Dokter mulai memeriksa Mega.
"Apa terjadi mual dan muntah?" tanya dokter membuat raut wajah Mega tercekat kaget.
"Iya dok baru saja. Memangnya apa yang telah terjadi padaku?" jawab Mega lalu bertanya pada dokter tersebut.
"Nona baru saja menjalani imunoterapi, sama seperti kemoterapi hanya efek imunoterapi lebih ringan dari kemoterapi itu sendiri," jelas dokter tersebut.
"Kemo? bukankah pengobatan itu hanya untuk penderita kanker dok?" tanya Mega dengan wajah yang sulit diartikan.
"Iya benar," jawab dokter sambil menyuntikkan obat ke dalam selang infus Mega.
"Itu berarti apa aku menderita kanker dok?" tanya Mega ragu.
"Iya, nona Mega menderita kanker hati stadium 2 dan saat ini sel kanker yang ada didalam tubuh nona sudah menjalar kedalam otak. Untuk itu nona harus kuat supaya pengobatan imunoterapi berhasil dan harapan nona untuk sembuh bisa tinggi," jelas dokter, Mega merasa tubuhnya lemas seketika. Syok, itu sudah pasti. Lalu angan-angannya menuju ke Albi dan Nindya. Membuat semangat Mega bangkit kembali.
"Nona tenang saja, cukup tenang dan berpikir positif. Bukankah setiap Tuhan memberikan penyakit, Tuhan pula yang akan memberikan obatnya? Teruslah berdoa kepada Tuhan, kami sebagai tim medis akan berusaha semaksimal mungkin untuk kesembuhan nona. Kanker itu sebenarnya tidak perlu dipikirkan, tapi dijalani dengan hati bahagia. Yakin pada diri nona sendiri, kalau nona akan sembuh dan bisa aktivitas kembali seperti semula. Sembuh itu bukan hanya dari obat yang diminum tapi dari keyakinan hati nona sendiri. Semangat berjuang, banyak yang begitu menyayangi nona," ucap dokter tersebut membuat Mega tersenyum simpul. Seperti ada kekuatan yang baru saja masuk kedalam jiwanya.
"Ada lagi yang ingin ditanyakan nona?" tanya dokter setelah melakukan pemeriksaan pada Mega.
"Tidak ada dok, terima kasih banyak," jawab Mega dan dokter itu tersenyum.
"Baiklah kalau begitu kami permisi, selamat pagi," pamit dokter tersebut lalu pergi dari ruang rawat inap Mega.
Nina menghampiri Mega lalu memeluk Mega sangat erat.
Aku tahu nenek tidak kuasa untuk menjelaskannya padaku. Tapi hadirnya nenek selalu disampingku, aku semakin yakin untuk bisa sembuh dari sakit ini. Tuhan kuatkan aku, kak Albi dan juga Nindya.
Saat keduanya tengah berpelukan, tiba-tiba pintu ruangan Mega terbuka.
__ADS_1
"Selamat pagi."