KELIRU

KELIRU
CUKUP BUATKU NYAMAN


__ADS_3

"Dok bagaimana keadaan istri saya?" tanya Albi pada dokter tersebut.


"Mohon maaf tuan, istri tuan telah meninggal dunia," jawab dokter tersebut membuat Albi tidak percaya.


"Benarkah? kenapa? apa sebabnya dok?" tanya Albi yang mulai kehilangan akal sehatnya.


"Sebenarnya nyonya Vanesha diperkirakan telah meninggal dunia sebelum ia sampai di rumah sakit. Menurut hasil laboratorium, nyonya Vanesha mengalami over dosis dalam pemakaian narkoba. Mungkin sebelumnya ia telah mengalami sakau, namun tidak ada yang mengetahuinya," jelas dokter tersebut membuat Albi mengacak rambutnya merasa frustasi.


Astaga! Vanesha! Aaarrghh!


"Bagaimana dengan bayi yang berada didalam kandungannya dok?" tanya Albi memastikan.


"Setelah kami cek melalui USG, sepertinya nyonya Vanesha juga telah mengalami keguguran. Karena kami telah melihat dengan jelas ternyata ada bekas darah didalam ****** dan juga kantung rahimnya yang sudah mengalami luka seperti bekas robekan. Untuk itu kami meminta persetujuan tuan untuk melakukan pembersihan pada rahim nyonya Vanesha melalui operasi, walaupun nyonya Vanesha sudah tiada," jelas dokter tersebut.


"Baik dok lakukan yang terbaik, saya percayakan semuanya pada dokter," ucap Albi mantap.


Dokter itu pun mengangguk dan langsung memasuk kembali ke dalam ruang emergency dengan beberapa orang perawat. Para tim medis langsung bergerak cepat. Albi menunggu di depan ruang operasi.


Hampir satu jam operasi berlangsung, dokter pun keluar dari ruang operasi. Albi langsung berdiri lalu menghampiri dokter tersebut.


"Sebaiknya tuan segera menyelesaikan urusan nyonya Vanesha. Karena jika terlalu lama tidak baik juga untuk jiwa nyonya Vanesha kalau tidak segera dikebumikan," kata dokter dan Albi pun mengangguk.


Dokter itu pun pergi dari hadapan Albi. Adidaryo dan Alka baru saja tiba di rumah sakit langsung menghampiri Albi yang masih berada di depan ruang operasi.


"Albi, bagaimana Vanesha? apa dia baik-baik saja?" tanya Adidaryo sedangkan Albi langsung duduk di kursi karena kedua kakinya terasa lemas.


"Vanesha telah meninggal dunia kek," jawab Albi lirih.


Para perawat langsung membawa Vanesha ke ruang jenazah. Albi langsung mengurus pemakaman Vanesha dibantu dengan Alka. Sedangkan Adidaryo langsung pergi menuju rumah Albi untuk menemui Nindya.


"Albi, dari matamu kamu tidak bisa berbohong jika kamu tidak pernah mencintai Vanesha walaupun dia telah mengkhianatimu sejak awal. Sorot matamu menyimpan rasa sedih karena kehilangan sosok Vanesha di hidupmu," ucap Alka saat keduanya telah selesai menyelesaikan administrasi rumah sakit.


"Aku juga gak tau Ka. Selama ini aku hanya sangat merindukan seorang wanita yang bisa menjadi teman hidupku. Tapi aku selalu gak pernah berhasil. Dan sampai sekarang pun aku gak tau dimana keberadaan Lusy. Aku hanya kasihan kepada Nindya," kata Albi sambil memijat keningnya yang terasa pening.


"Ya aku hanya bisa mendoakanmu dan juga Nindya. Semoga kalian bisa menemukan sumber kebahagiaan yang selama ini kalian rindukan," ucap Alka sambil menepuk punggung Albi.

__ADS_1


Jasad Vanesha pun sedang di bersihkan untuk dibawa ke pemakaman yang sama seperti tempat kedua orangtua Alka dan Albi.


Kediaman Albi


Adidaryo baru saja tiba di halaman rumah Albi, waktu telah menunjukkan dini hari. Suasana kompleks rumah pun masih sangat sepi. Adidaryo langsung masuk ke dalam rumah lalu pergi menuju kamar Nindya.


Adidaryo membuka kamar Nindya namun tidak menemukan Nindya di kamarnya. Ia pun langsung menghubungi Albi.


"Hallo kek?" sapa Albi dari seberang telepon.


"Nindya kemana Albi? kok dia tidak ada di kamarnya?" tanya Adidaryo yang mulai panik.


"Oh iya Nindya lagi dirumah Mega kek, letaknya 2 rumah sebelum rumahku," jawab Albi membuat Adidaryo berpikir sejenak.


Dua rumah dari sini? bukankah itu kediaman Nina? atau jangan-jangan Mega yang di maksud Albi itu adalah cucunya Nina. Generasi ke lima pewaris tunggal Amarany Grup?


"Baiklah sembari menunggu pagi tiba, kakek akan beristirahat di rumahmu saja ya," ucap Adidaryo.


"Iya kek, di rumah juga ada pelayan dan juga baby sitter. Jadi kakek kalau butuh bantuan apa-apa langsung aja minta bantuan kepada mereka," kata Albi.


Rumah Nina


Nindya tampa begitu bahagia bermain dengan Nina di ruang keluarga.


"Nindya apakah kamu tidak merasa kantuk?" tanya Nina lalu Nindya pun menguap.


"Aku sudah menganguk nek," jawab Nindya sambil mengucek kedua matanya.


"Baiklah yuk ikut nenek, nanti Nindya tidur dengan aunty Mega ya," ucap Nina dan Nindya pun mengangguk.


Keduanya pun langsung masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas tempat kamar Mega berada. Setelah sampai lift pun berhenti. Nina langsung membuka kode pengaman untuk masuk ke dalam kamar Mega.


Nina dan Nindya berjalan perlahan dan mengendap-ngendap. Mega yang sudah tertidur pulas tidak menyadari kedatangan Nina dan juga Nindya.


Nindya langsung naik ke atas tempat tidur Mega dan merebahkan dirinya tepat di samping Mega. Setelah Nindya tertidur, Nina pun pergi ke luar kamar.

__ADS_1


🌾


Keesokan harinya, Mega terbangun. Ia begitu terkejut dengan kehadiran Nindya yang tidur disebelahnya.


Astaga! Ya Tuhan kenapa ada Nindya di kamarku? sejak kapan Nindya masuk? atau jangan-jangan kak Albi ada di kamar ini juga.


Mega melihat pakaian yang ia kenakan.


Pakaianku masih lengkap, masa sih kak Albi bisa masuk ke dalam kamarku?


Mega turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan Albi ke sekeliling kamar. Namun ia tak kunjung menemukannya.


Kenapa masih pagi aku sudah dibuat kebingungan seperti ini? Astaga pasti ini kerjaan nenek.


Mega pun memilih untuk mandi dan berganti pakaian, sedangkan Nindya masih asik dengan alam mimpinya. Beberapa menit kemudian Mega telah selesai mandi dan juga berganti pakaian.


Ia pun menghampiri Nindya disamping tempat tidurnya.


Kalau dilihat, wajahnya cukup membuatku nyaman. Anak ini, kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh ketima bersama Nindya? apa yang Nindya rasakan akupun ikut merasakannya.


Mega pun tersenyum saat memandangi wajah polos Nindya yang sedang tertidur. Tiba-tiba Nindya terbangun dan melihat Mega yang sedang tersenyum di sebelahnya.


"Morning aunty Mega," sapa Nindya lalu merubah posisinya dari terbaring menjadi duduk.


"Morning my princess Nindya," ucap Mega sambil mencubit pelan hidung Nindya.


"Hihihi aunty geli," pekik Nindya tertawa.


"Nindya sejak kapan kamu di kamar aunty?" tanya Mega dengan nada bicara yang lembut.


"Semalam Nindya kangen denga aunty Mega, terus Nindya minta daddy untuk mengantarkan Nindya ke sini. Dan kami bertemu dengan grandma yang baik sekali pada Nindya. Grandma mengizinkan Nindya untuk tidur disini," jelas Nindya membuat Mega mengangguk paham sambil ber oh ria.


Berarti kak Albi salam udah bertemu dengan nenek dong ya?


"Jadi seperti itu ceritanya, bagaimana lebih baik sekarang Nindya mandi ya?" tanya Mega namun tiba-tiba Nindya menundukkan wajahnya.

__ADS_1


"Ada apa Nindya?" tanya Mega sambil mengangkat dagu Nindya.


__ADS_2