KELIRU

KELIRU
PERCAYA PADAKU


__ADS_3

"Jadi.. aku.. itu.. telah dilamar oleh seorang laki-laki yang sejak lama aku kagumi dan aku cintai," jawab Dona yang membuat jantung Pinkan dan Mega berdetak lebih cepat.


Mega dan Pinkan sempat terdiam sejenak kemudian mereka pun tertawa.


"Kamu serius Donut?" tanya Mega tidak percaya.


"Bukankah selama ini kamu jomblo?" tanya Pinkan.


"Gaes please deh kali ini percaya padaku," kesal Dona sambil mencebikkan kembali bibirnya.


"Memangnya siapa laki-laki yang telah membuat seorang Donut bisa jatuh cinta, hem?" tanya Mega yang semakin penasaran.


"Om Irfan," jawab Dona cepat.


"Apa? om Irfan?" tanya Pinkan dan Mega yang terkejut bukan main.


"Iya, biasa aja kali sampai pengang rasanya telingaku mendengar teriakan kalian berdua," gerutu Dona.


"Bukankah dia om kamu Dona? kenapa dia melamarmu? bahkan usianya pun 6 tahun diatas kita loh," timpal Pinkan.


"Santai gaes santai, biar aku jelaskan ya," ucap Dona mencoba menenangkan Pinkan dan juga Mega.


Flashback on


Dona POV


Namaku Dona Utarini, saat ini usiaku menginjak 20 tahun. Aku kuliah di Yogyakarta, satu kampus dengan Pinkan dan juga satu kelas.


Kami berteman cukup akrab, hingga akhirnya aku bertemu kembali dengan teman kecilku, Meles. Dan ternyata Meles adalah sahabat Pinkan sejak SMA.


Kami bertiga pun bersahabat. Hingga suatu hari kami liburan bersama di Solo, kota kenangan masa kecilku dengan Meles. Namun saat kami sedang asik bermain, Meles memergoki kekasihnya berselingkuh dibelakangnya. Aku dan Pinkan merasa tidak tega dengan Meles. Kami ikut sedih saat melihat Meles menangis walaupun sebisa mungkin ia tahan, tapi aku sangat melihat raut kesedihan dari matanya.


Tiba-tiba Meles menghilang dari kami, setelah kami cari ternyata ia sedang bertengkar hebat dengan kekasihnya. Aku dan Pinkan mendengar semuanya, bahkan aku sendiri begitu terkejut setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya terhadap apa yang telah terjadi pada Meles.


Tubuhku terasa lemas, satu sisi aku masih bersyukur karena kesendirianku selama 20 tahun ini aku masih menjaga kehormatanku namun disisi lain aku seolah merasakan apa yang tengah Meles rasakan. Trauma, sakit hati dan juga tertekan.

__ADS_1


Setelah kejadian itu keesokan harinya Meles memberitahukan padaku bahwa ia akan berangkat ke Belanda bersama neneknya. Sedangkan Pinkan masih di Solo bersamaku. Aku bahkan menginap dirumah Pinkan yang di Solo karena merasa sepi, walaupun jarak rumahku dan rumah Pinkan cukup jauh tidak seperti ke rumah Mega hanya dengan berjalan kaki karena satu kompleks.


Namun setelah kepergian Mega keesokan harinya lagi neneknya Mega memintaku dan Pinkan untuk berlibur ke Belanda. Aku dan Pinkan berangkat menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Meles. Kami sangat beruntung memiliki sahabat yang selain kaya tapi hatinya sangat baik sekali.


Kami berlibur disana, namun baru saja seharian kami berlibur, Meles meminta untuk kembali ke Indonesia karena ia memimpikan hal buruk tentang Damar. Akhirnya kami pun kembali ke Jakarta. Saat itu aku dan Pinkan sangat kelelahan alhasil Meles sendirian pergi ke rumah Damar.


Cukup lama Meles pergi, aku dan Pinkan terbangun lalu mandi kemudian berganti pakaian secara bergantian. Saat kami selesai sarapan berlanjut olahraga di halaman rumah Meles, mobil yang Meles tumpangi pun baru saja memasuki gerbang rumah.


Meles turun dari mobilnya dengan memasang wajah murung.


"Gaes ternyata Damar telah meninggal dunia kemarin," ucap Meles sambil memelukku dan juga Pinkan bersamaan.


Hatiku seakan ikut teriris, aku sendiri bahkan tidak bisa membayangkan kehilangan seseorang yang amat dicintai pergi untuk selama-lamanya. Yang aku salutkan dari Meles, ia tetap kuat dan berdiri tegak saat satu persatu orang yang ia cintai pergi meninggalkannya. Walaupun aku tau pasti, mungkin hati Meles sudah tidak bisa utuh jika ia mencintai seseorang lagi nantinya.


Tapi aku yakin, dengan saling mencintai Meles pasti merasakan hatinya utuh kembali. Setelah kebenaran dan kepastian itu terungkap Meles kembali ke Belanda sedangkan aku ke Solo dan Pinkan ke Yogyakarta.


Kami bertiga berpisah di bandara. Sesampainya aku di rumah kedua orangtuaku, aku melihat seorang laki-laki yang sangat aku rindukan selama 3 tahun terakhir ini. Namanya Irfan Suryodhani.


Aku memanggilnya dengan sebutan om, karena usianya 6 tahun diatasku. Aku dan om Irfan sudah dekat sejak 3 tahun lalu saat aku masih duduk di kelas 2 SMA semester 2.


"Masih yah, om Irfan apa kabar? sejak kapan om balik ke Solo?" jawabku pada ayah lalu bertanya pada Irfan.


"Aku baik Don, kamu sendiri apa kabar? om sudah berada di Solo sejak 6 bulan yang lalu tapi om baru sempat main ke rumahmu," jawab Irfan sambil tersenyum padaku


Tuhan kenapa jantungku berpacu menjadi sangat cepat seperti ini saat melihat mata om Irfan?


Sebisa mungkin aku tetap menjaga sikapku supaya tidak terlalu terlihat salah tingkah.


"Jadi begini Dona, kami datang kemari untuk melanjutkan perjodohan kamu dengan Irfan yang sempat kami rencanakan 3 tahun lalu. Berhubung kalian sudah dekat juga maka kami rasa sekarang waktunya melamarmu untuk Irfan," ucap ayah Irfan membuatku begitu terkejut.


Selama kami dekat, bahkan aku dan om Irfan tidak pernah tahu kalau kami sudah dijodohkan sejak awal.


"Kalau Dona tergantung ayah dan ibu, jika ayah dan ibu merestui maka Dona setuju dan menerima lamaran om Irfan," jawabku dengan penuh hati-hati.


Semua yang berada di ruang tamu terlihat sangat lega saat aku berkata demikian

__ADS_1


"Baiklah, jika Dona sudah menerima maka lamaran resmi akan diakan satu bulan lagi ya, bagaimana?" tanya ayah Irfan pada keluargaku.


"Kami setuju pak," jawab ayahku mantap.


Aku sampai tidak sanggup melihat om Irfan yang sebentar lagi akan menjadi tunanganku. Aku hanya berdoa semoga lamaranku dilancarkan hingga hari pernikahan tiba.


Malam pun tiba, aku tidak kunjung mengantuk. Hatiku masih begitu bahagia, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan videocall dengan Pinkan dan juga Meles.


Flashback off


Dona pun menghela nafas, "jadi intinya aku dan om Irfan sebenarnya tidak ada ikatan darah. Om Irfan itu anak dari teman ayahku, sejak lama sebenarnya kami itu dijodohkan. Dan acara resmi lamaran kami akan berlangsung 1 bulan lagi," jelas Dona membuat Pinkan dan Mega ber oh ria secara bersamaan.


"Selamat ya Donut, aku ikut senang. Tak lama lagi kamu akan menjadi seorang istri," ucap Mega tersenyum dengan rasa haru dan juga bahagianya.


"Selamat Dona, aku juga ikut senang. Pantas saja kamu mengajak kita videocall dini hari begini. Rupanya kamu tidak bisa tidur karena habis bertemu pangeran toh," kata Pinkan sambil terkekeh.


"Hehe, maaf ya aku mengganggu waktu tidur kalian. Biar kalian merasakan apa yang aku rasakan," ucap Dona sambil cengengesan.


"Ya ya ya baiklah tidak apa-apa. Kamu bahagia kami juga ikut bahagia, dan kamu sedih kami juga bisa merasakan kesedihan kamu," timpal Mega.


"Aku sayang banget sama kalian," sahut Dona dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kami juga sayang sama kamu Dona," ucap Mega dan Pinka bersamaan.


"Eh Don, kamu kapan kembali ke Yogya? kuliah kamu bagaimana kalau kamu terus berada di Solo?" tanya Pinkan.


"Iya paling lusa aku udah bisa kembali ke Yogya kok Pinkan, kangen ya sama aku?" jawab Dona lalu bertanya pada Pinkan.


Mega yang mendengarkan percakapan kedua sahabatnya hanya tersenyum sambil sesekali menggelengkan kepalanya.


"Iya aku kangen tau coba Mega juga kuliah disini pasti kita bertiga bisa selalu pergi sama-sama," jawab Pinkan.


"Sabar ya, suatu saat kita pasti sama-sama lagi kok," timpal Mega.


Setelah cukup lama mereka berbincang-bincang, kemudian sambungan videocall pun berakhir. Mega langsung berbaring diatas tempat tidur dan pergi ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2