
6 bulan kemudian
Mega tengah duduk di kursi yang berada di salah satu taman terindah di kota Amsterdam. Taman yang terdapat hamparan bunga tulip dengan berbagai warna dan sangat memanjakan mata. Dimana lagi kalau bukan di De Gooyer Windmill.
Tak terasa sudah 6 bulan lamanya Albi masih terbaring di ruangan yang dingin itu. Matanya masih enggan untuk terbuka. Setiap hari Mega selalu datang untuk bertemu dengan calon suaminya. Berbicara dengannya, walau tak ada jawaban dari Albi. Awalnya dokter mengira luka bekas tembakan itu akan sembuh paling lama 3 bulan, namun sepertinya Tuhan berkehendak lain. Hingga saat ini Albi belum juga tersadar dari komanya.
Berawal satu bulan yang lalu, Albi mulai menunjukkan respon positif. Tangannya mulai bergerak namun tidak pada kedua matanya. Dokter bilang Albi akan siuman beberapa hari ini. Namun belum genap 2 hari, Albi drop kembali. Segala perawatan dan pengobatan terbaik pun telah dilakukan dan diberikan semaksimal mungkin. Hanya alat-alat yang terpasang di tubuh Albi yang membantu Albi untuk tetap hidup. Adidaryo tak rela jika Albi pergi hanya karena alat-alat itu dilepaskan. Ia lebih rela jika memang Albi akan pergi dan alat-alat itu sudah tak mampu membuatnya tetap hidup.
Mega menghirup udara sebanyak-banyaknya, merasakan oksigen masuk kedalam paru-parunya. Lalu menghempaskannya perlahan merasakan sedikit rasa tenang di hatinya. Tiba-tiba Nindya datang dan menepuk tangan Mega.
"Mommy, aku ingin bertemu daddy," ucap Nindya yang sedari tadi bermain dengan kupu-kupu ditemani baby sitternya, tepukan Nindya menyadarkan Mega dari lamunannya.
"Oh iya, ayok sayang," ajak Mega lalu menggenggam tangan Nindya, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju mobil. Baby sitternya pun mengikuti mereka dari belakang.
Supir pun telah siap menyambut ke datangan Mega dan juga Nindya. Mereka pun masuk ke dalam mobil kemudian supir melajukan mobilnya menuju rumah sakit.
Sepanjang perjalanan Nindya terus bersandar pada Mega dan tak lama Nindya pun tertidur dipangkuan Mega. Selama 6 bulan ini, Mega benar-benar merasakan rasanya menjadi seorang ibu dengan hadirnya Nindya yang telah mengisi kekosongan hari-harinya. Belum lagi Pinkan yang sudah kembali ke Indonesia sejak hampir 5 bulan yang lalu karena harus melanjutkan kuliahnya. Membuat Mega merasa kalau Nindya sumber kekuatan satu-satunya.
Selama Nindya bersamanya, Mega tak pernah merasa terganggu walaupun saat dia sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Dan dua hari yang lalu Mega berhasil mendapat nilai terbaik yang hampir sempurna di semester pertamanya.
Sint Lucas Andreas Hospital
Mobil yang Mega tumpangi telah sampai di depan lobby rumah sakit, sedangkan Nindya masih tertidur pulas. Akhirnya Nindya di taruh ke dalam stroller yang sebelumnya sudah tersedia didalam bagasi mobil.
__ADS_1
Baby sitter Nindya pun mendorong stroller itu. Mereka berjalan beriringan. Tak lama mereka sampai di depan ruang ICU. Ruangan yang selama 6 bulan ini Mega kunjungi tanpa henti. Bahkan Mega sampai lupa kalau dirinya juga butuh diperhatikan mengingat kanker yang sudah mulai menggerogoti organ vital yang ada di dalam tubuhnya.
Menurut Mega kesembuhan Albi adalah hal yang utama. Adidaryo baru saja keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan kak Albi kek?" tanya Mega dengan sorot mata yang penuh kekhawatiran. Setiap hari jantungnya tak menentu saat ia bertanya tentang keadaan Albi. Mega selalu berdoa, supaya Albi bisa tersadar dari komanya.
Adidaryo hanya menghela nafasnya lalu duduk di kursi tunggu, Mega mengikuti Adidaryo yang juga duduk di kursi tersebut.
"Masih sama Mega. Dan kata dokter, jika satu minggu lagi Albi masih tetap sama, tidak ada perubahan. Maka alat-alat yang menempel ditubuhnya harus segera dilepaskan. Jika tidak, justru akan berbahaya untuk Albi sendiri. Sepertinya kita harus ikhlas," jawab Adidaryo sambil menundukkan kepalanya sembari memijat kedua alis matanya.
Mega langsung terpaku, entah kata apa yang harus keluar jadi bibirnya. Yang jelas hatinya belum bisa ikhlas.
Tuhan, kenapa aku harus merasakan kehilangan orang yang aku cintai lagi? kenapa saat bahagia mulai menyapa justru ada perpisahan dan kata selamat tinggal setelahnya? Tuhan, jika memang ini adalah sebuah takdir yang kau gariskan untukku dan kak Albi. Aku akan berusaha ikhlas.
"Kek, aku ingin melihat kak Albi ya," ucap Mega sembari menepuk pelan tangan Adidaryo. Kemudian Adidaryo pun mengangguk. Mega bangkit dari duduknya dan berjalan masuk ke dalam ruang ICU. Sedangkan Nindya masih tertidur pulas didalam stroller miliknya.
Mega memakai pakaian khusus sebelum bertemu dengan Albi secara langsung. Setelah selesai, dengan langkah gamang ia pun membuka pintu.
"Hallo kak, apa kabarnya hari ini? aku selalu berdoa jika kakak semakin membaik. Kak? aku rindu kak Albi. Aku rindu genggaman tangan kakak yang selalu menguatkanku. Jangan pergi dariku kak, tetaplah disini bersamaku. Temani aku, hingga nanti Tuhan mempertemukan kita kembali di tempat terindah disisi-Nya," ucap Mega sambil menggenggam tangan Albi yang terpasang jarum infus. Ia menundukkan kepalanya dengan buliran air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Saat Mega tengah meluapkan segenap perasaannya di depan Albi. Tiba-tiba tangan Albi pun bergerak.
Mega langsung mengangkat kepalanya dan menatap tangan Albi lalu wajahnya.
"Kak.. apakah kakak sudah tersadar?" tanya Mega tak percaya sembari mengelus lembut pipi Albi. Perlahan mata Albi pun terbuka, seulas senyum langsung terukir dari kedua sudut bibir Mega.
__ADS_1
"Kak Albi.." ucap Mega
"Me..ga," kata Albi dengan terbata-bata.
"Aku panggil dokter ya kak," ucap Mega langsung mencari tombol panggilan. Namun saat Mega akan menekan tombol tersebut, tangan Mega pun di cegah oleh Albi. Mega mengalih pandanganya dari lengannya lalu ke wajah Albi. Kemudian Albi menggeleng lemah.
"Ti-dak u-sah.. a-ku i-ngin bi-lang ka-lau a-ku sa-ngat men-cin-tai-mu. Ma-af-kan a-ku, pe-ra-sa-an yang ki-ta pu-nya sim-pan-lah de-ngan ba-ik. Ja-dikan a-ku te-man-mu yang pa-ling kau cin-ta," ucap Albi lalu mengela nafasnya kemudian dilayar monitor detak jantungnya pun yang tadi sempat normal kini benar-benar menghilang.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit
"Kak.. kak Albi.. kaaaaaaak," Mega berteriak lalu memeluk Albi. Isak tangisnya pecah seketika. Rasa rindu yang sudah teramat sesak semakin menusuk dan semakin menyeruak.
"Kak albi.. jangan pergi.. jangan tinggalin aku dan Nindya.. kami sayang kak Albi.. bangun kaaaak," Mega menggoyang-goyangkan tubuh Albi, berharap Albi akan bangun kembali menatapnya kembali seperti beberapa detik yang lalu. Tatapan yang selama 6 bulan ini Mega rindukan. Tatapan yang terasa teduh baginya. Kini tatapan itu harus hilang dari lampauan pandangannya.
Mega pun menekan tombol panggilan, tak lama dokter dan beberapa perawat masuk ke dalam ruang ICU. Mega keluar dari ruangan itu dengan langkah gamang seperti kehilangan harapan, matanya yang sembab menandakan air mata yang tak kunjung berhenti mengalir dan terus mengalir seiring kepergian Albi.
"Mega.." ucap Adidaryo yang kemudian memeluk Mega seperti cucunya sendiri.
"Kek, kak Albi.." kata Mega dan Adidaryo pun mengelus lembut punggung Mega.
"Kita harus ikhlas," ucap Adidaryo membuat dada Mega terasa begitu teramat sesak.
Ikhlas.. kenapa rasanya berat sekali? mudah diucapkan namun sulit aku lakukan. Lagi-lagi aku harus merasakan kehilangan. Kehilangan kali ini benar-benar membuat hatiku seakan mati.
__ADS_1