
Di hidup ini
Aku pernah singgahi cinta
Namun tak ku temui cinta
Sekuat aku menginginkan dia
Kini ku merasakan sebuah hal terhebat
Dicintai seseorang
Yang akupun mencintainya
Itu sempurna
*****
Beberapa hari setelah kejadian beberapa waktu lalu di mall. Kini, hari-hari Mega tidak kesepian seperti biasanya.
Damar mampu mengisi hari-harinya dengan rona bahagia yang terhias di wajahnya. Kendati hanya melalui sebuah ponsel, semakin hari cinta itu hadir membawa Mega melukis hari yang penuh warna.
Hujan baru saja mereda setelah turun semalaman, penghuni kamar bernuansa merah muda itu enggan untuk membuka matanya. Kemudian ia pun teringat bahwa hari ini adalah pembagian nilai rapot untuk kenaikan kelas setelah seminggu kemarin melaksanakan ulangan akhir semester.
Mega terperanjat duduk di atas tempat tidurnya, ia masih merasakan hawa dingin yang dua kali lipat dari pendingin ruangannya. Mega menekan sebuah tombol untuk menghangatkan suhu ruangannya yang berada di samping tempat tidurnya itu. Setelah cukup nyaman, Mega turun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.
Lagi-lagi Mega bingung. Kendati pengambilan rapot harus dengan orangtua supaya guru dan wali murid bisa saling mengetahui perkembangan muridnya.
Apa aku harus ajak bi Surti lagi? Ya sudahlah, tak ada orang lain lagi di rumah ini. Dan sudah dua hari pula ayah dan ibu sulit sekali dihubungi. Sejak kepergian mereka ke Belanda beberapa bulan yang lalu, mereka yang setiap hari tidak pernah absen untuk meneleponku. Sekarang seperti ditelan bumi. Ada apa ya dengan mereka disana?
Mega segera menyelesaikan mandinya yang kemudian memakai seragam sekolahnya. Hari ini Mega sengaja menggerai rambutnya, karena ingin tampil berbeda. Mengingat selama ini, ia selalu mengikat rambutnya ataupun mengepangnya.
Lima belas menit kemudian, Mega telah siap untuk berangkat ke sekolah.
__ADS_1
"Pagi semuanya," sapa Mega saat semuanya telah menunggu dirinya di meja makan.
"Pagi!" jawab mereka bersamaan.
"Ayok non kita sarapan," ajak Surti yang terlihat sudah rapi tidak seperti kesehariannya yang hanya memakai celana panjang dan kaos.
"Iya Bi, selamat makan semuanya," seru Mega setelah duduk di kursi dan mengambil makanannya.
Seandainya ada ayah dan ibu, aku pasti menjadi anak yang paling bahagia di usia remajaku saat ini. Ayah, ibu kalian baik-baik saja kan disana? tunggu aku ya! setahun lagi aku akan lulus dan menyusul kalian ke sana.
Setelah selesai sarapan, Mega berangkat ke sekolah yang seperti biasa diantar oleh Madih. Madih pun melajukan mobilnya.
******
Tak terasa mobil yang Mega tumpangi telah sampai di halaman sekolah. Mega dan Surti pun turun dari mobil. Sementara Madih menunggu mereka di parkiran sekolah itu.
Setelah kepergian Surti dan Mega masuk ke dalam, Madih melihat Sahrul bersama dengan seorang wanita tengah bersenda gurau sambil berpegangan tangan di dekat tempat parkir.
Dasar bocah ingusan! dia kira saya tidak tahu apa yang sudah dia perbuat dengan Mega! lihat saja saya akan memberi perhitungan pada kamu sesuai dengan perintah Nyonya Nina!
*****
Setibanya di kelas, Pinkan selalu setia menunggunya di depan pintu.
"Pagi Mega, pagi ibunya Mega," sapa Pinkan.
"Pagi juga," jawab Mega dan Surti bersamaan.
Pinkan tidak tahu siapa Mega yang sebenarnya dan memang Mega sendiri sengaja untuk tidak memberitahukannya. Sebab, ia masih merasa belum menghasilkan apa-apa. Walaupun secara hukum ia sudah sah menjadi pewaris satu-satunya dari Adrian Lesmana dan Hermelinda Sutyoso.
"Ibu langsung masuk saja ya ke dalam, tuh di sana juga ada ibuku. Aku mau ngobrol dulu sama Mega," pinta Pinkan dan Surti pun mengangguk kemudian masuk ke dalam kelas.
Surti diperintah Hermelinda untuk menyamar menjadi dirinya semenjak Mega masuk ke sekolah ini. Sebab, keadaan kondisi kesehatan Hermelinda yang tidak memungkinkan akibat kanker yang ia derita bersama suaminya, Adrian.
__ADS_1
"Mega, apa kamu baik-baik saja?" bisik Pinkan pada Mega sambil menjauh dari kelasnya menuju tempat yang cukup sepi.
"Iya ... sangat baik. Ada apa memangnya Pinkan?" jawab Mega dengan senyum sumringah kemudian bertanya kembali pada Pinkan.
"Kamu tahu tidak? sehari setelah kamu Sahrul membawamu ke ruang kelas yang kosong itu, aku merasa ada yang aneh dengannya."
Mega bergumam. "Aneh?Terus?"
Pinkan mengangguk cepat. "Saat aku berjalan sendiri di lorong sekolah, aku tidak sengaja memergoki Sahrul dan Clarissa yang anak famous di sekolah ini, sedang berpagutan di dekat ruang laboratorium."
Mega terperangah mendengat penuturan Pinkan.
" Aku dan juga mereka sama-sama terkejut. Terus dengan polosnya aku tanya sama si Sharul 'kamu bukannya kemarin minta balikan ya sama Mega? kok sekarang malah ciuman sama cewek lain sih!' Eh dia bilang kalau dia sudah bosan sama kamu, gitu," jelas Pinkan panjang lebar sementara Mega hanya menghela napasnya sambil memutar malas matanya.
"Sudah ya ... aku malas membahas soal Sahrul. Seperti tidak ada cowok lain saja!" ucap Mega sambil berdecak. Dirinya memang sudah sangat muak apabila mendengar ada yang menyebut nama Sahrul di depannya.
"Masuk yuk ke dalam, aku penasaran siapa yang mendapat peringkat pertama," ajak Mega sambil menarik Pinkan masuk ke dalam kelas.
Benar berarti dugaanku! Sahrul bukan laki-laki yang baik. Para siswi disini telah tertipu dengan keramahannya. Padahal aslinya fake abis! Pinkan menggerutu dalam hatinya.
Tak lama wali kelas mereka pun masuk ke dalam. Semuanya langsung tertib dan duduk dengan rapi di ruang kelas Mega itu.
"Selamat pagi semuanya."
"Pagi!"
"Baiklah, para orangtua murid dan para murid sekalian. Kita langsung saja ya. Kalian semua naik ke kelas dua belas. Saya akan memberitahukan beberapa murid yang naik kelas dengan catatan dan ada pula yang naik kelas dengan mendapatkan hasil yang memuaskan."
"Oke, peringkat ketiga didapatkan oleh Adyasta Sungkar, peringkat kedua diraih oleh Pinkan Wulandari dan peringkat pertama diberikan kepada Mega Lesmana," jelas Gunawan selaku wali kelas Mega.
"Mega ... kamu dapat peringkat pertama! akhirnya ... selamat ya ... aku ikut senang," seru Pinkan sambil memeluk Mega sangat erat. Mega merasa tidak nyaman dengan pelukan Pinkan yang sangat rokes itu.
"Pinkan lepasin dong! sesak tahu!" Mega memekik dan Pinkan langsung melepaskan pelukannya. "Kamu juga selamat ya dapat juara dua," sambungnya.
__ADS_1
Surti pun ikut bangga atas prestasi yang telah Mega raih di sekolah ini.
Andai aku orangtua kandung Mega, pasti aku sangat bangga sekali memiliki anak yang cerdas seperti dirinya.