KELIRU

KELIRU
MENJADI YANG KEDUA


__ADS_3

"Maafkan aku Cla, aku banyak salah padamu bahkan permintaan maafku aja rasanya belum cukup untuk menebus semua kesalahanku padamu dan juga mamah serta papah," ucap Sahrul sambil menangis dipelukan Clarissa.


"Aku sudah memaafkanmu jauh sebelum kamu meminta maaf padaku," kata Clarissa membuat Sahrul semakin mengeratkan pelukannya.


"Apakah kamu mau menerimaku kembali Cla?" tanya Sahrul sambil melepaskan pelukannya lalu mengusap air mata Clarissa.


Clarissa tidak bisa berkata apa-apa lagi, ia pun mengangguk sambil tersenyum. Lalu merepa pun berpelukan kembali.


Sesungguhnya aku tidak pernah membencimu, dari awal kita telah salah untuk memulai hubungan ini. Dan mulai saat ini kesalahan itu akan kita ganti dengan kesungguhan diri untuk merubah menjadi lebih baik kedepannya, demi aku, kamu dan putri kecil kita.


Clarissa memejamkan matanya, ia begitu merasakan pelukan hangat yang sejak lama ia nantikan. Dan kini akhirnya ia dapat merasakannya.


Kelly dan Stevan melihat Sahrul dan Clarissa hanya bisa berluas hati. Walaupun kebencian masih tertanam dihati mereka, namun jika Clarissa memaafkan dan menerima Sahrul kembali mereka pun mendukungnya.


Sekeras apapun kami membencimu, kami hanya berharap kamu benar-benar bisa berubah dan meninggalkan dirimu yang dulu. Semoga Tuhan pun mengampuni segala dosa-dosa yang telah kamu buat dimasalalumu. Dan semoga hadirnya putri kecil diantara kalian, bisa menjadi awal kebahagian untuk kalian.


Stevan menatap Sahrul dan Clarissa yang masih berpelukan sambil mengukir senyum tipis yang hampir tak terlihat.


"Cla, dimana anak kita ?" tanya Sahrul sambil melepaskan pelukannya.


"Anak kita masih menjalani perawatan khusus Sahrul, karena dia lahir saat usia kandunganku belum cukup usia lahir," jawab Clarissa membuat Sahrul mengangguk paham.


Beberapa saat kemudian pintu ruang raat inap Clarissa pun terbuka. Terlihat seorang suster membawa box bayi berwarna pink masuk ke dalam. Mata Clarissa dan Sahrul langsung berbinar-binar, begitu juga dengan Kelly dan Stevan.


"Cla itu baby kita?" tanya Sahrul sambil menatap Clarissa dan Clarissa pun mengangguk cepat.


Sahrul menghampiri box bayi tersebut.


"Pak, bu ini bayinya tapi maaf belum bisa berlama-lama karena masih harus kembali menjalani perawatan khusus. Meski demikian, anak ibu dan juga bapak sangat sehat dan berkembang sangat baik bahkan billirubinnya pun sudah kembali normal," ucap suster tersebut pada Sahrul dan Clarissa.


"Apa saya boleh menggendongnya sus?" tanya Sahrul ragu-ragu.


"Tentu pak," jawab suster kemudian perlahan mengangkat baby nya dan memindahkan ke tangan Sahrul.


Seketika air mata terjatuh kembali tanpa permisi dari mata Sahrul.


Ya Tuhan aku tidak pernah menyangka sebelumnya, kalau aku akan menggendong anakku sendiri. Wajahnya mirip sekali denganku.


Sahrul tersenyum sambil memperhatikan wajah anaknya.

__ADS_1


"Sayang gantian aku juga ingin menggendongnya," ucap Clarissa sambil mengerucutkan bibirnya.


"Nanti dulu sayang aku masih ingin menggendongnya," kata Sahrul tanpa menoleh kepada Clarissa.


Sementara Clarissa yang juga ingin menggendong anaknya hanya memasang wajah murung, karena Sahrul tak kunjung memberikannya. Kelly dan Stevan hanya terkekeh melihat Sahrul dan Clarissa berebut mengendong anak mereka.


Kalau Sahrul seperti ini aku merasa seperti menjadi yang kedua aja.


Kemudian Clarissa tersenyum melihat Sahrul yang masih menimang baby mereka


🌾


Belanda


Mega dan Nina baru saja tiba di rumah dengan bersamaan. Beberapa jam yang lalu setelah kelas usai, Mega menunggu Alka di tempat yang sejak pagi mereka janjian. Namun hampir 2 jam Mega menunggu Alka tak kunjung datang dan akhirnya Mega memutuskan untuk pulang ke rumah.


"Sayang wajahmu kenapa? kok ditekuk seperti itu?" tanya Nina.


"Aku kesal aja nek dengan temanku, dia mengingkari janji," jawab Mega yang masih memasang wajah kesal.


"Loh kamu sudah mendapatkan teman disana?" tanya Nina dengan rasa penasaran.


"Iya nek, sebenarnya aku sudah bertemunya beberapa kali dan katanya dia di kampus itu sebagai asisten dosen," jawab Mega.


Apa jangan-jangan yang bertemu dengan Mega di kampus adalah kembarannya cucu Adidaryo? Aku merasa sebal dengan Adidaryo, sejak kemarin teleponku tidak pernah dijawab.


"Halo? nek? nek? kok melamun sih," ucap Mega sambil melambaikan tanganya di depan wajah Nina membuat Nina tersadar dari lamunannya.


"Eh iya sayang, enggak kok. Nenek sepertinya kelelahan, nenek ke kamar dulu ya nak," jawab Nina lalu pergi dari hadapan Mega.


Pada kenapa sih orang-orang di hari ini? kenapa semuanya terkesan ada yang disembunyikan dariku?


Mega hanya menghela nafas dan berdecak kesal. Mega pun langsung pergi kekamarnya.


Makan malam tiba, Mega keluar dari kamarnya dan pergi menuju ruang makan. Dengan langkah malas, Mega berjalan menuruni anak tangga. Dilihatnya Nina sudah berada di ruang makan.


Mega menghampiri Nina lalu duduk di kursi.


"Malam nek," sapa Mega.

__ADS_1


"Malam sayang, yuk makan," ajak Nina dan Mega pun mengangguk sambil tersenyum.


Keduanya menikmati makan malam tanpa ada percakapan, hanya ada suara dentingan sendok dan juga garpu. Setelah menyelesaikan makan malamnya, Mega pamit untuk ke kembali ke kamar.


Setelah kepergian Mega, ponsel Nina pun berdering. Nina melihat dilayar ponsel tertera nama Adidaryo yang meneleponnya. Nina segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Selamat malam nyonya Nina," sapa Adidaryo dari seberang telepon.


"Malam, akhirnya kamu menghubungiku tuan Adidaryo," ucap Nina.


"Ada apa nyonya Nina sejak kemarin ponselku tidak aktif karena aku terlalu sibuk diperusahaan," kata Adidaryo.


"Bisakah kita bertemu? ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Nina.


"Bisa bisa, kapan?" jawab Adidaryo lalu bertanya pada Nina.


"Aku tunggu besok setelah makan siang di kafe Amora," jawab Nina.


"Baiklah kalau begitu," ucap Adidaryo kemudian Nina pun mematikan sambungan telepon tersebut.


Kamar Mega


Saat ini Mega tengah mondar mandir sedang berpikir keras memecahkan rasa penasaran yang tengah menguasainya saat ini. Tiba-tiba ponsel Mega berdering, ia langsung meraih ponselnya yang ia letakkan sebelumnya di atas nakas samping tepat tidur.


Panggilan videocall dari Pinkan dan Dona?bukankah disana sedang dini hari sekarang?


Mega menggeser layar ponselnya untuk menjawab panggilan videocall dari kedua sahabatnya.


"Hallo Mega," sapa Pinkan dan Dona bersamaan.


"Hallo gaes, ada apa nih? bukannya tidur kalian," tanya Mega sambil mendaratkan tubuhnya duduk di sofa.


"Dona lagi bahagia Ga, makanya dia rela begadang hingga pukul 1 dini hari gini. Aku sebenarnya mengantuk sekali, tapi mengingat jadwal kuliahku besok siang jadi aku menemani Dona," ledek Pinkan membuat Dona mengerucutkan bibirnya.


"Bahagia kenapa kamu Donut? habis menang undian hadiah dari ciki komo?" tanya Mega sambil menjulurkan lidahnya.


"Ih kalian ini malah meledekku terus," seru Dona sambil memasang wajah kesal.


Pinkan dan Mega pun tertawa melihat raut wajah Dona.

__ADS_1


"Ada apa sih? aku penasaran tau!" tanya Mega yang sudah merasa gemas.


"Jadi.. aku.. itu... "


__ADS_2