
Damar mau tidak mau membayar harga yang tertera di bill sebanyak dua lipat.
What! gajiku sebulan langsung habis hanya tak sampai 1 jam. Astaga mengapa terlalu nikmat sekali ujianMu, Tuhan.
Damar memijat keningnya, ingin rasanya ia pingsan saat itu juga. Namun ia harus menjaga harga diri dan nama baik keluarganya.
Damar keluar restoran dengan langkah gontai menuju tempat parkir. Sementara April sedang menikmati gairah indah yang telah menyelimutinya bersama laki-laki yang bersamanya di toilet tadi di dalam kamar hotel.
Kenapa sih dapet yang perawan susah banget Tuhan?
Damar terus menggerutu dalam hatinya. Ia pun mengendarai mobilnya dan pulang kembali ke rumahnya.
🌾
Belanda
Keesokan harinya, Mega begitu nyenyak tidurnya semalam karena perutnya terasa kenyang. Suasana hatinya pun sudah semakin membaik. Mega terbangun dari tidurnya saat alarm telah berbunyi.
Ia meregangkan semua ototnya lalu turun dari tempat tidur kemudian berjalan menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit Mega keluar dari kamar mandi dan pergi ke ruang ganti pakaian. Ia membuka lemarinya, lalu memilah-milah pakaian yang akan ia kenakan ke kampus hari ini.
15 menit kemudian
Mega telah siap untuk berangkat ke kampus, ia membawa tas yang berisi pulpen, sebuah binder berukuran sedang tak lupa dompet dan juga ponsel. Polesan makeup tipis menambah aura kecantikan Mega terpancar, lalu Mega keluar dari kamarnya.
"Selamat pagi nenek," sapa Mega yang masih menuruni anak tangga saat melihat Nina sudah berada di ruang makan.
"Pagi sayang, ayok kita sarapan. Cucu nenek sangat cantik sekali hari ini," ucap Nina sambil tersenyum melihat Mega.
Mega melangkahkan kakinya sedikit cepat lalu menghampiri Nina dan memeluk Nina dari belakang tak lupa mengecup pipi Nina.
"Nenek juga sangat cantik," kata Mega setelah mengecup pipi Nina, lalu Nina pun tertawa.
"Kamu ini sudah bisa menggoda nenek ya," timpal Nina yang masih tertawa.
Mega duduk di kursi, matanya membulat dengan sempurna saat melihat hidangan yang sudah tersedia di meja makan.
"Nek kenapa hari ini hidangannya untuk sarapannya banyak sekali tidak seperti biasanya. Apakah sedang ada tamu?" seru Mega lalu bertanya pada Nina.
Nina tidak menjawab, tiba-tiba dua orang perempuan datang menghampiri Nina dan Mega.
__ADS_1
"Surprise!!" teriak Pinkan dan Dona.
"Pinkan! Donut!" pekik Mega.
"Nek kenapa bisa?" tanya Mega pada Nina, sementara Nina hanya tersenyum.
"Bisa dong, apa sih yang gak bisa buat sultini," ucap Pinkan.
"Aih aku lupa kalau aku memang seorang sultini," kata Mega dengan percaya diri.
"Ayok kalian sarapan ya, dan Mega kamu bisa masuk kuliah 4 hari lagi. Nenek sudah menghubungi pihak kampus, jadi selama ada Pinkan dan Dona disini, kamu bisa menikmati waktu libur kalian," ucap Nina dan Mega langsung memeluk Nina dengan sangat erat serta mengecup pipi Nina dengan bertubi-tubi.
"Terima kasih nenekku yang sangat sangat sangat baik sekali," kata Mega, lalu Nina mengelus lembut lengan Mega.
"Sama-sama sayang," ucap Nina sambil tersenyum.
Mega kembali ke kursinya dan melanjutkan sarapan mereka. Suasana selama makan tidak ada percakapan, hanya dentingan garpu, sendok dan pisau yang berbunyi.
Para pelayan berdiri agak jauh dari tempat mereka makan. Pinkan dan Dona terkagum-kagum melihat sekeliling rumah Nina yang lebih mewah daripada di Solo.
Setelah selesai makan, Pinkan dan Dona pun diajak masuk ke kamar Mega.
"Waaah ini benar-benar sultini sejati, masuk aja pakai kode akses, Mega aku beneran takjub loh. Bisa gak aku disini selamanya?" ucap Dona lalu bertanya pada Mega.
"Bisa, kalau kalian mau pindah kuliah disini bersamaku tapi aku gak yakin kedua orangtua kalian bisa ngizinin kalian tinggal disini," jawab Mega karena sepengetahuan Mega Pinkan dan Dona ini sama-sama anak tunggal, walaupun kedua orangtua mereka termasuk berada juga tapi kedua orangtua mereka sama-sama tak bisa jauh dari anaknya.
"Ah iya aku lupa, aku kuliah di Yogya aja, setiap hari ibuku selalu datang dari Solo. Sebentar lagi nih pasti dia meneleponku," timpal Pinkan.
"Iya aku juga sama aku bahkan gak boleh keluar dari Solo ini aja kalau bukan karena nenekmu yang membujuk ayah dan ibuku, gak bakal diizinkan kesini selama 4 hari ," sahut Dona.
"Jadi nenek yang menghubungi kedua orangtua kalian?" tanya Mega tidak percaya.
Pinkan dan Dona pun langsung mengangguk cepat.
"Tapi kapan kalian berangkatnya dan pukul berapa kalian sampai sini?" tanya Mega.
"Jadi setelah kemarin kita videocall, nenek bilang katanya baru sampai rumah dan meminta aku dan Dona untuk kesini, ya berhubung liburan kita seminggu lagi, aku setuju lalu nenek berbicara dengan ayah dan ibuku, akhirnya mereka setuju begitupun dengan Dona. Dan kami berangkat dari Indonesia pukul 17.00 dan baru aja sampai tadi pukul 00.00 waktu Belanda," jelas Pinkan dan Mega ber oh ria.
"Oh jadi nenek menghubungi kalian saat aku sudah berada dikamar. Baiklah, kita akan menikmati liburan kita disini," seru Mega.
__ADS_1
"Eh iya, hari ini aku mau ke makam ayah dan ibuku, apakah kalian mau ikut?" tanya Mega.
"Tentu," ucap Pinkan dan Dona bersamaan.
Akhirnya mereka bertiga pun keluar kamar dan pamit kepada Nina.
"Kalian hati-hati dijalan ya, dan pak minta tolong antarkan mereka ke tempat wisata terbaik disini ya setelah dari makam nanti," ucap Nina.
"Baik nyonya," jawab supir tersebut.
"Oh iya Mega, nenek mau ke tempat waktu itu lagi ya. Kalau nenek pulang agak telat nanti kalian makan malam duluan aja," ucap Nina berbisik pada Mega dan Mega pun mengangguk paham.
Pinkan dan Dona saling bertukar pandang dan mengerutkan kedua alis mereka saat melihat Nina berbisik pada Mega lalu mengangkat kedua bahunya.
Mega pun masuk ke dalam mobil, sementara Nina naik kemobil lainnya. Para pelayan memberi hormat saat kedua mobil mewah itu pergi keluar halaman rumah. Setelah itu kembali ke tugas mereka masing-masing.
🌾
Setelah beberapa menit perjalanan, mereka telah sampai di pemakaman mewah di kota ini, namanya Zorgvlied Cemetery.
"Mega ini pemakaman atau tempat wisata kok bagus banget ya?" tanya Dona menatap kagum sekeliling halaman pemakaman.
Mega terkekeh, "ini pemakaman namun pihak pengelola makam menatanya dengan sangat baik makanya tidak sembarang orang bisa dimakamkan disini, ayah dan ibuku termasuk beruntung bisa di makamkan ditempat sebagus ini," jelas Mega.
Mereka yang sudah memakai pakaian serba hitam masuk ke area pemakaman. Sedangkan supir menunggu di depan mobil untuk berjaga.
"Mega kita boleh berfoto gak disini?" tanya Pinkan.
"Kalau aku sarankan sih jangan, karena sebagai bentuk menghormati orang yang telah tiada. Kalau kalian mau berfoto nanti aja di gedung depan yang di halaman tadi tak kalah kok bagusnya," jelas Mega.
"Baiklah," ucap Pinkan sambil tersenyum.
Setelah berjalan cukup jauh karena area pemakamannya terletak di bagian dalam, akhirnya mereka telah sampai di makam mendiang kedua orangtua Mega. Mereka memanjatkan doa bersama.
Disini tidak diharuskan menebar bunga karena pihak pengelola selalu membersihkan dan menebar bunga setiap 2 hari sekali. Setelah memanjatkan doa, mereka kembali ke tempat parkir.
Pinkan dan Dona berjalan lebih dulu lalu mereka pun berfoto. Tiba-tiba saat posisi Mega sedikit menjauh dari Pinkan dan Dona, ada yang menepuk bahunya dari belakang.
Seketika Mega menoleh ke belakang, dirinya begitu terkejut.
__ADS_1
"Kamu!" pekik Mega.