
Sint Lucas Andreas Hospital
Mega baru saja tiba di rumah sakit, sedangkan Nina telah tiba sejak 10 menit yang lalu. Setelah turun dari mobil, Mega menghubungi Nina melalui ponselnya.
"Hallo nek, nenek dimana?" tanya Mega saat Nina telah menjawab sambungan telepon Mega.
"Nenek di bagian farmasi nak," jawab Nina.
"Baik nek, aku segera ke sana. Sekarang aku sudah berada di lobby," ucap Mega.
"Iya sayang," kata Nina lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Mega berjalan melewati lobby rumah sakit. Tanpa sengaja matanya melihat Albi yang sedang berada di counter pendaftaran.
Kak Albi? sedang apa dia disini?
Namun Mega tidak menghiraukan Albi, ia pun langsung pergi menemui Nina di bagian farmasi. Setelah ia mencari keberadaan Nina, akhirnya Mega pun menemukannya.
Ah itu nenek!
Mega menghampiri Nina lalu ia pun langsung duduk dikursi kosong yang berada di samping Nina.
"Nek, apakah masih lama?" tanya Mega.
"Sepertinya iya, ada apa sayang? apakah kamu sudah lapar?" jawab Nina lalu bertanya kembali pada Mega.
"Bukan nek, aku ingin buang air di toilet," jawab Mega tersenyum sambil menunjukkan barisan giginya yang putih dan rapih.
"Ya sudah sana, toiletnya kalau dari sini kamu lurus nanti ada pertigaan kamu ke kanan ya," ucap Nina sambil menunjukkan arah pada Mega.
"Baik nek, aku ke toilet ya," kata Mega sambil mengangguk dan pamit untuk ke toilet.
Sepeninggal Mega, Nina memilih untuk memainkan ponselnya untuk mengecek email masuk. Sementara Mega yang sedang berada di toilet langsung menuntaskan urusannya karena sejak perjalanan menuju rumah sakit, perutnya merasa mulas sekali.
Ah! lega sekali rasanya. Baru kali ini berkunjung ke rumah sakit toiletnya begitu sangat nyaman.
Mega tercekat kagum melihat sekeliling interior yang berada di dalam toilet. Rumah sakit ini termasuk rumah sakit terbesar dan terbaik di kota Amsterdam.
Setelah cukup lama Mega berada di dalam toilet, akhirnya dia pun keluar dengan perasaan yang sangat lega. Mega pun mencuci tangan dan membasuh mukanya.
__ADS_1
Segarnya, rasa kantukku menjadi hilang setelah mencuci muka.
Mega keluar dari toilet dan kembali menghampiri Nina. Namun saat berada di persimpangan jalan menuju bagian farmasi Mega melihat Albi bersama dengan seorang wanita masuk ke dalam ruangan dokter obgyn.
Kenapa tidak ada Nindya? atau mungkin itu adalah ibunya Nindya?
Mega bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, lalu tiba-tiba ada yang menepuk bahu Mega. Mega pun terkejut lalu menoleh ke belakang, ternyata Nina.
"Kenapa sayang kok diam disini?" tanya Nina pada Mega yang membuyarkan lamunannya.
"Ah tidak nek, aku seperti melihat temanku tapi ternyata aku salah," jawab Mega pada Nina sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Ya sudah lebih baik kita pulang yuk," ajak Nina sambil tersenyum.
"Apakah vitaminnya sudah dapat nek?" tanya Mega dan Nina pun mengangguk.
"Sudah," jawab Nina.
Keduanya pun berjalan menuju lobby.
"Nenek tadi ke sini dengan siapa?" tanya Mega saat keduanya telah sampai di depan lobby.
"Tadi dengan supir nenek tapi nenek suruh lansung pulang supaya nenek bisa ikut pulang bersamamu," jawab Nina dan Mega langsung memeluk Nina dengan sangat erat.
Sepanjang perjalanan Mega hanya terdiam sambil melihat keluar jendela.
Aku hanya seorang wanita biasa. Salahku yang mudah terlena dengan perlakuan lembut seorang laki-laki. Sebuah perhatian yang tidak pernah aku dapatkan sejak aku menginjak usia remaja. Setelah aku tahu bahwa kak Albi sudah tidak sendiri lagi. Sepertinya harapan yang dulu sempat kubangun harus runtuh kembali.
"Sayang ada apa?" tanya Nina membuat Mega langsung terkesiap.
"Gak ada apa-apa kok nek," jawab Mega sambil melihat kearah Nina.
"Apa kamu yakin?" tanya Nina memastikan.
Namun Mega langsung terdiam sambil menghela nafasnya lalu mengangguk lemah.
"Ya sudah jika ada apa-apa jangan pernah sungkan untuk cerita kepada nenek ya," ucap Nina sambil mengelus lembut tangan Mega dan Mega pun mengangguk sambil tersenyum.
Rumah Nina
__ADS_1
Tak lama mereka pun tiba di halaman rumah. Nina dan Mega turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Mega mendaratkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang keluarga, begitu pun dengan Nina.
"Asistant, minta tolong buatkan kami minum dan bawakan camilan ya," ucap Nina pada pelayan rumah.
"Baik nyonya," jawab pelayan itu lalu pergi ke dapur.
"Nek, apakah aku pantas untuk dicintai?" tanya Mega tiba-tiba pada Nina membuat Nina mengerutkan kedua alisnya.
"Sayang, setiap wanita pantas untuk dicintai, seburuk apapun masalalunya dan sefatal apapun kesalahannya. Tapi satu hal yang mesti kamu ingat. Berpasangan itu bukan hanya memupuk rasa cinta. Tapi tanyakan pada dirimu sendiri, apakah seberapa besar perubahan yang kamu buat untuk dirimu sendiri? menerima orang baru dalam kehidupan itu tidak mudah. Ada otak yang bekerja untuk berpikir dan setiap manusia berbeda-beda cara berpikir dan padangannya. Tapi hanya hati yang tau, kepada siapa kita harus menempatkan hati kita. Tak usah risau, usiamu masih sangat muda. Jadi berbahagialah, nikmati hidupmu," jelas Nina pajang lebar pada Mega membuat Mega tak bergeming.
Benar juga apa yang telah dibilang oleh nenek barusan. Baiklah aku akan belajar menata hatiku kembali supaya tidak mudah luluh dengan perlakuan lembut seorang laki-laki.
"Oh iya Mega, kamu nenek tinggal dulu ya. Dan makan siang sendiri dirumah, karena nenek sudah ada janji dengan client," ucap Nina sambil berdiri lalu mengecup kening Mega dan Mega pun mengangguk paham.
"Iya nek, nenek hati-hati dijalan dan jangan lupa makan siang juga," kata Mega dan Nina pun mengangguk lalu melambaikan tangannya.
Mega pun membalas lambaian tangan Nina. Setelah Nina sudah tidak terlihat lagi dari pandangan Mega, Mega pun pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Para pelayan rumah sedang sibuk mempersiapkan makan siang.
🌾
Kafe Amora
Sesampainya di kafe Amora, Nina turun dari mobil lalu masuk ke dalan kafe. Nina mencari tempat duduk yang pas dan pilihannya tertuju pada meja ketiga dari ujung yang menghadap ke kolam ikan.
Nina pun memesan makanan dan minuman lebih dulu. Tak lama, Nina melihat Adidaryo yang baru saja sampai di kafe tersebut. Nina melambaikan tangannya memberi isyarat kepada Adidaryo. Kemudian Adidaryo menghampiri Nina.
"Maaf, aku terlambat," ucap Adidaryo yang kemudian duduk tepat di depan Nina.
"Tidak masalah, silahkan kamu memesan makanan dan minuman," kata Nina.
"Baiklah," ucap Adidaryo kemudian memanggil pelayan kafe untuk memesan makanan dan juga minuman
Sambil menunggu pesanan mereka datang, keduanya pun mulai memasang wajah serius.
"Jadi ada apa kamu memintaku untuk bertemu nyonya Nina?" tanya Adidaryo.
__ADS_1
"Aku hanya ingin kamu jujur padaku, karena ini demi kebaikan seseorang yang paling aku sayangi," jawab Nina membuat Adidaryo seketika mengerutkan kedua alisnya.
"Siapa?" tanya Adidaryo.