KELIRU

KELIRU
BAHAN TARUHAN


__ADS_3

"Pak, putar balik ya! ada yang lupa aku bawa," pinta Mega berbohong. Sebab tidak mungkin ia bilang kalau bra yang ia pakai terputus. Madih mengernyit, namun tanpa banyak bertanya iapun mengangguk paham lalu memutar balik mobil yang dikedarainya.


Sepanjang perjalanan, hati Mega sangat gelisah karena tidak mungkin ia ke sekolah dengan membiarkan tali bra-nya yang putus itu. Iapun berharap tidak akan terlambat sesampainya di sekolah nanti.


Sesampai di rumah, Mega turun dari mobil lalu berlari masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Mega menggantinya dengan ekstra cepat. Kemudian keluar dari kamarnya sambil berlari lalu masuk ke dalam mobil.


Setelah Mega menutup pintu mobil, Madih melajukan mobilnya kembali menuju sekolah. Beruntung tadi pagi, Mega berangkat lebih awal daripada biasanya.


Ketika sampai di sekolahnya, Mega turun dengan segera dari mobilnya. Iapun mempercepat langkahnya sambil sesekali melihat arloji yang melingkar di tangannya.


Untunglah bel masuk masih tiga puluh menit lagi.


Mega mengatur napasnya hingga akhirnya iapun sampai di depan koperasi untuk membeli minuman terlebih dahulu. Mega membuka pintu koperasi itu, matanya seketika membelalak.


Ia melihat Sahrul sedang bermesraan dengan Clarissa, wanita yang bersama Bimo di club dua hari yang lalu.


Itu bukankah Clarisaa? Sialan! Sahrul brengsek! Kemarin bilang cinta sama aku, terus sampai tidurin aku! sekarang malah bermesraan dengan cewek lain! ceweknya juga keganjenan lagi, maruk sekali 'sih!


Mega menggerutu dalam hatinya, sebisa mungkin ia menahan amarahnya demi menjaga harga dirinya. Ia tidak ingin menjadi sorotan banyak orang di dalam koperasi ini karena tampak seolah cinta mati kepada Sahrul.


Mega memilih pura-pura tidak melihat mereka. Keadaan koperasi cukup sepi pagi ini. Mega segera mengambil minuman yang ia inginkan lalu membayarnya. Setelah itu Mega memutuskan untuk pergi dari koperasi itu karena merasa sangat muak.


Sepanjang perjalanan menuju kelasnya, Mega meremas-remas botol minumannya itu. Kedua alisnya mengkerut serta rahang yang ia eratkan.


Lihat saja! setelah ini aku akan memutuskanmu, Sahrul! tega-teganya kamu mengkhianati ku. Lalu? apa arti pernyataan cinta kamu beberapa waktu lalu? bulshit!


Sedangkan di koperasi, kedua mata Sahrul yang tampak sayu itu seolah meminta lebih dari Clarissa.


"Sahrul, stop! lo tidak bisa seenaknya sama gue!" Clarissa memberontak dan bangkit dari duduknya lalu merapikan kembali pakaiannya.


"Cla, come on! gue bisa kok ngasih kepuasan ke lo."


PRAK!!!


"Brengsek!"


Sahrul mengangkat sebelah sudut bibirnya. Perih dari tamparan Clarissa itu tidak membuatnya jera. Sahrul semakin menginginkan Clarissa.


*****


Di kelas, Mega menghempaskan bokongnya di kursi. Pinkan yang juga baru duduk bersamanya menatapnya sangat heran.


"Kamu kenapa, Ga?"


Mega hanya mengangkat kedua bahunya sambil menenggak habis minumannya. Kemudian ia menaruh botol bekas minumannya itu ke atas meja dengan cukup keras lalu menghela napas panjang.


"Aku lagi kesal saja, sama anjing yang menggonggongkan ucapan cinta kepada para kucing betina."


Pinkan terperangah dengan ucapan Mega. Ia mencerna sedalam-dalamnya.


"Memangnya ada ya anjing seperti itu?"


"Jelas, ada. Mungkin banyak."


"Dimana?"


"Sekolah ini."


"Ap ... serius?"


Mega mengangguk lalu tersenyum menyeringai kepada Pinkan. Ia menyadari kalau Pinkan belum paham apa yang ia maksud. Akan tetapi, Mega membiarkannya sampai Pinkan paham dengan sendirinya.


Sial! kenapa sih pagi-pagi udah bikin suasana hatiku hancur saja! Ih aku benci sama kamu, Sahrul! tau begini aku tidak akan pernah mau jadi pacar kamu!

__ADS_1


Kesal, kecewa, dan marah. Itulah yang Mega rasakan saat ini. Ingin rasanya membuat Sahrul seperti rempeyek, pikir Mega demikian.


****


Ditengah pelajaran berlangsung, Mega yang sudah merasa tidak tahan ingin buang air. Tanpa menunggu hingga pelajaran usai, iapun segera meminta izin kepada guru yang kini sedang mengisi jam pelajaran di kelasnya.


"Bu ..." Mega mengangkat sebelah tangannya.


"Iya, ada apa Mega?"


"Saya mau izin ke toilet, mau buang air kecil bu. Sudah kebelet!" ucap Mega dengan kedua kaki yang ia hentak-hentakkan ke lantai.


"Ya sudah, jangan lama-lama ya!"


Mega mengangguk lalu berdiri dan keluar dari kelasnya. Ia memilih pergi ke toilet terdekat dengan kelasnya. Toilet yang di tuju tepat berada di samping kelas Sahrul.


Mega tergesa-gesa masuk ke dalam salah satu pintu yang terbuka. Tiba-tiba, saat ia buang air kecil, ia mendengar suara leguhan yang begitu santer terdengar di telinganya. Mega segera menyelesaikan urusannya di toilet itu.


Ia membuka pintunya lalu berjalan dengan hati-hati mendekat ke sumber suara itu.


"Ah ... cepat, Sahrul! aku sudah tidak tahan, ah .... "


Mega mengernyitkan keningnya. Ia mengintip dari balik dinding toilet. Matanya membelalak saat ia melihat Sahrul yang sedang menyelupkan sosis kimbo ke dalam palung mariana milik Clarissa.


Wanita itu terus melengguh merasakan sebuah kenikmatan yang diberikan oleh Sahrul. Kali ini, Sahrul memang sudah sangat keterlaluan. Bahkan mereka telah berani berbuat yang tidak senonoh di lingkungan sekolah.


Astaga! apa-apaan mereka ini! berbuat seperti itu dilingkungan sekolah! apa tidak ada tempat lain? kalian berdua memang cocok! lalu dimana Bimo? kenapa sekarang Clarissa bersama Sahrul? aku semakin gak ngerti sama mereka berdua, ada apa 'sih sebenarnya?


Mega terus bertanya-tanya dalam hatinya.


******


Sebelum kedatangan Mega ke toilet itu, sebenarnya Clarissa tengah buang air kecil. Namun saat ia keluar, Sahrul sudah berada di depan pintu toilet itu.


Sahrul yang telah horny sejak di koperasi itu, merasa tidak tahan dengan tubuh molek Clarissa itu.


"Sedang apa lo di toilet cewek!" ketus Clarissa.


Tanpa basa-basi. Sahrul menarik tangan Clarissa ke belakang toilet itu. Tepatnya didepan bangunan penyimpanan alat-alat olahraga.


Sahrul langsung membungkam mulut Clarissa dengan cukup kasar, lalu menyandarkan punggung Clarissa di dinding kemudian mengangkat serta mengikat tangan Clarissa ke atas.


Hingga akhirnya, Clarissa pun terhanyut akan permainan Sahrul. Keduanya sama-sama menikmati. Sahrul terkejut saat ia mulai memasukkan sosis kimbo itu.


Kenapa rasanya berbeda? tidak seperti Mega yang sangat sempit.


Sahrul terus memompanya, karena mulai diselimuti kabut gairah. Iapun terus melakukannya. Walaupun ia tersadar bahwa Clarissa bukan lagi perawan.


*****


Disaat Mega tengah melihat kelakuan Sahrul itu. Tiba-tiba ada yang menepuk pundaknya dari belakang. Mega pun terkejut. Lalu sebuah tangan menutup mulutnya. Mega menoleh.


"Bimo!" pekik Mega dengan suara yang meredam karena mulutnya masih ditutup oleh tangan Bimo.


"Ikut gue yuk!" ajak Bimo kemudian menarik tangannya. Mega mengerutkan keningnya dan mengikuti langkah Bimo dibelakangnya.


Bimo membawa Mega pergi ke salah satu ruangan kelas yang masih kosong.


"Ada apa sih, Bim?" tanya Mega degan sedikit meninggikan nada bicaranya setelah Bimo menutup ruangan dan melepaskan tangannya dari mulut Mega.


"Shuut! jangan keras-keras!" Bimo meletakkan jari telunjuk di bibirnya.


"Oke, disini gue akan menjelaskan semuanya. Gue tahu lo pasti bertanya-tanya 'kan?" tutur Bimo. Mega mengangguk pelan. "Tapi sebelumnya lo janji ya jangan memotong pembicaraan gue sebelum gue selesai menjelaskan?" tawar Bimo.

__ADS_1


"Iya aku janji!" jawab Mega dengan raut wajah serius.


"Begini, awalnya kami berteman tiga orang sejak SMP. Excel yang kemarin ulang tahun itu berbeda sekolah dengan kita. Terus tiba-tiba Sahrul mengajak taruhan. Siapa yang bisa berpacaran dengan siswi tajir di sekolah ini lebih dulu, ia akan menang dan mendapat sepuluh juta rupiah. Lalu, Sahrul kalah karena memang gue sudah lebih dulu berpacaran dengan Clarissa, salah satu pemilik saham di sekolah ini."


Bimo menarik napasnya dalam-dalam sebelum melanjutkan penjelasannya. Mega masih terdiam dan menunggu Bimo bicara kembali.


"Sahrul tidak terima dengan kekalahannya. Ia mengajukan taruhan lagi dengan yang lebih besar yaitu dua puluh juta rupiah. Gue tidak mengerti kenapa dia sebegitu ngototnya untuk menang taruhan sama gue. Padahal dapat mendali emas juga tidak."


"Syaratnya ... harus bisa tidur dengan pacar masing-masing di pesta ulang tahun Excel di club kemarin dengan jumlah yang lebih besar, yaitu dua puluh juta rupiah."


Mega terperangah lalu memberi Bimo tatapan yang sangat tajam.


Kejadian malam itu harga diriku hanya di hargai dua puluh juta? dasar laki-laki brengsek!


"Gue sama Clarissa pergi lebih dulu karena awalnya Clarissa minta diantar ke toilet. Lama sekali gue nunggu dia di depan toilet. Sampai akhirnya gue lihat lo dibawa oleh Sahrul menuju salah satu kamar."


"Gue ikutin tuh kalian sampai si Clarissa gue tinggal di toilet. Gue penasaran 'kan ... Saat gue mau nolongin lo dari rencana liciknya si Sahrul. Pintu kamarnya keburu dikunci. Jadi, Mega .... maaf gue tidak bisa nolong lo kemarin."


Kedua mata Mega mulai memerah. Dadanya terasa sangat sesak. Ia bahkan tidak sanggup untuk berbicara.


"Lalu ... lo tahu Mega? saat gue memilih kembali menemui Clarissa, gue melihat Clarissa sedang bercumbu dengan seorang laki-laki yang terlihat sudah sangat dewasa."


"Gue marah, kecewa! kemudian saat itu juga gue putusin langsung di depan laki-laki itu dan pergi keluar dari club. Keesokan harinya saat gue tau lo tidak masuk sekolah, gue langsung kepikiran tentang lo. Sahrul dengan santainya bilang kalau dia sudah tidur sama lo."


Mega benar-benar sudah sangat marah, kedua tangannya pun mengepal. Rasa kecewanya sudah terlalu dalam kepada Sahrul. Mega segera keluar dari ruangan itu sambil berlari dan menangis. Bimo mengejar Mega lalu meraih tangannya.


"Lepaskan Bimo! aku harus membuat perhitungan dengan dia! dia itu laki-laki brengsek!" teriak Mega sambil berusaha melepaskan genggaman tangan Bimo dari lengannya.


"Ga! lo bisa bicara baik-baik sama dia. Kalau lo emosi seperti ini, harga diri lo akan semakin diinjak-injak sama dia! gue tahu sekali dia, Ga!" ungkap Bimo yang masih mencengkram lengan Mega.


"Coba saja kalau dia berani! Please Bim, lepasin. Aku mau bicara dengannya dan mengakhiri semuanya," kata Mega dengan sedikit merendahkan nada suaranya.


Bimo pun melepaskan cengkramannya dari lengan Mega. Gadis itu pergi dari hadapan Bimo yang masih mematung di sana.


Andai lo tau Ga, sebenarnya gue juga suka sama lo. Tapi Sahrul tega merusak lo dengan cara yang seperti ini.


Bimo menatap kepergian Mega dengan nanar. Beruntung ruangan kelas yang kosong itu gedungnya agak jauh dari gedung utama jadi ucapan Mega dan Bimo tidak sampai terdengar.


Mega pun kembali ke toilet, terlihat Sahrul dan Clarissa baru saja menyelesaikan permainan mereka. Mega datang sambil bertepuk tangan.


PROKPROKPROK


"Bagus ya Rul, sudah merusak aku sekarang ke cewek ini," sindir Mega sambil menunjuk Clarissa.


"Besok ke siapa lagi ya? kamu tidak takut kena penyakit karena celup sana celup sini? cih!" cibir Mega.


"Heh! jangan mentang-mentang lo anak orang kaya beraninya lo merendahkan gue seperti ini, Mega!" bentak Sahrul namun Mega malah memberi Sahrul dengan tatapan tajam sambil terseyum menyeringai.


Mega melipatkan kedua tangannya di dada sambil menatap remeh kepada Sahrul dan Clarissa. Dari kejauhan Bimo memperhatikan ketiga orang yang didepannya. Mega memutar malas bola matanya.


"Aku malas lama-lama berhadapan sama kalian berdua. Biar waktu yang menentukan siapa penghianat yang mengatas namakan cinta! mulai sekarang kita putus!" ucap Mega dengan menekankan suaranya kemudian pergi dari hadapan Sahrul dan Clarissa.


Clarissa hanya meremang. Terlebih ia melihat Bimo dari kejauhan.


"Rul, gue duluan!" Clarissa pergi dari hadapan Sahrul.


Sahrul sudah benar-benar gila!


Bimo pun langsung bergegas kembali ke kelasnya. Sementara Mega merasa puas dengan keputusan yang ia ambil.


Cinta, aku telah dibutakan oleh cinta. Aku kira cinta itu bisa saling menghargai dan menjaga. Tapi yang aku terima sebuah pengkhianatan atas cinta itu sendiri. Tuhan, bantu aku melupakan dia yang pernah aku cinta.


Sementara Sahrul, ia begitu puas karena hasrat yang selama ini selalu ia pendam, bisa tersalurkan dengan para gadis yang ia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2