KELIRU

KELIRU
PIMPINAN BARU


__ADS_3

Mobil yang Mega tumpangi telah sampai di depan lobby salah satu mall terbesar di Jakarta. Mega turun dari mobil lalu masuk ke dalam.


Sekarang adalah waktunya untuk Mega bergerak dan menunjukkan pada dunia dia bisa sehebat mendiang kedua orangtuanya.


Setibanya di depan butik, Mega menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan, setelah itu dia masuk kedalam. Saat Mega membuka pintu, terlihat Fadil dan juga Tina -istrinya- telah berada di dalam dan menyambut kedatangan Mega.


"Selamat siang, Mega."


"Siang, Om, Tante," sapa Mega sambil menghampiri Fadil dan juga Tina lalu memeluk mereka.


Setelah itu, Mega berdiri diantara keduanya. Mall saat itu baru saja buka dan belum banyak pengunjung yang datang. Semua pegawai dikumpulkan oleh Fadil, sedangkan Tina mengelus lembut punggung Mega.


"Perhatian semuanya!" panggil Fadil dan semuanya berkumpul mengitari mereka. "Hari ini sudah saatnya kalian tahu, saya selaku pemgacara sekaligus keluarga mendiang Hermelinda dengan ini menyerahkan segala sesuatu pada butik ini kepada, Mega Lesmana yang merupakan anak tunggal dari mendiang Hermelinda dan juga Adrian. Saya harap dengan adanya pemimpin baru di butik ini, semuanya bisa bekerja sama dengan baik."


Pegawai yang pernah meremehkan Mega terperangah akan berita demikian. Ia masih tidak menyangka pimpinannya kali ini jauh lebih muda dari mereka semua.


"Apa yang diucapkan oleh Om Fadil barusan memang benar adanya. Terima kasih Om, Tante."


Fadil dan Tina tersenyum melihat Mega.


"Sekian pengumuman hari ini, selamat bekerja kembali."


Semua pegawai membubarkan diri ke perkerjaan mereka masing-masing. Keputusan Mega menimba ilmu serta mengembangkan bisnis sang ibu saat ini sudah bulat. Namun, ia sengaja tidak memberitahukan Damar. Sebab, telah dua hari belakangan ini Damar sangat sulit untuk dihubungi.


"Mega, Tante sama Om pulang dulu ya. Tante yakin kamu pasti bisa membuat butik ini semakin tambah besar lagi!"


"Aamiin Tante, Om terima kasih bantuannya. Tanpa kalian aku mungkin tidak tahu harus apa."


"Sama-sama, kalau begitu kami pemisi ya."


Mega mengangguk lalau tersenyum. Mereka pun akhirnya pergi dari butik itu. Setelah mereka menghilang dari pandangan, Mega masuk ke dalam ruang kerjanya.


"Permisi, maaf."


Suara seorang wanita membuat Mega mengurungkan niatnya saat ia hendak masuk ke dalam ruang kerjanya. Mega menoleh seraya tersenyum. Terlihat seorang wanita yang berpakaian seragam butik miliknya sambil menundukkan kepala.


"I-ya ... ada apa Kak ... Mirna?" tanya Mega dengan ramahnya membuat wanita yang memiliki nama Mirna itu mengangkat kepalanya.


"Maaf, saya bingung harus panggil Anda apa. Soalnya kalau kami semua panggil Anda ibu ketuaan menurut saya."


"Oh jadi itu masalahnya," Mega tersenyum. "Kalian semua bisa panggil saya Miss mungkin?"


"Oh, iya benar. Miss ... oke kedengarannya cukup bagus! baiklah Miss ... Mega."


Mega tersenyum lebar. "Ada lagi yang mau ditanyakan?"


"Usia Miss berapa ya sekarang kalau boleh tahu?"


"Sekarang masih delapan belas tahun."


"Wah masih sangat muda, baiklah saya permisi Miss."


Mega mengangguk lalu tersenyum. Iapun langsung masuk ke dalam ruang kerjanya.

__ADS_1


Mega menghirup aroma parfum vanilla yang sering dipakai oleh mendiang ibunya. Seluruh ruangan ini sangatlah simpel dan tertata sangat rapi. Entah sudah berapa lama sang ibu tidak pernah menyentuh ruangan ini.


Mega duduk di kursi kebesarannya. Di atas meja terlihat ada secarik kertas yang sepertinya sang ibu yang menuliskannya. Mega menyingkirkan bolpoin yang ada di atasnya lalu mengambil kertas itu.


Ia membuka lipatan kertas itu perlahan kemudian membacanya.


Dear anakku ... Mega Lesmana


Kamu tahu? saat kamu membaca surat ini, kamu pasti telah diposisi yang pernah ibu tempati sekarang. Ibu merasa bangga denganmu Nak. Jiwa seni ibu mengalir dalam darahmu dan jiwa pembisnis ayah juga melekat didalam nadimu.


Mega, ibu harap ... kamu bisa mengelola butik ini dengan baik, tapi ibu sangat yakin kamu pasti bisa melakukannya. Jangan pernah canggung untuk mengemukakan pendapat dan jangan pernah egois saat menerima sebuah masukan dari bawahanmu. Ingat! kalian satu tim. Walau usiamu terbilang muda, tetaplah rendah hati kepada mereka dan juga hormati mereka yang usianya lebih tua darimu.


Salam sayang dari ibu dan ayah.


Dada Mega seketika terasa sesak. Air matanya tanpa ia sadari menetes begitu saja. Sebuah surat yang sang ibu tuliskan ini, membuatnya sangat berharga untuk membangun jati dirinya saat ini.


****


Satu tahun sudah Mega bekerja di butik ini. Selama satu tahun inilah Mega telah merancang beberapa pakaian dan gaun yang cukup membuat butik ini berkembang cukup pesat.


Para pegawai yang bekerja di butik itu menjadi bertambah rasa kekeluargaannya satu sama lain. Mereka juga bisa saling menyesuaikan dengan pimpinan mereka yang baru.


Beberapa hari lagi, Mega akan berulang tahun ke sembilan belas. Tepat di hari itu, Mega akan menemui Damar untuk mencari tahu kejelasan hubungan mereka.


Mega yang memang sudah terlanjur mencintai Damar, membuat dirinya dilanda dilema. Sebab semenjak dirinya bekerja di butik ini, Damar sama sekali sulit untuk diajak bertemu dengannya.


Kini, Mega baru saja tiba di butiknya. Seperti biasa, ia memilih langsung menuju ruang kerjanya sambil membawa satu cup hot chocolate ditangannya.


"Siang, Miss."


Mega melebarkan senyumnya hingga dirinya masuk ke dalam ruang kerja. Baru saja dirinya meletakkan tas dan juga hot chocolate di atas meja. Ponselnya tiba-tiba berdering.


Tertera nama Damar yang menghubunginya. Panggilan Damar menambah mood boaster untuknya hari ini. Mega pun segera menjawabnya.


"Hallo Damar."


"Hallo, Mega aku mau minta maaf selama ini tidak pernah ada waktu untukmu."


"Its, Okay. Lalu?"


"Besok aku akan berangkat ke Solo. Aku dipindah tugaska selama satu bulan di sana."


"Begitukah? apa sekarang kita tidak bisa bertemu terlebih dahulu?"


"Maaf Mega, pekerjaanku hari ini banyak, jadi kita tidak bisa bertemu."


Mega mendesah pelan. Senyumnya surut seketika.


"Baiklah. Take care!"


"Kalau begitu bye Mega."


"Bye!"

__ADS_1


Sambungan telepon pun terputus. Mega menghempaskan napas kasar. Ia mendudukkan diri di kursinya lalu meminum hot chocolate yang tadi dia bawa.


Kenapa semakin lama aku semakin curiga dengan Damar ya? apa aku harus menyusulnya ke Solo untuk memastikannya?


Mega memijat keningnya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Beberapa saat kemudian, ponselnya berdering kembali. Ia melihat ke layar ponsel yang menyala, tertera nama Pinkan dalam panggilan itu. Mega pun segera menjawabnya.


"Hallo, Pinkan."


"Hei, Mega kamu apa kabar ?"


"Aku baik, kalau kamu?"


"Aku juga baik. Aku sedang liburan nih di Solo, kamu kesini dong nanti kita main bersama," ajak Pinkan membuat Mega berpikir sejenak.


"Baiklah, cuss on the way. Tapi besok pagi ya, soalnya aku sekarang masih di butik."


"Di butik? sedang apa di sana?"


"Meneruskan bisnis mendiang ibuku."


"Apa? ibumu sudah ... "


"Iya tepat satu tahun yang lalu, maaf ya aku tidak pernah cerita padamu. Aku hanya sedang menyesuaikan diri selama satu tahun terakhir ini."


"Astaga! Mega aku kepingin peluk kamu jadinya. Kamu benar kan mau ke sini besok?"


Mega terkekeh, Pinkan mendengar dari nada suara Mega ia sudah lebih dewasa sekarang. "Iya, kamu jemput aku loh di bandara!" tawar Mega membuat Pinkan tertawa.


"Siap laksanakan! sampai bertemu besok Mega."


"Hahaha, iya sampai bertemu besok Pinkan," kata Mega lalu memutuskan sambungan teleponnya.


Baru saja ia selesai berbincang dengan Pinkan, sang nenek pun memanggilnya lewat sambungan telepon itu.


"Hallo, Nek."


"Sayang, Nenek sedang kangen sekali dengan suasana Solo, apakah kamu bisa menemani Nenek besok? nanti kita langsung ketemu dirumah," tutur Nina. Mega bergumam.


Ada apa sih? kok pada ke Solo. Apa ini hanya sebuah kebetulan saja?


Mega menerka-nerka dalam pemikirannya sendiri.


"Iya, Nek, kebetulan teman Mega juga mengajak liburan di sana. Tidak apa-apa kan Nek kalau Mega ajak teman ke rumah?"


"Iya, Sayang tidak apa-apa. Kamu jangan telah makan ya, Sayang. Istirahat yang cukup. Sampai bertemu besok," ujar Nina membuat Mega menyunggingkan senyumannya walau tidak terlihat oleh sang nenek.


"Iya Nek, sampai ketemu besok," ucap Mega kemudian memutuskan sambungan teleponnya.


Mega menaruh kembali ponselnya ke atas meja, kemudian iapun segera menghabiskan hot chocolate-nya yang sudah mulai dingin. Tepat disaat ia baru saja membuang cup bekas minumannya, Mega mendengar suara yang tak asing baginya yang berasal dari luar ruanganya.


Mega berdiri lalu mendekat ke arah pintu.


"Beib, kamu pilih saja gaun yang kamu suka di sini."

__ADS_1


__ADS_2