KELIRU

KELIRU
KEJAR TARGET!


__ADS_3

Di sebuah kontrakan yang ada di gang kecil, Clarissa sedang ketar-ketir di kamarnya. Sudah dua hari ini, Sahrul tidak pulang ke rumah.


Kini, Clarissa sedang hamil yang kedua kalinya. Setelah kehamilan pertama yang gugur di usia kandungan lima bulan, beberapa bulan setelah itu Clarissa hamil kembali dan saat ini usia kandungannya telah menginjak di minggu tiga puluh empat.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah kontrakan itu.


TOKTOKTOK


Clarissa dengan cepat membukakan pintunya, berharap yang mengetuk pintu adalah Sahrul. Ternyata setelah pintu terbuka, seorang wanita yang telah melahirkannya dan sempat membiarkannya dia pergi kini ada di hadapannya.


"Mamah ... " ucap Clarissa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Sayang, Mamah kangen sekali," kata Kelly mamahnya Clarissa. Kelly langsung memeluk Clarissa yang masih berdiri diambang pintu.


Lalu Clarissa pun membalas pelukan Kelly seketika tangisnya pun pecah.


"Mah Cla ingin pulang ke rumah saja, Sahrul sudah tidak pulang dua hari ini. Cla kesepian Mah," ucap Clarissa sambil memeluk Kelly sangat erat.


"Sayang, ada Mamah disini. Kamu bereskan pakaianmu ya. Maafkan kami yang pernah mengusirmu," kata Kelly sambil melepaskan pelukannya.


"Iya Mah, Mamah masuk dulu ya ke dalam," ajak Clarissa dan Kelly pun masuk ke dalam rumah.


Jadi selama ini Clarissa tinggal disini, sangat sederhana sekali. Lingkungannya juga sepi. Kenapa Sahrul tidak pulang kata Clarissa? apa mereka sedang bertengkar? aku coba telepon Sahrul deh.


Kelly bertanya-tanya dalam hatinya. Lalu mencoba menghubungi ponsel Sahrul.


"Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi."


Aneh, nomornya sama sekali tidak aktif. Kemana perginya Sahrul? aku harus selidiki. Aku gak boleh menyalahkan sepihak dan aku harus mendengar dari keduanya.


Kelly pun menghampiri Clarissa yang berada di kamar sedang merapikan pakaiannya dan memasukkannya ke dalam koper.


"Sayang, berapa usia kandunganmu sekarang?" tanya Kelly dengan nada lembut sambil duduk dipinggir tempat tidur.


"Sudah berjalan tiga puluh empat minggu Mah," jawab Clarissa sambil sekilas menoleh ke arah Kelly.


"Sebentar lagi Mamah mau punya cucu dong ya. Mamah tidak sabar ingin menggendong cucu Mamah!" seru Kelly yang antusias membuat Clarissa tersenyum dan tertawa kecil.


"Makasih ya mlMah udah mau ke sini dan mengajak Cla pulang. Oh iya apakah papah mengizinkan aku pulang, Mah?" kata Clarissa kemudian bertanya pada Kelly.


"Tentu, sebenarnya sejak kami mengusirmu, kami merasa bersalah. Kamu adalah anak kami satu-satunya. Setelah kamu pergi dari rumah, rasanya sepi sekali. Awalnya papah masih sangat marah kepadamu tapi mamah selalu membujuk papah. Terlebih saat kami mendengar berita kehamilanmu yang pertama. Hati kami terasa teriris, tapi papah masih memberitahukan Mamah untuk diam. Akhirnya hari ini Mamah ke sini," jelas Kelly membuat hati Clarisaa menjadi lebih lega.


"Sudah Mah, kita berangkat sekarang?" tanya Clarissa.


"Yuk, kita berangkat," jawab Kelly sambil menggenggam tangan Clarissa.


Terima kasih Tuhan, Engkau masih membukakan hati kedua orangtuaku untuk menerimaku kembali.


Clarissa pun akhirnya pulang ke rumahnya lagi.


****


Di Solo, Mega masih penasaran tentang apa yang telah terjadi semalam. Cacian Damar masih terngiang-ngiang di telinganya.


Mega pun kemudian menghubungi Pinkan dan Dona untuk datang ke rumahnya. Rasa penasaran yang bercampur dengan rasa sakit di hatinya membuat ia tak ragu untuk membuat sebuah misi untuk membongkar semua ini.


Tak lama Pinkan dan Dona pun sudah berada di rumah Mega.


TOKTOKTOK


"Eh Dona dan Pinkan langsung aja ke kamar Mega ya," ucap Nina saat ia membukakan pintu karena para pelayan rumah masih pada sibuk.


"Terima kasih Nek," kata Pinkan dan Dona bersamaan.

__ADS_1


Sesampainya di depan kamar Mega, baru saja Dona akan mengetuk pintu namun Mega sudah lebih dulu membukakan pintu kamarnya.


"Feeling kamu memang bagus sekali Meles," ucap Dona sambil cengengesan.


"Bukan feeling yang bagus tapi tuh ada CCTV dan sensor, dan juga hanya dari dalam kamar bisa terdeteksi," jelas Mega membuat Pinkan dan Dona ber oh ria.


"Sejak kapan memangnya Ga?" tanya Pinkan penasaran.


"Sudah lama sekali hanya terkadang, alarm yang ada di dalam kamar aku matikan. Berisik!" jawab Mega sambil berjalan masuk ke dalam kamar dan kedua sahabatnya mengekor di belakang.


"Udah ayok masuk, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan," ajak Mega dan mereka pun masuk ke dalam.


Pinkan dan Dona duduk di sofa dan Mega berdiri sambil berpikir serta mondar-mandir di depan kedua sahabatnya.


"Ga please deh pusing aku lihat kamu mondar-mandi gini, apa yang akan kamu sampaikan?" ucap Pinkan yang begitu sangat penasaran.


"Jadi gini, aku mau mengikuti Damar hari ini. Semalam dia bilang kalau dia telah melamar April. Lalu setelah aku lacak ponselnya, kalau dia sedang berada di sebuah kafe di kota ini, kalian antar aku ya ke kafe itu," jelas Mega.


"Oh jadi kamu mau ngebuntutin Damar Ga. Buat apa Ga ? apa semalam belum jelas? Ga, semalam kamu sudah benar-benar diinjak harga diri kamu olehnya, terus ... buat apa sekarang mau ngebuntutin segala," ucap Dona membuat Mega berpikir sejenak.


"Menurut Damar itu udah selesai, tapi menurutku ini belum selesai. Kalian inget tidak 'sih waktu aku nyuruh kalian ke toilet semalam?" tanya Mega dan keduanya mengangguk bersamaan.


"Kalian tau siapa perempuan yang sedang bercinta di toilet itu?" tanya Mega lagi namun keduanya menggelengkan kepala.


"Perempuan itu yang katanya telah dilamar oleh Damar. Sayangnya, Damar tidak tahu kalau perempuan itu bekas si Sahrul juga! Aku hanya ingin tahu saja, seberapa kenal Damar dengan wanita itu," ucap Mega sambil menatap lurus-lurus ke depan.


"Baiklah, aku yes. Kalau kamu Pinkan?" kata Dona lalu bertanya pada Pinkan.


"Aku juga yes," jawab Pinkan.


"Oke yuk kita berangkat sekarang," ajak Mega dan mereka pun berangkat menuju sebuah kafe sesuai dengan lokasi Damar saat ini.


***


Kenapa banyak karangan bunga? dan sepertinya cafe ini sudah ada yang memesannya.


Mega bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ga ... kayaknya kafe ini sudah dipesan orang deh," bisik Dona pada Mega.


"Iya aku juga berpikir seperti itu," jawab Mega dengan merendahkan nada suaranya.


"Aku coba tanya dulu ya," ucap Pinkan lalu pergi ke sebuah meja tamu di depan pintu masuk.


"Mbak disini selain tamu undangan apakah bisa masuk?" tanya Pinkan.


"Bisa kak, kakak masuk lewat pintu sebelah sana ya," jawab wanita itu sambil menunjuk ke arah pintu masuk pengunjung.


"Terima kasih," ucap Pinkan.


"Sama-sama kak," kata wanita itu.


Pinkan menghampiri Mega dan Dona.


"Gaes kita bisa masuk lewat pintu sebelah sana, yuk," ajak Pinkan yang berjalan lebih dulu sambil menunjuk ke arah pintu masuk tersebut diikuti oleh Mega dan Dona.


Mereka pun masuk ke dalam cafe. Sekat pengunjung dan tempat acara pun sedikit terlihat dan juga terdengar.


Mereka memesan makanan dan juga minuman. Namun Mega terlihat begitu gelisah, matanya mencari keberadaan Damar ke sekeliling kafe.


Ternyata Damar tidak ada disini. Apa maps diponselnya berbohong ya? huffft.. misiku bisa gagal kalau begini.


Mega hanya bisa pasrah namun tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal. Mega langsung mengangkat wajahnya dan mendengarkan baik-baik suara itu yang berasal dari dalam ruang acara.

__ADS_1


"Happy birthday to you ... happy birthday to you ... happy birthday April!" Seorang laki-laki yang Mega sangat kenal dengan suara itu terdengar bahagia.


Mega berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah tempat acara. Ia mengintip melalui sela-sela sekat pembatas.


Acaranya meriah sekali, tapi kok aku merasa ini ada yang tidak beres ya? aku harus cari tahu segera yang sebenarnya.


Mega membalikkan tubuhnya dan ia terkejut karena Pinkan dan Dona berdiri tepat dibelakangnya.


"Kalian daritadi disini?" tanya Mega sambil menggaruk lehernya yang tak gatal dan kedua sahabatnya pun mengangguk bersamaan.


"Kita ke taman dekat sini yuk, rasanya panas sekali disini," ajak Mega sambil mengibas-ngibaskan tangannya.


Pinkan dan Dona yang mengerti kode tersebut langsung membalikkan tubuh mereka dan berjalan keluar kafe tersebut.


****


Sesampai di taman Mega mendaratkan tubuhnya di kursi dekat dengan danau.


"Menurut kalian salah tidak 'sih hanya karena seseorang memiliki masa lalu yang buruk, orang itu juga dianggap salah sampai sekarang?" tanya Mega pada Pinkan dan Dona.


"Menurut aku sih, tidak salah. Setiap orang punya masa lalunya masing-masing entah baik atau buruk, karena sebelum kita bertemu yang terbaik pasti kita dipertemukan dengan yang salah. Tapi seseorang yang mencintai dengan tulus, tidak pernah mempersalahkan hal itu," jawab Pinkan sementara Dona menatap dirinya dengan terkagum-kagum.


"Kata-kata saktimu luar biasa Pinkan," ucap Dona sambil tersenyum.


"Gaes, apa sebaiknya aku ikut nenek saja ya ke Belanda? aku ingin hidup tenang. Tapi sebelum aku ke sana aku hanya ingin memastikan kalau Damar tidak salah memilih penggantiku. Bagaimanapun dia adalah seseorang yang pernah mengisi hari-hariku," ucap Mega yang masih memandang lurus ke depan.


"Aku 'sih senyamannya kamu saja Ga, kalau disini monggo dan kalau di Belanda pun monggo. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, kami gak rela kalau kamu terus-terusan bersedih," kata Dona lalu memeluk Mega dari samping, begitupun dengan Pinkan.


"Makasih ya, tapi aku beneran penasaran loh sama mereka," ucap Mega seketika Dona dan Pinkan langsung melepaskan pelukannya.


"Jadi kamu maunya bagaimana?" tanya Pinkan.


"Kita balik ke kafe tadi, nah target kita ini April. Jadi saat April meninggalkan tempat acara kita ikuti dari belakang, bagaimana?" jawab Mega kemudian bertanya kembali pada kedua sahabatnya.


"Lalu yang mengikuti Damar siapa?" tanya Pinkan.


"Biar aku saja," jawab Mega mantap.


Bagaimana pun Mega masih mencintai Damar. Walaupun Damar telah melukai hatinya, tapi rasa cinta itu lebih besar dari rasa benci itu sendiri.


Mereka pun mulai menjalankan rencananya. Mega duduk di kursi cafe itu hanya sendiri, sementara Pinkan dan Dona yang melihat April keluar ruang acara langsung membuntuti dari belakang sambil memakai masker.


Diam-diam dari kejauhan Damar memperhatikan Mega, dan Mega pun sudah menyadarinya namun ia pura-pura tidak tahu.


Sementara Pinkan dan Dona mengikuti April sampai ke taman dekat kafe tempat mereka sebelumnya kesana. April bertemu dengan seorang pria, dan mereka terlihat sangat akrab.


Bahkan April melingkarkan kedua tangannya di leher pria itu dan mereka pun tidak segan untuk berpagutan dengan mesranya. Pinkan dengan cepat mengambil ponselnya dan juga merekam keduanya.


Jarak mereka berdiri tak jauh dari tempat April berdiri. Dona yang mengawasi sekeliling dan memastikan keadaan aman terkendali.


Dalam pertemuan April dan seorang pria itu terdengar sangat jelas saat keduanya melakukan percakapan.


"Pril, nanti malam datang ke club Exclusive ya. Ada member VVIP yang ingin menjalin kontrak denganmu," ucap pria tersebut.


"Bayarannya besar tidak?" tanya April sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Selama kontrak kamu dibayar 200juta sebulan, bagaimana?"


"Bolehlah, aku ambil," jawab April mantap.


Lalu pria itu pergi dari hadapan April, tak lama April pun juga pergi dari taman itu.


"Yes! berhasil Don!"

__ADS_1


__ADS_2