KELIRU

KELIRU
MERASA DIKHIANATI


__ADS_3

Kediaman Kelly


Sahrul baru saja tiba di halaman rumah. Ia pun memasukkan mobilnya ke dalam garasi dibantu oleh security. Setelah selesai, ia pun masuk ke dalam dengan membawa satu box besar yang berlogo Makuta pesanan Clarissa.


Sahrul masuk ke dalam, suasana rumah tampak sepi sekali. Ia memilih langsung pergi ke kamar Clarissa. Sesampai di depan kamar, Sahrul membuka pelan pintu kamarnya. Dilihatnya Clarissa sedang memberi ASI untuk Sea. Clarissa pun tersenyum melihat Sahrul pulang.


"Hei, sayang baru pulang?" tanya Clarissa dan Sahrul pun mengangguk.


"Sejak kapan Sea bangun Cla?" tanya Sahrul lalu Clarissa menatap Sea.


"Sejak 10 menit yang lalu sayang ini udah mulai pulas. Aku taruh Sea ke box bayinya dulu ya," jawab Clarissa dan Sahrul pun mengangguk sambil duduk di tepi tempat tidur.


"Sayang kenapa kamu pulang selarut ini? apakah tadi ada kemacetan di jalan?" tanya Clarissa saat dirinya telah menaruh Sea ke dalam box bayinya.


Apa aku harus jujur pada Clarissa ya mengenai April? ah yasudah lah yang penting niatku sudah baik hanya ingin membantu dan gal lebih. Semoga Clarissa bisa mengerti dan memahami serta memiliki jiwa yang besar.


Sahrul mengenggam kedua tangan Clarissa saat Clarissa ikut duduk dengannya di tepi tempat tidur. Clarissa memiringkan sedikit kepalanya dan menatap Sahrul sangat lekat.


"Ada apa? kenapa kamu terlihat bingung?" tanya Clarissa dengan nada lembut.


"Sebenarnya, seharusnya itu aku sudah sampai sejak 2 jam yang lalu. Cla, ada yang ingin aku ceritakan. Tapi aku harap kamu gak marah dan bisa mengerti. Satu hal yang akan aku tekankan disini. Aku sangat mencintaimu dan juga Sea," jawab Sahrul yang mencoba memberi ketenangan di awal pada Clarissa sebelum dia menceritakan tentang April.


"Iya, ada apa sih? kamu membuatku semakin penasaran deh," Clarissa mencebikkan bibirnya lalu tersenyum dan dia bersikap seolah sudah siap untuk mendengarkan cerita Sahrul.


"Tapi sepertinya lebih enak kalau kita sambil ngemil Makuta Cla, kamu mau rasa apa?" usul Sahrul membuat Clarissa menghela nafasnya.


Clarissa pun mengambil satu box Makuta rasa coklat. Lalu camilannya ia taruh diantara dirinya dan Sahrul. Kini mereka berpindah duduk di sofa dengan posisi saling berhadapan.


"Cla, tadi sewaktu aku selesai makan malam di sebuah restoran. Aku bersandar di mobil karena ada suara notif yang berupa email masuk di ponselku. Saat aku sedang fokus melihat isi email dari client, tiba-tiba aku dihampiri seorang wanita yang tampak lusuh dan tak terawat."


Clarissa langsung tercengang namun ia masih tetap fokus mendengarkan Sahrul.


"Kamu tau wanita itu siapa?" tanya Sahrul lalu Clarissa menggeleng lemah sambil menyantap camilannya.


"Dia adalah April," jawab Sahrul dan membuat Clarissa seketika menjadi tersendak.

__ADS_1


Uhuk.. Uhuk..


Sahrul langsung mengambilkan minum lalu memberikannya pada Clarissa.


"Pelan-pelan sayang makannya, masih banyak kok tenang aja," ucap Sahrul yang tak sadar menyebut Clarissa dengan sebutan 'sayang'. Clarissa menatap Sahrul.


"Coba kamu ulangi kata yang terakhir kamu sebut tadi sayang," timpal Clarissa dan Sahrul pun mengingat kembali.


"Sayang?"


"Iya."


Clarissa tersenyum lalu memeluk Sahrul sangat erat. Sahrul membalas pelukan Clarissa.


"Bisakah kamu memanggilku dengan sebutan itu? seperti aku memanggilmu," pinta Clarissa dan dijawab sebuah anggukkan dari Sahrul. Keduanya saling mengeratkan pelukan mereka kembali.


Setelah cukup lama mereka berpelukan, akhirnya mereka melepaskan pelukannya.


Sahrul menceritakan yang telah dialami oleh April. Clarissa langsung terdiam, lidahnya terasa begitu kelu.


"Kamu gak marah kan kalau untuk sementara waktu dia aku taruh di rumah kontrakan kita?" tanya Sahrul dengan hati-hati. Jelas dia tahu kalau Clarissa marah padanya. Raut wajah Clarissa langsung berubah menjadi murung. Dan ia pun menundukkan wajahnya.


"Hei, gak usah sedih. Kamu sudah tau sendiri perasaan aku, hidup aku hanya untukmu dan Sea. Aku hanya kasihan dengannya, lagi pula sudah larut malam. Besok kita temui dia sama-sama ya," ucap Sahrul mencoba untuk menenangkan Clarissa dan Clarissa pun mengangguk.


🌾


Belanda


Setelah menyelesaikan urusan di kantor polisi, Albi dan Mega kembali ke rumah sakit. Sore pun telah berganti menjadi malam. Albi masih tampak gelisah karena Lusy belum ditemukan pihak polisi ataupun dirinya.


Sint Lucas Andreas Hospital


Sesampai di rumah sakit, keduanya langsung menuju ruang rawat inap Nindya. Tak lama Albi dan Mega sampai di depan pintu ruang rawat inap Nindya. Albi membuka pintunya terlihat Alka sedang menonton televisi dengan Nindya sedangkan Adidaryo tengah tertidur pulas di sofa


Kakek terlihat lelah sekali, apa sebaiknya aku mengantarkan Mega dan kakek lebih dulu ya untuk pulang ke rumah?

__ADS_1


"Mommy!" teriak Nindya pada Mega sambil merentangkan kedua tangannya.


"Hallo Nindya, apakah sudah merasa lebih baik?" tanya Mega sambil mempercepat langkahnya supaya bisa cepat sampai memeluk Nindya. Mendengar ada suara bising, Adidaryo terbangun dari tidurnya. Ia sambil mengejapkan sebelah matanya untuk melihat siapa yang datang.


"Eh kalian, baru sampai?" tanya Adidaryo sambil merubah posisinya dari terbaring menjadi duduk.


"Iya kek," jawab Albi yang kemudian ikut duduk di sebelah Adidaryo.


"Bagaimana? apakah kamu sudah tau siapa pelakunya?" tanya Adidaryo yang seketika wajahnya berubah menjadi tampak serius.


"Lusy kek, aku merasa dia masih bersekongkol dengan Samudera, tadi aku dan Mega juga udah melaporkannya ke kantor polisi. Tapi sepertinya polisi saja tidak cukup untuk memberantas sampai keakarnya. Kita juga harus bergerak sendiri," jawab Albi sementara Alka pun mendengarkan perbincangan Albi dan Adidaryo dengan seksama.


"Baiklah, kakek akan menyuruh semua orang-orang kakek untuk segera menangkap siapapun yang terlibat dengan Samudera," ujar Adidaryo yang mulai geram dengan pandangan jauh ke depan. Ia pun memikirkan rencana yang akan dilakukannya untuk Samudera.


Tiba-tiba pintu ruang rawat inap Nindya pun terbuka. Semua orang yang ada didalamnya menoleh bersamaan.


"Selamat malam tuan," ucap seorang laki-laki sambil membungkukkan sedikit kepalanya memberi tanda hormat.


"Malam," jawab semuanya bersamaan.


Laki-laki itu berjalan masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali.


"Maaf saya mengganggu waktunya tuan-tuan sekalian, saya ingin memberikan berkas ini kepada tuan Alka. Dan saya ingin menyampaikan bahwa tuan dan nona Kiran saat ini sudah diputuskan bercerai oleh pemerintah Belanda. Didalam amplop itu sudah terdapat sertifikat resmi perceraian. Silahkan bisa tuan lihat langsung," jelas laki-laki itu sambil memberikan amplop yang dipegangnya kepada Alka. Kemudian Alka pun membuka amplop tersebut, terukir seulas senyum di kedua sudut bibirnya yang hampir tak terlihat, lalu memasukkan kembali berkas tersebut.


"Terima kasih banyak, tuan?" tanya Alka.


"Nama saya Dany tuan," jawab Dany dan Alka pun tersenyum sambil mengangguk.


"Ah iya, sekali lagi terima kasih banyak telah membantu saya untuk mengurus hal ini," ucap Alka sambil mengulurkan tangannya pada Dany dan Dany pun membalas uluran tangan Alka.


Adidaryo pun berdiri dan menghampiri Dany lalu menepuk bahu Dany.


"Sekarang kamu sudah bisa kembali ke Indonesia dan pastikan wanita itu tidak kabur," bisik Adidaryo kemudian Dany pun mengangguk. Hal itu membuat Albi, Alka dan Mega saling bertukar pandang satu sama lain.


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi, selamat malam," pamit Dany sambil membungkukkan tubuhnya lalu pergi dari ruang rawat inap Nindya.

__ADS_1


Setelah kepergian Dany, Adidaryo langsung mendapat tatapan dari tiga pasang mata, sementara Nindya baru saja tertidur pulas di tempat tidurnya.


"Kenapa kalian melihat kakek seperti itu? apa ada yang salah dengan penampilan kakek?" tanya Adidaryo yang mulai salah tingkah dan ia pun duduk kembali di sofa.


__ADS_2