
Alka turun dari panggung lalu berjalan menghampiri Mega. Mega pun berdiri sambil tersenyum.
"Kamu hebat, suaramu bagus sekali kak," ucap Mega sambil mengacungkan kedua ibu jarinya kepada Alka.
Tanpa di sangka, Alka langsung memeluk Mega. Seketika Mega langsung membulatkan kedua matanya saat Alka tiba-tiba memeluknya.
"Butuh waktu yang lama tuk jelaskan semua ini, agar kau percaya cinta itu ada. Memang tidak semudah melafazkan kata-kata cinta. Kamu yang telah kuanggap jadi pembeda, karena kamu telah merubah segalanya menjadi lebih indah. Kamu juga yang menciptakan celah membuat ku jatuh hati padamu," ucap Alka membuat hati Mega bergetar hebat.
Perlahan Mega membalas pelukan Alka, lalu sebuah senyuman terukir dari kedua sudut bibir Alka. Bahagia, itulah yang dirasakan keduanya.
Dari luar kafe Albi tak sengaja melihat Mega dan Alka sedang berpelukan. Ada sedikit rasa sakit dalam hati Albi.
Mereka tampak begitu bahagia. Apa seharusnya aku harus merelakan Mega untuk Alka?
Karena penasaran Albi pun masuk ke dalam kafe tersebut.
"Sejak kapan kakak merasakan jatuh hati padaku?" tanya Mega dengan tangan Alka yang masih melingkar di pinggang Mega.
"Hem, sejak pertama kali kita bertemu di West Frisian Island beberapa waktu lalu," jawab Albi membuat Mega mengerutkan kedua alisnya.
Di West Frisian Island? apa kak Albi tidak ingat dulu kita pernah bertemu bahkan dia yang telah menolongku?
"Tunggu," seketika Mega melepaskan tangan Alka dari pinggangnya.
"Kenapa Mega?" tanya Alka, Mega langsung menatap lekat mata Alka.
"Siapa kamu sebenarnya?" Mega yang bertanya kembali sambil memberi tatapan tajam kepada Alka.
"Aku.. Alka Adidaryo," jawab Alka sambil mengulurkan tangannya dan Mega langsung membulatkan matanya dengan sempurna lalu perlahan meraih uluran tangan Alka.
"Al-Alka," ucap Mega terbata-bata. "Ta-tapi bukankah kamu kak Albi? kenapa wajahmu begitu sangat mirip?" tanya Mega memastikan dengan posisi tangan masih saling berjabat.
"Karena kami saudara kembar," jawab Albi yang tiba-tiba datang menghampiri Mega dan juga Alka kemudian Mega dan Alka pun menoleh ke arah Albi secara bersamaan.
Ya Tuhan, aku seperti sedang melihat pinang dibelah dua. Kenapa mereka sangat mirip sekali? dan selama ini aku tidak menyadarinya.
Mega begitu terkejut dengan kedatangan Albi, begitupun dengan Alka.
__ADS_1
"Albi, kenapa kamu disini? bukankah kamu menjemput Vanesha?" tanya Alka lalu Mega melepaskan tangan Alka.
"Tadi saat aku lewat kafe ini, aku tidak sengaja melihat mobilmu lalu aku penasaran dan akhirnya aku melihat kalian. Jadi jangan salahkan aku jika aku ada disini bersama kalian," jelas Albi namun ia tidak menjawab pertanyaan Alka mengenai Vanesha.
"Vanesha? apakah dia ibunya Nindya?" tanya Mega sambil menatap Albi dan Alka secara bergantian.
Albi maupun Alka saling bertukar pandang dan keduanya terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Mega. Mega pun semakin penasaran dengan kedua laki-laki yang ada dihadapannya.
"Baiklah jika diantara kalian belum ada yang mau menjelaskannya kepadaku tidak apa-apa. Tapi aku yakin cepat ataupun lambat aku akan mengetahui semuanya," ucap Mega dengan santai lalu duduk kembali di kursinya.
"Apakah kalian tidak mau duduk? yuk kita makan malam bersama," ajak Mega lalu Alka dan Albi mengangguk bersamaan kemudian mereka pun duduk dikursi.
Alka dan Albi tampak canggung dihadapan Mega, bahkan bibir mereka seakan kelu untuk menjelaskan semuanya.
Darimana aku harus menjelaskan kepada Mega tentang Albi? Kenapa otakku tiba-tiba menjadi buntu seperti ini? Albi kenapa sih kamu muncul, baru aja mau menceritakan semuanya kepada Mega. Apa jangan-jangan kamu sengaja supaya Mega tidak mengetahui semuanya?
Alka menggerutu di dalam hatinya, sesekali ia pun melirik kepada Albi. Sedangkan Albi hanya bersikap santai seperti tidak terjadi apa-apa.
Dilain sisi Mega menjadi bingung akan perasaannya. Kedua orang laki-laki yang ada dihadapannya ini merupakan orang yang sangat berjasa untuk dirinya.
Aku bahagia bisa bertemu dengan kak Albi kembali. Namun aku tidak tau rasa bahagiaku kepada kak Albi itu hanya bentuk terima kasih padanya atau aku jatuh cinta padanya. Tapi jika melihat kak Alka, aku seperti menemukan ada yang berbeda darinya. Laki-laki yang ramah dan juga penuh tanggung jawab. Ah kenapa aku membuat hatiku sendiri menjadi rumit sih!
Kalau dilihat dari dekat kamu cantik sekali Mega. Tidak berubah dari pertama kita bertemu 3 tahun yang lalu. Aku bahagia sekarang bisa melihat kamu tersenyum kembali. Aku tau hadirku saat ini sudah sangat terlambat, karena aku sudah terlanjur menikahi Vanesha dan memiliki anak dari Lusy. Aku bahkan masih bingung jika aku disuruh menjelaskan tentang hidupku setelah bertemu denganmu 3 tahun yang lalu.
Mega merasa Albi sedari tadi memperhatikannya. Mega pun menjadi salah tingkah.
Kenapa kak Albi memperhatikanku seperti itu? apa ada yang salah dengan diriku?
Beberapa menit kemudian ketiganya pun telah menyelesaikan makan malam mereka.
"Kak, aku pamit ke toilet sebentar ya," ucap Mega sambil berdiri dan mengaitkan slingbag dibahunya, lalu Alka dan Albi pun mengangguk bersamaan.
Mega pun pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Saat ia bercermin ia memperhatikan dirinya sendiri.
Ya Tuhan, semoga aku tidak jatuh hati pada orang yang salah kembali.
Tak lama Mega pun keluar dari toilet dan kembali ke mejanya. Saat Mega berada di belakang Alka dan Albi, Mega tak sengaja mendengar percakapan keduanya.
__ADS_1
"Albi jangan bilang kamu sengaja ya supaya aku gak cerita kepada Mega tentang kamu?" tanya Alka sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Apaan sih, enggak Alka. Tadi aku benar-benar tidak sengaja lewat terus melihat mobil kamu. Aku kira kamu bertemu lagi dengan Kiran," jawab Albi sambil menyandarkan punggungnya di kursi.
Apa? jadi Alka juga sudah memiliki seorang wanita. Lalu tadi? dan bunga itu? Astaga Mega! kenapa aku cepat sekali terbuai dengan perlakuan manis laki-laki sih.
"Udah deh jangan bahas Kiran, dia itu hanya masa laluku walaupun secara hukum kami belum resmi bercerai. Tapi selama kakek belum mengetahui status pernikahanku dengan Kiran semuanya akan aman kok," jelas Alka yang sangat terdengar jelas oleh Mega.
PRAAANGG!!
Hati Mega bagai hancur kembali menjadi berkeping-keping. Mega pun langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar dari kafe tersebut. Air matanya tak berhenti mengalir.
Mega langsung masuk ke dalam mobilnya.
"Pak kita ke makam ayah dan ibu ya," ucap Mega dan supir pun mengangguk.
Sepanjang jalan, Mega hanya tertegun. Memori otaknya memutarkan saat Alka memberinya persembahan yang begitu indah dan tidak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Kak Alka kenapa kamu tega menerbangkanku ke langit harapan yang begitu indah namun saat itu juga kamu hempaskan aku kembali ke bumi. Baru juga aku membuka hatiku kembali dan dengan mudahnya kamu membuatku merasakan rasa sakit yang sulit aku tahan.
Sedangkan di kafe Melody, Alka dan Albi menungggu kedatangan Mega kembali dari toilet.
"Ka, Mega kemana ya ? kok ke toilet lama sekali," tanya Albi sambil melihat arloji yang melingkar ditangannya.
"Aku juga gak tau Albi, aku coba tanya ke pelayan kafe deh. Siapa tau mereka melihat Mega," jawab Alka lalu berdiri dan berjalan menuju toilet.
Saat pelayan kafe melewati Alka, ia pun bertanya.
"Permisi, apakah kamu melihat seorang wanita cantik, rambutnya digerai memakai dress berwarna pink pastel?" tanya Alka.
"Oh iya tadi saya melihatnya, nona itu keluar kafe setelah keluar dari toilet. Tadi saya sempat melihat nona yang tuan maksud berdiri di belakang tuan-tuan lalu kemudian pergi keluar kafe sambil menangis," jawab pelayan kafe tersebut membuat Alka dengan susah payah menelan salivanya.
Apa Mega mendengarkan semua yang aku bicarakan dengan Albi? Astaga! bodoh sekali aku. Bahkan ia sampai menangis. Pasti dia mengira kalau aku ini lelaki br*ngsek!
Alka mengacak rambutnya merasa frustasi.
"Terima kasih," ucap Alka pada pelayan kafe tersebut lalu pelayan itu menundukkan kepalanya kemudian pergi dari hadapan Alka.
__ADS_1
Bersambung..