KELIRU

KELIRU
BONUS PART - KAMU DAN KENANGAN


__ADS_3

ALKA ADIDARYO POV


Wajah gadis itu selalu hadir dalam mimpiku setiap malam. Tawanya, sedihnya dan senyumannya membuat aku selalu enggan untuk bangun dari mimpi indah itu. Hingga suara alarm yang berasal dari smartphone milikku membuat aku mau tak mau kembali pada kenyataan yang ada.


Mega, ya dialah gadis itu. Gadis yang pernah mengisi hari-hariku, memberi warna dan rasa pada kehidupanku yang hambar. Gadis yang selama selalu membuatu mabuk kepayang. Tapi sayangnya gadis itu telah tiada untuk selama-lamanya. Kenangan bersamanya masih tertinggal di alam bawah sadarku setelah kepergiannya hari itu.


Hari dimana seharusnya menjadi hari yang paling bahagia untuk kami. Ya. Hari itu adalah hari pernikahanku dengan Mega. Pesta yang seharusnya diisi dengan canda dan tawa, beralih menjadi penuh tangis dan luka. Kepergiannya begitu sangat mengejutkan dan terasa mendadak, aku pun sampai lupa kalau Mega memiliki kanker yang mungkin suatu saat akan memisahkan aku dengannya. Walau aku tahu siapapun orangnya pasti akan mengalami hari itu. Hari kematian.


Mega, aku mengenalnya tanpa sengaja di tempat itu. West Frisian Island. Tempat yang menjadi saksi pada pertemuan pertamaku dengannya. Ku lihat dia saat itu tampak begitu menyedihkan dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi kedua pipinya. Aku terus memperhatikannya dari jauh.


Begitu sangat lucu jika aku mengingat kembali pertemuanku dengan Mega. Aku pikir semua wanita itu sama. Karena hatiku sudah seakan mati setelah pengkhianatan yang dilakukan mantan istriku satu tahun lalu. Tetapi kali ini aku melihat Mega sangat berbeda, seakan ia begitu sangat rapuh. Aku memberanikan diri mendekatinya lalu menepuk bahunya saat ia tengah bersimpuh di jalan yang sepi itu dan masih tetap menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa kamu menangis?" tanyaku padanya. Dan ia menoleh seraya menghapus air matanya.


"Bukan urusanmu," ia menjawab dengan ketus lalu bangkit dan berjalan kembali. Aku hanya tersenyum dan mengikutinya.


"Bisakah kita berteman?" tanyaku kembali namun Mega masih tetap berjalan. Ia bahkan tidak memperdulikanku. Aku pun terus mengikutinya.


Saat berada di persimpangan jalan langkahnya terhenti dan aku pun ikut berhenti, aku melihatnya tampak kebingungan saat itu. Mega menoleh ke arahku yang cukup jauh dari tempatnya berdiri. Entah kenapa aku selalu ingin tersenyum saat Mega melihatku saat itu.


"Kenapa berhenti?" tanyaku sambil menatapnya heran.

__ADS_1


"Aku tak tahu sekarang ada dimana, bisakah kamu mengantarku kembali ke tempat awal?" ucapnya dengan penuh ragu.


"Tapi tidak gratis ya," jawabku seraya tersenyum.


"Tidak gratis? maksudnya?" Mega bertanya seakan ia serius menanggapi perkataanku padahal sebenarnya aku hanya bercanda. Aku pun melihatnya seperti sedang berpikir. Seolah mengingat sesuatu yang kemungkinan ia tahu tentangku. Ia menatapku dengan lekat. Tak lama ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tersirat dari sorot matanya kalau aku bukanlah orang yang ia kenal sebelumnya. Ya, memang. Aku belum pernah bertemu dengannya, apalagi mengenalnya. Itu tidak mungkin.


"Iya, setelah ini kamu harus mau menjadi temanku," ledekku kembali namun lucunya ia justu menatapku dengan tajam. Aku sedikit merinding saat itu.


"Baiklah aku mau menjadi temanmu.” Jawaban Mega sedikit mengejutkanku, entah harus senang atau sedih karena aku merasa takut setelah pertemuan itu aku tidak bisa bertemu dengannya lagi.


Dengan percaya diri aku mengantarnya. Padahal jelas sekali aku tidak tahu setelah ini akan kemana. Mega mengikutiku dari belakang. Sebenarnya saat itu aku ragu mengambil jalan, tapi karena aku tak ingin melihat dia menunjukkan rasa kecewanya, akhirnya dia aku ajak ke suatu tempat yang menurutku sangat indah.


Setelah pertemuan itu aku tak menyangka Tuhan mempertemukanku kembali dengannya. Jujur sejak awal bertemu dengannya, hatiku seolah hidup kembali dan ingin mengenalnya lebih jauh lagi. Tapi sayangnya aku masih terikat pernikahan dengan mantan istriku saat itu. Aku pun tak berusaha mencari tahu tentangnya setelah pertemuan pertama dengannya.


Kemudian semesta seolah memihak kepadaku, dan disaat yang bersamaan satu kenyataan pahit harus aku terima. Karena ia menganggapku adalah Albi, saudara kembarku. Hatiku terasa sakit melihatnya menangis karena merasa kecewa padaku. Aku tak bermaksud membohonginya, aku hanya ingin dia tahu kalau aku mencintainya. Lagi-lagi aku harus bisa melepaskannya dengan ikhlas untuk kembaranku. Mega dan Albi bertunangan bersamaan dengan sidang keputusanku untuk bercerai dari mantan istriku. Hanya sebuah senyuman yang dapat aku tunjukkan pada mereka.


Hingga hari itu terjadi. Hari dimana Albi menghembuskan nafas terakhir setelah satu bulan lamanya ia mengalami koma yang diakibatkan oleh ibu kandung dari anak angkatnya. Nindya . Dan Albi memintaku untuk menggantikannya menjadi pendamping Mega serta ayah untuk Nindya putri kecilnya itu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. Aku pun tersentak.


Pernikahan mereka bahkan semakin dekat. Aku sempat bingung saat itu. Aku pun tak mungkin menjalani pernikahan tanpa adanya rasa cinta itu sendiri walau sebenarnya aku masih benar-benar mencintai Mega, tapi tidak dengan Mega yang begitu sangat mencintai Albi.


Akhirnya sebulan sebelum pernikahan itu terjadi, aku kembali meyakinkan Mega untuk bisa menerima cintaku dan menerimaku sebagai Alka bukan Albi. Dan Tuhan pun sangat baik sekali padaku, Dia memudahkan jalanku untuk bersama Mega. Perlahan Ia mulai mencintaiku dengan sepenuh hatinya dan meninggalkan Albi di masa lalunya.

__ADS_1


Satu hal yang membuatku sedikit terkejut, kebenaran yang sesungguhnya dari nenek Mega. Yaitu Nina. Beliau menceritakan semuanya tentang Mega padaku. Terutama masa lalunya yang membuat Mega selama ini mengalami trauma yang cukup dalam karena kecerobohannya sendiri yang pernah gagal menjaga mahkotanya. Aku hanya bisa termenung, seolah jantungku berhenti sejenak. Tak mungkin aku mundur, aku telah terlanjur mencintainya.


“Kalau kamu benar-benar mencintai Mega, terimalah dia bersama masa lalunya. Bagaimana pun keadaannya sekarang, dia hanya seorang wanita biasa yang selalu ingin belajar dari kesalahannya di masa lalu. Tapi jika kamu tidak mencintainya lebih baik bilang padaku sekarang, biar aku yang akan membawa pergi Mega dari hidupmu.”


Ucapan nenek seolah memberiku tamparan keras. Aku mencoba meyakinkan hatiku kembali, hingga akhirnya waktu membuatku bisa menerimanya. Ternyata mencintai itu bukan hanya sekedar membalas rasa yang sama. Melainkan seluruh yang ada didalam hidupnya. Saling memberi, menerima, merelakan dan juga berkorban. Menuai mimpi bersama, merajut asa, dan mengukir cerita indah di setiap detiknya.


Siapa sangka setelah kebahagiaan itu terjadi, hal terpahit pun datang menghampiriku dan juga Mega. Ketika senyum mulai merekah, seketika pula tangis pun pecah.


“Mega... Mega bangun...!!” isak tangis pun pecah saat aku menyaksikan ia menghembuskan nafas terakhirnya.


Semua yang berasal dari Tuhan, akan kembali kepada pemiliknya. Sang pengatur hidup seluruh makhluknya. Kepergian Mega menyadarkanku pada sebuah takdir. Dimana kematian adalah titik terakhir sebuah perpisahan. Aku bahagia pernah menjadi bagian hidupnya, melukis senyum diwajahnya. Walau bagiku sangat singkat, tapi dia dan kenangannya akan selalu aku rindukan. Dariku yang sangat mencintainya, Alka Adidaryo.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Bonus part ini aku terbitkan dalam satu buku bertajuk RISALAH RINDU. Isi dalam buku ini sendiri bukan hanya ada aku, tapi banyak teman-teman author yang meluapkan kerinduannya.



Jika ingin memiliki buku ini, segera dapatkan :


DM di IG aku @iqri.fau atau bisa langsung ke @wiselovehope ❤

__ADS_1


__ADS_2