
"Mamah!" pekik Clarissa membuat dokter dan para perawat menghentikan kegiatannya sejenak dan menoleh ke arah Clarissa.
"Dok, sus tolong mamah saya pingsan," ucap Clarissa lalu 2 orang suster membantu Kelly keluar dari ruang bersalin dan dibawa ke ruang IGD.
Stevan yang baru saja tiba di rumah sakit melihat Kelly diangkat oleh kedua orang suster bertubuh besar langsung tercekat kaget.
Ya Tuhan, istriku kenapa?
Stevan pun langsung ikut masuk ke dalam ruang IGD.
"Sus istri saya kenapa?" tanya Stevan yang mulai panik.
"Istri bapak pingsan setelah menemani ibu Clarissa melahirkan tadi diruang bersalin," jawab suster tersebut membuat Stevan menepuk keningnya.
"Astaga!" pekik Stevan.
"Terima kasih sus, lalu anak kami dan cucu kami bagaimana sekarang?" tanya Stevan.
"Anak bapak sehat dan selamat pak, cucu bapak perempuan dan keadaannya pun sehat serta sangat cantik seperti ibunya," jawab suster tersebut sambil tersenyum.
"Syukurlah, sekali lagi terima kasih ya sus," ucap Stevan dan kedua suster tersebut mengangguk sambil tersenyum.
Setelah dipasang selang infus dan juga diberi tambahan oksigen, kedua suster itu pergi meninggalkan Kelly dan juga Stevan.
Sementara di ruang bersalin Clarissa dan bayi nya baru saja selesai di bersihkan. Clarissa langsung dibawa ke ruang rawat inap, sedangkan bayinya dibawa keruangan khusus bayi karena masih membutuhkan perawatan khusus mengingat kandungannya masih kurang usia lahir.
Sebelum Kelly tersadar lebih baik aku mengurus administrasi lebih dulu deh.
Stevan keluar ruang IGD lalu menuju bagian administrasi. Beberapa menit kemudian Stevan kembali ke ruang IGD. Hampir setengah jam di ruang IGD, Kelly pun akhirnya tersadar dari pingsannya.
"Syukurlah kamu akhirnya sadar juga, kamu kenapa bandel sih mah? udah tau takut sama darah kenapa malah ikut nemenin Clarissa lahiran coba?" ucap Stevan dan Kelly pun langsung memasang wajah murung.
"Ya habisnya aku kasihan melihat Cla pah. Disaat dia sedang berjuang tapi suaminya malah pergi meninggalkan dia," jawab Kelly.
"Ya sudah, lain kali jangan terlalu dipaksakan ya," uca Stevan lalu mencium kening Kelly dengan penuh kasih sayang.
"Mamah udah makan belum?" tanya Stevan dengan nada lembut dan Kelly pun menggeleng lemah.
"Pantas saja sampai pingsan, belum makan pula. Jangan bilang tadi pagi juga belum sarapan," ucap Stevan sambil menatap lekat mata Kelly.
__ADS_1
"Iya pah, sejak pagi aku menemani Cla yang sedang kontraksi jadi aku gak sempat makan," kata Kelly dan Stevan hanya mencebikkan bibirnya lalu menghela nafasnya.
"Cla dan cucu kita bagaimana pah?" tanya Kelly sambil memegang kepalanya lalu merubah posisinya dari terbaring menjadi duduk.
"Pelan-pelan mah, kalau masih pusing lebih baik berbaring saja," timpal Stevan.
"Gak kok pah," sahut Kelly sambil menyandarkan punggungnya dengan bantal.
"Cla baik mah dan kata suster cucu kita juga sehat dan juga cantik," jawab Stevan membuat mata Kelly langsung berbinar-binar.
"Benarkah pah ? aku harus melihat cucu kita pah, ayok pah," ucap Kelly sambil merengek menggoyang-goyangkan lengan Stevan.
Beruntung ruang IGD tidak ada siapapun jadi Stevan tidak begitu malu dengan kelakuan Kelly yang merajuk seperti anak kecil yang ingin meminta permen. Stevan pun menganggukkan kepalanya.
Sebelum mengajak Kelly ke ruang rawat inap Clarissa, Stevan lebih dulu memanggil dokter untuk memeriksakan kondisi kesehatan Kelly. Tak lama dokter pun datang, Stevan tetap berada disamping Kelly sambil mengenggam erat tangan Kelly.
Beruntungnya punya suami yang selalu memberikan perlakuan lembut padaku. Ya Tuhan semoga jika Cla memang masih berjodoh dengan Sahrul. Buatlah Sahrul berubah menjadi lebih baik demi Cla dan juga anak mereka.
Kelly menyunggingkan senyum tipisnya yang hampir tak terlihat, terkadang sesekali ia pun melirik ke arah Stevan. Walaupun wajah Stevan sangatlah dingin, namun hatinya begitu sangat lembut. Berkat rayuan maut Kelly, itulah kenapa akhirnya hati Stevan luluh dan menerima Clarissa kembali ke rumah.
"Pak, setelah saya cek kondisi ibu Kelly sudah lebih baik dan wajahnya pun tidak sepucat tadi. Jadi jika ibu Kelly rasa sudah tidak pusing, maka selang infusnya sudah bisa kami lepas," ucap dokter tersebut.
"Terima kasih dok, mah apakah masih terasa pusing?" kata Stevan kepada dokter lalu bertanya pada Kelly.
Suster yang bersama dokter tersebut pun mencabut selang infus Kelly. Hati Kelly begitu bahagia, ia merasa tak sabar ingin bertemu dengan Clarissa dan juga cucunya.
Setelah selang infus dilepas, Kelly turun dari tempat tidur dengan sigap Stevan membantu Kelly. Dokter dan suster pun pamit pergi meninggalkan Stevan dan juga Kelly.
"Terima kasih suamiku," ucap Kelly sambil tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya pada Stevan membuat Stevan menjadi salah tingkah.
"Sama-sama, jangan menatapku seperti itu ini masih dirumah sakit mah," kata Stevan dingin sambil menundukkan wajahnya lalu Kelly pun tertawa cukup keras, dengan cepat Stevan menutup mulut Kelly dengan telapak tangannya.
"Mah ini rumah sakit loh," pekik Stevan.
"Iya pah maaf, aku kelepasan," ucap Kelly sambil mengatur nafasnya kembali.
Kemudian keduanya keluar dari ruang IGD dan pergi ke ruang rawat inap Clarissa.
"Mah kita main jalan aja, kan kita belum tahu Clarissa diruang rawat inap berapa," ucap Stevan sambil menghentikan langkahnya membuat Kelly ikut berhenti.
__ADS_1
"Oh iya ya pah, papah juga ikut oleng ya kayak aku?" tanya Kelly sambil menahan tawanya.
"Ih mamah ini, kita tanya dulu deh ke petugas admin," seru Stevan dan keduanya kembali ke lobby yang letaknya berada di samping IGD.
"Permisi sus, saya mau tanya pasien yang baru saja melahirkan atas nama Clarissa Andarini dirawat diruangan berapa ya?" tanya Kelly pada petugas administrasi.
"Mohon ditunggu sebentar ya bu," ucap petugas tersebut lalu mencari data melalui komputer yang ada di hadapannya.
"Nyonya Clarissa Andarini berada di lantai Persia ruang nomor 4119," sambung petugas administrasi tersebut.
"Oh baik sus terima kasih ya," ucap Kelly sambil tersenyum.
"Sama-sama bu," kata petugas administrasi tersebut.
Kelly dan Stevan langsung menuju ruangan yang telah di beritahukan oleh petugas administrasi tadi. Keduanya pun masuk ke dalam lift untuk naik ke lantai Persia.
TING (lift berhenti)
Kelly dan Stevan keluar dari lift dan mencari ruangan Clarissa. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka menemukan ruangan tempat Clarissa di rawat.
"Permisi," ucap Kelly dan Stevan bersamaan.
Clarissa pun menoleh ke arah pintu yang terbuka.
"Mamah, papah," seru Clarissa yang sedang bersandar sambil menonton televisi sementara anaknya masih berada di ruangan khusus bayi.
Kelly langsung menghampiri Clarissa dan memeluk Clarissa sangat lama.
"Mamah tidak apa-apa? sejak tadi aku kepikiran takut mamah kenapa-kenapa," ucap Clarissa yang hampir menangis.
"Mamah gak apa-apa sayang, selamat ya sekarang udah jadi ibu," kata Kelly sambil mengelus punggung Clarissa dengan lembut.
"Syukurlah mah, makasih ya mah udah selalu menguatkan aku," ucap Clarissa sambil melepaskan pelukannya dan menatap Kelly dengan mata yang sudah berca-kaca.
"Apapun akan mamah lakuin demi anak mamah," kata Kelly sambil mengelus lembut pipi mulus Clarissa.
"Cucu kami mana Cla? belum dibawa kesini?" tanya Stevam yang mengalihkan pembicaraan karena ia takut akan ikut terbawa suasana haru juga.
"Belum pah, kan baby sebenarnya belum cukup usia lahir jadi masih butuh perawatan ekstra," jawab Clarissa.
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruang rawat inap Clarissa terbuka. Mereka pun langsung menatap ke arah pintu secara bersamaan. Tanpa disangka mata mereka membulat dengan sempurna.
Bersambung..