
Rumah Nina
Keesokan harinya, Mega pun sudah bangun lebih awal. Ia memeriksa kembali apa saja yang akan ia bawa di hari pertamanya ia masuk ke kampus. Setelah ia lihat sudah semua, Mega membawa tasnya dan keluar dari kamar.
Mega menuruni anak tangga sambil bersenandung riang, kondisi hatinya semakin membaik saat ini. Setibanya di ruang makan, Mega belum melihat keberadaan Nina disana.
Nenek kemana ya? apakah masih di kamar? ya sudahlah lebih baik aku segera sarapan.
Mega duduk dikursi dan menaruh tasnya di kursi lainnya yang masih kosong. Diatas meja makan sudah tersedia berbagai macam makanan dari nasi goreng, roti beserta selai, pasta dan juga salad.
Nina sengaja menyuruh para pelayan setiap kali makan pagi, siang ataupun malam untuk menyediakan hidangan yang beragam. Karena bukan hanya dirinya atupun Mega saja yang makan, namun para pelayan di rumah pun bisa ikut makan. Itulah sikap rendah hati Nina yang diturunkan kepada Mega.
Saat Mega sedang menikmati sarapannya, Nina pun baru saja keluar kamar dan berjalan menuju ruang makan.
"Selamat pagi cucu nenek yang sangat cantik," sapa Nina sambil tersenyum.
"Selamat pagi nek, ayok nek sarapan," ajak Mega tersenyum sambil menoreh ke arah Nina.
"Kamu makan yang banyak ya, supaya nanti bisa konsentrasi saat belajar," ucap Nina sambil duduk di kursi.
"Gak boleh kebanyakan makan dong nek, nanti yang ada aku jadi tertidur di kelas karena kekenyangan lalu mengantuk," kata Mega sambil terkekeh.
"Oh seperti itu ya?" tanya Nina sambil tertawa dan Mega pun mengangguk cepat, sementara Nina tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka pun menikmati sarapan bersama. Beberapa menit kemudian, Mega pun telah selesai menghabiskan sarapannya.
"Nek, aku berangkat sekarang ya. Nenek hari ini ada urusan gak?" pamit Mega lalu bertanya pada Nina.
"Iya, kamu hati-hati ya. Rencananya nenek hari ini akan keperusahaan pusat karena ada meeting penting dengan para pemegang saham," jawab Nina sambil menyantap sarapannya.
"Baiklah kalau begitu nenek hati-hati dijalan ya, semoga lancar meeting nya, bye nek," ucap Mega lalu mengecup pipi Nina dan pergi keluar rumah sambil melambaikan tangannya.
"Iya sayang kamu juga hati-hati di jalan dan selamat belajar," teriak Nina lalu melambaikan tangan pada Mega dan Mega pun mengangkat ibu jarinya.
Sesampai di teras rumah, Mega langsung masuk ke dalam mobil yang sebelumnya sudah dibukakan pintu mobilnya oleh supir.
"Pagi pak, terima kasih," sapa Mega.
"Pagi non, sama-sama," ucap supir tersebut sambil menundukkan kepalanya lalu menutup pintu mobil. Kemudian supir itu pun langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya.
🌾
Universiteit van Amsterdam
Mobil yang Mega tumpangi baru saja sampai di tempat parkir kampus. Mega pun turun dari mobilnya dan berjalan menuju kelasnya.
Dari kejauhan Mega melihat seorang laki-laki yang ia rasa tak asing.
Bukankah itu kak Albi? kenapa dia bisa di kampus ini? dari pakaiannya dia bukan seperti mahasiswa melainkan lebih kepada dosen atau asistant dosen.
Mega menghampiri laki-laki yang disangkanya itu adalah Albi.
__ADS_1
"Hai, selamat pagi," sapa Mega dan laki-laki itu yang tadinya menunduk langsung mengangkat wajahnya.
"Oh hai, Mega?" tanya laki-laki itu sambil tersenyum.
Ada angin apa masih pagi sudah di datangi oleh bidadari.
"Kakak sedang apa disini?" tanya Mega ragu-ragu.
"Aku? disini memang tempatku Mega," jawab laki-laki itu.
Kenapa Mega memanggilku dengan sebutan kakak? sepengetahuanku, Mega tidak tahu usiaku berapa sekarang dan aku pun tidak tahu usianya berapa.
"Bukankah kakak baru saja pulang dari perjalanan bisnis kemarin?" tanya Mega.
Perjalanan bisnis?Astaga! apakah Mega bertemu dengan Albi? Aish aku lupa kalau wajah kami memang sangat mirip sekali.
Alka hanya menggaruk lehernya yang tak gatal membuat Mega menatapnya bingung.
Bagaimana aku menjelaskannya ya? Ah yasudah lah lebih baik aku ceritakan saja.
"Hemm, Mega apakah kamu baru masuk di kampus ini?" tanya Alka dan Mega pun mengangguk.
"Begini saja, setelah kelas kamu selesai, kita ketemuan kembali ditempat ini ya. Soalnya aku ada jadwal kelas juga" ucap Alka.
"Baiklah kalau begitu kak, aku ke kelas dulu ya, bye kak," kata Mega lalu pergi dari hadapan Alka.
Batin Mega pun masih bertanya-tanya.
🌾
Rumah Clarissa
Sedari tadi Kelly sudah kelimpungan karena Clarissa sudah merasakan kontraksi yang mulai sering terjadi. Stevan, papah Clarissa masih dalam perjalanan pulang dari Kanada.
Clarissa masih terus memainkan gymball di dalam kamarnya sambil sesekali merintih merasakan sakit dan panas dibagian punggung belakang.
Ya Tuhan kenapa rasanya nikmat sekali? bahkan kakiku sampai mati rasa karena terus berada di atas gymball ini.
Sesekali Clarissa pun berjalan-jalan disekitar kamarnya. Saat kontraksi itu datang, Kelly langsung dengan sigap mengelus punggung belakang Clarissa supaya Clarissa bisa lebih nyaman.
"Sayang apakah masih kuat untuk berjalan? kita ke rumah sakit aja ya nak," tanya Kelly dengan penuh kekhawatiran.
"Aku masih kuat kok mah, yuk. Tapi apakah tasku sudah siap semuanya?" ajak Clarissa kemudian bertanya pada Kelly.
"Sudah kok, sini biar mamah bantu nak," jawab Kelly kemudian memegang lengan Clarissa dan membantunya berjalan keluar dari kamar.
Saat menuruni tangga, tiba-tiba kontraksi dahsyat pun menguasai Clarissa. Ia hanya bisa memegang erat pegangan tangga tersebut sambil membungkukkan tubuhnya.
"Bi, bibi tolong saya bi," teriak Kelly karena sudah sangat panik beruntung Clarissa masih tetap tenang dan tidak terpengaruh dengan kepanikan Kelly.
Beberapa pelayan rumah pun menghampiri Kelly dan Clarissa yang masih berada di pertengahan anak tangga.
__ADS_1
"Ayok nona biar kami bantu, nona tetap atur nafas ya supaya bayi dalam kandungan nona juga bisa bernafas," ucap salah satu pelayan yang sudah memegangi lengan Clarissa dan Clarissa pun hanya mengangguk sambil merintih.
"Aw! sakit sekali kakiku sudah lemas rasanya," pekik Clarissa sambil memegangi perut bawahnya.
Tiba-tiba..
PLURRRRR
air ketuban pun pecah dan mengalir dari dalam dress yang Clarissa pakai.
"Mah aku pipis mah, tapi kok gak kerasa pipis ini air apaan mah?" tanya Clarissa yang mulai panik.
"Non, ini air ketuban non sudah pecah, ayok non jalan pelan-pelan. Non harus segera dibawa ke rumah sakit sebelum bayinya keluar disini," jawab salah satu pelayan rumah yang sudah pernah melahirkan.
Clarissa pun menurut, ia tetap mengatur nafas dan berjalan dengan perlahan lalu kedua tangannya memegangi perut bagian bawahnya.
Sabar ya nak, ibu akan menjagamu. Baik-baik disana, sebentar lagi kita ketemu nak.
Tanpa aba-aba cairan bening mengalir dari pelupuk mata Clarissa melewati pipi mulusnya. Kelly dan Clarissa pun masuk ke dalam mobil dengan keadaan dress yang Clarissa pakai sudah basah dengan air ketuban.
RSIA BUNDA
Beberapa menit kemudian, keduanya telah sampai di rumah sakit. Kelly langsung memanggil perawat dan meminta tolong untuk dibawakan kursi roda. Namun ditolak oleh Clarissa.
"Mah gak usah pakai kursi roda," sahut Clarissa dan Kelly pun menoleh.
"Kenap sayang ? biar cepat masuk ke dalam, pakaian kamu sudah basah pula," tanya Kelly.
"Biarkan aku jalan aja, supaya mempercepat bukaan mah," jawab Clarissa dan Kelly pun mengangguk.
"Sus gak jadi kursi rodanya ya," ucap Kelly saat seorang suster sudah membawa kursi roda untuk Clarissa. Suster itu pun mengangguk sambil mengembalikan kembali kursi roda tersebut ke tempat semula.
Sesampai di IGD, dokter obygn pun datang untuk mengecek bukaan pada Clarissa. Kelly setia mendampingi anak semata wayangnya yang sedang berjuang untuk melahirkan calon cucunya.
"Bu ini sudah bukaan 8, mari langsung saja ke ruang bersalin. Apakah ibu bisa jalan sendiri?" ucap dokter tersebut kemudian bertanya pada Clarissa.
"Bisa dok," jawab Clarissa dan dokter pun mengangguk.
Dengan sabar, dokter membantu Clarissa berjalan menuju ruang bersalin ditemani juga dengan Kelly. Sesampai ruang bersalin Clarissa membaringkan tubuhnya lalu membuka kedua kakinya.
Dan kali ini Clarissa merasakan sakit yang lebih dahsyat dari sebelumnya. Dokter dan beberapa perawat lainnya sudah bersiap-siap untuk melakukan proses persalinan Clarissa.
Kelly yang sebenarnya sudah lemas karena dia terlalu panik, sebisa mungkin ia harus kuat menemani anak semata wayangnya berjuang mempertaruhkan nyawanya. Setelah cek pembukaan, akhirnya sudah pembukaan lengkap. Clarissa mengejan sekuat tenaga, dan saat mengejan yang keempat kalinya bayinya pun lahir.
Oeek.. Oeeek.. Oeekk..
Clarissa menitikkan air matanya penuh haru dan bahagia. Namun wajah Kelly yang sejak tadi sudah pusat pasi, akhirnya pingsan.
BRUUUUKKK
Clarissa langsung menoleh ke arah Kelly.
__ADS_1
"Mamah!"