KELIRU

KELIRU
HANYA INGIN TAHU


__ADS_3

"Dam ... " ucap Mega sambil berpikir sejenak.


"Iya? kenapa, Ga?" tanya Damar sambil mengangkat kepalanya lalu tersenyum.


"Menurut kamu keperawanan itu penting tidak?" tanya Mega.


"Pentinglah Ga!" sergah Damar membuat Mega tercekat. "Itu tandanya, wanita itu menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya kelak," sambungnya dengan santai.


"Kalau misalnya kamu berada diposisi dimana wanita yang baru saja menjadi istrimu itu sudah tidak perawan bagaimana?" cerca Mega yang berusaha bersikap tenang.


Damar mengerutkan kedua alisnya lalu menarik napasnya dalam-dalam.


"Ya ... sebelum pernikahan itu terjadi, lebih baik aku tinggalkan. Aku tidak maulah punya istri bekas orang lain sedangkan aku saja tidak pernah menyentuh wanita walau hanya berpagutan sekalipun," terang pria itu membuat Mega semakin tercekat. Hati Mega mulai gelisah. Mata kanannya mulai terasa berkedutan. Mungkin sebentar lagi ia akan ... menangis?


"Memangnya ... kenapa kamu bertanya seperti itu? apa ada yang kamu sembunyikan dariku?" sarkas Damar yang secara tidak langsung menyimpulkan seperti ada yang tidak beres dengan wanita yang ada di hadapannya itu.


Ya Tuhan ... tatapan matanya Damar membuatku mati kutu. Tenang Mega ... tenang ....


"Aku ... hanya ingin tahu aja, karena selama ini banyak yang sama sekali tidak memperdulikan tentang keperawanan itu sendiri. Dan ... aku hanya ingin tahu pendapatmu," jelas Mega dengan santai.


"Oh, memang ... tapi itu sama sekali tidak berlaku untukku. Keperawanan itu sangatlah penting bahkan sangat penting," tegas Damar dan lagi-lagi Mega tercekat.


DEG! ... Ya Tuhan aku harus persiapkan hatiku jika setelah Damar tahu akan kebenarannya, dia pasti akan meninggalkanku.


****


Malam pun semakin larut, Damar dan Mega memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Ga, maaf ya aku harus pulang duluan," pamit Damar. Mega merasa heran saat melihat Damar tampak terburu-buru itu.


"Ada urusan yang sangat penting?" tanya Mega dengan hati-hati. Damar tersentak lalu perlahan memakai jaketnya kembali.


"Iya ... tadi aku ke sini bersama sepupuku, sekarang aku harus menjemput nya kembali." Damar berbohong dan seketika menjadi kikuk. Tidak mungkin dia bilang kalau dia ke sini bersama seseorang.


Mega hanya menganggukkan kepalanya, mencoba untuk percaya pada pria yang dicintainya itu. Damar akhirnya pergi dari hadapan Mega.


Setelah Damar pergi dari hadapannya, ia menghubungi Madih untuk menjemputnya di kafe. Tak lama, mobik yang dikendarai Madih telah sampai di halaman kafe itu. Mega keluar dan berjalan menuju mobilnya.


Sesampainya dirumah, Mega masih kepikiran dengan ucapan Damar. Siap tidak siap. Mulai detik ini, ia harus bisa merelakan Damar. Mega hanya tertegun di kamarnya hingga waktu terasa bergulir begitu cepat. Mega pun akhirnya terlelap dalam tidurnya.


****


Pagi pun tiba, Mega bangun lebih awal, padahal semalam baru ia baru saja tertidur pukul dua dini hari. Dan hari ini, Mega berencana untuk ke sekolahnya. Sebab, sejak kelulusannya beberapa hari yang lalu, ia belum sempat mengambil ijazahnya.


Ia turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi. Tak sampai satu jam, iapun keluar dari kamar mandi itu. Mega masuk ke dalam ruang ganti pakaian yang ada di dalam kamarnya. Dipilihnya celana jeans dan blouse berwarna hitam. Tak lupa ia memoles make up tipis di wajahnya.m kemudian ia mengepang rambut panjangnya itu.


Setelah selesai, iapun menyambar slingbag nya lalu keluar dari kamar menuju ruang makan.


"Non Mega pagi-pagi sudah rapi ... jadi mau ke sekolah?" tanya Surti saat ia melihat Mega sedang menuruni anak tangga.


"Jadi Bi ... yang lain pada kemana?" tutur Mega seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu.

__ADS_1


"Begini Non ... pak Madih sama Ubed katanya sudah makan nasi uduk yang ada di depan kompleks, terus bibi sama Udin sedang puasa hari ini," jawab Surti dan Mega pun ber oh ria.


Pagi ini, Mega menikmati sarapannya sendiri, walau terasa sepi namun ia memakannya dengan sangat lahap.


"Non ... Bibi turut berduka cita ya atas meninggalnya tuan dan nyonya," ucap Surti sambil menuangkan air ke dalam gelas Mega.


Seketika membuat Mega menghentikan makannya sejenak lalu menatap Surti.


"Iya ... terima kasih ya Bi. Selama ini sudah selalu baik sama Mega. Memang sudah seperti ini jalan hidup Mega," ucap Mega dengan lirih, Surti menatapnya iba.


Mega pun segera menyelesaikan sarapannya kemudian berangkat ke sekolahnya.


****


Setibanya di sekolah, Mega berjalan dengan santai menuju ruang tata usaha. Saat dirinya hendak masuk ke ruangan itu, tiba-tiba ada yang memanggil Mega.


"Mega!" teriakan suara laki-laki terdengar di telinga Mega, membuat dirinya yang merasa dipanggil langsung menoleh.


Bimo?


Mega melihat ternyata Bimo yang memanggilnya sambil melambaikan tangannya. Namun Bimo tidak sendiri, ia bersama Clarissa disana.


Bimo? bersama Clarissa. Kenapa mereka bisa berduaan disana? bukankah Clarissa itu dulunya bersama Sahrul? bodo amat deh.


Mega hanya membalas lambaian tangan Bimo dan tersenyum lalu Mega membalikkan tubuhnya kemudian melangkahkan kakinya kembali masuk ke dalam ruang tata usaha.


Setelah urusan ijazah selesai, Mega keluar dari ruangan itu dan hendak pergi ke tempat parkir karena disana telah ada Madih yang menunggunya. Tiba-tiba Clarissa memotong langkah ya dengan berdiri di hadapan Mega.


"Aku mau bicara sama kamu sekarang!" Clarissa kemudian menarik tangan Mega menjauh dari sana.


"Clarissa, tunggu! bisa tidak 'sih jangan menarik lenganku seperti ini!" Mega memekik sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Clarissa di lengannya itu.


Dengan sekuat tenaga, Mega menghempaskan tangan Clarissa membuat sang empunya tersentak.


"Bisa 'kan ngomong baik-baik dan tidak usah berlaku kasar seperti tadi?" sindir Mega sambil merapikan kembali pakaiannya.


"Oke, aku minta maaf!"


Mega mendengkus kesal dengan sikap kekanak-kanakan Clarissa.


"Apa kamu tahu dimana keberadaan Sahrul sekarang?" tanya Clarissa yang merendahkan nada bicaranya. Lalu memberi sorot sedih kepada Mega.


Mega mengernyitkan keningnya. "Sahrul? apa hubungannya denganku? sudah lama aku dan dia tidak pernah bertemu ataupun bertegur sapa. Lagian kenapa bertanya padaku? bukankah kamu pacarnya?" timpal Mega sambil tersenyum menyeringai.


Seketika wajah Clarissa berubah kembali. Terlihat jelas raut kemarahan dari tatapan yang ia berikan kepada Mega. Iapun memicingkan matanya.


"Karena kamu adalah orang yang membuat Sahrul menjauh dariku!" sarkas Clarissa membuat Mega terkejut. Kendati memang setelah ia memutuskan Sahrul di toilet beberapa waktu lalu, dirinya tidak pernah lagi menoleh kepada pria yang menurutnya brengsek itu.


Mega masih terdiam dan mendengarkan apa yang akan dikatakan Clarissa selanjutnya. "Asal kamu tahu, Mega. Aku sedang mengandung anaknya! apa kamu tega membiarkan anak ini lahir tanpa seorang ayah!" bentak Clarissa pada Mega. Lagi-lagi membuat Mega kaget dan juga bingung.


Kendati Mega memang tidak bersalah dan tidak juga melakukan apa-apapun, ia bersikap setenang mungkin. Mega menarik napasnya dalam-dalam.

__ADS_1


Ini orang stres sepertinya! mereka yang berbuat aku yang disalahkan. Kewarasannya sudah hilang!


Dari kejauhan Bimo yang melihat Clarissa sedang memaki Mega dengan angkuhnya. Ia pun mempercepat langkahnya untuk menghampiri mereka.


"Ada apa sih, Cla?" tanya Bimo pada Clarissa.


"Aku benci sama dia! dia sudah membuat Sahrul pergi dari hidupku!" sarkas Clarissa kembali dengan matanya sudah memerah karena amarah yang telah menguasai dirinya.


Mega menatap Bimo sambil mengerutkan keningnya.


"Bim sebenarnya ada apa sih antara Sahrul sama wanita ini? jelasin coba! aku ingin dengar yang sejujur-jujurnya. Aku tidak suka dibohongi sama permainan kalian lagi!" tegas Mega sambil memicingkan matanya.


Bimo menatap Clarissa tampak ragu dan sekilas ada ketakutan dar sorot matanya. Mega memandang Bimo dengan lekat. "Sebaiknya kita bicarakan ditempat lain ya jangan disini, biar Clarissa ikut denganku," jawab Bimo dengan cepat.


"Baiklah aku mengikuti kalian motor kalian dari belakang," ucap Mega sambil memijat keningnya. Mereka pun pergi ke tempat parkir bersama yang kemudian menuju tempat yang Bimo maksud.


Saat Mega telah masuk ke dalam mobilnya, ia memerintahkan Madih untuk mengikuti motor yang dikendarai Bimo dari belakang.


Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai di sebuah kafe. Mega pun turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kafe itu. Demikian dengan Bimo dan juga Clarissa.


Mega berjalan dibelakang Bimo ran Clarissa. Saat ia masuk, dirinya begitu tersentak saat melihat Damar bersama seorang wanita di kafe itu.


DEG ... itukan Damar? bukankah ini masih jam kantor? kenapa Damar bersama seorang wanita disini? mereka kelihatanya akrab sekali.


"Mega!" teriakan Bimo sampai terdengar di telinga Damar yang berada tak jauh dari sana.


Damar pun menoleh ternyata benar. Mega di kafe yang sama dengannya.


Mega? sedang apa dia kesini? dan dia bersama seorang laki-laki dan wanita yang tengah hamil.


Damar bertanya-tanya dalam hatinya.


"April sepertinya kita harus pergi dari kafe ini sekarang!" ajak Damar lalu keduanya pun pergi dari kafe itu sebelum Mega menghampirinya.


Sesaat Mega telah duduk, Mega melihat kembali ke arah meja yang ia yakini ditempati Damar tadi.


Loh kok tidak ada? bukankah barusan masih ada? lalu kemana perginya mereka?


Mega merasa aneh dengan tingkah Damar, namun ia segera menepisnya.


"Aku mau pesankan minuman dan makanan dulu ya," ucap Bimo kemudian berdiri. Mega dan Clarissa pun mengangguk bersamaan.


Setelah memesan makanan serta minuman, Bimo pun kembali ke mejanya.


"Jadi apa yang sebenarnya telah terjadi?" tanya Mega to the point sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Sebelum aku jelasin, aku mau tanya satu hal sama kamu Mega," jawab Bimo.


"Tanya apa?" tanya Mega.


"Apa benar kamu yang tinggal dirumah mewah itu?" tanya Bimo membuat Mega tercekat.

__ADS_1


__ADS_2