KELIRU

KELIRU
TRAGEDI


__ADS_3

Albi mempercepat langkahnya, lalu ia terus mencari keberadaan Nindya. Albi mempertajam pendengarannya. Hingga tiba di lantai 5 gedung rumah sakit. Albi membulatkan matanya dengan sempurna saat ia melihat Nindya tengah duduk di ujung tangga sambil memeluk kedua lututnya terlihat tubuhnya bergetar karena hanya memakai pakaian tipis khusus


pasien rumah sakit berwarna hijau toska.


"Ya Tuhan, Nindya!" teriak Albi lalu berlari menghampiri Nindya. "Kamu kenapa bisa ada disini nak?" Albi yang dipenuhi rasa khawatir sambil memeriksa suhu tubuh Nindya.


"Dad-dy, di-ngin.. to-long dad di-ngin," ucap Nindya dengan suara yang begitu bergemetar.


"Ya Tuhan siapa yang tega melakukan ini padamu? sungguh tak berperasaan! peluk daddy sayang, daddy akan membawamu pergi dari sini," Albi sambil merengkuh Nindya lalu menggendongnya. Terlihat tangan Nindya terluka, seperti ada yang sengaja melepas paksa jarum infus yang masih terpasang di tangan Nindya.


Benar-benar keterlaluan bahkan dia telah melakukan kekerasan terhadap anak sekecil Nindya!


Albi pun semakin geram namun ia harus tetap berpikir jernih. Albi membawa Nindya pergi dari sana, dengan langkah cepat Albi menuruni anak tangga. Saat Albi sudah sampai dipertengahan anak tangga, seorang wanita meneriakinya.


"Tunggu!"


PROK PROK PROK


Albi menoleh ke asal suara tersebut. Kemudian Albi memicingkan kedua matanya lalu memberikan tatapan membunuh pada wanita itu.


"Ternyata kamu wanita b********! kenapa kamu tega membuat Nindya seperti ini hah! tunggu pembalasanku Lusy!" teriak Albi sambil memberi tatapan penuh kebencian pada Lusy. Sedangkan Lusy hanya terkekeh mendengar ancaman Albi.


Tanpa Albi tahu, di depan pintu tangga darurat satu lantai di bawah Albi berada, ada Alka yang menghentikan langkahnya setelah berlari mengitari rumah sakit. Namun saat ia hendak pergi dari tempatnya berdiri, Alka langsung tersentak kaget saat Albi meneriaki nama Lusy dengan sangat keras sehingga dapat terdengar sampai luar. Alka menghentikan langkahnya lalu mulai mendekati pintu tersebut.


Bukankah itu suara Albi? dan apa benar wanita itu adalah Lusy? Aku harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat.


Alka langsung menghubungi polisi untuk segera datang ke rumah sakit. Dengan perlahan Alka mendekat kembali lalu meraih gagang pintu tersebut. Alka membuka sedikit pintunya, namun ia tidak menemukan keberadaan Albi. Alka pun masuk ke dalam kemudian berjalan dengan perlahan mencari asal suara keriburtan itu. Ia mulai menaiki anak tangga. Saat Alka sudah berada dipertengahan, ia melihat Albi sedang menggendong Nindya yang sudah pucat pasih. Mata Alka membulat dengan sempurna saat Lusy mulai mengeluarkan pistol dari saku celananya.


Dibelakang Lusy ternyata ada Samudera yang tengah berjaga untuk melindungi Lusy. Alka langsung mengirimkan lokasinya kepada pihak kepolisian.

__ADS_1


Dengan langkah cepat, para polisi sudah berada di area rumah sakit. Para pasien dan perawat terlihat sangat gelisah dengan kedatangan para polisi tersebut.


Sementara di dalam ruangan tangga darurat, Alka masih terus memperhatikan Albi dan juga Lusy.


"Silahkan aja kalau kamu berani membalasku. Karena setelah ini nyawamu dan bocah itu akan melayang. Dan aku gak akan melihat kamu ataupun bocah s*** itu!" ucap Lusy dengan santainya sambil memainkan sebuah pistol yang ada ditangannya. Ingin rasanya saat itu juga melawan Lusy namun kesehatan Nindya jauh lebih penting daripada terus melayani Lusy.


Lihat aja kamu Lusy! setelah ini akulah yang gak akan pernah melihatmu lagi!


Albi memilih pergi dan tidak menghiraukan Lusy .Saat Albi sudah mulai turun ke bawah mendekati Alka, dengan cepat Alka langsung turun kembali ke bawah dan membukakan pintunya untuk Albi serta Nindya.Tiba-tiba...


DRUAAAARRR


Peluru pun tepat tertanam di punggung Albi. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Tapi demi Nindya Albi terus berjalan menuruni tangga sampai ke pintu keluar.


Ya Tuhan beri aku kekuatan, jangan ambil aku lebih dulu Tuhan sebelum aku melihat kedua wanita yang aku sayangi bahagia.


Sekuat tenaga Albi terus melangkah menuruni anak tangga. Lusy pun mengejarnya, hingga akhirnya saat Lusy akan mengarahkan pistolnya kembali, kali ini sasarannya adalah Nindya. Tiba-tiba beberapa anggota polisi berhasil menerobos pintu masuk area tangga darurat yang sebelumnya pintu itu sudah dijaga oleh Alka.


"Astaga! Lusy!" pekik Alka lalu mengepalkan kedua tangannya dan menatap tajam kearah Lusy. Para anggota polisi pun langsung mengepung Lusy dan juga Samudera. Alka denga sigap mengambil Nindya dari tangan Albi yang tengah kesakitan.


"Suster! suster tolong sayaa!" teriak Alka yang mulai panik. Lalu beberapa perawat yang berada dilantai itu langsung mengambil tempat tidur. Albi dan Nindya pun dibawa ke ruang emergency lebih dulu diikuti oleh Alka.


Nina, Pinkan, Dona dan Irfan langsung berdiri bersamaan saat mereka melihat Albi dan Nindya berada diatas tempat tidur. Saat Alka tengah melewati Nina, Nina pun mengerutkan kedua alis matanya meminta penjelasan.


Setelah sampai di ruangan emergency, Albi dan Nindya langsung ditangani petugas medis. Setelah hampir 1 jam lamanya, kini Nindya sudah dimasukkan ke dalam ruang ICU sedangkan Albi masih berada di ruang emergency bersama Mega. Dengan setengah kesadarannya, Albi menatap Mega yang terbaring tak jauh dari tempatnya.


Kini kita diruang yang sama. Berjuang untuk tetap hidup demi kebahagiaan kita. Kamu tau sayang, hal yang paling aku impikan. Aku ingin, baik saat aku memejamkan mata dan membuka mata orang yang pertama aku lihat adalah kamu.


Albi menghela nafasnya lalu tak sadarkan diri. Terlihat buliran sisa air mata yang mengalir dari kedua sudut matanya. Para petugas medis dan dokter pun langsung mengobati luka tembak yang berada di punggung Albi.

__ADS_1


Di luar ruangan, Adidaryo menemani Nindya di ruang ICU. Sedangkan Alka ikut bersama Nina, Pinkan, Dona dan Irfan duduk di depan ruang emergency.


Kak Alka tampak gelisah sekali, kenapa aku semakin tertarik padanya? kalau semakin di perhatikan dia sangat tampan sekali.


Tanpa Alka sadari Pinkan sejak tadi memperhatikannya dengan seulas senyuman tipis yang terukir dari kedua sudut bibirnya yang hampir tak terlihat.


🌾


Indonesia


Pagi pun tiba menyapa tanah air yang sangat cerah di pagi ini.


Kediaman Kelly


Sahrul yang baru saja bangun dari tidurnya, langsung dibangunkan oleh Clarissa karena ada tamu yang mencari Sahrul.


"Sayang bangun, ada yang mencarimu di bawah. Lebih baik sekarang kamu segera mandi dan berganti pakaian ya," ucap Clarissa. Sahrul mengejapkan kedua matanya lalu mengangguk. Sedangkan Clarissa langsung pergi ke ruang ganti pakaian untuk menyiapkan pakaian yang akan dikenakan oleh Sahrul.


Sahrul duduk diatas tempat tidur sambil mengumpulkan segenap kesadarannya. Setelah ia rasa cukup, Sahrul turun dari tempat tidur lalu berjalan ke kamar mandi. Setelah hampir 1 jam lamanya, kini Sahrul telah rapih mengenakan setelah jas kantornya.


"Sayang kamu duluan aja ya kebawah, kasian nanti tamunya kelamaan nunggu kamu bersiap," ucap Clarissa dan dijawab anggukkan kepala oleh Sahrul.


Sahrul turun ke bawah lalu berjalan ke ruang tamu. Kemudian ia pun melihat seorang laki-laki yang tengah duduk di sofa yang berada di ruang tamu tersebut.


Siapa laki-laki itu? aku belum pernah melihatnya ataupun mengenalnya.


Laki-laki itu berdiri saat melihat Sahrul dengan raut wajah datarnya.


"Selamat pagi, maaf jika saya mengganggu waktumu di pagi hari," ucap laki-laki itu sambil memberi hormat kepada Sahrul dengan membungkukkan sedikit tubuhnya.

__ADS_1


"Pagi, silahkan duduk, ada keperluan apa tuan datang kerumah saya?" tanya Sahrul dengan raut wajah yang mulai serius.


"Saya..."


__ADS_2