KELIRU

KELIRU
BERTEMU DENGANNYA LAGI?


__ADS_3

"Kakek, ada apa?" tanya Alka saat dirinya sudah berada di hadapan Adidaryo.


"Ini, kakek baru aja dapat ini dan kata yang mengantarkannya kalau ini dari Arif. Kenapa kamu gak cerita kepada kakek kalau Kiran meninggal dunia karena over dosia obat penenang?" jawab Adidaryo sambil memberikan sebuah amplop kepada Alka yang berisi berita kematian Kiran. Lalu Alka membuka amplop tersebut, mata Alka membulat dengan sempurna.


Sial! siapa yang berani sampai mencetaknya seperti ini! Arif kenapa lagi diberikan kepada kakek? tamatlah riwayatku dimarahi kakek. Tapi aku rasa bukan Arif yang mengirim ini.


Alka menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku rasa ini gak penting kek, aku dan Kiran kan sudah bercerai. Jadi aku udah gak ada urusan sama sekali dengannya udah sejak lama. Dan untuk berita ini sebenarnya hoax. Aku tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Kiran kek," jelas Alka membuat Adidaryo tampak berpikir keras.


"Apakah kamu sudah mengecek semua media sosialnya Alka?" tanya Adidaryo.


"Belum kek," jawab Alka.


"Coba kamu lihat disemua media sosialnya. Kakek pastikan setelah ini akan banyak heaters yang memojokkanmu. Dan juga kamu harus segera mengadakan konfrensi pers. Jika tidak, hal ini bisa berdampak buruk dengan perusahaan," jelas Adidaryo membuat Alka mengangguk paham.


"Aku akan menghubungi Arif untuk segera kesini," ucap Alka lalu mengeluarkan ponselnya dari saku celana, namun dicegah oleh Adidaryo.


"Gak usah, tadi kakek sudah menyuruhnya lebih dulu ke sini," timpal Adidaryo sembari tangannya memegang lengan Alka.


"Lalu tadi yang mengantar ini siapa kek?" tanya Alka sambil menunjukkan amplop yang di berikan oleh Adidaryo.


"Ada seseorang yang mengantarkannya kepada kakek dia bilang itu dari Arif," jawab Adidaryo.


"Bukan Arif yang mengantarkan langsung? lalu kakek percaya?" tanya Alka yang sebenarnya dia tidak percaya kalau amplop itu dari Arif.


"Ya enggaklah! makanya kakek menyuruh kamu dan Arif ke sini. Kakek pun sudah mengecek seluruh akun Kiran di sosial media namun sudah di hapus dan diblokir. Kakek hanya curiga ada yang tidak suka dengan Kiran lalu memanfaatkan situasi ini," jelas Adidaryo. Kedua laki-laki itu pun semakin berpikir keras. Tak lama Arif pun sampai di hadapan mereka.


"Selamat sore tuan Adidaryo dan pak Alka," sapa Arif sembari menundukkan kepalanya.


"Sore," ucap Alka dan Adidaryo bersamaan.

__ADS_1


"Arif apa benar kamu mengirim amplop ini?" tanya Adidaryo dengan wajah dinginnya. Arif mengambil amplop tersebut dari tangan Adidaryo lalu mengeceknya. Matanya langsung membulat dengan sempurna. Kemudian Arif melihat isi amplop itu dengan teliti. Di bagia pojok berkas itu terlihat samar yang hampir tak terlihat seperti sebuah kode rahasia.


"Maaf tuan Adidaryo dan pak Alka, sepertinya ada sesuatu yang harus saya pastikan kebenarannya," ucap Arif lalu mengeluarkan laptopnya dari dalam tas yang ia bawa sebelumnya. Arif mulai menyalakan laptopnya lalu mengetikkan sebuah kode yang ia temukan.


"Memangnya ada apa?" tanya Adidaryo namun Arif masih tetap fokus dengan laptopnya. Tak lama Arif menunjukkan layar laptopnya.


"Itu bukankah Kinan?" tanya Alka tak percaya dan Arif pun mengangguk.


"Saya menemukan ini setelah saya memasukkan kode yang tertera di berkas itu. Itu artinya dia adalah dalang dibalik semua ini. Dia yang mengatas namakan Kiran tapi sayangnya kedoknya sudah bisa kita bongkar sekarang, pak Alka bisa gunakan ini untuk konfrensi pers nanti," jelas Arif membuat Adidaryo tercekat kagum.


"Luar biasa, tak salah aku memilihmu sebagai asisten pribadiku dan sekretaris untuk kedua cucuku," ucap Adidaryo sedangkan Arif hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya memberi tanda hormat pada Adidaryo.


"Baik, terima kasih Arif. Apakah kamu sudah mempersiapkan tempat konfrensi persnya?" tanya Alka dan Arif pun mengangguk.


"Sudah pak, dan 1 jam lagi konfrensi pers akan segera kita mulai," jawab Arif.


🌾


Tak lupa Arif telah menghubungi pihak kepolisian untuk segera mencari tahu keberadaan Kinan. Alka, Adidaryo dan juga Arif pun telah menempati kursi yang telah disediakan pihak rumah sakit.


"Selamat sore semuanya, saya Alka Adidaryo ingin memberitahukan kepada teman-teman media semua. Bahwa berita meninggalnya Kiran itu adalah fakta. Namun yang ingin saya tegaskan disini, Kiran meninggal karena banyak faktor dan bukan diakibatkan karena saya. Dan untuk berita mengenai penyebab meninggalnya Kiran yang disebabkan karena saya itu adalah hoax. Sejak 1 tahun yang lalu saya sudah putus hubungan dengan Kiran dan saya juga telah bercerai dengan Kiran. Kematian Kiran murni karena ia bunuh diri akibat over dosis obat penenang. Dan satu hal lagi, dalang dibalik tersebarnya berita hoax itu berasal dari Kinan," jelas Alka sembari memperlihatka layar laptop milik Arif kepada para wartawan yang hadir, membuat para wartawan tersebut tercekat kaget.


"Kok bisa?"


"Siapa itu Kinan?"


"Apa Kinan adalah sahabat atau mungkin saudara kembar Kiran?"


Itulah yang terdengar oleh Alka.

__ADS_1


"Kinan adalah saudara tiri Kiran. Tanpa kalian tahu, tuan Samudera sebenarnya memiliki banyak istri. Dan yang pernah saya temui adalah Kinan. Kami bertemu saat saya sedang makan malam bersama Kiran satu tahun yang lalu. Bahkan Kinan pernah mencelakai Kiran karena ternyata Kinan juga mencintai saya. Itulah kenapa ambisi dan obsesi Kinan masih sangat kuat untuk mendapatkan sesuatu yang menurutnya harus ia miliki," sambung Alka membuat para wartawan pun mengangguk paham dan ber oh ria.


"Tak lama lagi, Kinan akan segera ditemukan dan terkurung didalam jeruji besi. Saya cukupkan konfrensi pers kali ini. Oh iya, saya minta doanya untuk teman-teman sekalian untuk saudara kembar saya Albi yang tengah berjuang untuk tetap bisa hidup kembali. Terima kasih," lanjut Alka kemudian ia, Adidaryo dan juga Arif bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang konfrensi pers tersebut.


Ada sedikit lega dalam hati ketiganya, mereka yakin setelah ini perusahaan Adidaryo Grup akan aman. Arif memilih untuk langsung pulang ke rumahnya begitupun dengan Adidaryo dan Alka.


Di dalam ruang rawat inap Mega dan Nindya terlihat Nina sedang memperhatikan televisi yang sedang menyiarkan konfrensi pers keluarga Adidaryo. Senyum simpul terukir dikedua sudut bibir Nina.


Sedangkan Mega sedang tertidur begitupun dengan Nindya, dan Pinkan sedang berada di kamar mandi untuk buang air.


🌾


3 hari kemudian


Hari ini Mega dan juga Nindya sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah karena kondisi keduanya sudah membaik. Bahkan kanker yang Mega derita sudah menurun menjadi stadium 1.


Ada harapan untuk Mega bisa hidup seperti anak seusia pada umumnya.


"Mommy apakah benar aku akan tinggal bersama mommy dan juga grandma?" tanya Nindya dengan polosnya sembari menunjukkan puppy eyes nya.


"Tentu sayang, nanti setiap hari kita bisa melihat daddy bersama setiap hari. Supaya daddy bisa cepat terbangun dari tidurnya," jawab Mega dan Nindya pun tersenyum lalu mengangguk.


"Nek, barang-barang Mega dan Nindya udah selesai aku bereskan, apakah kita akan pulang sekarang?" ucap Pinkan lalu bertanya pada Nina.


"Iya Pinkan, ayok kita pulang," ajak Nina dan Nindya langsung menggenggam tangan Mega.


Saat mereka akan keluar ruangan, tiba-tiba pintu pun terbuka. Kali ini yang terkejut bukanlah Nina, Mega ataupun Nindya. Melainkan Pinkan.


Dia? kenapa dia ada disini? kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?

__ADS_1


Pinkan bergumam seolah memori otaknya menariknya kembali ke masa putih biru, tepat 6 tahun yang lalu.


__ADS_2