KELIRU

KELIRU
SOSOK SEORANG IBU


__ADS_3

TOKTOKTOK


Adidaryo membukakan pintunya.


"Ada apa?" ketus Adidaryo.


"Bolehkah kita berbicara didalam kek?" tanya Alka dengan hati-hati.


"Masuk," ajak Adidaryo kemudian Alka pun masuk ke dalam sambil menutup pintunya kembali.


"Kakek..." belum sempat Alka melanjutkan perkataannya Adidaryo sudah lebih dulu memotongnya.


"Kakek tau apa yang akan kamu katakan pada kakek. Kamu tenang aja, kakek sudah lebih dulu memberitahukan kepada perusahaan pusat maupun semua perusahaan cabang untuk menambah pengamanan sistem kantor. Karena bisa jadi Samudera akan membobol sistem keamanan perusahaan kita, atau mungkin dia akan membobol nyawamu," ucap Adidaryo membuat Alka tercengang setelah mendengar perkataan terakhir yang diucapkan oleh Adidaryo.


"Kakek jangan menakutiku, aku masih ingin hidup," kata Alka sambil merengek.


"Siapa suruh kamu gegabah dalam mengambil keputusan. Pernikahan itu hanya sekali seumur hidup, apalagi setelah kakek tau kalau kamu juga tidak mendapat restu dari kedua orangtuanya. Apa kamu tidak memakai otakmu saat kamu mengambil keputusan untuk menikahi dia! hah! dasar gak kamu dan gak Albi. Selalu aja gegabah, kendalikan ***** kalian. Apa kalian tidak percaya Tuhan yang Maha Adil dalam memberikan jodohnya masing-masing? bahkan cara Tuhan mengirimkan kamu jodoh itu jauh lebih indah dibanding kamu sendiri yang hanya manusia biasa," gerutu Adidaryo panjang lebar.


"Cepat segera selesaikan perceraian kamu dengannya! sebelum Samudera meminta hak yang diluar nalar atas putrinya," sambung Adidaryo kemudian duduk kembali di kursi kebesarannya.


"Baik kek, aku akan menghubungi pengacaraku di Belanda," ucap Alka yang masih menundukkan kepalanya.


"Kalau begitu aku permisi kek," sambung Alka lalu membalikkan tubuhnya untuk keluar dari ruang kerja Adidaryo.


"Tunggu Alka," panggil Adidaryo membuat Alka menghentikan langkahnya.


"Ada apa kek?" tanya Alka menatap mata Adidaryo.


"Kamu tau informasi mengenai Lusy atau Vanesha?" tanya Adidaryo yang masih menunjukkan raut wajah seriusnya.


Alka tampak berpikir sejenak. Dan akhirnya ia pun angkat bicara.


"Kalau Lusy sampai saat ini belum ada kabar kek, tapi kalau Vanesha terakhir dia menghubungiku itu dia sedang berada di kediaman kekasih gelapnya. Dan Albi sangat marah besar," jawab Alka jujur.


Sial! Vanesha melanggar perjanjiannya padaku. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku hanya kasihan dengan cucuku, ia sangat membutuhkan sosok seorang ibu diusianya yang masih belia.


"Ya sudah kamu boleh keluar," ucap Adidaryo dan Alka pun menurut. Alka keluar dari ruang kerja Adidaryo dan tidak lupa menutup kembali pintunya.

__ADS_1


Rumah Nina


Setelah turun dari mobil, Mega langsung berlari ke dalam rumah. Ia langsung masuk ke dalam kamarnya sambil melewati Nina yang sedang menonton televisi di ruang keluarga.


Mega kenapa ya? kok matanya begitu sembab seperti habis menangis?


Nina yang merasa khawatir, ia pun beranjak dari sofa lalu berjalan menghampiri Mega di kamarnya. Sesampainya di depan pintu kamar Mega, ia sempat ragu mengetuk pintunya.


Ah biarkan aja deh, mungkin Mega ingin punya waktu untuk sendiri. Nanti kalau dia sudah merasa lebih tenang, aku akan bertanya padanya.


Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri Nina yang sedang berdiri didepan pintu kamar Mega.


"Permisi nyonya, di depan ada seorang laki-laki yang bernama Albi ingin bertemu dengan Nona Mega," ucap pelayan tersebut.


"Oh baiklah biar saya yang menemuinya, terima kasih," kata Nina dan pelayan itu menundukkan kepalanya lalu pergi dari hadapan Nina.


Nina pun masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Beberapa saat kemudian, Nina keluar dari lift lalu berjalan ke teras rumah.


Tampak seorang gadis kecil sedang duduk di kursi teras. Nina mengerutkan kedua alisnya sambil terus berjalan menghampiri gadis kecil tersebut.


"Aku bersama daddy, grandma," jawab Nindya sambil tersenyum membuat Nina mengerutkan kedua alisnya.


"Lalu dimana daddymu sekarang gadis manis?" tanya Nina sambil mengelus pipi chubby Nindya.


"Maaf nek, kami mengganggu waktumu malam-malam begini," ucap Albi yang tiba-tiba berada di samping Nina.


Nina pun menoleh lalu berdiri.


"Apa kamu yang bernama Albi Adidaryo?" tanya Nina mengingat wajah Albi yang mirip difoto yang pernah Adidaryo beritahukan padanya sambil menunjukkan jemarinya ke arah Albi.


"Iya nek, benarkah ini rumah Mega?" jawab Albi lalu bertanya pada Nina.


"Ada perlu apa kamu kemari sambil mengajak anakmu malam-mala begini?" tanya Nina dingin.


"Mohon maaf nek jika kedatangan kami menganggu. Tapi ini bukan kemauan saya melainkan kemauan Nindya sendiri. Tadi saat saya pulang dari kantor, Nindya merengek untuk berkunjung ke rumah Mega. Tolong izinkan Nindya bertemu dengan Mega ya nek, tak apa biar saya yang pulang ke rumah aja karena saya pun belum sempat membersihkan tubuh saya dan berganti pakaian," jelas Albi panjang lebar membuat Nina menimbang-nimbang.


Apa aku biarkan Nindya di sini ya? mungkin aja suasana hati Mega bisa lebih baik dengan kehadiran Nindya disini.

__ADS_1


"Baiklah, kamu pulang aja ke rumah biar Nindya disini bersama aku dan Mega," ucap Nina membuat Albi mengukir senyumannya yang begitu bahagia.


Mengurus Nindya seorang diri tanpa ada seorang istri disampingnya tidaklah mudah. Baginya selama ia ditinggalkan Lusy sejak kelahiran Nindya dan menikah dengan Vanesha, jiwanya begitu sangat sepi. Walaupun ada baby sitter yang menjaga Nindya namun ia merasa ada kekosongan disisi lainnya.


"Terima kasih atas pengertian dan kebaikan nenek, kalau begitu saya pamit pulang kerumah ya, bye Nindya jadi anak penurut ya nak," pamit Albi pada Nina lalu berbicara pada Nindya.


"Siap daddy," ucap Nindya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


Albi pun pulang ke rumahnya, sedangkan Nina mengajak masuk Nindya ke dalam rumahnya.


Kediaman Albi


Sesampainya Albi dirumah, ia membuka pintu rumahnya. Mata Albi langsung membulat dengan sempurna melihat Vanesha berada di rumah.


"Vanesha! kamu sungguh keterlaluan! dari mana aja kamu?" bentak Albi saat Vanesha sedang merebahkan dirinya di sofa. Namun Vanesha tidak bergeming.


"Vanesha!" teriak Albi sambil menaruh kedua tangannya di pinggang dan memijat keningnya.


Kenapa Vanesha tidak meresponku? biasanya ia selalu melawan ketika aku membentaknya.


Albi merasa curiga, ia pun mendekatkan dirinya kepada Vanesha. Kemudian Albi mengecek suhu tubuh Vanesha dan juga denyut nadinya.


Suhunya normal, tapi... astaga! kenapa nadinya sudah tidak berdenyut!


"Sus.. suster bantu saya!" teriak Albi kemudian baby sitter Nindya pun datang.


"Ada apa tuan?" tanya baby sitter tersebut.


"Bantu saya membukakan mobil, Vanesha sudah tidak sadarkan diri dan denyut nadinya pun berhenti," jawab Albi sambil mengangkat tubuh Vanesha ala bridal style membuat baby sitter tersebut tercengang.


"Baik tuan," ucap baby sitter itu kemudian membantu Albi membukakan pintu mobilnya.


Albi membawa Vanesha ke rumah sakit terdekat. Walau malam sudah semakin larut, ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Hingga beberapa menit kemudian ia pun sampai di rumah sakit.


Albi langsung menyuruh perawat untuk segera memeriksakan kondisi Vanesha. Setelah Vanesha sudah dalam pemeriksaan dokter, Albi langsung menghubungi Alka dan juga Adidaryo. Kakek dan saudara kembarnya begitu terkejut dengan kabar dari Albi mengenai Vanesha.


Cukup lama Vanesha di periksa, dokter pun keluar dari ruang emergency.

__ADS_1


__ADS_2