
"Mega ... tunggu Nenek!" panggil Nina sambil mempercepat langkahnya untuk menghampiri Mega.
Mega yang merasa dipanggil namanya langsung menoleh ke belakang. Dari kejauhan laki-laki yangberada di halaman rumahnya itu menoleh saat ia mendengar ada yang memanggil nama Mega.
Mega? sepertinya nama itu tak asing bagiku. Tapi siapa ya?
Laki-laki itu mencoba mengingat-ingat kembali.
Apa dia wanita yang dulu pernah aku tolong? tapi kenapa dia bisa berada disini?
Ia terus bertanya-tanya dalam hatinya.
*****
"Mega lebih baik sekarang kita pulang saja ya. Semakin malam udara disini akan semakin dingin," usul Nina yang mengelus-eluskan kedua tangannya pada lengannya itu.
"Iya Nek, ayok kita pulang," ajak Mega sambil melingkarkan tangannya di lengan Nina yang mulai merasa kedinginan.
Laki-laki yang Mega lihat dari kejauhan itu hendak mengikuti Mega. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti karena ada yang memanggilnya.
"Hunny, kamu mau kemana?" tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari rumah.
"Oh tidak, aku seperti melihat temanku di sekitar sini. Ada apa memangnya mencariku?" jawab laki-laki itu kemudian bertanya kembali pada wanitanya.
"Hunny aku ingin makan pasta sepertinya anak kita ingin merasakan masakan ayahnya," jawab wanita itu sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Laki-laki itu hanya memutar malas bola matanya. Dengan terpaksa, ia mengangguk lalu masuk kedalam rumah untuk menuruti keinginan wanitanya yang tengah hamil itu.
****
Mega mengambil ponselnya yang sebelumnya ia tinggal dan diletakkan di atas nakas samping tempat tidurnya. Ia mencari kontak Damar untuk menghubungi nya.
Terhubung, tapi kenapa tidak ada jawaban? apa disana sedang dini hari ya? Besok saja deh aku coba telepon Damar lagi.
Mega pun menaruh kembali ponselnya di atas nakas. Lalu ia pun pergi ke alam mimpinya.
******
Keesokan harinya ... Mega sudah selesai bersiap untuk kembali ke Indonesia pagi ini.
"Pagi Nek," sapa Mega saat menghampiri Nina yang sedang berada di dapur.
"Pagi Sayang," sapa Nina pada Mega.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Nina.
"Sudah Nek, aku tidak membawa pakaianku. Aku sengaja meninggalkannya di sini. Siapa tau suatu saat aku bisa kembali lagi ke sini," tutur Mega dan Nina pun tersenyum. Dalam hatinya ia berharap Mega bisa menemaninya di sini.
"Baiklah, kalau begitu ayok sarapan. Nenek membuatkanmu roti bakar dengan banyak sekali keju."
__ADS_1
"Waw cheese, i like it grandma!" ucap Mega dengan mata yang berbinar-binar.
Setelah selesai sarapan, Mega pamit untuk kembali ke Indonesia. Dari dalam lubuk hati Mega, ia tidak ingin meninggalkan neneknya seorang diri di sini. Walaupun banyak pelayan di seluruh rumah ini, namun bagi Mega perpisahan ini sangat berat.
*******
Beberapa jam kemudian, Mega telah sampai di Bandara Soekarno-Hatta.
Akhirnya bisa kembali ke tanah air dengan selamat. Aku sudah kangen sekali dengan Damar.
Mega turun dari pesawat, sambil meregangkan otot-otot di tubuhnya. Mega berjalan keluar bandara sambil bersenandung.
Sebaiknya aku telepon Damar deh, aku akan mengajaknya bertemu sekarang.
Mega mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Lalu ia pun mencari kontak Damar.
Terhubung tapi kenapa tak kunjung diangkat ya? bukankah ini sudah jam pulang kantor?
Mega menghubunginya sekali lagi. Dan akhirnya terhubung setelah lima puluh panggilan.
"Hallo Mega?" sapa Damar.
Akhirnya diangkat juga telepon aku.
"Hai Dam, lagi dimana? ketemuan yuk?" tanya Mega dengan nada penuh yang antusias.
"Maaf, nanti aku jelasin ya, sekarang langsung saja ke Cafe Sentosa, aku tunggu," ucap Mega dengan penuh penyesalan dan kecemasan.
"Baiklah, untuk yang tersayang apa sih yang enggak," goda Damar membuat Mega tersipu malu.
"Sampai bertemu nanti, bye!" ucap Mega kemudian memutuskan sambungan teleponnya.
Mega yang sudah dijemput oleh Madih, langsung menuju ke Cafe Sentosa.
****
Setibanya di kafe, ia pun keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam. Sesampainya didalam Mega mencari keberadaan Damar namun ia tidak menemukannya.
Ternyata dia belum datang, padahal ia bilang rumahnya sangat dekat dengan kafe ini.
Mega memasang raut wajah murung. Ia berjalan menuju kursi pojok di dekat jendela.
"Permisi, Kakak mau pesan apa?" tanya pelayan kafe.
"Oh iya, Kak," jawab Mega.
"Silahkan Kak bisa dilihat dulu menunya," ucap pelayan kafe sambil memberikan buku menu.
Mega memilih-milih makanan dan minuman. Sejak perjalanannya dari Belanda ia hanya makan satu kali saat di pesawat. Kini memang perutnya terasa sangat lapar.
__ADS_1
"Kak, aku mau pesan nasi goreng seafood pedas, ketang goreng, salad buah, sama jus strawberry tapi gulanya diganti susu saja ya," ucap Mega dan pelayan tersebut mencatat pesanan Mega.
"Ada lagi Kak?" tanya pelayan kafe dan Mega menggelengkan kepalanya.
"Baik, saya ulangi ya nasi goreng seafood pedas satu, kentang goreng satu, salad buah satu dan jus strawberry plus susu tanpa gula," ucap pelayan kafe dan Mega pun mengangguk.
"Baik ditunggu pesanannya Kak, permisi," ucap pelayan kafe kemudian pergi dari meja Mega.
Mega menunggu Damar sambil memainkan ponselnya. Tanpa Mega sadari, ditempat parkir kafe itu, Damar sudah datang bersama temannya seorang wanita, namun wanita itu langsung pergi dari Damar setelah turun dari motornya.
"Terima kasih ya Dam tumpangannya, sampai ketemu lagi," ucap wanita itu.
"Sama-sama, bye," kata Damar.
Damar melihat Mega yang sedang asik dengan ponselnya, ada perasaan lega tersendiri karena Mega tidak melihat dirinya berboncengan dengan seorang wanita.
Syukurlah dia sibuk sama ponselnya, kalau sampai ketahuan bisa-bisa aku diintrogasi habis-habisan.
Damar pun masuk ke dalam kafe. Ia langsung menghampiri Mega dan duduk tepat dihadapan Mega.
"Malam Mega," sapa Damar sambil tersenyum.
"Hei, malam Dam," ucap Mega.
"Kamu sudah pesan makanan atau minuman?" tanya Damar dan Mega pun mengangguk cepat.
"Sudah, kamu pesan dulu saja Dam," jawab Mega.
Damar pun memanggil pelayan kafe. Setelah pelayan datang, Damar memesan makanan dan minuman.
"Ga, kemarin kamu kemana? tiba-tiba menghilang begitu saja," tanya Damar sambil mencebikkan bibirnya.
"Jadi kemarin saat aku udah siap mau ketemu kamu tiba-tiba nenekku menelepon dan bilang kalau ayah dan ibuku meninggal dunia. Aku begitu terkejut, kedua orangtuaku selama delapan belas bulan ini pergi dengan alasan kalau nenek sakit. Tapi ternyata merekalah yang sakit Dam. Hatiku begitu hancur, saat tau mereka ternyata sama-sama memiliki penyakit kanker otak stadium empat," jelas Mega yang tak terasa air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya.
Damar pun merasa iba, hatinya tersentuh. Ia pun mendekati Mega dan memeluk Mega sangat erat.
"Maafin aku Ga, aku gak tau. Aku turut berduka cita ya. Semoga ayah dan ibumu mendapat tempat terbaik di sisiNya," ucap Damar sambil mengelus rambut Mega.
Tangisan Mega berhenti saat pelayan kafe mengantarkan pesanannya. Keduanya saling melepaskan pelukan mereka.
"Permisi Kak ini pesanannya, selamat menikmati," ucap pelayan kafe sambil menaruh pesanan Mega di atas meja. Kemudian pergi dari hadapan mereka.
"Ga kamu pesan sebanyak ini?" tanya Damar dan Mega pun mengangguk cepat.
"Iya habisnya aku lapar sekali sejak perjalanan tadi aku hanya makan sekali saja," jawab Mega dan Damar hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Beberapa menit kemudian, keduanya telah menghabiskan makanannya. Damar begitu ternganga saat ia melihat Mega mampu menghabiskan makanan yang ia pesan.
"Dam ... "
__ADS_1