
Sungguh kusesali
Nyata cintamu kasih
Tak sempat terbaca hatiku
Malah terabai olehku
Lelah kusembunyi
Tutupi maksud hati
Yang justru hidup karenamu
Dan bisa mati tanpamu
Andai saja aku masih punya
Kesempatan kedua
Pasti akan kuhapuskan lukamu
Menjagamu memberimu
Segenap cinta
Kusadari tak selayaknya
Selalu penuh kecewa
Kau lebih pantas bahagia
Bahagia karena cintaku
🎶(Kesempatan Kedua_Tangga)
*******
Suasana pagi yang tenang di SMA 1 Pinus. Para murid sedang fokus mengerjakan ujian akhir semester untuk kenaikan kelas.
Terlebih hari ini adalah hari terakhir. Banyak yang tidak sabar untuk mengakhiri ujian ini karena merasa penat dan segera ingin berlibur.
Beberapa jam berlalu, Mega bernapas lega karena ujian telah berakhir. Ia memilih segera mengemasi barang-barangnya dari atas meja, kemudian ia masukkan ke dalam tas.
"Mega ... " ucap Pinkan. Mega menoleh.
"Mau ikut aku ke kantin tidak?" tanya Pinkan sambil tersenyum sumringah.
Mega berpikir seraya bergumam. "Boleh ... yuk!"
Keduanya pun membawa tas masing-masing lalu pergi ke kantin.
****
Setibanya di kantin, tiba-tiba tangan Mega di tarik oleh Sahrul.
"Mega!" pekik Pinkan. Raut wajah Mega masih tenang. Iapun menyuruh Pinkan untuk tetap tenang.
"Pinkan, aku tidak apa-apa. Biar aku yang menanganinya."
"Apa kamu yakin, Mega?"
Mega menggangguk. Akan tetapi, Pinkan tidak tinggal diam. Dengan hati-hati Pinkan mengikuti Sahrul yang membawa Mega pergi.
Tibalah di sebuah ruang kelas yang masih kosong dan juga sepi. Pinkan berdiri di balik dinding itu.
"Lepaskan!"
__ADS_1
Sahrul langsung menghempaskan tangannya dengan cukup kasar.
"Ada perlu apa kamu membawaku kesini? bukankah urusan kita sudah selesai?"
Sahrul memicingkan matanya lalu tersenyum pongah. "Belum! urusan kita belum selesai."
Mega terperangah mendengar ucapan Sahrul. Ia mengganggap Sahrul mulai hilang kewarasannya.
"Apa maksud kamu!"
"Mudah saja, lo harus balikan sama gue!"
"CIH! aku rasa kamu ngelindur. Sampai kapanpun aku tidak akan memberimu kesempatan. Mau kesempatankedua, ketiga, bahkan keseratus itu tidak akan pernah terjadi!"
"Hahahaha ... hebat sekali lo! jangan mentang-mentang lo anak orang kaya terus lo bersikap sesuka hati sama gue."
"Heh, Sahrul! yang bersikap sesuka hati disini tuh siapa? KAMU! kamu bahkan sudah menghancurkan aku. Terus kamu bercinta dengan Clarissa dan sekarang ... kamu minta balikan sama aku? hebat!"
Sahrul memajukan wajahnya mendekat ke wajah Mega, sehingga wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja.
"Lo itu sudah 'bekas' gue ... gue bahkan bisa jamin, kalau setelah ini tidak ada yang mau menerima cewek 'bekas' macam lo ini."
PRAAKK!!!!
Sebuah tamparan keras mendarat halus di pipi Sahrul. Kedua mata Mega mulai memerah. Amarahnya kian tak tertahankan lagi.
"Aku heran sama kamu. Tidak pernahkah kamu sendiri berpikir, kalau kamu lahir dari rahim seorang perempuan! lidahmu memang tidak bertulang, tapi hatimu yang keras justru tidak akan pernah mendapatkan dan merasakan apa itu CINTA!"
Mega benar-benar sudah tidak tahan. Ia segera pergi dari sana. Seketika, tangannya ditarik kembali oleh Sahrul.
Pinkan yang melihat itu, tidak tinggal diam. Dengan hati-hati, ia mengambil sebuah balok kayu yang ada di dekat ya. Ia mengambilnya satu, lalu masuk ke dalam ruangan itu.
Mega yang menyadari keberadaan Pinkan, langsung mengalihkan perhatian Sahrul.
"Lebih baik kamu fokus saja dengan hubunganmu sama Clarissa. Tidak usah perdulikan aku dan menjauhlah dari hidupku."
Pinkan memukul punggung Sahrul hingga dia terjatuh pingsan.
"Ayo, Mega! kita harus cepat pergi dari sini!"
"Pinkan kalau dia melaporkan ke guru BK bagaimana ?"
"Itu urusan nanti, daripada kamu terus disakiti olehnya."
Mega meremang. "Terima kasih, Pinkan."
Pinkan mengangguk lalu mereka pun pergi dari sana. Keduanya memilih ke kantin untuk mengisi perutnya yang sudah mendemo sejak tadi.
"Kamu mau makan apa, Mega?"
"Soto ayam saja Pinkan pakai nasi ya, terus es teh manis satu."
"Oke."
Pinkan segera membelikan Mega makanan yang ia pesan tadi. Saat Mega tengah duduk sendiri. Ia memperhatikan Clarissa yang sejak ia datang ke kantin itu tengah duduk berdua dengan seorang wanita.
Clarissa, sama siapa dia? sepertinya bukan ibunya, tapi lebih kepada tantenya.
Tak lama, Pinkan membawakan pesanan Mega dalam sebuah nampan di tangannya.
"Yuk, makan dulu."
Mega mengangguk. "Terima kasih."
"Sama-sama ... oh iya, jadi yang kamu maksud anjing itu si Sahrul?" tanya Pinkan sesaat sebelum memakan makanannya.
Mega menarik napasnya. "Iya."
__ADS_1
"Cocok sih untuk dia," celetuk Pinkan sementara Mega hanya tersenyum tipis.
"Mega ... mau tidak kalau mulai sekarang kita bersahabat?" tanya Pinkan dengan hati-hati memberanikan diri bertanya. Walau jantung yang berdebar karena Mega tipikal orang yang sulit kenal dekat dengan orang lain.
Mega berpikir sejenak sambil menghela napas panjangnya ... dan akhirnya menyetujui ajakan Pinkan.
"Iya aku mau ... mulai sekarang kita bersahabat," ucap Mega sambil tersenyum dan menyematkan kedua jari kelingking mereka.
***
Setelah selesai makan, ponsel Pinkan pun berdering.
"Sebentar ya, Ga." Mega pun mengangguk dan Pinkan menjawab panggilan teleponnya.
Beberapa saat kemudian, Pinkan tiba-tiba memasang rona sendunya.
"Mega ... sorry, aku sudah dijemput sama pacarku. Kamu masih mau disini atau ikut aku ke depan?"
"Oh, iya sudah. Tidak apa-apa Pinkan. Aku masih ingin disini."
"Oke, hati-hati ya. Oh iya, makanannya sudah aku bayar."
"Ih tadi tuh tidak usah, biar aku saja."
"Tidak apa-apa Mega. Sekali-sekali."
Mega tersenyum simpul. "Terima kasih banyak, Pinkan. Kamu hati-hati dijalan ya."
"Oke, Mega. Bye."
"Bye."
Pinkan pergi dari sana, sedangkan Mega mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Madih.
Kemana pak Madih? tumben tidak dijawab.
Cukup lama Mega mencoba menghubungi Madih, namun tidak kunjung ada jawaban. Akhirnya Mega pergi dari sana menuju gerbang sekolah.
Saat dirinya telah berada di tempat parkir, Mega terperangah saat melihat Sahrul dibuat babak belur oleh Madih. Sahrul tidak tahu kalau Madih ternyata jago bela diri.
Mega langsung berlari menghampiri Madih.
"Pak sudah Pak! ada apa ini pak?" tanya Mega sambil memisahkan Madih dan Sahrul.
"Maaf Nona, laki-laki ini ada niat buruk terhadap Nona yang mencelakai saya dengan pisau itu." jawab Madih sambil menunjuk pisau yang tergeletak di bawah dengan matanya. "Beruntung saya cepat menepisnya sehingga saya tidak terluka," sambungnya.
Sahrul yang merasa ada kesempatan, dengan gerakan cepat ia langsung mengambil pisau tersebut dan akan menusukkannya ke Mega bukan lagi kepada Madih. Tanpa disangka dari belakang, Gunarto yang sejak tadi melihat tingkah Sahrul yang kriminal itu. Gunarto langsung menepis pisau itu kembali dari tangan Sahrul lalu memutar lengan Sahrul ke belakang.
"Apa maksud kamu mau mencelakai dia? apa salah dia sama kamu, hah! di sekolah ini tidak ada seorang pembunuh!" tegas Gunarto yang sudah naik pitam.
"Maaf Pak, saya hanya tidak terima harga diri saya diinjak-injak olehnya! Saya sudah berusaha baik kepadanya namun dia malah menghina saya!" Sahrul berbohong dengan tatapan sinisnya. Mega pun semakin geram.
Bisa-bisanya cowok brengsek ini memutar balikkan fakta! jelas-jelas dia sendiri yang sudah merusak harga diriku!
"Sudah Pak, biarkan saja ular berbisa ini berbicara. Dia hanya iri saja kepada saya. Saya pamit pulang pak Gunarto. Ayok pak Madih kita pulang," ucap Mega kepada Gunarto lalu mengajak Madih lalu iapun masuk ke dalam mobil.
Sahrul langsung dibawa ke ruangan BK. Sedangkan, Clarissa yang sejak tadi melihat kejadiannya pun mengekori mereka dari belakang.
Bagaimana ini kalau Sahrul sampai dikeluarin dari sekolah? bagaimana suatu saat dia akan mempertanggung jawabkan perbuatannya padaku kalau dia sendiri tidak punya apa-apa?
Pikiran Clarissa berkecamuk. Kendati ia sudah tidak pernah memakai pengaman saat melakukan hal itu dengan Sahrul.
Di dalam mobil, Mega hanya terdiam dan kembali menatap keluar jendela dengan wajah murungnya.
Ayah, Ibu apa salahku? kalian pergi, aku kesepian. Aku butuh teman untuk bercerita setiap. Rasanya aku ingin menyusul kalian saja ke sana. Aku benci dengan kesendirian ini!
Menunggu, sendiri. Itulah hal yang paling dibenci bagi sebagian orang. Hanya bisa terus menerka. Tanpa tahu pasti entah itu sampai kapan.
__ADS_1