KELIRU

KELIRU
HARUS IKHLAS


__ADS_3

Di dalam ruang ICU, dokter dan beberapa perawat sedang memeriksa keadaan Albi.


"Sudah siap?" tanya dokter pada perawat saat ia sudah memegang alat pemacu detak jantung.


Cedug.. Cedug.. Cedug..


Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit..


Dokter pun menggelengk lemah lalu menghela nafasnya. Beberapa perawat langsung melepas semua alat yang terpasang di tubuh Albi. Mata Albi benar-benar sudah tertutup rapat. Wajahnya sangat tampan dan ia pun tampak ikhlas pergi untuk selama-lamanya.


Dokter keluar dari ruang ICU. Tampak Alka sudah hadir di sana. Beberapa menit lalu, Adidaryo menghubungi Alka untuk segera datang ke rumah sakit karena Albi tak mungkin diselamatkan lagi. Sedangkan Mega juga sudah menghubungi Nina. Sekarang semuanya telah berkumpul di depan ruang ICU.


Alka yang melihat dokter keluar dari ruangan langsung menghampiri dokter tersebut. Diikuti dengan Adidaryo, sementara Mega hanya duduk di kursi dan bersandar pada Nina karena tubuhnya terasa lemas. Sedangkan Nindya masih tertidur di strollernya.


"Dok.. bagaimana keadaan Albi?" tanya Alka yang matanya mulai memerah karena menahan tangis.


"Tuan, kami sudah semaksimal mungkin berusaha untuk Albi tetap bisa segera pulih. Tapi Tuhan berkehendak lain, alat yang selama ini terpasang di tubuhnya sudah tak mampu lagi untuk membuatnya tetap hidup. Kami turut berduka cita atas kepergian Albi, semoga keluarga yang ditinggalkan bisa ikhlas dan berlapang dada," ucap dokter tersebut dengan kesedihan yang tampak dari raut wajahnya.


Tangis Alka pun pecah, hal yang paling ia sesali karena saat detik-detik Albi akan pergi, Alka tak ada di sampingnya. Ia pun memeluk Adidaryo, lagi-lagi air mata Adidaryo mengalir dengan derasnya. Merasakan kehilangan cucunya untuk yang kedua kali.


Didalam ruang ICU, alat-alat yang tadinya menempel ditubuh Albi kini sudah terlepas semua. Selimut pun menutupi wajahnya, nafasnya sudah tak berhembus. Namun tubuhnya masih terasa hangat. Para perawat pun membawa Albi keluar dari ruang ICU menuju kamar jenazah.


Saat jenazah Albi sudah keluar dari ruang ICU, Nindya terbangun dari tidurnya. Ia menatap heran kepada semua yang ada di hadapannya.


"Sus, kenapa mommy, uncle, grandma, dan grandpa menangis? siapa yang sudah jahat sama mereka sus?" tanya Nindya namun baby sitter itu pun hanya terdiam, ia bingung harus menjelaskan kepada Nindya.


"Sus aku mau bertemu dengan daddy," sambung Nindya dan lagi-lagi baby sitter itu terdiam lalu menghampiri Mega dan berbisik pada Mega.

__ADS_1


"Nyonya, non Nindya ingin bertemu tuan Albi," bisik baby sitter itu lalu Mega pun menghampus air matanya dan menghampiri Nindya.


Mega pun tersenyum dan mensejajarkan tubuhnya dengan Nindya yang sedang duduk diatas stroller.


"Nindya mau ketemu sama daddy ya?" tanya Mega lalu mengehela nafasnya dan Nindya pun mengangguk


"Nindya sekarang daddy sudah tenang. Daddy sudah tidak merasakan sakit lagi. Dan daddy sedang tidur pulas ditempat yang paling indah," jelas Mega mencoba memberi pengertian kepada Nindya.


"Terus kapan aku bisa ketemu daddy dan main lagi sama daddy, mom?" tanya Nindya dengan polosnya. Mega berusaha menahan tangisnya kembali.


"Suatu hari nanti, suatu hari nanti Nindya akan main lagi sama daddy dan juga mommy. Tapi tidak sekarang. Walaupun daddy sudah tidak sama kita lagi, tapi daddy selalu sayang sama Nindya. Dan daddy bilang daddy selalu ada di hati Nindya jika Nindya kangen," jelas Mega lalu memeluk Nindya dengan sangat erat. Walau saat ini Nindya belum mengerti arti kehilangan dan kematian, Mega berharap suatu saat nanti ia akan terus mengenang kebaikan Albi hingga akhir hayatnya.


Keluarga Adidaryo pun mengurus pemakaman Albi. Setelah selesai, mereka langsung berangkat ke pemakaman.


Zorgvlied Cemetery


1 jam berlalu, proses pemakaman pun telah usai. Para pelayat pun pergi satu per satu. Tinggallah Nina, Mega, Nindya, Adidaryo dan juga Alka. Mega masih tertegun menatap makam Albi. Matanya yang begitu sembab bertanda air matanya telah habis menangisi kepergian Albi.


"Mega," ucap Nina sambil merangkul punggung Mega. Lalu Mega pun menoleh.


"Ayok nak kita kembali ke rumah, hari sudah semakin sore," ajak Nina dengan nada yang sangat lembut.


"Grandma, apakah daddy akan bangun lagi dari tidurnya? kenapa daddy tidur disini? kan daddy punya rumah yang luas," tanya Nindya dengan polosnya membuat Nina mengalihkan pandangannya pada Nindya lalu menarik nafas dan menghempaskannya perlahan.


"Sayang, daddy tidak akan bangun lagi. Karena saat ini disinilah tempat daddy yang terakhir. Daddy Nindya sudah berada di surga. Jadi, Nindya akan bertemu dengan daddy kok tapi nanti ada saatnya, bukan sekarang," jelas Nina dan Nindya pun hanya terdiam. Ia berusaha mencerna kata-kata yang telah Nina ucapkan.


Mommy berdoa, suatu hari nanti kamu akan mengerti kalau daddy yang sangat kamu sayangi sudah pergi untuk selama-lamanya. Dan semoga jika kamu mengetahui dan mengerti kenyataannya. Mommy harap kamu tidak membenci ibu kandungmu. Bagaimanapun ia adalah seorang wanita yang telah melahirkanmu ke dunia ini. Walaupun saat kamu kecil ia tak menginginkanmu, tapi mommy yakin suatu hari ibu kandungmu akan tulus menyayangimu.

__ADS_1


Mega menatap Nindya dengan seulas senyum yang terukir dikedua sudut bibirnya.


"Sini peluk mommy," ucap Mega lalu Nindya pun memeluk Mega sangat erat.


"I love you mommy," ucap Nindya membuat hati Mega bergetar.


"I love you too my girl," jawab Mega dengan air mata yang kembali mengalir.


"Mega, yuk kita pulang," ajak Nina sembari berdiri dan Mega pun ikut berdiri.


"Nindya, ikut sama grandma dulu ya. Ada yang ingin mommy sampaikan pada daddy. Mau?" tanya Mega pada Nindya yang sedang di gendong oleh Mega. Lalu Nindya pun mengangguk.


"Good girl," ucap Mega dan Nindya pun tersenyum.


"Kamu yakin disini sendiri?" tanya Nina dan Mega pun mengangguk.


"Ya sudah nenek pulang dulua ya," pamit Nina sambil menggenggam tangan Nindya. Nindya pun melambaikan tangannya pada Mega.


"Bye mommy, bye daddy," ucap Nindyadan Mega pun membalas lambaian tangan Nindya.


Nina, Nindya dan Adidaryo pergi dari makam Albi. Sedangkan Alka masih berdiri di tempatnya.


"Kenapa kak Alka masih disini?" tanya Mega yang kemudian kembali duduk diatas kursi.


"Memangnya gak boleh aku disini?" bukannya menjawab pertanyaan Mega, Alka justru bertanya kembali dan duduk disebelah Mega.


Mega kembali tertegun sembari menatap makam Albi yang dipenuhi oleh taburan bunga.

__ADS_1


"Mega.."


__ADS_2