KELIRU

KELIRU
PAMALI


__ADS_3

🎶Untukmu aku akan bertahan


Sebentuk hati yang ku nantikan


Hanya kau dan aku yang tahu


Arti cinta yang tlah kita punya🎶


"Bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanya Arif saat dirinya menyadari kedatangan Mega yang sudah hampir mendekat ke arah pintu.


"Oh iya boleh," jawab Pinkan yang tersadar dari lamunannya.


Arif memberikan ponsel nya kepada Pinkan, lalu Pinkan mulai mengetik dan menyimpan nomor ponselnya di ponsel Arif.


"Nih sudah kak," seru Pinkan sambil memberikan ponsel milik Arif kembali.


"Terima kasih, kalau begitu aku pamit ke kantor ya. Nanti malam kalau senggang aku akan meneleponmu untuk melanjutkan perbincangan kita," ucap Arif yang kemudian pamit sembari tersenyum lalu melambaikan tangannya. Arif pun pergi dari hadapan Pinkan. Dan Pinkan tersenyum lalu membalas lambaian tangan Arif.


"Loh kok sekretaris kak Alka sudah pulang, memangnya gak mau minum dulu?" ucap Mega yang baru saja tiba di ambang pintu dan menoleh kearah tatapan yang Pinkan tuju.


Apa yang akan dibicarakan kak Arif ya? aku jadi penasaran. Kenapa aku melihat begitu banyak cinta untukku dari matanya? mungkin dia gak enak mau bicara tapi ada Mega. Aku semakin penasaran aja.


Pinkan tertegun menatap kepergia Arif. Tiba-tiba Mega menepuk bahunya dengan cukup kencang membuat Pinkan terkesiap.


"Iya Mega katanya kak Arif mau kembali ke kantor," jawab Pinkan sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Kamu kok gak ikut istirahat dikamar Ga?" tanya Pinkan pada Mega.


"Iya aku bosan, Nindya sudah tertidur pulas dikamar. Kita jalan-jalan yuk di sekitar kompleks ini," jawab Mega lalu mengajak Pinkan, mata Pinkan pun langsung berbinar saat dia mendapat ajakan dari Mega. Karena sebenarnya Pinkan juga bosan dan ingin berjalan-jalan juga. Mereka pun pergi ke luar rumah.

__ADS_1


Cuaca hari ini sangatlah syahdu, matahari yang tak begitu terik serta angin yang berhembus cukup mengalun lembut menyentuh bulu halus di kulit. Keduanya pun berjalan melewati satu persatu rumah yang ada di kompleks tersebut.


Langkah kaki Mega terhenti dengan sendirinya saat ia berada di depan rumah mewah yang begitu sangat ia kenal. Sedangkan Pinkan terus berjalan sampai ia tak sadar Mega tertinggal jauh di belakang.


"Mega habis ini kita kemana lagi?" tanya Pinkan saat dirinya sudah berada di persimpangan jalan sembari menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Mega."


"Mega."


Pinkan tersadar Mega tidak kunjung menjawab panggilannya, ia pun menoleh ke belakang. Ternyata ia berjalan dengan cukup jauh. Dan dari kejauhan tampak Mega tengah tertegun menghadap rumah mewah yang ada di depannya. Pinkan pun kembali berjalan menghampiri Mega.


Mega kenapa ya lihatin rumah mewah itu? apa dia ingin rumah seperti itu? ah.. gak mungkin. Rumah neneknya kan jauh lebih besar tiga kali lipat dari rumah yang sedang ia lihat. Tapi kalau di perhatikan dari sorot kedua matanya, seperti ada sesuatu terhadap rumah itu.


Pinkan bergumam dalam hatinya, dia pun menerka-nerka sendiri apa yang telah terjadi terhadap Mega. Setelah cukup lama berjalan, Pinkan pun sampai didekat Mega. Saat Mega telah menghapus air matanya dan menoleh ke samping. Tiba-tiba..


"DORR!"


"Hahaha lagian kamu kenapa sih? rumah udah besar banget masih lihatin rumah orang begini," seru Pinkan membuat Mega mencebikkan bibirnya.


"Ini tuh rumah kak Albi," jawab Mega sambil menoleh kembali ke rumah tersebut. Tawa Pinkan langsung terhenti seketika.


"Serius kamu?" tanya Pinkan tak percaya dan Mega pun mengangguk dengan mata yang masih melihat ke arah rumah Albi.


"Apa kamu tak ingin masuk ke dalam rumah itu Mega?" tanya Pinkan dengan hati-hati.


"Melihatnya saja sudah sakit rasanya, apalagi kalau masuk kedalam aku gak kuat melihat kenyataan yang ada karena aku terlalu dalam menahan rasa rinduku padanya, Pinkan," jawab Mega dan Pinkan pun menghela nafasnya.


"Kenapa gak dicoba? mungkin aja ada sesuatu yang kamu selama ini cari disana," usul Pinkan sementara Mega menggeleng lemah dengan matanya yang belum berpaling dari rumah Albi.

__ADS_1


"Gak Pinkan, kalau kata nenek pamali masuk rumah calon suami tanpa izin. Kalau belum jadi istrinya, kecuali calon suaminya sendiri yang mengajak," jawab Mega lalu menoleh ke arah Pinkan. Namun..


"Pinkan kamu dimana?" teriak Mega mencari keberadaan Pinkan.


"Aku disini Mega, ayok ke sini cepat. Bumali mengizinkan masuk kok," teriak Pinkan menjawab kebingungan Mega dari atas balkon rumah Albi.


"Asem! Astaga. Pinkaaaaaaaaaaaaaan. Aku mau pulang!" teriak Mega yang merasa kesal dengan tingkah Pinkan. Sedangkan Pinkan menutup kedua telinganya dengan kedua telapak tangannya saat mendengar teriakan Meg yang cukup kencang.


"Itu anak kenapa jadi kayak gitu sih! biarkan aja deh, huh! lebih baik aku pulang," Mega bermonolog lalu meninggalkan Pinkan yang masih berada di atas balkon rumah Albi.


"Eh eh dia pulang beneran, astaga! ternyata perkiraanku salah," ucap Pinkan lalu keluar dari rumah Albi dan menyusul Mega.


"Mega."


"Mega, jangan marah dong," rayu Pinkan saat ia berhasil mengejar Mega.


Mega menghentikan langkahnya lalu menghela nafas, "Pinkan kan udah aku bilang aku gak mau masuk ke dalam, kamu malah masuk duluan. Ya sudah lain kali jangan di ulangi. Bisa-bisa kamu aku jiwel pipimu yang chubby itu," ucap Mega sambil menahan amarahnya.


"Jangan dong nanti tambah chubby, maafin aku ya," seru Pinkan sambil melindungi kedua pipinya dengan telapak tangannya lalu mengulurkan jari kelingkingnya kepada Mega sembari tersenyum. Mega pun menyematkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Pinkan dengan senyum tipisnya.


Keduanya pun kembali ke rumah Nina, kini Pinkan menempati kamar yang berada di sebelah Mega yang memang diperuntukkan untuk tamu. Ia pun masuk ke dalam kamar tersebut. Sedangkan Mega masuk ke dalam kamarnya.


Dilihatnya ternyata Nindya masih tertidur. Mega pun memutuskan untuk berendam air hangat di bathtub yang ada di dalam kamar mandinya. 15 menit kemudian, terdengar suara tangisan Nindya yang mencari keberadaannya dari dalam kamar mandi.


Mega menujukkan kepalanya dari balik pintu.


"Nindya, mommy disini. Nindya tunggu mommy ya, mommy menyelesaikan mandi terlebih dahulu," ucap Mega dan Nindya pun berhenti menangis lalu mengangguk.


"Good girl," sambung Mega sembari tersenyum lalu menutup kembali pintu kamar mandinya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Mega keluar dari kamar mandi dengan menggunakan bathdrop serta lilitan handuk dikepalanya dan langsung berjalan ke ruang ganti pakaian. Sekilas ia melihat Nindya tertidur kembali. Ada perasaan lega dalam hati Mega karena Nindya tidak menangis kembali.


__ADS_2