KELIRU

KELIRU
SATU PAKET


__ADS_3

"Selamat pagi."


Nina dan Mega langsung tersentak kaget lalu saling melepaskan pelukan mereka. Keduanya menoleh ke arah pintu yang terbuka bersamaan.


"Pagi," ucap Nina dan Mega bersamaan.


"Eh ternyata kalian," sambung Mega sambil menghapus air mata lalu menggaruk lehernya yang tak gatal.


"Meles.. bagaimana keadaanmu sekarang? apakah udah lebih baik?" tanya Dona sambil berjalan menghampiri Mega.


"Seperti yang kalian lihat, aku sudah membaik," jawab Mega tersenyum tipis kepada Dona, Pinkan dan juga Irfan.


"Maaf ya semalem kami pulang ke rumahmu, karena nenek yang menyuruh kami. Padahal kami gak tega meninggalkanmu sendiri disini," ucap Pinkan sambil memberikan raut wajah murung.


Mega terkekeh, "gak apa-apa, maaf ya kalian ke sini bukannya liburan malah berkunjung ke rumah sakit."


"Iya semalam nenek sengaja menyuruh mereka pulang, karena nenek gak akan biarin kalian menginap di rumah sakit, nenek takut kalian jadi kecapekan. Ngomong-ngomong apa kalian sudah sarapan?" ucap Nina lalu bertanya kepada Pinkan, Dona dan juga Irfan.


"Sudah kok nek, tadi sebelum berangkat kami bertiga sarapan lebih dulu," jawab Irfan.


"Syukurlah kalau begitu," ucap Nina dengan senyumannya. Walaupun Nina sudah memasuki usia senja namun karena ia sangat rajin merawat dirinya bahkan dikedua sudut matanya tak nampak kerutan sama sekali. Ia masih terlihat cantik.


"Oh iya, ada satu hal yang harus aku beritahukan padamu Mega," ucap Dona sambil menundukkan kepalanya.


"Ada apa Donut?" tanya Mega sambil memiringkan sedikit kepalanya.


"Aku dan mas Irfan akan memajukan acara lamaran kami. Semalam, ibuku telepon kalau dia sudah membereskan urusan acara lamaran kami dan hari ini kami harus kembali ke Solo," jawab Dona yang merasa tak enak hati.


"Tak apa Donut, kan buat kebahagiaanmu juga. Semoga acara kalian lancar ya tanpa halangan sampai waktunya hari pernikahan tiba. Maaf aku gak bisa hadir diacara bahagiamu," ucap Mega tersenyum sambil mengelus lembut lengan Dona. Dona pun ikut tersenyum lalu memeluk Mega.


"Semoga kamu lekas pulih dari sakitmu, semangat berjuang sahabatku. Semoga kak Albi dan Nindya juga lekas sadar dari komanya," doa tulus Dona membuat Mega menitikkan air matanya.


"Terima kasih banyak, tanpa kalian aku tak mungkin sebahagia dan sekuat ini," ucap Mega sambil melihat kearah Pinkan. Lalu Dona pun melepaskan pelukannya. Pinkan ikut memeluk Dona dan Mega. Setelah cukup lama mereka berpelukan, akhirnya mereka pun melepaskan pelukan itu.


"Don, apakah nanti setelah menikah kalian akan berkunjung lagi untuk berlibur denganku disini?" tanya Mega dengan penuh harap.


Dona tersenyum lalu mengangguk, "tentu, aku dan mas Irfan akan berlibur disini bersamamu. Kan kami satu paket," jawab Dona melirik ke arah Irfan kemudian mereka pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Pinkan apakah kamu akan disini menemaniku?" tanya Mega kepada Pinkan.


"Iya aku akan disini menemanimu, tapi ibuku hanya memberiku waktu 1 bulan. Tak apa kan?" jawab Pinkan lalu bertanya pada Mega dengan hati-hati.


"Tak apa Pinkan, aku malah sangat bahagia kamu bisa disini menemaniku," jawab Mega dengan antusias dan Dona pun ikut tersenyum melihat raut wajah Mega yang begitu sangat bahagia.


Semoga ini memang awal kebahagiaanmu. Berjuang bersama kekasih hatimu. Semoga kalian semua lekas pulih lalu kita bisa berkumpul kembali.


"Baiklah kalau begitu aku dan mas Irfan berangkat sekarang ya. Terima kasih atas kebaikannya nek," pamit Dona lalu membungkukkan sedikit tubuhnya kepada Nina dan Nina menjawab dengan menundukkan kepalanya.


"Kalian hati-hati dijalan ya, jangan lupa kabari kami jika sudah sampai rumah," ucap Nina dan Dona pun mengangguk cepat.


"Mega aku pulang dulu, tetap semangat," ucap Dona sambil memeluk Mega.


"Pinkan aku pulang duluan ya, semoga kamu mendapat jodoh disini," ucap Dona pada Pinkan lalu Dona pun berbisik di telinga Pinkan.


"Ih kamu ini ya Donaaaa!" pekik Pinkan sementara Dona pun terkekeh.


"Di aamiin kan dong Pinkan," ledek Dona sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Sudah.. sudah kalian ini ya," seru Mega memisahkan Pinkan dan juga Dona.


Dona dan Irfan pun keluar dari ruang rawat inap Mega.


Adidaryo Grup


Alka baru saja sampai di perusahaan Adidaryo Grup. Dirinya langsung masuk ke dalam ruangan Adidaryo untuk mengecek data-data perusahaan. Hari ini adalah hari peluncuran program yang akan ia launching, namun di tahun ini sangat berbeda karena Alka hanya di bantu oleh Arif.


"Arif bagaimana persiapan acara siang ini?" tanya Alka sambil menandatangani berkas-berkas.


"Sejauh ini sudah 95 persen pak. Pihak Event Organaizer pun telah mengabarkan kalau hotel tempat acara kita sudah terjaga ketat keamanannya," jawab Arif yang sedang memilah-milah berkas.


"Bagus kalau begitu," ucap Alka lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.


Beberapa menit kemudian, Alka pun telah selesai menandatangani berkas-berkas tersebut.


"Arif setelah ini ada jadwal apa untukku?" tanya Alka sebelum ia melangkahkan kakinya ke luar ruangan.

__ADS_1


"Tidak ada pak, hanya saja acara grand launching kita akan berlangsung 5 jam lagi," jawab Arif dan Alka pun mengangguk.


"Hmm.. apa ada berkas lagi yang harus aku tanda tangani?" tanya Alka kembali.


"Sepertinya tidak pak," jawab Arif yang baru saja merapihkan kembali file-file ke dalam lemari.


"Baiklah, aku mau ke rumah sakit sebentar ya. Aku ingin melihat perkembangan Albi dan Nindya. Kalau ada apa-apa segera hubungi aku, okay?" ucap Alka lalu memberikan pesan kepada Arif.


"Okay pak, hati-hati berkendaranya. Semoga pak Albi dan nona Nindya segera pulih dari sakitnya," kata Arif sambil menundukkan sedikit kepalanya memberi tanda hormat.


"Terima kasih saya permisi," pamit Alka lalu ia pun keluar dari ruangan.


Alka berjalan menuju tempat parkir yang ada di lantai dasar. Sebenarnya hatinya masih cemas akan kondisi Albi, Nindya dan juga terlebih Mega. Sekarang Alka yang memegang kendali perusahaan, bahkan ia mengenyampingkan pekerjannya sebagai asisten dosen.


Saat ia sampai di lobby, tak sengaja Alka membuka layar ponselnya. Ia pun melihatnya dengan seksama.


Bukankah ini Kiran? Astaga! dia overdosis obat penenang!


Alka bergumam dalam hatinya saat ada seseorang yang mengirimkan foto Kiran yang sudah terbujur kaku dengan buih busa yang keluar dari mulutnya dan botol obat yang masih berada di tangan Kiran.


Astaga! kenapa Kiran sebodoh ini! dia bahkan rela kehilangan nyawanya. Kenapa aku menjadi merasa bersalah atas kepergian Kiran?


Namun Alka tak ingin mengambil pusing, karena baginya keputusannya bercerai dari Kiran itu sudah tepat. Ia tak ingin terbelenggu oleh cinta yang salah kembali yang membuatnya keliru dalam menilai arti cinta itu sendiri. Sesampai di depan mobil, Alka langsung masuk ke dalam lalu mengemudikannya menuju rumah sakit.


Sint Lucas Andreas Hospital


Adidaryo sedang mundar-mandir di depan ruang ICU karena dokter baru saja masuk ke dalam untuk memeriksa Albi dan juga Nindya. Perasaan Adidaryo begitu gelisah.


Tiba-tiba, suara seorang laki-laki membuat Adidaryo berhenti mundar-mandir.


"Kakek!"


Adidaryo pun langsung menoleh dengan raut wajah yang begitu penuh dengan kecemasan.


"Bagaimana kondisi Albi dan Nindya kek?" tanya Alka yang baru saja tiba di rumah sakit dan langsung menghampiri Adidaryo.


"Mereka..."

__ADS_1


__ADS_2