KELIRU

KELIRU
MOROTIN


__ADS_3

Mega menghela napas panjang.


"Kalau benar memangnya kenapa?" tanya Mega dengan santainya.


"Apa kamu yakin Mega?" tanya Bimo yang merasa tidak percaya, sedangkan Mega langsung mengangguk yakin.


******


Begini ceritanya ....


Sepanjang perjalanan menuju ke kafe, Madih merasa aneh dengan sebuah motor yang mengikuti mobil yang ia kendarai dan ditumpangi oleh Mega.


"Non, sepertinya ada yang sedang mengikuti kita dari belakang," ucap Madih membuat Mega langsung menoleh kebelakang.


Sahrul! hmmm ... ternyata kalian bersekongkol. Baiklah aku akan mengikuti permainan kalian, walaupun aku sendiri tidak tau apa tujuan kalian. Tapi ... tak lama lagi aku akan segera mengetahuinya.


"Pak, pak Madih tetap stay di parkiran ya dan perintah beberapa orang suruhan nenek untuk masuk ke dalam kafe. Sekarang, biar aku yang akan masuk sendiri," ucap Mega dan Madih pun mengangguk.


Dan beberapa menit kemudian sampailah mereka di kafe yang dimaksud oleh Bimo.


******


"Cepat jelaskan padaku apa maksud wanita ini menuduhku seperti tadi tanpa bukti!" tegas Mega dengan wajah serius. Bimo tersentak akan perubahan sikap Mega saat ini.


Bimo melonggarkan tenggorokannya sebelum akhirnya angkat bicara. "Jadi ceritanya, sehari setelah hari kelulusan, Clarissa dan Sahrul menikah. Aku datang ke pernikahan mereka. Semalam sebelum pernikahan itu berlangsung, Sahrul bilang kalau dia belum siap untuk menjadi seorang ayah karena ia tidak punya apa-apa, ia ngotot ingin kembali padamu dan meninggalkan Clarissa yang sedang hamil empat bulan saat ini. Orangtua Sahrul mengalami kebangkrutan. Ibu tirinya pergi meninggalkan bapaknya. Kondisi bapaknya sendiri saat ini sedang berada di rumah sakit jiwa karena tekanan mental. Sedangkan Clarissa telah diusir oleh kedua orangtuanya karena mereka malu memiliki anak gadis yang hamil di luar nikah," terang Bimo.


Mega mendesis sambil memicingkan matanya kepada kedua orang yang ada dihadapannya itu. Kemudian iapun menghela napasnya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Bimo, Clarissa ataupun seseorang yang duduk di belakangku ini ... " tutur Mega membuat mata Bimo dan Clarissa membelalak seketika.


Bagaimana dia bisa tahu kalau Sahrul berada dibelakangnya? apakah ia punya penglihatan khusus?


"Aku tekankan sekali lagi, aku memang anak orang kaya, tapi kenapa? apa ada yang salah? aku bahkan tidak pernah mengganggu hidup kalian. Kalaupun aku mau buat masalah, bukan menggunakan cara yang licik seperti dia!" Mega sengaja mengeraskan suaranya supaya dapat terdengar juga oleh Sahrul.


Iapun kemudian memicingkan matanya kepada Clarissa. "Dan kamu ... sepertinya kamu hanya dijadikan sebagai alat oleh Sahrul. Untung saja aku tidak sampai hamil seperti kamu! Aku tidak akan sudi memiliki seorang anak dari laki-laki licik seperti dia! dan satu lagi, jangan pernah ganggu kehidupanku lagi!" terang Mega sambil menekankan kata-katanya.


"Permisi," pamit Mega kemudian berdiri dari kursinya. Namun saat ia membalikkan badannya lengan Mega dicekal oleh Sahrul.


"Sahrul! lepasin gak!" pekik Mega yang berusaha melepaskan lengannya dari cekalan Sahrul.


"Jawab jujur atau kamu akan tahu akibatnya nanti," ucap Sahrul sambil memberi Mega tatapan tajam.

__ADS_1


"Apa! apa akibatnya hah! sebenarnya apa sih tujuanmu! apa perdulimu padaku! bukankah aku hanya barang taruhan saja!" Mega tidak kalah menatap tajam ke arah Sahrul.


"Hei! pakai otakmu!" sambung Mega sambil menunjuk kepalanya sendiri. "Sepertinya otakmu ini hanya dipenuhi dengan nafsu dunia saja. Kalau kamu mau uang, ya kamu harus bekerja jangan merampok orang dengan cara licik seperti ini, lepaskan!" tegas Mega namun cekalan Sahrul semakin kencang membuat lengan Mega memerah.


Para orang suruhan Nani tiba-tiba mendekati Sahrul, Bimo dan Clarisaa pun terlihat terkejut kedatangan beberapa orang bertubuh kekar dan berwajah menyeramkan itu.


"Lepaskan dia!" kata salah satu orang itu.


Sahrul pun langsung melepaskan cekalan tangannya dari lengan Mega.


Aw! yaampun merah sekali.


Mega menatap tajam pada Sahrul.


"Urusan kita belum selesai," umpat Sahrul sebelum Mega pergi meninggalkan mereka.


Mega pun keluar dari kafe dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


"Bim, kamu gimana sih kenapa dijelasin sama dia semuanya! gagal kan rencana kita buat 'morotin' dia!" kesal Sahrul merasa frustasi lalu mengacak-ngacak rambutnya.


"Aku sebenernya gak tega tapi Clarissa yang membujukku jadi aku mau membantu kalian," kata Bimo.


Sahrul hanya diam dan duduk kembali ke kursinya. Obsesinya untuk mendapatkan wanita yang kaya raya pupus sudah. Clarissa pun telah diusir oleh kedua orangtuanya dan dihapus hak warisnya semenjak orangtua Clarissa mengetahui kalau dirinya hamil diluar nikah. Bahkan di hari pernikahannya pun kedua orangtua Clarissa tidak hadir.


"Sekarang selesaikan urusan kalian berdua, aku permisi," pamit Bimo kemudian pergi dari hadapan Sahrul dan Clarissa.


Clarissa pun ikut duduk di depan Sahrul sambil menggenggam kedua tangan Sahrul. Saat tidak ada perlawanan dari Sahrul, Clarissa pun tersenyum dan tak terasa air matanya terjatuh begitu saja membasahi pipinya.


Sahrul menatap wajah Clarissa, ia melihat sebuah ketulusan yang terpancar dari kedua mata Clarissa. Wanita yang selama ini banyak berkorban untuknya. Wanita yang selama ini sebagai pelampiasannya. Dan baru kali ini ia melihat Clarissa menangis di hadapannya. Sahrul sadar, hati Clarissa pasti begitu sakit ketika Sahrul mengungkit tentang Mega.


Tapi selama ini Clarissa tahan demi anak yang berada dikandungannya. Hingga saat ini air mata itu tumpah dan mengalir dengan derasnya.


"Cla, maafkan aku. Aku sadar, selama ini aku terlalu acuh padamu. Mulai saat ini, aku akan menjagamu dengan lebih baik demi kebaikan anak kita juga," ucap Sahrul lalu keduanya pun berdiri dan membawa Clarissa dalam pelukannya.


Mega, lihat aja nanti aku sudah hancur dan kamu juga akan hancur. Tunggu aja pembalasanku!


*****


Satu minggu setelah kejadian itu. Kini Mega masih berada di Jakarta. Hari ini dirinya berniat untuk pergi ke butik. Ia sangat rindu dengan rancangan sang ibu.


Namun sebelum berangkat, ia menghubungi neneknya terlebih dahulu.

__ADS_1


"Hallo Nek, sedang apa?"


"Hallo Sayang, Nenek sedang berada di perusahaan. Kamu masih betah di Jakarta?"


"Hmm ... Nek, kalau aku mengelola butik milik ibu selama setahun ke depan bagaimana? nanti setelah usiaku sembilan belas tahun, aku akan menetap di Belanda," pinta Mega dengan hati-hati dan menggigit bibir bawahnya.


"Apa kamu yakin, Sayang?"


"Iya Nek, aku yakin!"


"Ya sudah, tidak apa-apa. Selama kamu happy, Nenek juga happy. Enjoy your life."


"Thank you very much, Nek."


"You're very welcome!"


"Bye Nek, love you."


"Love you too, Sayang."


Sambungan telepon pun terputus. Mega menaruh ponselnya ke dalam tas dan dia pun keluar dari kamarnya.


"Bi ... aku berangkat ke butik ya."


"Loh, Non. Bibi kira Non akan kembali ke Belanda, tadi Bibi sudah menyuruh pak Madih memanaskan mobilnya terburu-buru."


Mega terkekeh geli mendengar penjelasan Surti.


"Memangnya Bibi tahu darimana kalau hari ini aku akan ke Belanda?"


"Tadi pagi Bibi lihat Non keluar dari kamar nyonya bawa koper besar, Bibi kira Non akan kembali ke Belanda hari ini."


"Oh, hahaha ... tidak Bi. Koper itu adalah rancangan milik ibu. Aku sengaja mengumpulkannya karena mau aku bawa ke butik."


"Oh, begitu Non. Hati-hati ya Non, semoga di tangan Non Mega butiknya semakin sukses lagi."


"Aamiin, aku berangkat ya Bi."


"Iya Non."


Mega pun akhirnya berangkat menuju butik di mall yang pernah Mega sambangi.

__ADS_1


__ADS_2