
"Mega," panggil Pinkan dengan mengecilkan volume suaranya.
"Hmm, kenapa?" tanya Mega sembari melirik ke arah Pinkan yang duduk di sofa.
"Tadi sebelum keluar kamu bilang kak Alka duren? maksudnya apakah dia seorang duda keren?" tanya Pinkan yang dipenuhi rasa penasaranya.
"Heem, iya," Mega mengangguk.
"Serius? kok gak kelihatan sih ?" tanya Pinkan tidak percaya sedangkan Mega hanya mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu.
"Coba dong ceritakan padaku," rengek Pinkan sembari memberikan senyuman termanisnya.
"Alah kamu ini! senyummu biasa aja Pinkan, aku tau kok kamu menyukai kak Alka kan?" ledek Mega dan Pinkan hanya mengerucutkan bibirnya.
"Sudah bisa aku tebak," Mega tersenyum tipis pada Pinkan, sedangkan Pinkan cengengesan.
"Kak Alka itu memang duda. Awalnya dia ditinggal oleh mantan istrinya untuk berkarir. Dan baru-baru ini mantan istrinya meminta kak Alka untuk kembali padanya. Tapi kak Alka tolak karena dia udah terlanjur kecewa dan akhirnya di ceraikan. Namanya Kiran."
"Ya kalau aku sih ada di posisi kak Alka mungkin akan bersikap sama. Mana ada sih orang yang mau ditinggal gitu aja sama pasangan demi egonya terus tiba-tiba dia minta kembali lagi tanpa ada rasa bersalah? nggak ada kan, mungkin sebagian ada karena rasa cintanya terlalu besar," Pinkan masih mendengarkan Mega berbicara.
"Ya.. walaupun setiap orang pasti punya kesempatan tapi kan setiap orang gak mungkin sama, bener gak sih?" jelas Mega sembari menggerutu membuat Pinkan pasrah dan mengangguk paham.
"Iya juga sih, kasihan kak Alka padahal dia tampan punya kharisma yang menawan. Dan satu lagi dia dewasa, bertanggung jawab serta tajir," ucap Pinkan sambil tersenyum membayangkan sosok Alka .
"Itu bukan satu lagi tapi tiga!" ledek Mega kemudian tertawa.
"Ck, ih kamu ini!" Pinkan mencebikkan bibirnya.
"By the way ayah dan ibu kandung Nindya wajahnya mirip dengannya gak ya? kalau aku sih gak rela Nindya mirip dengan kedua orangtua kandungnya. Aku lebih rela Nindya mirip kamu dan kak Albi," ucap Pinkan memperhatikan wajah Nindya yang masih tertidur pulas.
"Ngawur kamu! ya mungkin aja Nindya mirip kedua orangtua kandungnya Pinkan. Aku juga belum pernah bertemu langsung dengan orangtua kandung Nindya. Kalau Nindya lahir dari rahimku baru mirip denganku atau kak Albi," timpal Mega sambil berdecak.
Pinkan terkekeh sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.
"Pinkan, kamu beneran naksir sama kak Alka?" tanya Mega yang mulai penasaran.
__ADS_1
Bukannya menjawab pertanyaan Mega, justru Pinkan malah kembali cengengesan.
"Hilih! ditanya malah cengengesan," gerutu Mega sambil berdecak.
"Kalau iya, kenapa memangnya Mega?" jawab Pinkan malu-malu meong.
"Ya gak apa-apa sih justru aku senang," seru Mega yang kemudian terkekeh dan merubah posisinya dari bersandar mejadi duduk.
"Menurut kamu kak Alka itu orangnya gimana?" tanya Pinkan dengan hati-hati. Mega pun menahan tawanya.
"Ya kamu kenalan sendirilah sama kak Alka," sahut Mega membuat Pinkan memutar malas setengah bola matanya, "tadi aja dia udah berani kedip-kedipin mata gitu ke kamu loh Pinkan. Tapi dia tuh jahilnya kebangetan dan disamping itu kak Alka gak kalah baiknya lah dengan kak Albi," sambung Mega sementara Pinkan hanya mengerucutkan bibirnya.
Pinkan hanya menghela nafasnya.
"Kenapa? kok kayaknya pasrah gitu Pinkan?" tanya Mega yang merasa heran.
"Aku hanya tak ingin mengharap lebih, kamu ingat kan? setahun lalu saat aku pergi meninggalkan Zidan?" keluh Pinkan dan Mega pun mengangguk.
"Lalu?" tanya Mega kembali.
Pinkan menarik kembali memorinya ke masa lalu saat dia bersama Zidan dulu. Penyesalan yang hadir hingga saat ini, membuat Pinkan enggan untuk membuka hatinya kembali. Tapi kali ini hatinya terbuka begitu saja, membiarkan pesona Alka masuk kedalamnya. Semua itu berlawanan dengan akal sehatnya.
Kenapa rasa cinta itu datang bukan diwaktu yang tepat? sepertinya kewarasanku sudah mulai berkurang karena kak Alka.
"Pinkan! kok jadi melamun sih?" pekik Mega membuat Pinkan tercekat kaget.
"Sudah.. sudah gak usah galau ya. Biarkan aja mengalir, jika saatnya nanti kak Alka memang ditakdirkan Tuhan untukmu. Pasti kak Alka akan bersamamu kok," sambung Mega dan Pinkan pun mengangguk sembari tersenyum.
Tiba-tiba Nindya terbangun.
"Mommy.. huaaa... huaaa.. mommy," Nindya menangis. Dengan sigap Pinkan berdiri dan menghampiri Nindya.
"Adik Nindya sudah bangun, hem? sini aunty gendong ya," tanya Pinkan dengan nada lembut lalu mengangkat Nindya ke pangkuannya. Tak lama tangis Nindya pun mereda.
"Tuh lihat, mommy juga sedang sakit. Kita berdoa sama-sama yuk biar Nindya, mommy dan juga daddy cepat sehat terus bisa main kembali dengan Nindya," ucap Pinkan lalu Nindya pun mengangguk.
__ADS_1
Pinkan dan Nindya berdoa bersama begitupun dengan Mega. Setelah selesai berdoa, Nindya tersenyum melihat Mega.
"Mommy, aku kangen mommy," ucap Nindya yang masih berada di pangkuan Pinkan.
"Mommy juga kangen Nindya, tapi untuk sekarang mommy minta maaf belum bisa main sama Nindya ya," ucap Mega sembari menunjukkan wajah murungnya.
"Iya mommy gak apa-apa, Nindya sayang sama mommy dan juga daddy," sahut Nindya membuat Mega kembali tersenyum.
Pinkan pun langsung menekan tombol panggilan untuk perawat. Tak lama perawat pun datang, Nindya di taruh kembali ke atas tempat tidurnya kemudian diperiksa oleh dokter anak yang ditemani seorang dokter.
Ruang Operasi
Operasi yang Albi jalani baru saja selesai, dokter langsung membersihkan darah di sekitar dada Albi dan beberapa perawat membersihkan darah yang ada di lantai.
Adidaryo yang selama operasi berlangsung terus mundar-mandir di depan ruang operasi tersebut. Perasaannya tak karuan dan pikirannya pun sangat begitu cemas. Dokter pun keluar dari ruang operasi.
"Tuan Adidaryo," ucap dokter tersebut lalu Adidaryo pun menoleh.
"Dokter bagaimana keadaan cucu saya?" tanya Adidaryo sambil berjalan menghampiri dokter tersebut.
Tiba-tiba ponsel Adidaryo pun berbunyi. Dokter itu mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Adidaryo dan mempersilahkan Adidaryo untuk menjawab panggilan teleponnya. Adidaryo melihat ke layar ponsel ternyata Alka, ia pun langsung menjawab panggilan telepon dari Alka.
"Hallo Ka, ada apa?" tanya Adidaryo tho the point.
"Kek, kenapa kakek gak bilang kalau pemilik Amarany Grup adalah neneknya Mega? Aku begitu terkejut saat melihat nyonya Nina datang dan mengisi buku tamu," ucap Alka sambil menggerutu.
Adidaryo hanya tersenyum tipis dan hampir tak terlihat.
"Ya sudah syukurlah kalau kamu sudah tahu. Sudah dulu ya, Albi baru aja selesai di operasi," jawab Adidaryo lalu memutuskan sambungan teleponnya.
"Jadi bagaimana dok?" tanya Adidaryo.
"Operasi tuan Albi berjalan dengan sangat lancar, tapi ada satu hal yang harus saya beritahukan kepada tuan," jawab dokter tersebut.
"Apa itu dok?"
__ADS_1