
Pagi menyapa negeri kincir angin dengan kabut yang cukup tebal dihamparan rumput yang menyelimuti perbukitan. Hawa dingin masih terasa seiring hembusan angin yang menyapa.
Sang pemilik rumah mewah di kota Amsterdam masih sangat nyaman berada di alam mimpinya. Suara bising alarm yang membuat sang empunya terbangun.
Pukul berapa ini?
Mega melihat jam dinding yang berada di dalam kamarnya.
Sudah pukul 6 rupanya
Lalu ia pun duduk diatas tempat tidur sambil meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Setelah itu Mega turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. Hampir setengah jam ia di kamar mandi, Mega pun telah selesai lalu keluar dari kamar mandi kemudian menuju ruang ganti pakaian.
Mega duduk di sofa dengan pintu lemari yang sudah ia buka semua sebelumnya. Mega tampak memilah-milah pakaian yang akan ia kenakan untuk ke kampus hari ini.Tak lama pilihannya tertuju pada dress dibawah lutut dengan motif bunga berwarna nude dan ia padu padankan dengan cardigan bercorak abstrak berwarna putih. Tak lupa Mega memakai sepatu sneaker supaya ia lebih leluasa pada saat berjalan.
Setelah memoles wajahnya dengan makeup tipis dan rambutnya ia kuncir kuda, Mega pun menyambar tas lalu keluar dari dalam kamar.
Walaupun di rumah Nina terdapat lift namun sangat jarang ia pakai, karena Mega lebih suka naik turun tangga. Alasannya Mega ingin menjaga staminanya, mengingat tubuhnya masih beradaptasi dengan iklim di Belanda.
Sebentar lagi pun akan memasuki musim dingin, daun-daun mulai berguguran membuat jalan-jalan banyak dijatuhkan daun-daun yang sudah mengering karena terkena tiupan angin.
Sesampai di ruang makan, Mega melihat Nina yang baru saja menutup pintu kamarnya.
"Selamat pagi nek," sapa Mega dengan senyumanya yang begitu merekah.
"Selamat pagi, kamu ini mengingatkan nenek sewaktu muda. Dulu nenek sering sekali memakai setelan pakaian seperti ini. Kamu menjadi terlihat lebih anggun dan cantik," ucap Nina yang kemudian duduk di kursi makan.
"Oh ya nek? wah berarti kecantikanku menurun dari nenek dan ibuku dong," seru Mega membuat Nina tertawa.
"Iya benar, kamu benar sekali sayang," kata Nina yang masih tertawa.
"Tapi yang paling menurun dari ibu kamu kepada kamu itu sifat aslinya, yang sederhana dan begitu rendah hati," sambung Nina dan Mega pun langsung tersenyum sambil mengelus punggung tangan Nina.
"Ah ya sudah nanti yang ada masih pagi nenek sudah menangis. Lebih baik kita sarapan sekarang," ajak Nina dan Mega pun mengangguk.
Keduanya pun menikmati sarapan bersama.
"Oh iya sayang, kemarin Sahrul sudah nenek kembalikan ke Indonesia. Dan menurut laporan yang nenek terima, sekarang istrinya telah melahirkan terus ia juga sudah meminta maaf kepada kedua mertua dan juga istrinya," ucap Nina kemudian menyantap sarapannya kembali.
"Oh seperti itu nek? bagus deh. Semoga Sahrul benar-benar sudah berubah ya sekarang," kata Mega sambil tersenyum.
"Aamiin," ucap Nina.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, Nina maupun Mega telah selesai menyantap sarapan mereka. Mega memilih langsung berangkat ke kampus, sementara Nina kembali ke ruang kerjanya karena hari ini ia akan ke perusahaan pusat Amarany Grup. Setelah kemarin sempat tertunda.
Para pelayan langsung bergegas membereskan meja makan dan merapihkannya seperti semula.
🌾
Universiteit van Amsterdam
Mega baru saja tiba di kampus, ia pun turun dari mobil tak lupa mengucapkan terima kasih kepada supir yang telah mengantarnya. Supir Mega pun menunggu di tempat parkir.
Mega masuk ke dalam, seketika langkahnya terhenti saat ia melihat Albi sedang berdiri di dalam lobby kampus. Ada rasa kesal di hati Mega setelah kemarin Alka tidak kunjung datang menepati janjinya.
Mega pun berjalan dengan santai, saat ia lewat persis didepan Albi. Seketika Albi pun menoleh.
"Mega?" panggil Albi. Mega yang merasa namanya dipanggil ia sebisa mungkin bersikap biasa saja.
"Iya?" tanya Mega dan Albi pun menghampiri Mega.
"Kita akhirnya bertemu lagi," ucap Albi sambil tersenyum.
"Kak Albi kenapa tampilanmu hari ini berbeda?" tanya Mega bingung yang melihat Albi saat ini memakai setelan jas kantor yang sangat rapih.
"Hallo kak?" panggil Mega dengan suara sedikit kencang untuk menyadarkan Albi dari lamunannya.
"Eh iya kenapa?" tanya Albi yang terkesiap.
"Kakak yang kenapa? aku tanya kok malah melamun," jawab Mega sambil berdecak kesal.
"Maaf maaf," ucap Albi lalu ia melihat arloji yang melingkar di tanganya.
Aku harus segera pergi dari sini sebelum Mega bertanya padaku lebih jauh. Rasanya aku belum siap untuk cerita sekarang.
"Mega maaf ya aku harus pergi sekarang, ada urusan yang harus aku urus," sambung Albi lalu tiba-tiba ponsel Albi pun berdering, setelah ia melihat ke layar ponselnya ternyata Vanesha yang menelepon.
"Bye Mega," pamit Albi lalu pergi menjauh dari Mega, sementara Mega hanya menatap kepergian Albi dengan raut wajah bingung kemudian Mega pergi ke kelasnya.
"Ya hallo?" sapa Albi saat ia mengangkat sambungan telepon Vanesha.
"Hun, hari ini jadwal periksa kandunganku. Apakah kamu bisa menemani aku?" tanya Vanesha ragu-ragu.
"Baiklah tapi setelah makan siang aja ya, soalnya pagi ini aku sangat sibuk," jawab Albi dingin.
__ADS_1
"Oke," ucap Vanesha lalu Albi pun mengakhiri sambungan teleponnya.
tut..tut..tut..tut..tut
Selalu begitu! aku kesal sekali dengan Albi. Mengakhiri sambungan telepon seenaknya bahkan tidak ada kata-kata romantis sama sekali.
Vanesha menggerutu dalam hatinya. Sedangkan Albi langsung berjalan ke tempat parkir lalu melajukan mobilnya ke kantor Adidaryo Grup.
Kelas Mega
Setiba di kelas, Mega begitu terkejut karena belum ada orang sama sekali. Dengan langkah santai, ia pun berjalan dan naik satu anak tangga ke kursi yang berada di paling depan. Mega pun memilih memainkan ponselnya.
Dikejauhan, Alka sedang memantau apa yang tengah dilakukan oleh Mega.
Maaf ya Mega, belum saatnya aku menceritakan semuanya. Cepat ataupun lambat, aku akan memberitahumu yang sebenarnya.
Kemudian Alka pergi dari tempatnya ia berdiri.
Beberapa jam belajar mengajar berlangsung. Semua yang berada di dalam kelas membubarkan dirinya termasuk Mega. Saat sedang perjalanan ke tempat parkir, ponsel Mega pun berdering.
Nenek? ada apa ya?
Mega mengangkat telepon dari Nina.
"Hallo nek?" sapa Mega.
"Sayang, bisa mengantar nenek sekarang ke rumah sakit? soalnya satu jam lagi nenek akan bertemu dengan client," tanya Nina membuat Mega mengerutkan kedua alisnya.
"Ke rumah sakit? apakah nenek sakit?" tanya Mega yang mulai panik.
"Tidak sayang, nenek mau menebus vitamin aja dan nenek bosan kalau mengambilnya sendiri kan kalau ada kamu jadi ada teman ngobrol nanti," jawab Nina.
"Syukurlah aku sudah takut aja nek. Baiklah kalau begitu nek aku akan ke rumah sakit sekarang," ucap Mega dengan perasaan lega.
"Kamu hati-hati dijalan ya nak," kata Nina.
"Iya nek, bye nek sampai ketemu disana ya," ucap Mega lalu memutuskan sambungan teleponnya.
Mega pun langsung bergegas berjalan ke tempat parkir lalu pergi ke rumah sakit.
Bersambung..
__ADS_1