KELIRU

KELIRU
BANGKIT!


__ADS_3

Di dalam pesawat Mega merasa sepi karena tidak ada Pinkan dan juga Dona. Akhirnya Mega menghabiskan perjalanannya kembali ke Belanda dengan tidur.


Belanda


Setelah menempuh perjalanan jauh, Mega pun terbangun 10 menit yang lalu sebelum co pilot memberitahukan untuk landing. Matanya begitu sembab karena terlalu banyak tidur dan Mega baru merasakan lelah pada tubuhnya.


Kenapa rasanya terasa kaku semua tubuhku? aaah, sepertinya aku butuh massage.


Mega merenganggakan otot-ototnya di kursi penumpang. Tak lama pesawat pun mendarat dengan aman. Mega bangkit dari kursinya dan turun dari pesawat disambut dengan hujan yang cukup deras.


Seorang pramugari dengan cekatan membantu Mega membuka payungnya. Beruntung anginnya tidak terlalu kencang, jadi payung lekas terbuka.


"Terima kasih," ucap Mega sambil tersenyum lalu menuruni anak tangga.


Setelah masuk ke dalam lobby kedatangan bandara, Mega menutup kembali payungnya dan menyimpannya dipenyimpanan khusus yang sudah disediakan pihak bandara. Mega merapihkan kembali pakaiannya dan juga mengikat rambutnya yang sempat ia gerai saat turun dari pesawat.


Setelah dirasa rapih, Mega berjalan dengan santai menuju tempat pengambilan barang. Sesampai di tempat pengambilan barang, Mega berdiri menunggu kopernya keluar dari dalam mesin pengecekkan.


Mega melipat kedua tangannya di dada. Tiba-tiba seorang laki-laki berdiri tepat di sebelahnya. Mega pun menoleh ke arah laki-laki itu.


DEG! bukankah dia laki-laki yang membantuku 3 tahun lalu. Mengapa aku bisa bertemu disini dengannya?


Mega menatap lekat laki-laki itu tanpa berkedip. Dan tak lama ia pun tersadar lalu menatap lurus kembali ke depan. Kemudian Mega pun melihat kopernya sudah berhasil keluar dari mesin pengecekkan, senyum tipis terukir dari kedua sudut bibirnya.


Namun ternyata dibelakangnya terdapat koper yang sama persis dengan milik Mega. Setelah tepat berada di depannya, Mega mengambil koper yang pertama dan laki-laki itu mengambil koper setelah Mega.


Keduanya menurunkan koper mereka. Mega mengecek kembali struk nama yang tertera di koper itu.


Albi Adidaryo.


Apakah dia Albi, laki-laki yang tiga tahun lalu? Tunggu, kenapa nama belakangnya sama seperti nama Damar? apakah mereka keluarga?


Mega Lesmana.


Mega? sepertinya namanya tak asing bagiku.


Keduanya saling bertukar pandang setelah membaca struk nama tersebut. Mata mereka langsung bertemu, tak terasa senyuman dari kedua bibir mereka mengembang dengan sedirinya.


"Maaf, apakah kamu kak Albi yang pernah menolongku 3 tahun yang lalu?" tanya Mega ragu-ragu.


"Tiga tahun yang lalu?" Albi berpikir sejenak. "Apakah kamu Mega yang aku antarkan pulang?" tanya Albi setelah berhasil mengingatnya dan Mega pun mengangguk cepat sambil tersenyum.


"Wah sudah lama sekali kita tidak bertemu, bagaimana kabarmu sekarang Mega?" tanya Albi dengan raut wajah yang berbinar-binar sambil mengulurkan tangannya.


"Aku baik, kak Albi sendiri apa kabar?" jawab Mega sambil membalas uluran tangan Albi lalu bertanya kembali.

__ADS_1


"Aku juga baik, apa sekarang kamu sedang berlibur?" jawab Albi lalu bertanya kembali dengan Mega.


"Tidak, aku disini akan melanjutkan sekolahku," jawab Mega dan keduanya bertukar koper yang sempat tertukar.


Entah kenapa hatiku begitu bahagia setelah bertemu dengan malaikat penolongku. Aku harap aku benar-benar sudah bisa bangkit dari rasa sakit hatiku terhadap mendiang Damar.


Keduanya berjalan keluar dari tempat pengambilan koper.


"Bisakah kita mengobrol lebih dulu?" tanya Albi membuat Mega berpikir sejenak.


"Mengobrol? dimana?" Mega bertanya kembali kepada Albi.


"Sepertinya di coffeshop sana lebih baik," jawab Albi sambil menunjuk sebuah coffeshop yang berada di bandara.


"Boleh, ayok," ajak Mega.


"Kamu baru datang dari Indonesia?" tanya Albi saat keduanya sedang berjalan menuju sebuah coffeshop.


"Iya, kakak sendiri?" jawa Mega lalu bertanya kepada Albi.


"Aku baru saja pulang dari perjalanan dinas," jawab Albi.


"Apa kakak seorang pengusaha?" tanya Mega tanpa ragu.


"Tentu," jawab Albi.


"Kamu disini tinggal dengan siapa Mega?" tanya Albi.


"Dengan nenekku, kalau kakak?" jawab Mega dan bertanya kembali pada Albi.


"Aku tinggal bersama..." Albi menggantungkan kata-katanya.


Tidak mungkin aku bilang kalau aku tinggal bersama istriku. Karena aku tidak mencintainya, sejak awal aku hanya mencintai Mega. Aku dan Vanesha hanya dijodohkan oleh kakek saat kedua orangtuaku telah tiada.


"Halo kak Albi?" tanya Mega sambil melambaikan tangannya didepan wajah Albi. Sementara Albi terkesiap sadar dari lamunannya.


"Maaf, aku sepertinya kelelahan. Aku tinggal bersama keluargaku," jawab Albi sambil menggaruk lehernya yang tidak gatal.


"Oh.." ucap Mega dan pesanan merekapun datang.


"Selamat menikmati, semoga suka," ucap pelayan coffeshop tersebut lalu pergi dari hadapan Mega dan juga Albi.


"Kalau boleh tahu kamu kuliah dimana ?" tanya Albi.


"Aku kuliah di Universiteit van Amsterdam," jawab Mega setelah itu ia pun menyeruput ice moccachino pesanannya.

__ADS_1


"Wow, apakah kamu bercita-cita ingin menjadi seorang entrepreneur?" tanya Albi tercekat kagum.


"Iya, karena aku suka dengan bisnis. Dulu mendiang ayah dan ibuku juga seorang pembisnis yang hebat," jawab Mega.


"Pantas saja, tidak heran jika kamu memilih kuliah disana. Kamu baru masuk kuliah atau sudah lama?" tanya Albi kembali.


Mega pun terkekeh, "aku baru masuk kak, baru aja daftar beberapa hari yang lalu," jawab Mega.


"Bukankah seharusnya kamu lulus sejak satu tahun yang lalu, Mega? kenapa baru masuk sekarang?" tanya Albi yang sangat penasaran sementara Mega terdiam sejenak.


"Ada satu hal yang gak bisa aku jelasin kek kak Albi. Maaf ya kak," jawab Mega sambil tersenyum dan Albi pun menghargai keputusan Mega.


"Tak apa Mega maaf ya kalau membuatmu tersinggung," ucap Albi juga ikut tersenyum.


Keduanya pun menghabiskan pesanan mereka.


"Kak maaf, sepertinya aku gak bisa lama-lama disini karena nenek pasti sudah menungguku dirumah," pamit Mega.


"Oh iya tidak apa-apa, terima kasih telah bersedia menemani aku disini Mega," ucap Albi dan Mega pun mengangguk sambil tersenyum.


"Sama-sama, sampai bertemu kembali kak," kata Mega yang berdiri dari kursinya dan menyambar slingbag yang berada diatas meja.


"Mega?" panggil Albi, Mega yang tadinya akan melangkah menjadi berhenti mendengar namanya dipanggil oleh Albi.


"Iya, ada apa kak?" sahut Mega.


"Bisakah kita berteman? bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" tanya Albi dan Mega pun mengangguk sambil tersenyum.


Albi memberikan ponselnya kepada Mega. Mega pun langsung memasukkan nomor ponselnya ke dalam ponsel Albi. Kemudian Mega memberikan ponsel Albi kembali, namun ia tidak menyadari bahwa walpaper ponsel Albi seorang anak perempuan berusia sekitar 3 tahun. Albi membulatkan matanya dengan sempurna dan dengan perlahan tapi pasti ia pun mengambil ponselnya.


"Terima kasih Mega," ucap Albi.


"Sama-sama, bye kak Albi," kata Mega kemudian pergi dari hadapan Albi.


Untunglah dia tidak melihatnya, aku belum siap untuk menceritakan semuanya pada Mega sekarang.


Albi pun memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana, ia pun keluar dari coffeshop tersebut. Sedangkan saat Mega keluar dari bandara, dirinya telah disambut oleh supir Nina.


Mega masuk ke dalam mobilnya, lalu supir Nina pun membantu Mega memasukkan kopernya kedalam bagasi.


"Terima kasih pak," ucap Mega.


"Sama-sama non," kata supir tersebut.


Mega pun masuk ke dalam mobil begitu pun dengan sang supir. Kemudian mobil yang ditumpangi Mega pun melaju. Dari kejauhan Albi menatap Mega dengan penuh rasa penasaran.

__ADS_1


Sepertinya Mega bukan orang biasa di kota ini. Siapa ya Mega sebenarnya?


__ADS_2