KELIRU

KELIRU
MENYAKITKAN


__ADS_3

"Jadi, waktu itu aku tidak sengaja melihat Clarissa masuk ke dalam ruang BK saat aku baru saja selesai dari toilet. Terus aku lihat tak lama Sahrul masuk ke dalam BK juga dan saat aku melewati mereka aku mendengar kalau Clarissa di keluarkan dengan syarat," jelas Pinkan.


"Ya sudahlah kemarin sebelum kamu telepon aku itu, aku habis ketemuan sama si Sahrul, Clarissa dan Bimo. Aku bahkan gak habis pikir ya sama mereka bertiga. Mereka bersekongkol mau menodongku secara halus. Pas aku datang ke sekolah ya untuk mengambil ijazah, eh si Clarissa tiba-tiba dateng menggadangku terus diikuti dengan Bimo. Ya daripada ribut di sekolah, si Bimo ngajak ngobrol di cafe."


"Aku gak tahu sih kalau gak ada orang-orang suruhan nenek, tanganku kemarin sampai dicekal sama si Sahrul. Udah gila emang tuh orang! kesel aku jadinya," jelas Mega panjang lebar meluapkan kekesalannya.


Pinkan dan Dona hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mega kalau lagi kesal menyeramkan juga ya," ucap Dona sambil terkekeh.


"Aku masih sabar selama ini, tapi semakin kesini dia semakin keterla...," Mega menggantungkan kata-katanya saat ia menoleh ke arah luar restoran. Matanya langsung membulat dengan sempurna saat ia melihat Damar bersama seorang wanita yang tadi berbuat hal tidak senonoh di toilet wanita.


Damar.. bersama wanita itu? siapa ya namanya? hmmm.. oh iya April.. kenapa kelihatannya mereka ada di sini 'sih Tuhan. Bukankah Damar bilang kalau dia kesini untuk pekerjaan?


"Ga, Mega!" kata Pinkan sambil menepuk bahu Mega.


Mega pun langsung terperanjat terkejut dan menoleh kepada Pinkan.


"Eh iya kenapa?" tanya Mega.


"Kamu yang kenapa Mega, kamu lagi lihatin apa sih?" tanya Dona sambil melihat ke arah yang Mega tuju.


"Gak ada siapa-siapa kok, aneh nih Meles," sambung Dona sambil mencebikkan bibirnya.


"Sudah selesai lebih baik kita main yuk takut mall nya keburu tutup," ajak Pinkan.


Setelah membayar makanan, mereka bertiga langsung menuju time zone. Mega tidak melepas maskernya.


"Siapa yang bawa kartu time zone?" tanya Dona dan Mega langsung mengecek dompetnya.


"Nih pakai punyaku dan ini uangnya," jawab Mega tersenyum sambil memberikan kartu dan uang kepada Dona. Lalu Dona pun mengambilnya dari tangan Mega.


Mega dan Pinkan menunggu di sebuah kursi yang berada di tengah time zone tersebut. Pinkan fokus dengan ponselnya sementara Mega memperhatikan orang yang berlalu lalang di mall tersebut.


Lagi-lagi mata Mega tertuju pada Damar dan April yang berjalan masuk ke dalam area time zone. Mega masih memperhatikan, dirinya tak ingin salah kaprah kembali.


Sakit, memang iya. Itulah yang dirasakan Mega. Namun Mega harus tetap tenang.

__ADS_1


Damar dan April berhenti di sebuah mesin permainan.


"Pinkan aku mau lihat-lihat dulu ya," ucap Mega dan Pinkan pun mengangguk.


Mega berjalan dan berhenti berdiri tepat di belakang Damar dan April.


"Sayang, aku mau main ini dong, temani aku ya," ucap April pada Damar.


KRETEK.. hati Mega terasa retak mendengar April menyebut Damar dengan sebutan sayang.


Jadi seperti ini kelakuan mereka di belakangku? apa jangan-jangan Damar ke sini untuk berlibur dengan April bukan untuk bekerja?


Tes.. Tes.. Tes..


Air mata Mega menetes begitu saja.


"Tapi sepertinya kita harus membeli sebuah kartu yang dapat diisi ulang, Sayang," kata Damar.


DRUARR.. seperti petir yang sedang menyambar Mega saat ini juga. Laki-laki yang ia cintai berkhianat dibelakangnya.


Setelah Damar dan April pergi, Mega memilih kembali ke kursi yang sejak tadi ia tempati dengan Pinkan. Ia pun menghapus air matanya.


"Ayok kita adu main basket ya!" ajak Dona.


Mereka pun main dengan penuh semangat. Kecuali Mega, rasa sesak yang sudah menjalar di dalam dadanya. Seakan suasana hatinya merubah diri Mega menjadi gelap.


Mega sudah tidak tahan lagi, ia pun pamit pada Dona dan Pinkan untuk segera menyelesaikan urusannya.


"Donut, Pinkan aku ada urusan sebentar. Kalau kalian cari aku lacak aja keberadaanku lewat ponsel kalian ya," ucap Mega yang terlihat terburu-buru.


"Oke, semoga urusanmu cepat selesai ya," ucap Dona dan Mega pun mengangguk sambil pergi dari hadapan kedua sahabatnya.


Sepeninggalan Mega, Dona dan Pinkan pun bertanya-tanya.


"Don kamu ngerasa aneh gak sih dengan Mega?" tanya Pinkan.


"Iya kamu benar, aku juga merasa aneh Pinkan," jawab Dona.

__ADS_1


"Ada apa ya? kok perasaanku gak enak sih," ucap Pinkan.


"Apa kita ikuti Mega aja ya? aku takut terjadi sesuatu dengannya," usul Dona.


"Ayok kita ikuti diam-diam, Pinkan!" ajak Dona dan mereka pun mengikuti Mega dengan jarak yang cukup jauh tapi masih bisa dijangkau.


Mega berjalan mendekati Damar dan langsung menarik tangan Damar lalu pergi membawa Damar menjauh dari April. Sementara April langsung tersentak kaget melihat Mega ada di mall ini.


"Damar! ikut aku sekarang," ucap Mega dengan amarah yang mulai menguasai dirinya.


Dona dan Pinkan tercengang melihat sikap Mega lalu mereka saling bertukar pandang.


Mega membawa Damar ke depan toko yang sudah tutup dan jarang dilalui banyak orang.


"Mega, kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Damar tidak percaya.


"Kamu gak perlu tahu kenapa aku bisa disini, yang terpenting sekarang. Kenapa kamu pergi sama perempuan itu kesini?" jawab Mega kemudian bertanya kembali kepada Damar.


"A-aku hanya berjalan-jalan dengan teman saja Mega," jawab Damar terbata-bata.


"Apa bergandengan tangan dan panggil sayang-sayangan itu disebut hanya teman?" tanya Mega santai sambil melipat kedua tangannya di dada.


Kenapa dia bisa tahu sebutanku dengan April? atau jangan-jangan wanita yang tadi di belakangku itu Mega?


Damar mengingat-ngingat kembali saat ia masuk ke dalam arena bermain tersebut.


"Sekarang jujur sama aku, ada hubungan apa kamu dengan dia?" tanya Mega yang masih bisa bersikap tenang.


"Sekarang jujur sama aku, ada hubungan apa kamu dengan dia?" tanya Mega yang masih bisa bersikap tenang.


Hatinya bagai tersayat sembilu. Harapannya telah pupus. Cinta yang ia rasa akan bertahan lama, seketika berubah dan pergi begitu saja.


Bukannya ia ingin menyerah, tapi rasanya percuma jika Mega tetap mempertahankannya. Damar tetap akan lebih memilihnya.


Tidak ada yang bisa mengerti sebuah rasa, saat ia telah ditorehkan luka. Tak ubahnya seperti benalu, ia memang akan tinggal tapi sekelilingnya akan tetap mati.


Hancur, rancu dan buntu. Akal sehatnya sudah sulit untuk berpikir jernih. Mungkin setelah ini, perpisahanlah yang menjadi jalan akhir.

__ADS_1


__ADS_2