
Sesampai di tempat parkir, Lusy langsung melajukan mobilnya. Pikirannya begitu kacau, akhirnya dia membelokkan mobilnya ke sebuah club yang sangat terkenal di kota Amsterdam.
Tuhan kenapa hidupku menjadi terpuruk kembali? aku sudah kehilangan harga diriku bahkan anakku sendiri. aku benci Samudera! dia yang telah menjadikanku seperti ini! Samudera tunggu pembalasanku!
Lusy pun masuk kedalam untuk bersenang-senang. Ia bahkan meminum minuman yang sangat tinggi kandungan alkoholnya.
"Berikan aku yang mengandung alkohol 85%," ucap Lusy kepada bar tender yang berada dihadapannya sambil duduk di kursi.
"Apakah kamu yakin?" tanya bar tender itu.
"Yakin," jawab Lusy singkat.
Bar tender itu pun membuatkan minuman sesuai yang diinginkan Lusy.
Sepertinya wanita ini sedang mengalami depresi berat, tapi kalau dilihat dia tidak pernah datang ke sini. Padahal ia cantik, lebih baik aku kasih yang 65% saja.
Bar tender itu sesekali sambil melirik ke arah Lusy. Sedangkan Lusy hanya tertegun meratapi nasibnya.
"Silahkan nona," ucap bar tender itu dan Lusy langsung menenggak minuman yang baru saja diberikan oleh bar tender yang ada di hadapannya.
"Apa-apaan ini! kamu meragukan aku? ini hanya mengandung 65% alkohol. Kan udah aku bilang beri aku yang mengandung 85% alkohol," bentak Lusy membuat bar tender itu tercengang.
What! ternyata perkiraanku salah, bahkan dia tahu kandungan alkohol yang aku berikan. Baiklah akan aku tambahkan menjadi 90% alkohol.
"Silahkan nona," ucap bartender itu sambil tersenyum smirk lalu memberikan minumannya.
Tanpa ragu Lusy langsung menenggak kembali. Cukup banyak ia minum, akhirnya Lusy terkapar dan tak sadarkan diri.
Cih! ternyata wanita ini sungguh luar biasa, dia bahkan mampu menghabiskan satu botol penuh yang mengandung 90% alkohol. Sebegitu sangat depresinya kah dia?
Tak lama ada dua orang laki-laki yang bertubuh kekar dan berwajah menyeramkan mendekati Lusy lalu membawa Lusy pergi dari club tersebut.
🌾
Indonesia
Ditempat Lain
__ADS_1
Tampak April sedang memanen hasil kebun bersama laki-laki yang sejak beberapa minggu lalu tinggal bersamanya. Dibalik sikap dinginnya laki-laki itu, diam-diam dia maupun April saling memiliki perasaan satu sama lain.
Sampai saat ini April pun belum mengetahui nama laki-laki yang tinggal bersamanya. Selama ini keduanya hanya saling diam dan berbicara seperlunya saja.
April memberanikan diri menghampiri laki-laki itu yang juga sedang memanen hasil kebun bersamanya.
"Maaf, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya April ragu-ragu.
"Hmm," jawab laki-laki itu sementara April langsung menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu menghembuskannya secara perlahan.
"Kalau boleh tau, nama kamu siapa ya? selama ini kita..." belum sempat April melanjutkan kata-katanya, April langsung menutup mulutnya saat laki-laki itu menoleh ke arahnya sambil memberikan tatapan tajam padanya dan memotong pembicaraannya.
"Dany," jawab laki-laki itu tanpa menoleh ke arah April dan April mengangguk lalu menggaruk lehernya yang tidak gatal.
Oh ternyata namanya Dany. Okey.
April memilih menjauh kembali dari Dany dan melanjutkan aktifitasnya memanen hasil kebun. Hari sudah semakin sore, April dan Dany bergegas membereskan hasil kebun mereka dan memasukkannya ke dalam gudang penyimpanan.
Saat keduanya masuk ke dalam gedung penyimpanan, mata April langsung membulat dengan sempurna.
"Mas Dany, apakah ini semua dari hasil panen di kebun?" tanya April yang tercekat kagum.
"Lalu akan diapakan semua ini mas?" tanya April dengan polosnya.
"Nanti semua ini akan didistribusikan langsung ke Belanda," jawab Dany.
"Ke Belanda? memangnya kita menjual barang ke sana?" tanya April yang tidak tahu kalau disana adalah kediaman tuan Adidaryo, kakek dari mendiang Damar.
"Iya, disana adalah pemilik ladang ini. Mereka menanamnya di sini karena tanah negara kita jauh lebih subur ketimbang disana, kecuali tumbuhan yang hanya bisa bertahan hidup disana dan tidak bisa di tanam di negara kita," jelas Dany membuat April mengangguk paham.
Kalau berbicara banyak seperti ini, mas Dany terlihat lebih tampan dan begitu dewasa. Walaupun aku rasa usianya terpaut jauh dariku. Tapi bisa jadi kemahirannya di ranjang tidak bisa diragukan lagi.
April tertegun dengan lamunan nakalnya sambil menatap Dany yang sedang membereskan hasil kebun mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Tanpa April sadari Dany telah berada dihadapannya.
April tersentak kaget lalu menunduk malu. Tak disangka Dany langsung memajukan wajahnya di depan wajah April dan hanya berjarak beberapa senti saja. Awalnya Dany hanya mengecup bibir April, bak dayung bersambut April membalas kecupan Dany menjadi sebuah pagutan.
Cukup lama April berpagutan, keduanya saling meminta lebih. Pagutan itu tertunda sementara waktu.
__ADS_1
"April selama ini aku mencintaimu, bolehkah aku melakukan hal itu?" tanya Dany dan April pun mengangguk pelan sambil tersenyum.
Setelah mendapat persetujuan dari April, Dany pun menuntun April untuk pergi ke kamarnya. Entah siapa yang memulai, keduanya sudah tidak berpakaian lagi. Mereka menghabiskan malam bersama hingga dini hari.
Benar apa yang aku kira, soal urusan ranjang aku tidak meragukan mas Dany. Tubuhku terasa begitu sakit setelah bertempur dengannya.
Bak dua insan yang baru saja merasakan yang namanya jatuh cinta. April maupun Dany saling meluapkan perasaan mereka yang selama ini mereka tahan satu sama lain. Seisi kamar Dany menjadi saksi bisu berpadunya luapan rasa cinta dari keduanya.
🌾
Belanda
Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam, Albi telah berdiri didepan pintu rumah Nina. Ia pun menekan bel yang terpasang di samping pintu tersebut. Tak lama pintu pun terbuka. Albi langsung menyembunyikan bucket bunga mawar yang ia bawa di belakang tubuhnya.
Mega muncul dari balik pintu dengan menggunakan dress elegan berwarna dark grey dengan rambut tergerai indah dan heels berwarna hitam setinggi 7 centimeter. Albi tercekat kagum dengan penampilan Mega malam ini.
"Selamat malam, apakah kamu udah siap?" sapa Albi lalu bertanya pada Mega.
"Malam kak, sudah. Yuk berangkat," jawab Mega sambil tersenyum.
"Tapi nenekmu dimana? aku mau meminta izin padanya," tanya Albi.
"Nenek baru saja sampai rumah dan sedang mandi, tadi aku sudah meminta izin pada nenek dan nenek menitipkan salam untuk kak Albi," jelas Mega dan Albi pun mengangguk paham.
"Baiklah ayok," ajak Albi sambil memberi kode lewat kepalanya.
Mega menutup pintu rumahnya kembali. Saat ia membalikkan tubuhnya, sebuah bucket bunga mawar tepat dihadapannya. Mega tersentak kaget lalu menatap Albi sambil tersenyum.
"Buat kamu," ucap Albi dengan senyumannya.
"Terima kasih kak," kata Mega sambil mengambil bucket bunga mawar dari tangan Albi.
"Sama-sama, ayok," ucap Albi lalu mengulurkan tangannya dan Mega pun meraih tangan Albi lalu menggenggamnya.
Albi membukakan pintu mobilnya untuk Mega.
"Terima kasih kak," ucap Mega yang tak henti-hentinya mengulum senyuman, lalu ia pun masuk kedalam mobil.
__ADS_1
Albi menutup pintu mobilnya kemudian ia mengitari mobilnya untuk duduk di kursi kemudi. Setelah keduanya telah memakai seatbelt, Albi pun melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang sudah ia booking sejak tadi siang.